alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Indonesia Raih Tiga Gelar, Terbaik di Era BWF Tour

JAKARTA,– Sejak rangkaian turnamen bulu tangkis dunia berubah menjadi BWF World Tour pada 2018, Indonesia sulit meraih lebih dari satu gelar juara. Hasil terbaik adalah gelar dobel. Misalnya, di Indonesia Open 2018 atau Denmark Open dan French Open tahun lalu. Nah, kemarin skuad pelatnas Cipayung untuk kali pertama memborong tiga gelar sekaligus! Anthony Sinisuka Ginting, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, dan Greysia Polii/Apriyani Rahayu membuktikan bahwa Istora begitu angker.

Marcus/Kevin Masih Unggul

All Indonesian final selalu berakhir sama. Gelar juara bakal diduduki Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, sementara pasangan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan menjadi runner-up. Tradisi itu sudah terjadi dalam enam final yang mempertemukan mereka sebelumnya. Tidak ada yang berubah.

Hasil ini menambah panjang daftar kekalahan Ahsan/Hendra terhadap Marcus/Kevin. Duo bapak-bapak itu mengubah kedudukan kalah menjadi 11-2. Miris. Dengan segala gelar yang mereka raih, ganda putra nomor dua dunia tersebut selalu mentok dengan Minions.

Baca Juga :  Diperlakukan Seperti Robot, Minions Protes Bwf

“Hari ini mereka memang bermain bagus. Dari set pertama kami sudah sempat leading cuma mereka bisa mengantisipasi balik, jadi mereka bisa menang. Kami berusaha ubah pola mainnya tapi beberapa poin masih terburu-buru,” ucap Hendra.

Ahsan/Hendra tidak memungkiri jika Marcus/Kevin lebih unggul. Bukan berarti tidak ada perlawanan dari mereka. Hanya saja segala strategi yang mereka susun selalu dimentahkan lawan. “Kami coba semua strategi, bukannya kalah diam saja. Kami lihat juga dari lawan-lawan yang pernah ngalahin Marcus/Kevin seperti apa. Tapi ‘kan kenyataan di lapangan berbeda. Kami akan terus coba lagi,” jelas Ahsan.

“Mungkin mereka lebih komplit dibanding pasangan-pasangan yang lain. Memang mereka masih pasangan yang terbaik. Dari segi speed and power kami sudah ketinggalan,” ungkap Hendra.

Baca Juga :  Target 20 Medali Emas, Atlet NPC Siap Hadapi Peparnas Papua

Kendati demikian, pasangan ini tetap mencari celah untuk mengalahkan Marcus/Kevin. Mereka percaya masih ada kesempatan untuk mengalahkan Minions pada turnamen yang akan datang. Tidak selamanya bakal kalah dari sang junior.

Di sisi lain, Marcus/Kevin mengungkapkan gelar kali ini tidak diraih dengan mudah meski menang straight game 21-15, 21-16. Konsistensi yang jadi kunci kemenangan itu. “Set kedua mereka bangkit dan mau menyusul tapi kami bisa antisipasi. Mereka ‘kan lebih senior punya banyak pengalaman. Kalau dibiarkan langsung bisa mengejar poin banyak. Tapi kami jaga konsistensi supaya mereka nggak bisa lepas dari tekanan kami,” kata Kevin. (feb)

JAKARTA,– Sejak rangkaian turnamen bulu tangkis dunia berubah menjadi BWF World Tour pada 2018, Indonesia sulit meraih lebih dari satu gelar juara. Hasil terbaik adalah gelar dobel. Misalnya, di Indonesia Open 2018 atau Denmark Open dan French Open tahun lalu. Nah, kemarin skuad pelatnas Cipayung untuk kali pertama memborong tiga gelar sekaligus! Anthony Sinisuka Ginting, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, dan Greysia Polii/Apriyani Rahayu membuktikan bahwa Istora begitu angker.

Marcus/Kevin Masih Unggul

All Indonesian final selalu berakhir sama. Gelar juara bakal diduduki Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, sementara pasangan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan menjadi runner-up. Tradisi itu sudah terjadi dalam enam final yang mempertemukan mereka sebelumnya. Tidak ada yang berubah.

Hasil ini menambah panjang daftar kekalahan Ahsan/Hendra terhadap Marcus/Kevin. Duo bapak-bapak itu mengubah kedudukan kalah menjadi 11-2. Miris. Dengan segala gelar yang mereka raih, ganda putra nomor dua dunia tersebut selalu mentok dengan Minions.

Baca Juga :  Target 20 Medali Emas, Atlet NPC Siap Hadapi Peparnas Papua

“Hari ini mereka memang bermain bagus. Dari set pertama kami sudah sempat leading cuma mereka bisa mengantisipasi balik, jadi mereka bisa menang. Kami berusaha ubah pola mainnya tapi beberapa poin masih terburu-buru,” ucap Hendra.

Ahsan/Hendra tidak memungkiri jika Marcus/Kevin lebih unggul. Bukan berarti tidak ada perlawanan dari mereka. Hanya saja segala strategi yang mereka susun selalu dimentahkan lawan. “Kami coba semua strategi, bukannya kalah diam saja. Kami lihat juga dari lawan-lawan yang pernah ngalahin Marcus/Kevin seperti apa. Tapi ‘kan kenyataan di lapangan berbeda. Kami akan terus coba lagi,” jelas Ahsan.

“Mungkin mereka lebih komplit dibanding pasangan-pasangan yang lain. Memang mereka masih pasangan yang terbaik. Dari segi speed and power kami sudah ketinggalan,” ungkap Hendra.

Baca Juga :  Hadiah Naik, Target Tidak Jelas

Kendati demikian, pasangan ini tetap mencari celah untuk mengalahkan Marcus/Kevin. Mereka percaya masih ada kesempatan untuk mengalahkan Minions pada turnamen yang akan datang. Tidak selamanya bakal kalah dari sang junior.

Di sisi lain, Marcus/Kevin mengungkapkan gelar kali ini tidak diraih dengan mudah meski menang straight game 21-15, 21-16. Konsistensi yang jadi kunci kemenangan itu. “Set kedua mereka bangkit dan mau menyusul tapi kami bisa antisipasi. Mereka ‘kan lebih senior punya banyak pengalaman. Kalau dibiarkan langsung bisa mengejar poin banyak. Tapi kami jaga konsistensi supaya mereka nggak bisa lepas dari tekanan kami,” kata Kevin. (feb)

Most Read

200 Kendaraan Terjaring Operasi Zebra

Koeman: Pemain Barca Kurang Fokus

Artikel Terbaru

/