alexametrics
30.1 C
Pontianak
Friday, August 12, 2022

Kesaktian Pancasila dan Penguatan Karakter Pelajar

Tanggal 1 Oktober kembali kita peringati sebagai hari Kesaktian Pancasila. Dalam dunia pendidikan, peringatan hari Kesaktian Pancasila sangat berguna bagi pelajar dalam meneladani jasa pahlawan terutama pahlawan revolusi yang sangat berjasa mempertahankan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah bangsa Indonesia. Para pahlawan revolusi telah berkorban jiwa dan raga untuk mencegah masuknya ideologi komunis yang tak mengenal Tuhan, ideologi yang sangat berbahaya bagi nilai-nilai luhur dan jati diri bangsa Indonesia. Pelajar sebagai calon pemimpin bangsa ini di masa depan, haruslah mengedepankan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta merefleksikannya dalam akhlak mulia pada kehidupannya. Adanya tragedi pemberontakan G30S/PKI harus dipahami oleh pelajar Indonesia untuk senantiasa waspada terhadap ancaman dari luar serta pengaruh negatif pemikiran ataupun ideologi yang sangat berbahaya terhadap masa depan bangsa. 

Momentum hari Kesaktian Pancasila juga bisa kita jadikan sebagai penggugah semangat bagi penguatan karakter generasi muda bangsa Indonesia, yaitu mencetak Profil Pelajar Pancasila. Profil tersebut adalah sosok pelajar berkarakter yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia. Ada enam dimensi yang saling berkaitan dan menguatkan pada Profil Pelajar Pancasila, sehingga harus dikembangkan secara bersamaan dan tidak parsial. Keenam dimensi tersebut adalah beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinnekaan global, bergotong-royong, mandiri, bernalar kritis serta kreatif. Pengembangan dimensi tersebut dilakukan dengan pembelajaran pada pengalaman nyata. Sehingga pelajar mengalami pembelajaran yang lebih bermakna dan berpotensi meningkatkan pemahaman dan kemampuan dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya sekolah yang sudah dilakukan sejak dahulu, tidak lagi dijadikan rutinitas semata. Budaya tersebut harus bisa digali oleh guru sebagai pendidik, agar pelajar bisa mengambil hikmah dari setiap aktivitasnya. Misalnya kebiasaaan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing saat guru membuka dan menutup pembelajaran di kelas. Kebiasaan tersebut jika kita gali lebih dalam merupakan aktivitas yang sarat makna. Aktivitas tersebut mengandung pelajaran bahwa manusia merupakan mahluk yang lemah dan mengakui adanya Tuhan Yang maha Esa untuk meminta pertolongan, petunjuk serta keberkahan dalam kehidupan. Diharapkan pelajar Pancasila memiliki spiritual yang tinggi, sehingga dapat menerapkan nilai-nilai agamanya masing-masing dalam kehidupannya.

Baca Juga :  Peningkatan Literasi Membaca

Contoh lainnya adalah. tugas piket kebersihan kelas yang dilakukan pelajar setiap hari secara berkelompok. Tugas tersebut sangat efektif dalam mengembangan dimensi bergotong-royong dengan berbagai ragam teman yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, baik suku dan agama. Aktivitas tersebut juga melatih pelajar bertanggung jawab terhadap kondisi kelasnya dan berjiwa mandiri serta menumbuhkan rasa peduli atau berakhlak terhadap lingkungannya agar senantiasa bersih dan indah. Karena setiap agama mengajarkan perilaku hidup sehat. Adanya kesadaran untuk menjaga kebersihan diharapkan tidak saja dilakukan di sekolah, namun juga menjadi karakter pelajar di rumah dan lingkungan tempat tinggalnya, Bahkan jika pelajar melakukan aktivitas di luar kota, misalnya ketika berlibur bersama teman-teman maupun kerabat. Mulai dari sampah yang kecil seperti bungkus permen hingga plastik berbagai kemasan makanan atau minuman lainnya.

Dimensi bergotong-royong juga bisa dikembangkan saat penggalangan dana ke kelas-kelas. Hal ini biasanya dilakukan pelajar ketika ada musibah yang menimpa salah seorang temannya, misalnya jika ada orang tua siswa meninggal dunia, musibah kebakaran dan bencana lainnya. Guru bisa mengarahkan pelajar untuk berbagi tugas dan cara kreatif lainnya dalam aksi sosial tersebut. Selain menggali hikmah agar pelajar tetap sabar dan bertawakkal kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dalam menghadapi musibah yang dihadapi, juga mengasah rasa kepedulian sosial para pelajar, serta berkolaborasi dan berbagi kepada lingkungan sekitarnya dengan semangat gotong-royong tersebut.

Untuk pelajar SMA atau SMK, guru bisa mengarahkan membuat rencana atau proyek untuk membantu pedagang kecil di lingkungan tempat tinggal mereka. Tujuan proyek tersebut adalah memasarkan barang produksi pedagang kecil kepada konsumen atau masyarakat luas. Pelajar SMA atau SMK yang sudah terbiasa dengan aplikasi di gadget, bisa membuat info grafis visual maupun audio visual untuk disebarkan di sosial media. Pelajar belajar berpikir sederhana mengenai perilaku konsumen. Berbagai inovasi sederhana juga bisa dikembangkan dalam membantu kehidupan masyarakat ekonomi lemah. Adanya proyek tersebut bisa mendukung pengembangan dimensi bernalar kritis dan kreatif berwirausaha bagi pelajar. Selain itu juga melatih pelajar dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik dan penuh tanggung jawab secara mandiri. 

Baca Juga :  Pendidikan Kehilangan Rohnya

Kegiatan ekstra kurikuler bisa sangat efektif untuk mengembangkankan dimensi Profil Pelajar Pancasila. Pelajar dapat memilih sendiri kegiatan tersebut sesuai dengan minat dan bakatnya. Karena dipilih dengan sukarela, maka mereka juga akan terlibat aktif menjalankan kegiatan ekstrakurikuler tersebut. Dengan kondisi tersebut diharapkan pelajar akan melakukan pembelajaran berorganisasi untuk masa depannya dan bekerja dalam kelompok ataupun kepanitiaan sehingga menumbuhkan kemandirian dan kepedulian bersama. Selain itu, pelajar juga akan belajar untuk dapat mengatur waktunya dengan efektif. Sehingga ada keseimbangan antara  waktu untuk belajar, mengikuti ekstrakurikuler dan membantu orang tuanya di rumah. Tentu saja agar tersebut terlaksana dengan baik, sangat diperlukan peran guru agar dapat mengarahkan pelajar melakukan manajemen waktu secara mandiri dan penuh tanggung jawab dengan tepat. Komunikasi guru dengan orang tua siswa juga sangat diperlukan dalam memperhatikan aktivitas pelajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Kegiatan ekstra kurikuler sangat diharapkan bisa menyentuh masyarakat di sekitar lingkungan sekolah ataupun lingkungan tempat tinggal pelajar, misalnya melakukan aksi sosial atau peduli lingkungan. Sehingga orang tua siswa serta masyarakat setempat juga bisa merasakan dampak positif kegiatan sekolah. 

Pendidikan merupakan proses yang sangat panjang, memerlukan perhatian dan kerja sama semua pihak yang tak kenal lelah. Kesinambungan gerak dan langkah dari pemerintah dan semua komponen masyarakat dalam membangun generasi bangsa ini kita harapkan mampu mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang kita idamkan bersama. Di bagian akhir tulisan ini marilah kita renungkan kata-kata bijak dari Ki Hajar Dewantara, yaitu “Dengan adanya budi pekerti, tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka, yang dapat menguasai diri sendiri. Inilah manusia beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya.” Demikian semoga bermanfaat.

Penulis: Kurniawan Widodo, S. Hut., M. Pd, Guru SMK Negeri 2 Pontianak

Tanggal 1 Oktober kembali kita peringati sebagai hari Kesaktian Pancasila. Dalam dunia pendidikan, peringatan hari Kesaktian Pancasila sangat berguna bagi pelajar dalam meneladani jasa pahlawan terutama pahlawan revolusi yang sangat berjasa mempertahankan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah bangsa Indonesia. Para pahlawan revolusi telah berkorban jiwa dan raga untuk mencegah masuknya ideologi komunis yang tak mengenal Tuhan, ideologi yang sangat berbahaya bagi nilai-nilai luhur dan jati diri bangsa Indonesia. Pelajar sebagai calon pemimpin bangsa ini di masa depan, haruslah mengedepankan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta merefleksikannya dalam akhlak mulia pada kehidupannya. Adanya tragedi pemberontakan G30S/PKI harus dipahami oleh pelajar Indonesia untuk senantiasa waspada terhadap ancaman dari luar serta pengaruh negatif pemikiran ataupun ideologi yang sangat berbahaya terhadap masa depan bangsa. 

Momentum hari Kesaktian Pancasila juga bisa kita jadikan sebagai penggugah semangat bagi penguatan karakter generasi muda bangsa Indonesia, yaitu mencetak Profil Pelajar Pancasila. Profil tersebut adalah sosok pelajar berkarakter yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia. Ada enam dimensi yang saling berkaitan dan menguatkan pada Profil Pelajar Pancasila, sehingga harus dikembangkan secara bersamaan dan tidak parsial. Keenam dimensi tersebut adalah beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinnekaan global, bergotong-royong, mandiri, bernalar kritis serta kreatif. Pengembangan dimensi tersebut dilakukan dengan pembelajaran pada pengalaman nyata. Sehingga pelajar mengalami pembelajaran yang lebih bermakna dan berpotensi meningkatkan pemahaman dan kemampuan dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya sekolah yang sudah dilakukan sejak dahulu, tidak lagi dijadikan rutinitas semata. Budaya tersebut harus bisa digali oleh guru sebagai pendidik, agar pelajar bisa mengambil hikmah dari setiap aktivitasnya. Misalnya kebiasaaan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing saat guru membuka dan menutup pembelajaran di kelas. Kebiasaan tersebut jika kita gali lebih dalam merupakan aktivitas yang sarat makna. Aktivitas tersebut mengandung pelajaran bahwa manusia merupakan mahluk yang lemah dan mengakui adanya Tuhan Yang maha Esa untuk meminta pertolongan, petunjuk serta keberkahan dalam kehidupan. Diharapkan pelajar Pancasila memiliki spiritual yang tinggi, sehingga dapat menerapkan nilai-nilai agamanya masing-masing dalam kehidupannya.

Baca Juga :  Pendidik Penggerak Perubahan

Contoh lainnya adalah. tugas piket kebersihan kelas yang dilakukan pelajar setiap hari secara berkelompok. Tugas tersebut sangat efektif dalam mengembangan dimensi bergotong-royong dengan berbagai ragam teman yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, baik suku dan agama. Aktivitas tersebut juga melatih pelajar bertanggung jawab terhadap kondisi kelasnya dan berjiwa mandiri serta menumbuhkan rasa peduli atau berakhlak terhadap lingkungannya agar senantiasa bersih dan indah. Karena setiap agama mengajarkan perilaku hidup sehat. Adanya kesadaran untuk menjaga kebersihan diharapkan tidak saja dilakukan di sekolah, namun juga menjadi karakter pelajar di rumah dan lingkungan tempat tinggalnya, Bahkan jika pelajar melakukan aktivitas di luar kota, misalnya ketika berlibur bersama teman-teman maupun kerabat. Mulai dari sampah yang kecil seperti bungkus permen hingga plastik berbagai kemasan makanan atau minuman lainnya.

Dimensi bergotong-royong juga bisa dikembangkan saat penggalangan dana ke kelas-kelas. Hal ini biasanya dilakukan pelajar ketika ada musibah yang menimpa salah seorang temannya, misalnya jika ada orang tua siswa meninggal dunia, musibah kebakaran dan bencana lainnya. Guru bisa mengarahkan pelajar untuk berbagi tugas dan cara kreatif lainnya dalam aksi sosial tersebut. Selain menggali hikmah agar pelajar tetap sabar dan bertawakkal kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dalam menghadapi musibah yang dihadapi, juga mengasah rasa kepedulian sosial para pelajar, serta berkolaborasi dan berbagi kepada lingkungan sekitarnya dengan semangat gotong-royong tersebut.

Untuk pelajar SMA atau SMK, guru bisa mengarahkan membuat rencana atau proyek untuk membantu pedagang kecil di lingkungan tempat tinggal mereka. Tujuan proyek tersebut adalah memasarkan barang produksi pedagang kecil kepada konsumen atau masyarakat luas. Pelajar SMA atau SMK yang sudah terbiasa dengan aplikasi di gadget, bisa membuat info grafis visual maupun audio visual untuk disebarkan di sosial media. Pelajar belajar berpikir sederhana mengenai perilaku konsumen. Berbagai inovasi sederhana juga bisa dikembangkan dalam membantu kehidupan masyarakat ekonomi lemah. Adanya proyek tersebut bisa mendukung pengembangan dimensi bernalar kritis dan kreatif berwirausaha bagi pelajar. Selain itu juga melatih pelajar dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik dan penuh tanggung jawab secara mandiri. 

Baca Juga :  Pendidikan Kehilangan Rohnya

Kegiatan ekstra kurikuler bisa sangat efektif untuk mengembangkankan dimensi Profil Pelajar Pancasila. Pelajar dapat memilih sendiri kegiatan tersebut sesuai dengan minat dan bakatnya. Karena dipilih dengan sukarela, maka mereka juga akan terlibat aktif menjalankan kegiatan ekstrakurikuler tersebut. Dengan kondisi tersebut diharapkan pelajar akan melakukan pembelajaran berorganisasi untuk masa depannya dan bekerja dalam kelompok ataupun kepanitiaan sehingga menumbuhkan kemandirian dan kepedulian bersama. Selain itu, pelajar juga akan belajar untuk dapat mengatur waktunya dengan efektif. Sehingga ada keseimbangan antara  waktu untuk belajar, mengikuti ekstrakurikuler dan membantu orang tuanya di rumah. Tentu saja agar tersebut terlaksana dengan baik, sangat diperlukan peran guru agar dapat mengarahkan pelajar melakukan manajemen waktu secara mandiri dan penuh tanggung jawab dengan tepat. Komunikasi guru dengan orang tua siswa juga sangat diperlukan dalam memperhatikan aktivitas pelajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Kegiatan ekstra kurikuler sangat diharapkan bisa menyentuh masyarakat di sekitar lingkungan sekolah ataupun lingkungan tempat tinggal pelajar, misalnya melakukan aksi sosial atau peduli lingkungan. Sehingga orang tua siswa serta masyarakat setempat juga bisa merasakan dampak positif kegiatan sekolah. 

Pendidikan merupakan proses yang sangat panjang, memerlukan perhatian dan kerja sama semua pihak yang tak kenal lelah. Kesinambungan gerak dan langkah dari pemerintah dan semua komponen masyarakat dalam membangun generasi bangsa ini kita harapkan mampu mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang kita idamkan bersama. Di bagian akhir tulisan ini marilah kita renungkan kata-kata bijak dari Ki Hajar Dewantara, yaitu “Dengan adanya budi pekerti, tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka, yang dapat menguasai diri sendiri. Inilah manusia beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya.” Demikian semoga bermanfaat.

Penulis: Kurniawan Widodo, S. Hut., M. Pd, Guru SMK Negeri 2 Pontianak

Most Read

Artikel Terbaru

/