alexametrics
32 C
Pontianak
Thursday, August 11, 2022

Bisa Main Kandang Asal Klub Jamin Keamanan

LONDON, – Klub-klub Premier League, utamanya tim papan bawah, menjadi yang paling ngotot mengenai sistem laga kandang dan tandang diberlakukan normal saat liga bergulir lagi. Pihak keamanan sebetulnya mengizinkan hal itu. Asal klub bersedia menanggung secara penuh resiko keamanan menggelar laga kandang.

Seperti diberitakan Daily Mail kemarin (13/5) salah satu maksud melakukan pertandingan di lokasi yang netral adalah menghindari fans ‘nekad’. Meski statusnya laga tanpa penonton, hal itu tak menjamin fans tetap di rumah dan di depan layar televisi.

“Kalau klub sanggup menggarasi jika mereka bisa mengontrol 100 persen fans tak datang, maka sistem kandang-tandang di Project Restart akan diterapkan. Tapi belum ada klub yang berani memberikan komitmen,” kata salah satu petinggi klub kepad Daily Mail.

Salah satu pendukung kuat soal sistem sentralisasi stadion saat Premier League 2019-2020 dimulai lagi adalah Liverpool. Menurut Liverpool Echo Walikota Liverpool Joe Anderson mengkhawatirkan situasi tak terkendali di kota jika Jordan Henderson dkk menang di kandang dan memastikan gelar.

“Pasti akan ada arak-arakan dan hal itu tentu melanggar disiplin dan aturan mengenai pembatasan jarak sosial saat pandemi Covid-19. Kopites—julukan fans Liverpool—sudah merindukan momen ini dan mereka menunggu 30 tahun,” ucap Anderson kepada Liverpool Echo.

Baca Juga :  Butuh Nama Besar, FIFA Ajak Wenger

Sumber Daily Mail di pemerintahan Inggris menuturkan hingga kemarin belum ada titik temu soal lampu hijau pemerintah soal lokasi netral atau sistem yang biasa yakni kandang-tandang.

Senior Football Police Officer Inggris Mark Roberts kepada Daily Mail berkata masih menimbang segala resiko mengenai dua usulan ini. Yakni bermain di kawasan tertentu. Atau sistem kandang-tandang.

“Kami akan mengidentifikasi cara terbaik yang tentu meminimalisir soal keamanan publik. Selain itu kami mempertimbangkan fasilitas umum, aspek ekonomi, dan moral dari kedua konsep pertandingan ini,” tutur Roberts.

Daily Mail mengkomparasi kondisi stadion juga fans  Bundesliga dengan Premier League sehingga Bundesliga tetap mendapatkan dukungan untuk menggelar laga dengan sistem kandang-tandang seperti musim reguler.

Pertama soal stadion yang termodernisasi. Dalam dua dekade terakhir hanya empat tiga stadion anyar. Yakni Etihad Stadium (2003), Emirates Stadium (2006), London Stadium (2012), dan Tottenham Hotspur Stadium (2019).

Kedua masalah geografis. Mayoritas stadion-stadion di Jerman terletak di pinggiran kota. Seperti Allianz Arena, Olymiastadion, dan Veltins-Arena. Sebaliknya Emirates Stadium atau Anfield berada di area pemukiman. “Dengan peletakan stadion di luar kota maka akan lebih terkontrol karena sistem transportasi umumnya hanya terbatas,” tulis Daily Mail.

Baca Juga :  Leeds kembali ke Liga Premier

Selanjutnya masalah suporter, klub-klub Bundesliga memberikan jaminan kalau fans mereka tak akan datang ke stadion. Komunikasi klub dengan kelompok suporternya lebih bisa dikendalikan.

CEO Pengelola Liga Jerman (DFL) Christian Seifert kepada Bild mengatakan sanksi kepada klub yang membiarkan ada suporter hadir di arena stadion sangat jelas. BUkan hanya denda uang melainkan juga pihak keamanan akan menertibkan para suporter ini.

“Sampai beberapa hari menjelang Bundesliga ini bergulir lagi tak ada laporan dari klub mengenai kerepotan menangani suporter merek. Kami yakin klub bisa mengendalikan dan suporter cukup dewasa soal laga yang tertutup ini,” ujar Seifert.

Sementara itu, The Sun menulis selain meludah di lapangan yang dilarang maka melakukan tekel akan ikut dilarang. Karena itu klub-klub diminta membiasakan soal tekel ini dalam sesi latihan.

“Pembiasaan-pembiasaan baru di Project League ini akan sangat sulit. Sebab kini dalam sesi latihan maksimal waktu yang diberikan hanya 75 menit dan itu tak cukup,” kata salah satu pemain kepada The Sun. (dra)

LONDON, – Klub-klub Premier League, utamanya tim papan bawah, menjadi yang paling ngotot mengenai sistem laga kandang dan tandang diberlakukan normal saat liga bergulir lagi. Pihak keamanan sebetulnya mengizinkan hal itu. Asal klub bersedia menanggung secara penuh resiko keamanan menggelar laga kandang.

Seperti diberitakan Daily Mail kemarin (13/5) salah satu maksud melakukan pertandingan di lokasi yang netral adalah menghindari fans ‘nekad’. Meski statusnya laga tanpa penonton, hal itu tak menjamin fans tetap di rumah dan di depan layar televisi.

“Kalau klub sanggup menggarasi jika mereka bisa mengontrol 100 persen fans tak datang, maka sistem kandang-tandang di Project Restart akan diterapkan. Tapi belum ada klub yang berani memberikan komitmen,” kata salah satu petinggi klub kepad Daily Mail.

Salah satu pendukung kuat soal sistem sentralisasi stadion saat Premier League 2019-2020 dimulai lagi adalah Liverpool. Menurut Liverpool Echo Walikota Liverpool Joe Anderson mengkhawatirkan situasi tak terkendali di kota jika Jordan Henderson dkk menang di kandang dan memastikan gelar.

“Pasti akan ada arak-arakan dan hal itu tentu melanggar disiplin dan aturan mengenai pembatasan jarak sosial saat pandemi Covid-19. Kopites—julukan fans Liverpool—sudah merindukan momen ini dan mereka menunggu 30 tahun,” ucap Anderson kepada Liverpool Echo.

Baca Juga :  Frodo Tantang Gandalf

Sumber Daily Mail di pemerintahan Inggris menuturkan hingga kemarin belum ada titik temu soal lampu hijau pemerintah soal lokasi netral atau sistem yang biasa yakni kandang-tandang.

Senior Football Police Officer Inggris Mark Roberts kepada Daily Mail berkata masih menimbang segala resiko mengenai dua usulan ini. Yakni bermain di kawasan tertentu. Atau sistem kandang-tandang.

“Kami akan mengidentifikasi cara terbaik yang tentu meminimalisir soal keamanan publik. Selain itu kami mempertimbangkan fasilitas umum, aspek ekonomi, dan moral dari kedua konsep pertandingan ini,” tutur Roberts.

Daily Mail mengkomparasi kondisi stadion juga fans  Bundesliga dengan Premier League sehingga Bundesliga tetap mendapatkan dukungan untuk menggelar laga dengan sistem kandang-tandang seperti musim reguler.

Pertama soal stadion yang termodernisasi. Dalam dua dekade terakhir hanya empat tiga stadion anyar. Yakni Etihad Stadium (2003), Emirates Stadium (2006), London Stadium (2012), dan Tottenham Hotspur Stadium (2019).

Kedua masalah geografis. Mayoritas stadion-stadion di Jerman terletak di pinggiran kota. Seperti Allianz Arena, Olymiastadion, dan Veltins-Arena. Sebaliknya Emirates Stadium atau Anfield berada di area pemukiman. “Dengan peletakan stadion di luar kota maka akan lebih terkontrol karena sistem transportasi umumnya hanya terbatas,” tulis Daily Mail.

Baca Juga :  Agus Berlatih Keras untuk Kanvaskan Petinju Australia 

Selanjutnya masalah suporter, klub-klub Bundesliga memberikan jaminan kalau fans mereka tak akan datang ke stadion. Komunikasi klub dengan kelompok suporternya lebih bisa dikendalikan.

CEO Pengelola Liga Jerman (DFL) Christian Seifert kepada Bild mengatakan sanksi kepada klub yang membiarkan ada suporter hadir di arena stadion sangat jelas. BUkan hanya denda uang melainkan juga pihak keamanan akan menertibkan para suporter ini.

“Sampai beberapa hari menjelang Bundesliga ini bergulir lagi tak ada laporan dari klub mengenai kerepotan menangani suporter merek. Kami yakin klub bisa mengendalikan dan suporter cukup dewasa soal laga yang tertutup ini,” ujar Seifert.

Sementara itu, The Sun menulis selain meludah di lapangan yang dilarang maka melakukan tekel akan ikut dilarang. Karena itu klub-klub diminta membiasakan soal tekel ini dalam sesi latihan.

“Pembiasaan-pembiasaan baru di Project League ini akan sangat sulit. Sebab kini dalam sesi latihan maksimal waktu yang diberikan hanya 75 menit dan itu tak cukup,” kata salah satu pemain kepada The Sun. (dra)

Most Read

Artikel Terbaru

/