alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, May 29, 2022

Menjadi Penyintas Covid-19

Oleh: Wahyu Saefudin

SABTU, 28 November 2020 kemarin, hasil Polymerase Chain Reaction Test (Tes PCR) dengan metode real time, yang saya lakukan di Dinas Kesehatan Kalbar keluar. PCR adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit Covid-19, yaitu dengan mendeteksi material genetic virus Corona.

Prosedur pemeriksaan diawali dengan pengambilan sampel dahak, lendir, atau cairan dari nasofaring (bagian antara hidung dan tenggorokan), orofaring (bagian antara mulut dan tenggorokan), atau paru-paru pasien yang diduga terinfeksi virus Corona.

Saya sendiri diambil sampel dahaknya melalui lubang hidung. Pertama di sebelah kanan, sejurus kemudian pindah ke sebelah kiri. Pengambilan sampel dahak ini prosedurnya memakan waktu sekitar 15 detik dan tidak menimbulkan rasa sakit. Tapi, dapat mengeluarkan air mati.

Dari hasil tes tersebut, saya positif, meskipun tidak ada satu gejala pun yang saya rasakan. Dalam kasus seperti ini, saya masuk dalam kategori orang tanpa gejala atau OTG. Meskipun cukup kaget, karena saya merasa baik-baik saja. Tapi, tidak sepenuhnya demikian, karena memang saya mempunyai kontak erat dengan rekan kantor yang terlebih dahulu mendapatkan hasil positif. Apabila menggunakan skala 1-10, score kekagetan saya di angka 6.

Kaget itu sendiri berimplikasi pada keadaan stres. Bagaimana tidak, pandemi saja sudah menjadi stressor (penyebab stres) karena berbagai macam berita yang dikonsumsi. Kali ini saya harus melakukan strategi coping yang baru. Pada tingkat yang berbeda, karena menjadi salah satu orang yang terinfeksi Covid-19.

Saya kembali mengingat-ingat nasihat Anthony de Mello, seorang spiritualis dan psikoterapis kelahiran India 1931, yang dalam ceritanya ia menulis. Wabah sedang menuju Damaskus, dan melewati seorang Kafilah di padang gurun. “Mau ke mana kau, Wabah?” tanya Kafilah. “Mau ke Damaskus, mau merenggut 1000 nyawa”.

Baca Juga :  Mbah Kukuh

Sekembalinya dari Damaskus, Si Wabah bertemu lagi dengan Kafilah itu. “Hai Wabah, kau merenggut 50.000 nyawa, bukan 1000, seperti katamu,” protes Kafilah. “Tidak,” kata Wabah. “Saya benar ambil 1000 nyawa, sisanya mati karena ketakutan”.

Apa yang disampaikan oleh Anthony adalah nasihat yang paling tepat untuk realitas yang sedang saya hadapi. Tidak bisa dipungkiri, menjadi penderita (?) Covid-19 ini membuat kondisi psikologis sedikit tidak stabil. Tentu ini hal yang wajar sebagai seorang individu. Hanya saja saya yakin dapat melewati semua ini, dengan keyakinan itu, saya mencari cara untuk bisa menghadapi kondisi ini dengan tenang agar imunitas dan imanitas tetap terjaga.

Resiliensi (Ketangguhan)

Untuk meminimalkan kondisi stres yang saya alami karena terinfeksi Covid-19, maka saya harus menjadi tangguh. Menjadi tangguh dalam kondisi seperti ini dapat menurunkan tingkat stress berkepanjangan. Menjadi tangguh dan mampu beradaptasi di tengah kondisi sulit (krisis) hingga bisa pulih dikenal dengan resiliensi.

Menjadi tangguh di sini tidak berarti seorang individu terbebas dari tekanan maupun stres. Menjadi tangguh berarti seorang individu mampu mengelola tekanan-tekanan dengan cara yang tepat dan efektif. Ketika seorang individu sudah mampu untuk menjadi pribadi yang resilien, maka dia dapat menjadi agen untuk menciptakan keluarga yang resilien.

Keluarga, sebagaimana yang saya rasakan, mempunyai peranan penting dalam hal peningkatan optimisme dan penurunan stres. Di samping, peer (teman sebaya), dan beragam informasi positif yang dapat diakses. Menanyakan kabar secara rutin kepada penderita Covid-19 dapat meringankan kecemasan yang sedang dihadapi, membuatnya yakin dapat melewati kondisi krisis, dan mempunyai kepercayaan diri bahwa terdapat lingkungan yang menganggap keberadaannya.

Baca Juga :  Pintu Kebebasan Berekspresi

Di sinilah peran kita, keluarga, dan lingkungan untuk menciptakan ketangguhan bisa dijalankan. Adanya salah satu individu yang resilien dapat menguatkan individu lain yang sedang terinfeksi Covid-19, sehingga secara keseluruhan akan menjadi tangguh. Terlebih saat ini, sudah tidak ada lagi kesulitan untuk tetap bersosialisasi. Meskipun terdapat jarak fisik, tapi tidak dengan kepedulian dan kedekatan-kedekatan lainnya.

Gawai yang kita miliki sudah bisa melipat jarak yang ada. Setidaknya ada 6 (enam) langkah untuk bisa menguatkan ketangguhan sebagaimana dijelaskan oleh Kalil (2003), yaitu menguatkan kohesivitas keluarga, menguatkan keyakinan keluarga, menguatkan faktor religi, menguatkan strategi koping dan adaptasi, menguatkan komunikasi dan menguatkan pengasuhan yang positif.

Menguatkan kohesivitas keluarga dapat dibentuk dengan upaya saling dukung, saling peduli, dan kerja sama. Sebagai contoh sederhana adalah adanya pembagian tugas di rumah, seperti mencuci, memasak, membersihkan rumah, memandikan anak, dst. Selain itu juga dengan menanyakan kabar terkini melalui berbagai aplikasi yang memudahkan di gawai kita.

Individu dapat terlibat untuk saling mengingatkan dalam memaknai setiap hal dengan positif. Bahwa akan ada makna setelah kejadian ini, segala sesuatunya akan ada kebaikan di dunia ini. Memperbanyak ibadah dapat mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai penutup, saya yakin tidak ada orang yang mau terinfeksi Covid-19. Hanya saja, sekarang saya dan anda sudah menderitanya. Dalam sebuah film, katanya, tidak ada orang yang mati karena tenggelam, melainkan, ia tidak berusaha untuk kembali naik ke permukaan. Ini adalah hari ke-6 saya melakukan isolasi mandiri. Dan bagi orang lain yang sama-sama menjadi penyintas, mungkin sudah hari kesekian. Semoga kita semua bisa kembali pulih.**

*Penulis, Penyintas Covid-19/Ketua Kompartemen Keanggotaan dan Keorganisasian HIMPSI Kalbar.

Oleh: Wahyu Saefudin

SABTU, 28 November 2020 kemarin, hasil Polymerase Chain Reaction Test (Tes PCR) dengan metode real time, yang saya lakukan di Dinas Kesehatan Kalbar keluar. PCR adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit Covid-19, yaitu dengan mendeteksi material genetic virus Corona.

Prosedur pemeriksaan diawali dengan pengambilan sampel dahak, lendir, atau cairan dari nasofaring (bagian antara hidung dan tenggorokan), orofaring (bagian antara mulut dan tenggorokan), atau paru-paru pasien yang diduga terinfeksi virus Corona.

Saya sendiri diambil sampel dahaknya melalui lubang hidung. Pertama di sebelah kanan, sejurus kemudian pindah ke sebelah kiri. Pengambilan sampel dahak ini prosedurnya memakan waktu sekitar 15 detik dan tidak menimbulkan rasa sakit. Tapi, dapat mengeluarkan air mati.

Dari hasil tes tersebut, saya positif, meskipun tidak ada satu gejala pun yang saya rasakan. Dalam kasus seperti ini, saya masuk dalam kategori orang tanpa gejala atau OTG. Meskipun cukup kaget, karena saya merasa baik-baik saja. Tapi, tidak sepenuhnya demikian, karena memang saya mempunyai kontak erat dengan rekan kantor yang terlebih dahulu mendapatkan hasil positif. Apabila menggunakan skala 1-10, score kekagetan saya di angka 6.

Kaget itu sendiri berimplikasi pada keadaan stres. Bagaimana tidak, pandemi saja sudah menjadi stressor (penyebab stres) karena berbagai macam berita yang dikonsumsi. Kali ini saya harus melakukan strategi coping yang baru. Pada tingkat yang berbeda, karena menjadi salah satu orang yang terinfeksi Covid-19.

Saya kembali mengingat-ingat nasihat Anthony de Mello, seorang spiritualis dan psikoterapis kelahiran India 1931, yang dalam ceritanya ia menulis. Wabah sedang menuju Damaskus, dan melewati seorang Kafilah di padang gurun. “Mau ke mana kau, Wabah?” tanya Kafilah. “Mau ke Damaskus, mau merenggut 1000 nyawa”.

Baca Juga :  Abaikan Prokes, Warga Terjaring Dihukum Kerja Sosial

Sekembalinya dari Damaskus, Si Wabah bertemu lagi dengan Kafilah itu. “Hai Wabah, kau merenggut 50.000 nyawa, bukan 1000, seperti katamu,” protes Kafilah. “Tidak,” kata Wabah. “Saya benar ambil 1000 nyawa, sisanya mati karena ketakutan”.

Apa yang disampaikan oleh Anthony adalah nasihat yang paling tepat untuk realitas yang sedang saya hadapi. Tidak bisa dipungkiri, menjadi penderita (?) Covid-19 ini membuat kondisi psikologis sedikit tidak stabil. Tentu ini hal yang wajar sebagai seorang individu. Hanya saja saya yakin dapat melewati semua ini, dengan keyakinan itu, saya mencari cara untuk bisa menghadapi kondisi ini dengan tenang agar imunitas dan imanitas tetap terjaga.

Resiliensi (Ketangguhan)

Untuk meminimalkan kondisi stres yang saya alami karena terinfeksi Covid-19, maka saya harus menjadi tangguh. Menjadi tangguh dalam kondisi seperti ini dapat menurunkan tingkat stress berkepanjangan. Menjadi tangguh dan mampu beradaptasi di tengah kondisi sulit (krisis) hingga bisa pulih dikenal dengan resiliensi.

Menjadi tangguh di sini tidak berarti seorang individu terbebas dari tekanan maupun stres. Menjadi tangguh berarti seorang individu mampu mengelola tekanan-tekanan dengan cara yang tepat dan efektif. Ketika seorang individu sudah mampu untuk menjadi pribadi yang resilien, maka dia dapat menjadi agen untuk menciptakan keluarga yang resilien.

Keluarga, sebagaimana yang saya rasakan, mempunyai peranan penting dalam hal peningkatan optimisme dan penurunan stres. Di samping, peer (teman sebaya), dan beragam informasi positif yang dapat diakses. Menanyakan kabar secara rutin kepada penderita Covid-19 dapat meringankan kecemasan yang sedang dihadapi, membuatnya yakin dapat melewati kondisi krisis, dan mempunyai kepercayaan diri bahwa terdapat lingkungan yang menganggap keberadaannya.

Baca Juga :  Keteladanan Nabi Ibrahim AS

Di sinilah peran kita, keluarga, dan lingkungan untuk menciptakan ketangguhan bisa dijalankan. Adanya salah satu individu yang resilien dapat menguatkan individu lain yang sedang terinfeksi Covid-19, sehingga secara keseluruhan akan menjadi tangguh. Terlebih saat ini, sudah tidak ada lagi kesulitan untuk tetap bersosialisasi. Meskipun terdapat jarak fisik, tapi tidak dengan kepedulian dan kedekatan-kedekatan lainnya.

Gawai yang kita miliki sudah bisa melipat jarak yang ada. Setidaknya ada 6 (enam) langkah untuk bisa menguatkan ketangguhan sebagaimana dijelaskan oleh Kalil (2003), yaitu menguatkan kohesivitas keluarga, menguatkan keyakinan keluarga, menguatkan faktor religi, menguatkan strategi koping dan adaptasi, menguatkan komunikasi dan menguatkan pengasuhan yang positif.

Menguatkan kohesivitas keluarga dapat dibentuk dengan upaya saling dukung, saling peduli, dan kerja sama. Sebagai contoh sederhana adalah adanya pembagian tugas di rumah, seperti mencuci, memasak, membersihkan rumah, memandikan anak, dst. Selain itu juga dengan menanyakan kabar terkini melalui berbagai aplikasi yang memudahkan di gawai kita.

Individu dapat terlibat untuk saling mengingatkan dalam memaknai setiap hal dengan positif. Bahwa akan ada makna setelah kejadian ini, segala sesuatunya akan ada kebaikan di dunia ini. Memperbanyak ibadah dapat mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai penutup, saya yakin tidak ada orang yang mau terinfeksi Covid-19. Hanya saja, sekarang saya dan anda sudah menderitanya. Dalam sebuah film, katanya, tidak ada orang yang mati karena tenggelam, melainkan, ia tidak berusaha untuk kembali naik ke permukaan. Ini adalah hari ke-6 saya melakukan isolasi mandiri. Dan bagi orang lain yang sama-sama menjadi penyintas, mungkin sudah hari kesekian. Semoga kita semua bisa kembali pulih.**

*Penulis, Penyintas Covid-19/Ketua Kompartemen Keanggotaan dan Keorganisasian HIMPSI Kalbar.

Most Read

Artikel Terbaru

/