Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

OECD dan Citi Proyeksikan Ekonomi Indonesia Bertahan di Kisaran 5 Persen

Hanif PP • Senin, 29 Desember 2025 | 11:14 WIB

 

HELMI ARMAN, Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman
HELMI ARMAN, Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman

PONTIANAK POST - Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III-2025 diproyeksi masih mampu bertahan di atas 5 persen. Namun, angkanya sedikit melambat dibandingkan capaian kuartal II yang mencapai 5,12 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman mengatakan, perlambatan tersebut terutama disebabkan oleh pelemahan permintaan domestik dan penurunan tingkat kepercayaan konsumen pada September 2025. ”Kami masih expect di atas 5 (persen), tapi di atas 5 marginal sedikit,” ujar Helmi di Jakarta kemarin (28/10).

Menurut dia, aktivitas ekonomi pada kuartal III sedikit melandai secara kuartalan akibat menurunnya keyakinan masyarakat dalam berbelanja. Namun, kinerja ekspor masih menunjukkan tren positif dan menjadi penopang utama pertumbuhan di periode tersebut.

Helmi menambahkan,kondisi ekonomi diperkirakan membaik pada kuartal IV 2025 seiring peningkatan belanja pemerintah yang cenderung lebih tinggi di akhir tahun serta penyaluran saldo anggaran lebih (SAL) dalam bentuk stimulus fiskal. ”Karena memang kuartal IV-2025 musimnya belanja pemerintah lebih kencang dibandingkan kuartal ketiga,” ujarnya.

Untuk sepanjang tahun 2025, Citi Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berada di sekitar 5 persen, dengan peluang meningkat menjadi 5,2 persen pada 2026. ”Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan pulih tahun depan, mungkin dari sekitar 5 persen tahun ini menjadi 5,2 persen atau mungkin sedikit lebih tinggi tahun depan,” ungkap Helmi.

Proyeksi Citi sejalan dengan pandangan Bank Indonesia (BI) yang menempatkan pertumbuhan ekonomi 2025 dalam kisaran 4,6 persen–5,4 persen, setelah kinerja kuartal II melampaui ekspektasi pasar di angka 5,12 persen.

Proyeksi OECD

Sementara itu, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga meningkatkan proyeksi pertumbuhan Indonesia menjadi 4,9 persen, naik dari estimasi sebelumnya 4,7 persen. Dalam laporannya, OECD menilai pelonggaran kebijakan moneter oleh BI dan percepatan investasi publik akan menjadi motor pendorong utama perekonomian nasional.

”Pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut dan investasi publik yang kuat diharapkan dapat mendukung perekonomian Indonesia, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 4,9 persen diproyeksikan untuk tahun 2025 dan 2026,” tulis OECD dalam laporan Economic Outlook bulan lalu.

Tekanan Pasar Modal

Sementara itu, tekanan pasar modal belum sepenuhnya mereda. Menjelang tutup tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak variatif pada sepekan ini dengan kecenderungan mixed atau fluktuatif di tengah sinyal teknikal yang masih rapuh.

Pengamat pasar modal William Hartanto memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran 8.500–8.604 pada perdagangan hari ini (29/12). Menurut dia, indeks masih berada dalam fase uji ulang setelah gagal bertahan di area gap 8.554. “IHSG telah menembus gap tersebut, lalu terkoreksi dan bergerak di bawahnya. Pada kondisi ini, potensi bearish masih ada, meski peluang retest tetap terbuka,” ujarnya kemarin (28/12).

Koreksi tersebut tercermin dari penutupan perdagangan terakhir sebelum libur panjang. Pada Rabu (24/12), IHSG ditutup melemah 46,87 poin atau 0,55 persen ke level 8.537,91. Pelemahan ini memperpanjang koreksi indeks seiring minimnya katalis positif dan rendahnya aktivitas transaksi.

Meskipun demikian, peluang pemulihan jangka pendek belum sepenuhnya tertutup. William menilai fase retest ini akan menjadi penentu arah pergerakan berikutnya. “Jika IHSG mampu kembali ke dalam area gap, maka pada sisa hari perdagangan 2025 masih terbuka peluang untuk membentuk all time high di awal 2026,” jelasnya.

Tekanan pasar juga tercermin dari data Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam pekan perdagangan singkat 22–24 Desember 2025, IHSG secara mingguan turun 0,83 persen ke level 8.537,911 dari posisi 8.609,551 pada pekan sebelumnya.

Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menyebutkan, pelemahan indeks turut diikuti penyusutan kapitalisasi pasar sebesar 1,17 persen menjadi Rp 15.603 triliun. Aktivitas perdagangan juga melambat. Rata-rata frekuensi transaksi harian turun 2,23 persen menjadi 2,74 juta kali, sementara volume transaksi harian anjlok 18,44 persen menjadi 38,34 miliar saham.

Tekanan paling terasa terjadi pada nilai transaksi harian yang terkoreksi 30,91 persen menjadi Rp23,70 triliun dari Rp34,30 triliun pada pekan sebelumnya. “Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see investor menjelang pergantian tahun,” ucapnya.

Di tengah pasar yang lesu, pergerakan investor asing menunjukkan dinamika berbeda. Pada 26 Desember 2025, investor asing mencatatkan beli bersih Rp2,45 triliun. Namun secara kumulatif sepanjang 2025, arus dana asing masih mencatatkan jual bersih Rp18,36 triliun. (agf/dio)

Editor : Hanif
#ekspor #pertumbuhan ekonomi #akhir tahun #belanja pemerintah #ekonomi indonesia