PONTIANAK POST - Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafii mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aksi sweeping terhadap rumah makan selama bulan suci Ramadan.
Melansir Jawa Pos (18/2), menurutnya, langkah tersebut justru berpotensi mengganggu keharmonisan sosial di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, baik dari sisi keyakinan maupun praktik ibadah.
Syafii menekankan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat sikap saling menghormati, khususnya antara umat Islam yang menjalankan puasa dan warga lain yang tidak memiliki kewajiban serupa.
Ia mengingatkan bahwa toleransi adalah fondasi penting dalam menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama.
“Enggak ada, enggak ada. Enggak ada sweeping-sweeping lah. Itulah bentuk penghormatan kita bahwa selain kita yang berpuasa, masih ada kok saudara kita yang tidak berpuasa. Tapi bagi yang tidak berpuasa, ya memang kita enggak puasa, tapi hormati dong orang yang puasa,” ujar Romo Syafii di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2).
Lebih lanjut, ia menilai sikap saling menghormati tersebut akan menciptakan suasana Ramadan yang damai, tertib, dan penuh toleransi. Dengan kesadaran bersama, potensi gesekan sosial dapat dihindari.
“Saya kira harmoni ini akan melahirkan situasi yang cukup baik dengan masyarakat kita,” tegasnya.
Syafii juga menyinggung adanya seruan dari berbagai pihak, termasuk pimpinan lembaga keagamaan dan legislatif, yang sejalan dengan semangat tersebut.
Ia menyebut imbauan dari Majelis Ulama Indonesia dan Komisi VIII DPR RI yang menekankan pentingnya keseimbangan antara menjalankan ibadah dan menghormati perbedaan.
“Ya, tadi kan imbauan cukup jelas ya baik dari Ketua MUI, baik juga dari Ketua Komisi VIII, agar pertama umat Islam menunaikan ibadah puasa dengan khusyuk, kemudian mereka yang tidak berpuasa diharapkan untuk menghormati orang yang berpuasa, tapi juga sebaliknya itu bahasa dari Ketua Komisi VIII. Artinya apa? Sedapat mungkin dibuatlah suasana yang itu menunjukkan penghormatan dari mereka yang tidak puasa kepada orang yang berpuasa,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, ia menilai keberadaan rumah makan atau fasilitas umum yang tetap beroperasi selama Ramadan tidak perlu disikapi secara berlebihan.
Menurutnya, umat Islam yang berpuasa juga perlu menyadari realitas sosial bahwa tidak semua warga memiliki kewajiban yang sama.
“Tapi mungkin kita yang berpuasa ini harus menyadari juga, ternyata kan enggak semua orang berpuasa, sehingga masih memungkinkan ada fasilitas-fasilitas yang masih terus bisa dinikmati oleh orang yang tidak puasa. Kan enggak mungkin gara-gara kita puasa, maka semuanya harus merasakan puasa,” ucapnya.
Menutup pernyataannya, Syafii kembali menegaskan bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman keyakinan dan latar belakang.
Oleh sebab itu, pendekatan yang mengedepankan toleransi dan penghormatan dinilai jauh lebih tepat dibandingkan tindakan sweeping atau pemaksaan.
“Dalam arti yang enggak puasa pun karena keyakinan yang berbeda, harus tidak bisa makan, tidak bisa minum, dan sebagainya. Tapi harus dipertimbangkan para koridor membangun kebersamaan, membangun kekompakan, saling menghormati sehingga persatuan kita tidak terganggu karena perbedaan-perbedaan,” pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair