Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pesona Pacu Jalur Kuansing dan “Aura Farming” yang Mendunia

Hanif PP • Kamis, 21 Agustus 2025 | 10:04 WIB
PACU JALUR: Para peserta mengayuh jalur dalam perhelatan Pacu Jalur 2025 di tepian Narosa, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, Rabu (20/8). Event ini menjadi sorotan dunia setelah viral di media social.
PACU JALUR: Para peserta mengayuh jalur dalam perhelatan Pacu Jalur 2025 di tepian Narosa, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, Rabu (20/8). Event ini menjadi sorotan dunia setelah viral di media social.

PONTIANAK POST - Meski telah mendunia, pembuatan perahu yang diikutkan dalam pacu jalur tetap tak meninggalkan berbagai ritual adat, mulai dari penebangan pohon sampai ketika turun ke air.

Kuantan Singingi (Kuansing) berjarak sekitar 165 kilometer dari ibu kota Riau, Pekanbaru. Butuh lebih dari empat jam jika ditempuh lewat jalur darat. Tapi, ke sanalah ribuan orang dari luar Riau mengalir di hari-hari ini.

Termasuk, tentu saja, warga Riau sendiri. Sebab, mulai kemarin (20/8) sampai Minggu (24/8), dihelat Festival Pacu Jalur 2025. Perlombaan perahu itu dilangsungkan di Sungai Batang Kuantan, Teluk Kuantan, ibu kota Kuansing.

Pacu jalur mendunia setelah aksi para bocah atau remaja tukang tari yang berdiri di haluan jalur atau perahu menyedot perhatian luas. Aksi itu menjadi “standar” selebrasi banyak atlet kelas dunia. Seperti yang dilakukan penggawa PSG Bradley Barcola, pembalap F1 Fernando Alonso, dan pemain American Football Travis Kelce. Terbaru, bulan lalu, ganda putra Indonesia, Fajar Alvian/M. Shohibul Fikri, ikut melakukan aura farming setelah memenangi turnamen Super 1000 China Open.

Wajar kalau Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut pacu jalur sebagai contoh nyata tradisi dan budaya yang secara konsisten ditampilkan dan dijaga. “Sejak tahun 2022, pacu jalur sudah masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN). Bahkan di tahun 2024 lalu, pacu jalur mampu menembus top ten KEN,” kata Widiyanti dalam pembukaan Festival Pacu Jalur 2025 di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, kemarin.

Hadir pula dalam pembukaan kemarin Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi. Juga Gubernur Riau Abdul Wahid dan Bupati Kuansing Suhardiman Amby.

Rayyan Arkan Dikha, bocah tukang tari yang penampilannya di atas perahu yang melaju turut mengerek tinggi popularitas pacu jalur dan gayanya ditiru banyak atlet untuk selebrasi, bakal kembali tampil dalam festival ini. Tak hanya sebagai tukang tari, dia juga akan sepanggung dengan Melly Mike, rapper Amerika Serikat pelantun “Young Black & Rich”, di malam puncak penutupan pacu jalur pada 24 Agustus.

Di luar mereka, ada sederet penghibur lain yang juga bakal tampil di tiga tempat yang disediakan: Taman Jalur, Hutan Pulau Bungin, dan Lapangan Limuno. Karena itu, Gubernur Riau Abdul Wahid berani menargetkan festival tahun ini akan disaksikan 1,5 juta pengunjung atau penonton selama lima hari penyelenggaraan.

“Bila satu orang pengunjung membelanjakan uang masing-masing Rp 50 ribu saja, akan ada uang beredar sekitar Rp 70 miliar di Kuansing. Dampaknya sangat luas,” kata Wahid.

Tradisi Lama

Jalur yang terbuat dari kayu gelondongan utuh tanpa dipotong diduga sudah menjadi alat transportasi sejak abad ke-17. Warga memanfaatkannya untuk membawa berbagai hasil bumi atau pertanian.

Namun, tradisi lomba perahunya datang dari masa yang lebih muda. Festival tahun ini, menurut Bupati Kuansing Suhardiman Amby, dalam pembukaan kemarin, sudah berusia 125 tahun. Artinya, mulai diadakan di awal abad ke-20.

Adu cepat-cepatan perahu itu diawali dari kebiasaan warga setempat berpacu pulang membawa hasil bumi atau pertanian melewati Sungai Batang Kuantan. Karena dianggap menghibur, tradisi itu mulai dilombakan secara rutin sampai akhirnya sekarang menjadi agenda tahunan.

Tiap kampung atau desa yang berpartisipasi diwakili satu atau dua jalur. Jalur yang akan ikut lomba penuh dengan balutan ritual adat, dari penebangan pohon, proses pembuatan, sampai ketika turun ke sungai. “Jadi, pacu jalur bukan sekadar pesta rakyat, tapi punya banyak arti,” kata Suhardiman.

Aksi para tukang tari belakangan paling menyedot perhatian. Mulai gerakan putar tangan sampai todong pistol. Kepercayaan diri yang mereka tunjukkan melahirkan istilah aura farming. Istilah tersebut secara bebas bisa diartikan sebagai upaya seseorang dalam menampilkan aura percaya diri, santai, dan keren—seringkali dengan cara yang terlihat alami dan tidak dibuat-buat.

Melengkapi Fasilitas

Wahid menyebut pacu jalur telah menjadi wajah provinsi yang ia pimpin. Agar ke depan bisa kian dinikmati secara luas, Wahid meminta dukungan pemerintah pusat untuk pembangunan fasilitas di kawasan penyelenggaraan pacu jalur. “Sehingga menjadi lebih layak, dan orang juga semakin nyaman datang ke Kuansing,” katanya.

Suhardiman juga menyerahkan masterplan pengembangan waterfront city kawasan Tepian Narosa, Teluk Kuantan, kepada Widiyanti. Juga, dokumen usulan agar pacu jalur menjadi warisan budaya takbenda dunia ke UNESCO kepada Fadli Zon.

“Kami berharap pacu jalur bisa masuk ke kawasan strategis pariwisata nasional agar ke depan pacu jalur bisa masuk penganggaran APBN,” katanya. (*/ttg)

Editor : Hanif
#mendunia #Pacu Jalur #kuansing #Festival #Aura Farming