alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 15, 2022

Gegenpressing yang Sulitkan Liverpool

Liverpool ibarat kehabisan bensin dan membuat mereka kembali menelan kekalahan di Anfield, kala menjamu Brighton and Hove Albion, (3/2) atau Kamis dini hari WIB, 0-1. Manajer Liverpool, Juergen Klopp, mengakui kekalahan dari Brighton lebih disebabkan karena para pemainnya tak siap secara fisik dan mental. Dilansir Viva, The Reds sama sekali tak menunjukkan tren positif dari satu di antara dua aspek tersebut.

“Kami tak segar. Jika satu di antara mental atau fisik sama sekali tak prima, maka itu akan jadi masalah. Sulit cuma mengandalkan kaki untuk bisa pulih dengan cepat,” kata Klopp dilansir BT Sport.

Secara intensitas, Liverpool sebenarnya tak kalah. Hanya saja, pengambilan keputusan dan ketenangan Liverpool begitu buruk. Para pemain terlihat terburu-buru dalam mengakhiri peluang di depan gawang. Pun, dalam duel-duel perebutan bola, sering kali Jordan Henderson dan kawan-kawan kalah.

“Di saat ini, saya tak punya penjelasan soal pekan yang berat ini dan menghadapi lawan seperti Brighton,” ujar Klopp. Pandangan berbeda diungkapkan oleh mantan gelandang Tottenham Hotspur, Jamie O’Hara. Menurutnya, Liverpool jadi susah karena skema gegenpressing milik Klopp. Dengan skema permainan tekanan tinggi, O’Hara menyatakan stamina para pemain Liverpool terkuras habis.

Kaki setiap skuad The Anfield Gang benar-benar mati rasa akibat permainan dengan tempo yang tinggi. Apalagi, pilihan mereka begitu tipis, menyusul badai cedera yang parah di dalam skuad.

Baca Juga :  Barca Gagal Juara Piala Super Spanyol

“Liverpool mati rasa di kakinya. Saya berkata demikian, karena mereka main dengan level tinggi selama dua musim. Akhirnya, ada cedera, cedera, dan cedera,” kata O’Hara dikutip talkSport.

“Duel di kandang, ketika menggunakan tim utama, seperti terlihat kurang keberanian dalam mengambil keputusan hingga menekan ke level tertinggi. Tak mudah bermain bagus untuk waktu yang lama,” lanjutnya. Liverpool sebenarnya bisa saja membuka asa untuk kembali lagi dalam perburuan gelar di musim 2020/21. Kebetulan, mereka bakal jumpa Manchester City di akhir pekan ini.

Menang, maka jarak poin terpangkas. Tapi, kalau Liverpool kalah, maka makin tertinggal dari ManCity hingga 10 poin. “Perburuan gelar selesai, jika mereka kalah lagi. ManCity bahkan belum main bagus dan menyimpan skuad terbaiknya,” terang O’Hara.

Dilansir Bola.net, mantan pemain Liverpool Peter Crouch menilai The Reds terlalu bergantung pada Mohamed Salah. Liverpool terlihat kesulitan menjebol gawang lawan. Salah, yang merupakan ancaman terbesar timnya, melewatkan beberapa peluang bagus. The Reds juga tidak bisa menurunkan Diogo Jota dan Sadio Mane dalam pertandingan ini. Kedua pemain tersebut harus absen karena cedera.

Baca Juga :  Zarco Kuasai Trek Basah Valencia di FP3

Usai laga, Crouch menyoroti lini serang Liverpool. Crouch menyebut The Reds sudah terlalu bergantung pada Mo Salah, sementara Roberto Firmino tidak bisa diandalkan untuk mencetak gol.

“Ada ketergantungan yang berlebihan pada Salah, Firmino harus melangkah. Rasanya seperti dia kembali melempem,” kata Crouch kepada BT Sport.

“Tapi Salah adalah orang yang mencetak gol, dia masih mencetak 20 gol dan kami berbicara tentang dia tidak dalam performa terbaiknya. Dia pemain kelas atas tapi dengan hilangnya Mane, Jota juga. Tapi ketika Salah tidak ada atau dia melewatkan peluang, saya rasa tidak cukup bagus saat Mane absen dan Jota di tim untuk mencetak gol.”

Kekalahan ini membuat Liverpool tertinggal tujuh poin dari Manchester City di puncak klasemen. Crouch mengatakan kalau tim asuhan Josep Guardiola itu punya peluang besar untuk menjadi juara.

“Ini musim yang gila, saya tahu orang akan mengatakan ini klise tapi itu gila. Liverpool akan mendapatkan pemain mereka kembali sehingga mereka akan terus berlari, kita tidak dapat mengabaikan Manchester United dan Leicester yang sangat fantastis. Mereka memiliki begitu banyak pemain bagus. Tapi City adalah favorit kuat,” katanya. (ist/*)

Liverpool ibarat kehabisan bensin dan membuat mereka kembali menelan kekalahan di Anfield, kala menjamu Brighton and Hove Albion, (3/2) atau Kamis dini hari WIB, 0-1. Manajer Liverpool, Juergen Klopp, mengakui kekalahan dari Brighton lebih disebabkan karena para pemainnya tak siap secara fisik dan mental. Dilansir Viva, The Reds sama sekali tak menunjukkan tren positif dari satu di antara dua aspek tersebut.

“Kami tak segar. Jika satu di antara mental atau fisik sama sekali tak prima, maka itu akan jadi masalah. Sulit cuma mengandalkan kaki untuk bisa pulih dengan cepat,” kata Klopp dilansir BT Sport.

Secara intensitas, Liverpool sebenarnya tak kalah. Hanya saja, pengambilan keputusan dan ketenangan Liverpool begitu buruk. Para pemain terlihat terburu-buru dalam mengakhiri peluang di depan gawang. Pun, dalam duel-duel perebutan bola, sering kali Jordan Henderson dan kawan-kawan kalah.

“Di saat ini, saya tak punya penjelasan soal pekan yang berat ini dan menghadapi lawan seperti Brighton,” ujar Klopp. Pandangan berbeda diungkapkan oleh mantan gelandang Tottenham Hotspur, Jamie O’Hara. Menurutnya, Liverpool jadi susah karena skema gegenpressing milik Klopp. Dengan skema permainan tekanan tinggi, O’Hara menyatakan stamina para pemain Liverpool terkuras habis.

Kaki setiap skuad The Anfield Gang benar-benar mati rasa akibat permainan dengan tempo yang tinggi. Apalagi, pilihan mereka begitu tipis, menyusul badai cedera yang parah di dalam skuad.

Baca Juga :  Hati-Hati Duplikasi Partenopei

“Liverpool mati rasa di kakinya. Saya berkata demikian, karena mereka main dengan level tinggi selama dua musim. Akhirnya, ada cedera, cedera, dan cedera,” kata O’Hara dikutip talkSport.

“Duel di kandang, ketika menggunakan tim utama, seperti terlihat kurang keberanian dalam mengambil keputusan hingga menekan ke level tertinggi. Tak mudah bermain bagus untuk waktu yang lama,” lanjutnya. Liverpool sebenarnya bisa saja membuka asa untuk kembali lagi dalam perburuan gelar di musim 2020/21. Kebetulan, mereka bakal jumpa Manchester City di akhir pekan ini.

Menang, maka jarak poin terpangkas. Tapi, kalau Liverpool kalah, maka makin tertinggal dari ManCity hingga 10 poin. “Perburuan gelar selesai, jika mereka kalah lagi. ManCity bahkan belum main bagus dan menyimpan skuad terbaiknya,” terang O’Hara.

Dilansir Bola.net, mantan pemain Liverpool Peter Crouch menilai The Reds terlalu bergantung pada Mohamed Salah. Liverpool terlihat kesulitan menjebol gawang lawan. Salah, yang merupakan ancaman terbesar timnya, melewatkan beberapa peluang bagus. The Reds juga tidak bisa menurunkan Diogo Jota dan Sadio Mane dalam pertandingan ini. Kedua pemain tersebut harus absen karena cedera.

Baca Juga :  Zarco Kuasai Trek Basah Valencia di FP3

Usai laga, Crouch menyoroti lini serang Liverpool. Crouch menyebut The Reds sudah terlalu bergantung pada Mo Salah, sementara Roberto Firmino tidak bisa diandalkan untuk mencetak gol.

“Ada ketergantungan yang berlebihan pada Salah, Firmino harus melangkah. Rasanya seperti dia kembali melempem,” kata Crouch kepada BT Sport.

“Tapi Salah adalah orang yang mencetak gol, dia masih mencetak 20 gol dan kami berbicara tentang dia tidak dalam performa terbaiknya. Dia pemain kelas atas tapi dengan hilangnya Mane, Jota juga. Tapi ketika Salah tidak ada atau dia melewatkan peluang, saya rasa tidak cukup bagus saat Mane absen dan Jota di tim untuk mencetak gol.”

Kekalahan ini membuat Liverpool tertinggal tujuh poin dari Manchester City di puncak klasemen. Crouch mengatakan kalau tim asuhan Josep Guardiola itu punya peluang besar untuk menjadi juara.

“Ini musim yang gila, saya tahu orang akan mengatakan ini klise tapi itu gila. Liverpool akan mendapatkan pemain mereka kembali sehingga mereka akan terus berlari, kita tidak dapat mengabaikan Manchester United dan Leicester yang sangat fantastis. Mereka memiliki begitu banyak pemain bagus. Tapi City adalah favorit kuat,” katanya. (ist/*)

Most Read

Artikel Terbaru

/