Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Air Bersih dan BBM Masih Langka, Potret Bertahan Hidup Pascabanjir Aceh Tamiang

Hanif PP • Senin, 22 Desember 2025 | 10:38 WIB

 

BANTU KORBAN BANJIR: Tim Polri Membantu menyeberangkan korban banjir bandang di Batang Toru, Kabupaten Tapanulis Selatan pada Rabu (10/12).
BANTU KORBAN BANJIR: Tim Polri Membantu menyeberangkan korban banjir bandang di Batang Toru, Kabupaten Tapanulis Selatan pada Rabu (10/12).

PONTIANAK POST - Suasana Aceh Tamiang pagi itu terasa suram. Jalanan masih basah. Lumpur belum sepenuhnya kering karena hujan masih turun di waktu-waktu tertentu. Bencana seolah belum benar-benar pergi.

Di Karang Baru, warga memperlihatkan kepada kami rekaman detik-detik rumah mereka tersapu banjir. Rumah kayu yang mereka bangun bertahun-tahun, kolam ikan nila yang menjadi tumpuan hidup, hanyut begitu saja. Kenangan itu masih segar di ingatan mereka, meski sudah hampir tiga pekan berlalu. Seorang warga berkata, sepanjang hidupnya, inilah bencana paling parah, bahkan melebihi tsunami tahun 2004.

Pagi itu tim bergerak ke berbagai wilayah, menyusuri denyut layanan kesehatan yang tersisa. Dari Puskesmas Sekerak, Kuala Simpang, Karang Baru, hingga Kejuruan Muda.

Puskesmas Kejuruan Muda berada di dataran tinggi, bangunannya relatif selamat dan menjadi titik pengungsian. Meski belum pulih sepenuhnya, tenaga kesehatan tetap membuka layanan terbatas, memanfaatkan ruang semi terbuka. Di beberapa tempat, akses menuju puskesmas masih tertutup rumah kayu yang roboh.

Di luar Kejuruan Muda, kondisinya jauh lebih parah. Bahkan hingga pekan ketiga pasca bencana, belum tampak tanda-tanda pemulihan berarti. Alat kesehatan yang bisa diselamatkan dijemur di bawah sinar matahari. Jalan menuju lokasi masih dipenuhi lumpur dan material sisa banjir.

Genangan air bercampur lumpur masih terlihat jelas. Beberapa masjid di kawasan pedalaman belum tersentuh pembersihan. Kecuali masjid-masjid di tepi jalan utama yang dilalui rombongan Presiden. Pekerjaan membersihkan jalur perjalanan Presiden dilakukan secara kilat. Warga sampai merasa iba melihat tim gabungan bekerja keras melakukan pembersihan itu.

Kami juga kerap menjumpai warga mendorong motor yang kehabisan BBM. Harga BBM melonjak hingga Rp 40 ribu per liter, bahkan lebih. Kelangkaan memaksa warga antre berjam-jam atau mencari ke luar Aceh Tamiang. Kota Langsa menjadi tujuan terdekat. Itupun dengan penjualan terbatas dan kondisi listrik yang saat itu belum pulih sepenuhnya.

Menjelang siang, kami tiba RSUD Aceh Tamiang. Di sanalah kelelahan dan harapan bertemu. Relawan kesehatan dari berbagai institusi pendidikan di luar Aceh berpadu dengan tenaga kesehatan setempat, hilir mudik di Instalasi Gawat Darurat. Hanya IGD yang benar-benar bisa beroperasi.

Ruangan lain belum optimal. Di area rumah sakit seluas lima hektare itu, pembersihan dan pengerukan lumpur bercampur sampah masih berlangsung.

Keseharian pascabencana bukan tentang pulih sepenuhnya, tapi lagi-lagi tentang perjuangan bertahan hidup. Dengan listrik seadanya, layanan terbatas, dan trauma yang belum sembuh.

Namun di tengah lumpur dan sunyi, kami melihat satu hal yang masih tegak berdiri. Yakni, iman dan kemauan untuk terus hidup.

 

Air, Makanan, dan Martabat yang Dijaga

DI Aceh Tamiang, air bersih masih menjadi barang paling mahal. Bahkan terasa mewah. Sambil menunggu bantuan datang, warga menaruh ember, galon, apa pun yang bisa menampung, untuk menadah air hujan. Saat mobil tangki air tiba, pagi atau sore hari, wajah-wajah letih itu mendadak semringah.

Ember-ember kosong berbaris, seolah sedang menyambut kehidupan. Air itu bukan hanya untuk mandi, tapi juga untuk memasak, mencuci peralatan dapur, dan bertahan hidup. Tiga pekan berlalu, kebutuhan itu belum juga terjawab sepenuhnya.

Pada pekan-pekan awal pascabencana, mereka tak punya pilihan. Air kubangan dan tampungan hujan dipakai untuk mencuci apa saja. Bahkan air kubangan dicampur sirup. Diminum seteguk. Sekadar syarat agar bisa menelan cairan. Efeknya? Mules, tentu saja. Tapi saat itu, perut kosong dan haus jauh lebih menakutkan.

Untuk bertahan hingga sejauh ini, sebagian warga menjadi pedagang dadakan. Toko kelontong kecil dibuka dari sisa barang yang ada. Mereka berbelanja ke Langsa, lalu menjual minuman dingin, makanan instan, kopi, rokok, yang menjadi kebutuhan paling dicari relawan, petugas, dan warga.

Harga memang naik beberapa persen, tapi itu harga hidup. Meski begitu, kegelisahan tetap ada. Mengapa pemulihan terasa begitu lambat, meski bantuan pemerintah dan berbagai pihak akhirnya mulai berjalan?

Di antara reruntuhan rumah, dapur umum pun berdiri. Dibuat dari banner bekas sebagai alas dan atap. Dapur itu tidak memilih, bukan hanya untuk keluarga sendiri, tapi untuk siapa saja yang lapar. Dapur itu lahir dari warga untuk warga, dari tangan-tangan dermawan yang ingin semua orang merasa kenyang.

Bantuan memang datang. Dari pemerintah, lembaga swasta, dan relawan. Bahkan untuk air bersih, banyak penyintas tak tahu dari mana asalnya. Mereka hanya tahu satu hal. Ada yang peduli. Di tengah semua keterbatasan itu, Aceh Tamiang masih bertahan, dengan air yang ditadah, makanan yang dibagi, dan martabat yang tetap dijaga. Semoga semua penderitaan   segera berlalu. (*/oni)

Editor : Hanif
#Layanan Terbatas #Pascabanjir #aceh tamiang #bbm #langka #Air Bersih