alexametrics
33.9 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Sosok Dibalik Lolosnya City dari Hukuman UEFA  

MANCHESTER, – Manchester City lolos dari hukuman UEFA usai menang banding di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Ada sosok penting di balik keberhasilan tersebut. Siapa dia?

CAS mengabulkan banding City atas hukuman larangan bermain dua tahun di Eropa oleh UEFA, Senin (13/7/2020). Klub asal Manchester tersebut dinyatakan tidak bersalah atas dugaan pelanggaran Financial Fair Play (FFP) melalui penyalahgunaan dana sponsor.

Dengan demikian, City tetap boleh tampil di  Liga Champions musim depan. Klub asal Manchester itu hanya diberi sanksi denda sebesar 10 juta Euro yang harus dibayarkan ke UEFA.

Keberhasilan The Sky Blues tetap berlaga di Eropa tak bisa dilepaskan dari kuasa hukum City. Melansir Omnisport, klub yang dimiliki Sheikh Mansour itu merekrut pengacara kondang asal Inggris, Lord David Pannick QC, untuk mengurus kasusnya tersebut.

Pannick diketahui punya rekor oke kala mengurus masalah hukum di Negeri Ratu Elizabeth. Dia pernah menggagalkan upaya Perdana Menteri Inggris, Theresa May, perihal Brexit  di tahun 2016. Pria 64 tahun itu juga pernah memenangkan City atas tuntutan mantan pelatihnya, Joe Royle, yang didepak dari Maine Road (markas lama City) 19 tahun lalu. Pannick bahkan berhasil membuat Royle membayar 467 ribu paun kepada The Citizens.

Jawara Liga Inggris musim lalu itu bahkan berani membayar mahal Pannick supaya memenangkan banding mereka. City dilaporkan memberi upah sebesar 20 ribu paun (Rp 363 juta) setiap harinya kepada Pannick demi bisa tetap tampil di Eropa.

Baca Juga :  Elang Sambas Terbang ke Inggris

Richard Cramer, spesialis hukum olahraga, menyebut Pannick sebagai otak kesuksesan City dalam banding dengan CAS. Menurutnya, The Citizens melimpahkan kasus hukumnya kepada sosok yang tepat.

“Manchester City mampu menunjuk sosok legal terbaik yang dimiliki negara ini, tidak semua klub bisa melakukan itu. Mereka mengandalkan anak emas, yakni David Pannick QC,” kata Cramer, dilansir dari Omnisport.

“David Pannick merupakan sosok handal, sangat terkemuka dan mengerti sekali tentang isu tersebut. Dia dan timnya telah menghasilkan hasil yang luar biasa,” tambahnya.

BBC menulis, menang banding atas Court of Arbitration for Sport (Cas) alias Pengadilan Arbitrase Olahraga. Bagi Manchester City itu seperti sebuah kemenangan besar. Tak ayal, City bakal rugi besar kalau tidak bisa tampil di Liga Champions musim depan.

Rugi besarnya itu pertama dari pemasukan klub. Jika tak tampil di Liga Champions, maka mereka tak akan mendapatkan jatah hak siar dan sponsor. Maka kini, Manchester City bisa fokus untuk menyelesaikan kompetisi liga. Selain itu, anak-anak asuh Pep Guardiola juga masih bisa melangkah lebih jauh di Liga Champions musim ini.

Mereka masih akan menjalani leg kedua babak 16 besar Liga Champions musim ini menghadapi Real Madrid di Etihad Stadium. Mereka mengantongi kemenangan 2-1 dari leg pertama di Santiago Bernabeu.

Baca Juga :  Eriksen Penentu Singkirkan AC Milan

Kedua, dari sisi para pemain. Jika tidak tampil di Liga Champions, Manchester City bisa saja ditinggalkan pemain bintang seperti Kevin De Bruyne, Raheem Sterling, dan lainnya yang masih ingin berlaga di kompetisi tertinggi antarklub Eropa.

Ketiga, Manchester City masih belum pernah memenangi juara Liga Champions sejak dibeli Sheikh Mansour di tahun 2008 dan disulap jadi klub berisikan pemain top dunia. The Citizens masih penasaran bagaimana rasanya memegang trofi ‘Si Kuping Besar’.

Sementara itu Mantan pemain Manchester United yang kini menjadi pundit sepakbola, Gary Neville menyampaikan pendapatnya perihal tersebut. Dia tampak begitu geram karena UEFA seolah tak bisa bersikap tegas.

“UEFA dan badan FFP-nya tidak bisa menerapkan peraturan mereka dengan benar. Kami sudah tahu hal itu selama bertahun-tahun.Ini seperti penyimpangan, suatu pengadilan yang tidak serius,” kata Neville seperti dilansir Sky Sports.

Gary Neville menambahkan, UEFA dan badan keuangannya harusnya menegakkan keadilan. Soal pemasukan klub, semuanya sudah aturannya dan cukup jelas.”Selalu ada orang yang tajir berinvestasi ke klub sepak bola dan itu tidak akan berubah sampai hari ini, serta selalu ada ‘permainan’. Saya pikir UEFA dan FFP butuh tamparan,” tutup Gary Neville.(int)

MANCHESTER, – Manchester City lolos dari hukuman UEFA usai menang banding di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Ada sosok penting di balik keberhasilan tersebut. Siapa dia?

CAS mengabulkan banding City atas hukuman larangan bermain dua tahun di Eropa oleh UEFA, Senin (13/7/2020). Klub asal Manchester tersebut dinyatakan tidak bersalah atas dugaan pelanggaran Financial Fair Play (FFP) melalui penyalahgunaan dana sponsor.

Dengan demikian, City tetap boleh tampil di  Liga Champions musim depan. Klub asal Manchester itu hanya diberi sanksi denda sebesar 10 juta Euro yang harus dibayarkan ke UEFA.

Keberhasilan The Sky Blues tetap berlaga di Eropa tak bisa dilepaskan dari kuasa hukum City. Melansir Omnisport, klub yang dimiliki Sheikh Mansour itu merekrut pengacara kondang asal Inggris, Lord David Pannick QC, untuk mengurus kasusnya tersebut.

Pannick diketahui punya rekor oke kala mengurus masalah hukum di Negeri Ratu Elizabeth. Dia pernah menggagalkan upaya Perdana Menteri Inggris, Theresa May, perihal Brexit  di tahun 2016. Pria 64 tahun itu juga pernah memenangkan City atas tuntutan mantan pelatihnya, Joe Royle, yang didepak dari Maine Road (markas lama City) 19 tahun lalu. Pannick bahkan berhasil membuat Royle membayar 467 ribu paun kepada The Citizens.

Jawara Liga Inggris musim lalu itu bahkan berani membayar mahal Pannick supaya memenangkan banding mereka. City dilaporkan memberi upah sebesar 20 ribu paun (Rp 363 juta) setiap harinya kepada Pannick demi bisa tetap tampil di Eropa.

Baca Juga :  Mourinho Sudah Kembali

Richard Cramer, spesialis hukum olahraga, menyebut Pannick sebagai otak kesuksesan City dalam banding dengan CAS. Menurutnya, The Citizens melimpahkan kasus hukumnya kepada sosok yang tepat.

“Manchester City mampu menunjuk sosok legal terbaik yang dimiliki negara ini, tidak semua klub bisa melakukan itu. Mereka mengandalkan anak emas, yakni David Pannick QC,” kata Cramer, dilansir dari Omnisport.

“David Pannick merupakan sosok handal, sangat terkemuka dan mengerti sekali tentang isu tersebut. Dia dan timnya telah menghasilkan hasil yang luar biasa,” tambahnya.

BBC menulis, menang banding atas Court of Arbitration for Sport (Cas) alias Pengadilan Arbitrase Olahraga. Bagi Manchester City itu seperti sebuah kemenangan besar. Tak ayal, City bakal rugi besar kalau tidak bisa tampil di Liga Champions musim depan.

Rugi besarnya itu pertama dari pemasukan klub. Jika tak tampil di Liga Champions, maka mereka tak akan mendapatkan jatah hak siar dan sponsor. Maka kini, Manchester City bisa fokus untuk menyelesaikan kompetisi liga. Selain itu, anak-anak asuh Pep Guardiola juga masih bisa melangkah lebih jauh di Liga Champions musim ini.

Mereka masih akan menjalani leg kedua babak 16 besar Liga Champions musim ini menghadapi Real Madrid di Etihad Stadium. Mereka mengantongi kemenangan 2-1 dari leg pertama di Santiago Bernabeu.

Baca Juga :  Daud Yordan Diundang Presiden ke Istana

Kedua, dari sisi para pemain. Jika tidak tampil di Liga Champions, Manchester City bisa saja ditinggalkan pemain bintang seperti Kevin De Bruyne, Raheem Sterling, dan lainnya yang masih ingin berlaga di kompetisi tertinggi antarklub Eropa.

Ketiga, Manchester City masih belum pernah memenangi juara Liga Champions sejak dibeli Sheikh Mansour di tahun 2008 dan disulap jadi klub berisikan pemain top dunia. The Citizens masih penasaran bagaimana rasanya memegang trofi ‘Si Kuping Besar’.

Sementara itu Mantan pemain Manchester United yang kini menjadi pundit sepakbola, Gary Neville menyampaikan pendapatnya perihal tersebut. Dia tampak begitu geram karena UEFA seolah tak bisa bersikap tegas.

“UEFA dan badan FFP-nya tidak bisa menerapkan peraturan mereka dengan benar. Kami sudah tahu hal itu selama bertahun-tahun.Ini seperti penyimpangan, suatu pengadilan yang tidak serius,” kata Neville seperti dilansir Sky Sports.

Gary Neville menambahkan, UEFA dan badan keuangannya harusnya menegakkan keadilan. Soal pemasukan klub, semuanya sudah aturannya dan cukup jelas.”Selalu ada orang yang tajir berinvestasi ke klub sepak bola dan itu tidak akan berubah sampai hari ini, serta selalu ada ‘permainan’. Saya pikir UEFA dan FFP butuh tamparan,” tutup Gary Neville.(int)

Most Read

Artikel Terbaru

/