alexametrics
25 C
Pontianak
Sunday, May 29, 2022

Tinggalkan Kerajaan Bisnis dan Warisan Integritas

Rakyat Jelata dan Orang Menderita Selalu di Hati

JAKARTA – Kepergian Ciputra tentu membawa banyak pertanyaan terkait kelangsungan raksasa bisnis Grup Ciputra. Namun, meski ditinggal nakhoda utama, kapal Ciputra diyakini akan tetap berlayar jauh. Hal itu dipastikan oleh putri sulung almarhum yakni Rina Ciputra Sastrawinata.

‘’Kami mempertahankan bentuk organisasi yang sekarang. Seperti diketahui, ayah saya sudah menjabat sebagai komisaris utama, lalu dirut adalah Candra Ciputra. Jadi tidak ada perubahan pada struktur organisasi,’’ ujarnya pada konferensi pers di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, kemarin (28/11).

Dengan kondisi itu, kerajaan bisnis Ciputra dipastikan akan tetap kokoh. Seperti diketahui, selain meninggalkan istri, empat anak, empat menantu, 10 cucu, empat cucu menantu, dan tujuh cicit, Pak Ci juga meninggalkan kerajaan bisnis. Hingga akhir hayatnya, pria bernama lahir Thie Tjin Hoan itu masih tercatat sebagai Komisaris Utama PT Ciputra Development Tbk.

Dikutip dari Forbes, keluarga Ciputra masuk dalam daftar orang terkaya 2018 di posisi ke-27. Saat ini, nilai kekayaan Ciputra tercatat mencapai 1,3 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 18,3 triliun (kurs: Rp 14.000).

Selama ini, Ciputra berperan memberikan saran dan arahan untuk pembangunan-pembangunan yang akan dilaksanakan selanjutnya. Sebagai komisaris utama, Ciputra dijuluki sebagai creative navigator. ‘’Meskipun secara bisnis tidak berubah, tapi kami jelas kehilangan seorang creative navigator,’’ sambung Rina dengan suara bergetar.

Generasi ketiga Ciputra yang juga Direktur Ciputra Residence yakni Nararya Ciputra Sastrawinata menambahkan, tidak akan ada hambatan pengembangan proyek-proyek ke depan. Bahkan pihaknya sudah mempersiapkan beberapa rencana yang menunggu waktu tepat untuk diluncurkan. ‘’Generasi penerusnya sudah bersiap dan bekerja sebaik mungkin,’’ kata Nararya yang juga merupakan putra ketiga pasangan Budiarsa Sastrawinata-Rina Ciputra itu.

Baca Juga :  Asrama Mako Brimob Terbakar

Rina melanjutkan, sebelum mengembuskan napas terakhir pun, tak ada pesan-pesan khusus yang ditinggalkan Pak Ci pada keluarga. Namun, nilai-nilai integritas yang selalu dipegang erat terus membekas bagi keluarga. ‘’Ayah saya itu seorang mentor, seorang guru. Setiap kali bertemu, selalu ada pesan-pesan khusus yang memotivasi kami semua,’’ imbuh perempuan 64 tahun itu.

Sebelum tutup usia, Pak Ci sempat dirawat di rumah sakit di Singapura selama 42 hari. Dua hari sebelum kepergiannya, Ciputra juga masih bisa bicara. Dalam percakapanya, Ciputra juga tidak menyampaikan pesan khusus.

Menurut Rina, tak ada penyakit serius yang diderita oleh sang ayah. ‘’Ayah saya meninggal karena usia, seperti anda semua tahu ayah saya sudah berusia 88 tahun, jadi meninggal karena usia tuanya,’’ jelasnya.

Saat dikonfirmasi, pihak Gleneagles Hospital Singapore yang merupakan RS tempat Ciputra tutup usia, enggan membeberkan penyakit dan lamanya perawatan. Salah satu resepsionis yang ditemui menyatakan bahwa hal itu adalah privasi pasien.

Sementara dari informasi yang berkembang, Ciputra mengalami pneumonia. Penyakit itu adalah inflamasi pada paru. Penderita biasanya mengalami batuk berdahak hingga kesulitan bernapas. Penyebabnya bisa virus maupun bakteri. Hal itu juga dibenarkan oleh Harun Hajadi yang merupakan salah satu menantu Ciputra. ‘’Iya, Pak Ci kena pneumonia, infeksi paru-paru,’’ ujarnya, kemarin (28/11).

Semasa hidupnya, almarhum Ciputra dikenal sebagai sosok pekerja keras, sederhana, dan pengusaha ulung. Namun, dia juga merupakan sosok yang berhati luas. Senior Director Ciputra Group Tanan Herwandi Antonius menceritakan, Ciputra sebagai sosok pimpinan yang mau menolong siapapun.

Baca Juga :  PLN Siapkan Listrik Hijau untuk Industri EV Pengembangan Pabrik di Indonesia

Suatu kali, Antonius yang tengah menemani Ciputra untuk melakukan wawancara khusus dengan salah satu media nasional disodori potret buruh migran di yang sedang melakukan upaya buruh diri. ‘’Pak Ci saat itu juga langsung meneteskan air matanya, dan kita semua kaget. Saat itu juga beliau berpesan, ‘kita harus melatih buruh migran’,’’ tuturnya.

Sejak saat itu pula, Grup Ciputra memutuskan untuk melatih buruh migran. Program itu telah berlangsung 8 tahun lamanya.  Tak cukup di situ, Antonius juga sempat terkejut ketika dalam sebuah kesempatan Ciputra juga memiliki keinginan lain. ‘’Bapak pernah bilang ke saya, ‘Antonius kamu harus bisa melatih orang paling hina di Indonesia’. Saya terkejut, lalu dia mengatakan kamu harus bisa membantu melalui entrepreneurship mantan PSK yang sudah tua,’’ jelasnya.

Ternyata, lanjut Antonius, Ciputra menganggap para mantan PSK sebagai golongan rakyat harus ditolong dan masih punya kesempatan untuk mendapatkan masa depan lebih baik. ‘’Rakyat jelata, orang menderita, selalu ada di hati beliau,’’ katanya.

Beberapa lama setelah perbincangan itu, tepatnya tahun 2014, Pemerintah Kota Surabaya tengah gencar menertibkan tempat prostitusi Dolly dan Dupak Bangunsari. Di sanalah Antonius mengambil peran untuk menampung para mantan PSK dan mendidik sesuai dengan keinginan Ciputra.

Dari pengalaman itu, Ciputra menginginkan setiap orang bisa memiliki masa depan yang cerah. Salah satu caranya yakni melalui entrepreneurship. ‘’Itu pengalaman luar biasa. Dan kami melihat ada harapan baru untuk mereka,’’ tuturnya. (dee/lyn)

Rakyat Jelata dan Orang Menderita Selalu di Hati

JAKARTA – Kepergian Ciputra tentu membawa banyak pertanyaan terkait kelangsungan raksasa bisnis Grup Ciputra. Namun, meski ditinggal nakhoda utama, kapal Ciputra diyakini akan tetap berlayar jauh. Hal itu dipastikan oleh putri sulung almarhum yakni Rina Ciputra Sastrawinata.

‘’Kami mempertahankan bentuk organisasi yang sekarang. Seperti diketahui, ayah saya sudah menjabat sebagai komisaris utama, lalu dirut adalah Candra Ciputra. Jadi tidak ada perubahan pada struktur organisasi,’’ ujarnya pada konferensi pers di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, kemarin (28/11).

Dengan kondisi itu, kerajaan bisnis Ciputra dipastikan akan tetap kokoh. Seperti diketahui, selain meninggalkan istri, empat anak, empat menantu, 10 cucu, empat cucu menantu, dan tujuh cicit, Pak Ci juga meninggalkan kerajaan bisnis. Hingga akhir hayatnya, pria bernama lahir Thie Tjin Hoan itu masih tercatat sebagai Komisaris Utama PT Ciputra Development Tbk.

Dikutip dari Forbes, keluarga Ciputra masuk dalam daftar orang terkaya 2018 di posisi ke-27. Saat ini, nilai kekayaan Ciputra tercatat mencapai 1,3 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 18,3 triliun (kurs: Rp 14.000).

Selama ini, Ciputra berperan memberikan saran dan arahan untuk pembangunan-pembangunan yang akan dilaksanakan selanjutnya. Sebagai komisaris utama, Ciputra dijuluki sebagai creative navigator. ‘’Meskipun secara bisnis tidak berubah, tapi kami jelas kehilangan seorang creative navigator,’’ sambung Rina dengan suara bergetar.

Generasi ketiga Ciputra yang juga Direktur Ciputra Residence yakni Nararya Ciputra Sastrawinata menambahkan, tidak akan ada hambatan pengembangan proyek-proyek ke depan. Bahkan pihaknya sudah mempersiapkan beberapa rencana yang menunggu waktu tepat untuk diluncurkan. ‘’Generasi penerusnya sudah bersiap dan bekerja sebaik mungkin,’’ kata Nararya yang juga merupakan putra ketiga pasangan Budiarsa Sastrawinata-Rina Ciputra itu.

Baca Juga :  Pak Ci, Pendiri Ciputra Group Meninggal Dunia di Singapura

Rina melanjutkan, sebelum mengembuskan napas terakhir pun, tak ada pesan-pesan khusus yang ditinggalkan Pak Ci pada keluarga. Namun, nilai-nilai integritas yang selalu dipegang erat terus membekas bagi keluarga. ‘’Ayah saya itu seorang mentor, seorang guru. Setiap kali bertemu, selalu ada pesan-pesan khusus yang memotivasi kami semua,’’ imbuh perempuan 64 tahun itu.

Sebelum tutup usia, Pak Ci sempat dirawat di rumah sakit di Singapura selama 42 hari. Dua hari sebelum kepergiannya, Ciputra juga masih bisa bicara. Dalam percakapanya, Ciputra juga tidak menyampaikan pesan khusus.

Menurut Rina, tak ada penyakit serius yang diderita oleh sang ayah. ‘’Ayah saya meninggal karena usia, seperti anda semua tahu ayah saya sudah berusia 88 tahun, jadi meninggal karena usia tuanya,’’ jelasnya.

Saat dikonfirmasi, pihak Gleneagles Hospital Singapore yang merupakan RS tempat Ciputra tutup usia, enggan membeberkan penyakit dan lamanya perawatan. Salah satu resepsionis yang ditemui menyatakan bahwa hal itu adalah privasi pasien.

Sementara dari informasi yang berkembang, Ciputra mengalami pneumonia. Penyakit itu adalah inflamasi pada paru. Penderita biasanya mengalami batuk berdahak hingga kesulitan bernapas. Penyebabnya bisa virus maupun bakteri. Hal itu juga dibenarkan oleh Harun Hajadi yang merupakan salah satu menantu Ciputra. ‘’Iya, Pak Ci kena pneumonia, infeksi paru-paru,’’ ujarnya, kemarin (28/11).

Semasa hidupnya, almarhum Ciputra dikenal sebagai sosok pekerja keras, sederhana, dan pengusaha ulung. Namun, dia juga merupakan sosok yang berhati luas. Senior Director Ciputra Group Tanan Herwandi Antonius menceritakan, Ciputra sebagai sosok pimpinan yang mau menolong siapapun.

Baca Juga :  Usai Jenguk Wiranto, Ma’ruf Amin Minta NU dan Muhammadiyah Dilibatkan Dalam Deradikalisme

Suatu kali, Antonius yang tengah menemani Ciputra untuk melakukan wawancara khusus dengan salah satu media nasional disodori potret buruh migran di yang sedang melakukan upaya buruh diri. ‘’Pak Ci saat itu juga langsung meneteskan air matanya, dan kita semua kaget. Saat itu juga beliau berpesan, ‘kita harus melatih buruh migran’,’’ tuturnya.

Sejak saat itu pula, Grup Ciputra memutuskan untuk melatih buruh migran. Program itu telah berlangsung 8 tahun lamanya.  Tak cukup di situ, Antonius juga sempat terkejut ketika dalam sebuah kesempatan Ciputra juga memiliki keinginan lain. ‘’Bapak pernah bilang ke saya, ‘Antonius kamu harus bisa melatih orang paling hina di Indonesia’. Saya terkejut, lalu dia mengatakan kamu harus bisa membantu melalui entrepreneurship mantan PSK yang sudah tua,’’ jelasnya.

Ternyata, lanjut Antonius, Ciputra menganggap para mantan PSK sebagai golongan rakyat harus ditolong dan masih punya kesempatan untuk mendapatkan masa depan lebih baik. ‘’Rakyat jelata, orang menderita, selalu ada di hati beliau,’’ katanya.

Beberapa lama setelah perbincangan itu, tepatnya tahun 2014, Pemerintah Kota Surabaya tengah gencar menertibkan tempat prostitusi Dolly dan Dupak Bangunsari. Di sanalah Antonius mengambil peran untuk menampung para mantan PSK dan mendidik sesuai dengan keinginan Ciputra.

Dari pengalaman itu, Ciputra menginginkan setiap orang bisa memiliki masa depan yang cerah. Salah satu caranya yakni melalui entrepreneurship. ‘’Itu pengalaman luar biasa. Dan kami melihat ada harapan baru untuk mereka,’’ tuturnya. (dee/lyn)

Most Read

Artikel Terbaru

/