alexametrics
25.6 C
Pontianak
Friday, August 12, 2022

Pandemi Covid-19, Asap, dan Kita

Oleh: Y Priyono Pasti

 PANDEMI Covid-19 telah menyebabkan terjadinya semesta porak-poranda di jagat pendidikan kita. Akibat pandemi Covid-19, musuh tak kasat mata, yang kini, penularannya masih saja terjadi hingga saat ini, ancaman ketidakmampuan belajar (learning poverty) semakin nyata. Bahkan risiko hilang pengalaman belajar (learning lost) telah terjadi.

Dampak buruk lainnya akibat pandemi Covid-19, risiko angka putus sekolah, baik karena bekerja maupun karena menikah cenderung meningkat. Data yang dihimpun oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan hal itu. Berdasarkan data KPAI, sejumlah siswa berhenti sekolah karena bekerja untuk membantu perekonomian keluarga ataupun karena menikah.

Dari temuan KPAI, ada 119 peserta didik (tersebar di sejumlah daerah) yang menikah. Usia mereka berkisar 15-18 tahun. Di SMA Negeri 1 Gunungsari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, misalnya, Sembilan siswanya (laki-lakidan perempuan) putus sekolah karena menikah. Kondisi yang demikian, tanpa penanganan khusus dan serius, dampak buruknya akan semakin parah.

Di tengah dampak buruk akibat pandemi Covid-19, kini, kita dihadapkan pada masalah krusial lainnya yang dampaknya juga luar biasa, yaitu kabut asap. Mengapa bencana asap terus saja terjadi di Bumi Khatulistiwa ini? Upaya apa yang mesti dilakukan untuk mengatasi, menanggulangi, mengantisipasi, dan paling tidak meminimalisirnya?

Tak Pernah Belajar

Degradasi lingkungan (alam) sudah lama kita rasakan. Bahaya banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah lama menjadi persoalan krusial yang sangat meresahkan. Tetapi, kita tak punya naluri untuk belajar dari apa yang telah terjadi.

Saat ini, kerusakan lingkungan kita kian parah. Manusia, dengan nafsu serakahnya, terus saja mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) yang ada. Aksi membabat hutan membabi buta, melakukan penambangan liar, mengikis habis isi perut bumi tanpa henti. Seolah-olah hidup hanya untuk harii ni, esok tiada lagi.

Baca Juga :  Tadarus Alquran dan Tadarus Kemanusiaan

Saat ini, kegiatan perambahan dan pengrusakan lingkungan hidup terus saja terjadi. Situasi ini menjadi semakin parah karena ringannya sanksi terhadap perusak lingkungan serta rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidupnya. Upaya pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup baru dalam tataran wacana belum sampai pada tingkat implementasi, apalagi menghayati betapa pentingnya menjaga dan melestarikannya.

Kerusakan lingkungan hidup saat ini sudah sampai pada tahap yang membahayakan. Akibatnya, kini, kita mulai menuai bencananya. Bencana asap yang (mulai) melanda kita saat ini adalah konsekuensinya. Itulah sebabnya upaya pelestarian lingkungan (alam-hidup) dalam rangka memajukan kesejahteraan umum mutlak dilakukan.

Masalah Serius

Masalah pelestarian lingkungan (alam) hidup merupakan masalah serius yang harus ditangani secara komprehensif, terencana, terintegrasi, holistik,dan berkelanjutan oleh pihak-pihak yang berkompeten. Hal ini disebabkan masalah pelestarian lingkungan hidup sesungguhnya jauh lebih luas ketimbang sekadar upaya mengatasi kerusakan alam dan bentuk-bentuk pencemaran yang terjadi.

Masalah lingkungan hidup berkaitan erat dengan soal pandangan atau sikap hidup terhadap alam hidup. Artinya, bila kita ingin hidup sehat, sejahtera (tidak hanya untuk kita saat ini, tetapi juga untuk anak cucu cicit buyut kita kelak), kita harus akrab bersahabat, menaruh hormat, mencintai, merawat, dan menjadikan alam teman hidup sejati kita.

Meminjam ungkapan Datus Lega, pelestarian terhadap lingkungan hidup harus dilihat sebagai suatu sikap keprihatinan dan kewaspadaan terhadap tindakan sewenang-wenang siapapun yang merusak lingkungan hidup.

Baca Juga :  Kehebatan Surah Al Fatihah

Sikap hidup yang demikian mesti menjadi bagian hidup kita yang berarti bahwa kita mempunyai sikap solidaritas yang tinggi terhadap anak-cucu-cicit-buyut kita karena mereka pun akan hidup dari lingkungan yang kita hidupi saat ini.

Sejumlah Rekomendasi

Untuk itu, pelestarian lingkungan hidup untuk mengatasi dan mencegah kerusakan lingkungan hidup itu harus terus dikumandangkan dan direalisasikan demi kemaslahatan masyarakat banyak. Berikut ini sejumlah rekomendasi yang mesti dilakukan.

Diantaranya, pertama, upaya untuk mengatasi dan mencegah bencana akibat pengrusakan dan pencemaran lingkungan (alam) hidup harus digalakkan dimanapun, kapanpun, dan oleh siapapun.

Kedua, upaya strategi suntuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup yang lestari, penyelamatan hutan, tanah, dan air melalui pelbagai kegiatan harus terus diintensifkan.

Ketiga, perlunya pembinaan secara lintas sektoral tentang hukum peraturan pengelolaan lingkungan, pemukiman dan pengembangan lingkungan.

Keempat, perlunya pendidikan yang berperspektif lingkungan, gerakan penghijauan (go green) dan peningkatan kebersihan lingkungan, serta perlunya sanksi yang tegas terhadap perusak dan pembakar lingkungan.

Kelima, penguatan dan penegakan hukum terutama yang berkaitan dengan lingkungan. Sanksi tegas tanpa pandang bulu terhadap perusak lingkungan mutlak diperlukan.

Aneka ragam bencana alam yang terjadi seperti banjir, tanah longsor di sejumlah daerah di Kalbar beberapa waktu yang lalu, dan kini, kekeringan, kebakaran, asap yang menyelimuti kita hari-hari ini, hanyalah gejala kecil kemurkaan alam. Jika kita tidak bersedia untuk bersahabat, merawat alam, dan menjaga kelestariannya, kemurkaan alam yang jauh lebih dahsyat akan segera menimpa.**

*Penulis adalah  Alumnus USD Yogya, Kepala  SMP/Guru SMA Asisi, dan penulis Buku “Guru Sebagai Jalan Kehormatan”.

Oleh: Y Priyono Pasti

 PANDEMI Covid-19 telah menyebabkan terjadinya semesta porak-poranda di jagat pendidikan kita. Akibat pandemi Covid-19, musuh tak kasat mata, yang kini, penularannya masih saja terjadi hingga saat ini, ancaman ketidakmampuan belajar (learning poverty) semakin nyata. Bahkan risiko hilang pengalaman belajar (learning lost) telah terjadi.

Dampak buruk lainnya akibat pandemi Covid-19, risiko angka putus sekolah, baik karena bekerja maupun karena menikah cenderung meningkat. Data yang dihimpun oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan hal itu. Berdasarkan data KPAI, sejumlah siswa berhenti sekolah karena bekerja untuk membantu perekonomian keluarga ataupun karena menikah.

Dari temuan KPAI, ada 119 peserta didik (tersebar di sejumlah daerah) yang menikah. Usia mereka berkisar 15-18 tahun. Di SMA Negeri 1 Gunungsari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, misalnya, Sembilan siswanya (laki-lakidan perempuan) putus sekolah karena menikah. Kondisi yang demikian, tanpa penanganan khusus dan serius, dampak buruknya akan semakin parah.

Di tengah dampak buruk akibat pandemi Covid-19, kini, kita dihadapkan pada masalah krusial lainnya yang dampaknya juga luar biasa, yaitu kabut asap. Mengapa bencana asap terus saja terjadi di Bumi Khatulistiwa ini? Upaya apa yang mesti dilakukan untuk mengatasi, menanggulangi, mengantisipasi, dan paling tidak meminimalisirnya?

Tak Pernah Belajar

Degradasi lingkungan (alam) sudah lama kita rasakan. Bahaya banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah lama menjadi persoalan krusial yang sangat meresahkan. Tetapi, kita tak punya naluri untuk belajar dari apa yang telah terjadi.

Saat ini, kerusakan lingkungan kita kian parah. Manusia, dengan nafsu serakahnya, terus saja mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) yang ada. Aksi membabat hutan membabi buta, melakukan penambangan liar, mengikis habis isi perut bumi tanpa henti. Seolah-olah hidup hanya untuk harii ni, esok tiada lagi.

Baca Juga :  Peran JKN-KIS Terhadap Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di Masa Pandemi Covid-19

Saat ini, kegiatan perambahan dan pengrusakan lingkungan hidup terus saja terjadi. Situasi ini menjadi semakin parah karena ringannya sanksi terhadap perusak lingkungan serta rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidupnya. Upaya pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup baru dalam tataran wacana belum sampai pada tingkat implementasi, apalagi menghayati betapa pentingnya menjaga dan melestarikannya.

Kerusakan lingkungan hidup saat ini sudah sampai pada tahap yang membahayakan. Akibatnya, kini, kita mulai menuai bencananya. Bencana asap yang (mulai) melanda kita saat ini adalah konsekuensinya. Itulah sebabnya upaya pelestarian lingkungan (alam-hidup) dalam rangka memajukan kesejahteraan umum mutlak dilakukan.

Masalah Serius

Masalah pelestarian lingkungan (alam) hidup merupakan masalah serius yang harus ditangani secara komprehensif, terencana, terintegrasi, holistik,dan berkelanjutan oleh pihak-pihak yang berkompeten. Hal ini disebabkan masalah pelestarian lingkungan hidup sesungguhnya jauh lebih luas ketimbang sekadar upaya mengatasi kerusakan alam dan bentuk-bentuk pencemaran yang terjadi.

Masalah lingkungan hidup berkaitan erat dengan soal pandangan atau sikap hidup terhadap alam hidup. Artinya, bila kita ingin hidup sehat, sejahtera (tidak hanya untuk kita saat ini, tetapi juga untuk anak cucu cicit buyut kita kelak), kita harus akrab bersahabat, menaruh hormat, mencintai, merawat, dan menjadikan alam teman hidup sejati kita.

Meminjam ungkapan Datus Lega, pelestarian terhadap lingkungan hidup harus dilihat sebagai suatu sikap keprihatinan dan kewaspadaan terhadap tindakan sewenang-wenang siapapun yang merusak lingkungan hidup.

Baca Juga :  Kado Idul Fitri Itu Sepasang Iman Dan Taqwa

Sikap hidup yang demikian mesti menjadi bagian hidup kita yang berarti bahwa kita mempunyai sikap solidaritas yang tinggi terhadap anak-cucu-cicit-buyut kita karena mereka pun akan hidup dari lingkungan yang kita hidupi saat ini.

Sejumlah Rekomendasi

Untuk itu, pelestarian lingkungan hidup untuk mengatasi dan mencegah kerusakan lingkungan hidup itu harus terus dikumandangkan dan direalisasikan demi kemaslahatan masyarakat banyak. Berikut ini sejumlah rekomendasi yang mesti dilakukan.

Diantaranya, pertama, upaya untuk mengatasi dan mencegah bencana akibat pengrusakan dan pencemaran lingkungan (alam) hidup harus digalakkan dimanapun, kapanpun, dan oleh siapapun.

Kedua, upaya strategi suntuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup yang lestari, penyelamatan hutan, tanah, dan air melalui pelbagai kegiatan harus terus diintensifkan.

Ketiga, perlunya pembinaan secara lintas sektoral tentang hukum peraturan pengelolaan lingkungan, pemukiman dan pengembangan lingkungan.

Keempat, perlunya pendidikan yang berperspektif lingkungan, gerakan penghijauan (go green) dan peningkatan kebersihan lingkungan, serta perlunya sanksi yang tegas terhadap perusak dan pembakar lingkungan.

Kelima, penguatan dan penegakan hukum terutama yang berkaitan dengan lingkungan. Sanksi tegas tanpa pandang bulu terhadap perusak lingkungan mutlak diperlukan.

Aneka ragam bencana alam yang terjadi seperti banjir, tanah longsor di sejumlah daerah di Kalbar beberapa waktu yang lalu, dan kini, kekeringan, kebakaran, asap yang menyelimuti kita hari-hari ini, hanyalah gejala kecil kemurkaan alam. Jika kita tidak bersedia untuk bersahabat, merawat alam, dan menjaga kelestariannya, kemurkaan alam yang jauh lebih dahsyat akan segera menimpa.**

*Penulis adalah  Alumnus USD Yogya, Kepala  SMP/Guru SMA Asisi, dan penulis Buku “Guru Sebagai Jalan Kehormatan”.

Most Read

Wujudkan Pengelolaan Zakat Profesional

Sita Sabu 24,11 Gram

Artikel Terbaru

/