alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Antara Rino dan San Paolo

NAPLES, – Antonio Conte tentu selalu mengingat malam pahit 14 Maret, 16 tahun silam. Ya, itu adalah momen terakhir dia mengucap “addio” bagi fans Juventus di Stadio Delle Alpi, markas Juve kala itu. Pahitnya, Conte harus melihat Juve takluk 1-3 di tangan AC Milan. Dan, Gennaro Gattuso salah satu pemain Milan kala itu.

Nah, di San Paolo, Naples, dini hari nanti WIB pertemuan itu kembali terjadi. Bedanya, Conte dan Gattuso bertemu untuk kali pertama. Bedanya, kini keduanya sudah sama-sama jadi allenatore. Conte datang bersama Inter Milan menguji peruntungannya melawan Gattuso yang memegang kendali Napoli (siaran langsung RCTI/beIN Sports 2 pukul 02.45 WIB).

Bak berulang, arti malam itu juga sama spesialnya dengan farewell Conte bersama Juve. Sebab, malam di Naples nanti jadi momentum Conte mencapai kemenangan ke-100 di Serie A. The Godfather, julukan Conte, pun bakal jadi pelatih tercepat yang mencapai victory ke-100 di Serie A.

Memenangi 100 laga dari 130 laga Serie A, Conte menyalip Maurizio Sarri yang sukses memenangi laga ke-100-nya setelah 169 laga. Tapi, Conte tahu, Gattuso akan kembali merusak momen spesialnya itu. ”Kami harus berhati-hati, karena Napoli tim yang luar biasa dengan ada seorang Gattuso yang punya motivasi besar dan mampu mentransfernya ke tim,” ucap Conte di dalam konferensi pers di Appiano Gentile, kamp latihan Inter, tadi malam WIB.

Baca Juga :  Membuat MU Lebih Menyerang

Di bawah Gattuso, Lorenzo Insigne dkk sudah mulai belajar memenangi laga di Serie A. Usai keok 1-2 di San Paolo dari Parma dalam laga debut Gattuso (15/12), Napoli mengalahkan Sassuolo 2-1 di Reggio Emilia (23/12). ”Ingat saat di Milan dia diremehkan, dia menjawabnya dengan bagus. Di sini (Napoli) dia tentu akan melakukannya lagi,” sebut pelatih yang sembilan tahun lebih tua dari Gattuso itu, kepada Sky Italia.

Dino Zoff yang jadi pelatih terakhir Conte di timnas Italia dan pemberi debut Gattuso di 23 Februari 2000 menyebut Gattuso sudah punya kartu turf. ”Sejauh ini Napoli selalu memiliki masalah di organisasi pertahanan. Gattuso sudah mengurusnya. Itu yang bakal jadi kunci,” ulas Zoff, dilansir laman Il Mattino.

Faktanya, Gattuso sudah melihat Sebastiano Luperto dapat berkolaborasi dengan Kostas Manolas saat absennya Kalidou Koulibaly. KK, inisial nama Koulibaly, masih pemulihan pasca cedera hamstring. Dari sin Gattuso memiliki bekal meneruskan susahnya duet Romelu Lukaku-Lautaro Martinez kembali mencetak gol di kandang lawan setelah tak berkontribusi di Artemio Franchi, kandang Fiorentina (16/12).

Baca Juga :  Harapan di Tangan Figuran

Tak hanya Rino, magis San Paolo juga selalu jadi momok bagi Conte. Sejak dia menjadi pelatih, tak sekalipun allenatore terbaik Serie A 2011 – 2014 itu kembali dari San Paolo dengan  tersenyum. Semua terjadi saat dia di La Vecchia Signora, julukan Juve. Tiga kali datang, dua di antaranya pulang dengan satu poin. Lawatan terakhir 30 Maret 2014 silam pun berakhir dengan kekalahan 0-2.

Setali tiga uang, kesialan Conte di San Paolo juga dirasakan Nerazzurri, julukan Inter. Di Serie A Inter pun belum pernah merasakan kemenangan di sana sejak terakhir menaklukkannya 18 Oktober 1997. Selama 22 tahun dikutuk, Inter cuma bisa empat kali menahan Napoli dari 13 kali datang.

Dalam laman resmi Napoli, Gattuso tak melihat masa lalunya dengan Conte dan rivalitas Milan dengan Inter yang pernah dia rasakan. ”Yang lalu sudah berlalu. Hari ini, aku jadi pelatih  Napoli dan aku bangga,” sebutnya. Dia pun memuji kerja keras Conte di Inter dan berharap dia bisa seperti Conte di Napoli. ”Dia menularkan mentalitas ke Inter. Bersama Antonio permainan Inter lebih kolektif, lebih sebagai tim. Aku ingin seperti itu, tim bermain sebagai tim,” tuturnya. (ren)

NAPLES, – Antonio Conte tentu selalu mengingat malam pahit 14 Maret, 16 tahun silam. Ya, itu adalah momen terakhir dia mengucap “addio” bagi fans Juventus di Stadio Delle Alpi, markas Juve kala itu. Pahitnya, Conte harus melihat Juve takluk 1-3 di tangan AC Milan. Dan, Gennaro Gattuso salah satu pemain Milan kala itu.

Nah, di San Paolo, Naples, dini hari nanti WIB pertemuan itu kembali terjadi. Bedanya, Conte dan Gattuso bertemu untuk kali pertama. Bedanya, kini keduanya sudah sama-sama jadi allenatore. Conte datang bersama Inter Milan menguji peruntungannya melawan Gattuso yang memegang kendali Napoli (siaran langsung RCTI/beIN Sports 2 pukul 02.45 WIB).

Bak berulang, arti malam itu juga sama spesialnya dengan farewell Conte bersama Juve. Sebab, malam di Naples nanti jadi momentum Conte mencapai kemenangan ke-100 di Serie A. The Godfather, julukan Conte, pun bakal jadi pelatih tercepat yang mencapai victory ke-100 di Serie A.

Memenangi 100 laga dari 130 laga Serie A, Conte menyalip Maurizio Sarri yang sukses memenangi laga ke-100-nya setelah 169 laga. Tapi, Conte tahu, Gattuso akan kembali merusak momen spesialnya itu. ”Kami harus berhati-hati, karena Napoli tim yang luar biasa dengan ada seorang Gattuso yang punya motivasi besar dan mampu mentransfernya ke tim,” ucap Conte di dalam konferensi pers di Appiano Gentile, kamp latihan Inter, tadi malam WIB.

Baca Juga :  Barca Pesimis Juara

Di bawah Gattuso, Lorenzo Insigne dkk sudah mulai belajar memenangi laga di Serie A. Usai keok 1-2 di San Paolo dari Parma dalam laga debut Gattuso (15/12), Napoli mengalahkan Sassuolo 2-1 di Reggio Emilia (23/12). ”Ingat saat di Milan dia diremehkan, dia menjawabnya dengan bagus. Di sini (Napoli) dia tentu akan melakukannya lagi,” sebut pelatih yang sembilan tahun lebih tua dari Gattuso itu, kepada Sky Italia.

Dino Zoff yang jadi pelatih terakhir Conte di timnas Italia dan pemberi debut Gattuso di 23 Februari 2000 menyebut Gattuso sudah punya kartu turf. ”Sejauh ini Napoli selalu memiliki masalah di organisasi pertahanan. Gattuso sudah mengurusnya. Itu yang bakal jadi kunci,” ulas Zoff, dilansir laman Il Mattino.

Faktanya, Gattuso sudah melihat Sebastiano Luperto dapat berkolaborasi dengan Kostas Manolas saat absennya Kalidou Koulibaly. KK, inisial nama Koulibaly, masih pemulihan pasca cedera hamstring. Dari sin Gattuso memiliki bekal meneruskan susahnya duet Romelu Lukaku-Lautaro Martinez kembali mencetak gol di kandang lawan setelah tak berkontribusi di Artemio Franchi, kandang Fiorentina (16/12).

Baca Juga :  “Turunkan” Target Liverpool

Tak hanya Rino, magis San Paolo juga selalu jadi momok bagi Conte. Sejak dia menjadi pelatih, tak sekalipun allenatore terbaik Serie A 2011 – 2014 itu kembali dari San Paolo dengan  tersenyum. Semua terjadi saat dia di La Vecchia Signora, julukan Juve. Tiga kali datang, dua di antaranya pulang dengan satu poin. Lawatan terakhir 30 Maret 2014 silam pun berakhir dengan kekalahan 0-2.

Setali tiga uang, kesialan Conte di San Paolo juga dirasakan Nerazzurri, julukan Inter. Di Serie A Inter pun belum pernah merasakan kemenangan di sana sejak terakhir menaklukkannya 18 Oktober 1997. Selama 22 tahun dikutuk, Inter cuma bisa empat kali menahan Napoli dari 13 kali datang.

Dalam laman resmi Napoli, Gattuso tak melihat masa lalunya dengan Conte dan rivalitas Milan dengan Inter yang pernah dia rasakan. ”Yang lalu sudah berlalu. Hari ini, aku jadi pelatih  Napoli dan aku bangga,” sebutnya. Dia pun memuji kerja keras Conte di Inter dan berharap dia bisa seperti Conte di Napoli. ”Dia menularkan mentalitas ke Inter. Bersama Antonio permainan Inter lebih kolektif, lebih sebagai tim. Aku ingin seperti itu, tim bermain sebagai tim,” tuturnya. (ren)

Most Read

Artikel Terbaru

/