alexametrics
33.9 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Metode Pencegahan Narkoba Bagi Pelajar di 2021

Oleh: Ambar Harum, S.Sos”

KITA mengenal dua metode pembelajaran, yaitu pedagogi dan andragogi. Secara sederhana, pedagogi berfokus pada guru, sedangkan andragogi sebaliknya. Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno aner, yang berarti orang dewasa, dan agogus yang berarti membimbing atau membina. Dengan kata lain, pendidikan andragogi adalah seni mengajar yang berfokus pada siswa.

Pendidikan andragogi mengutamakan keaktifan peserta didik dalam kegiatan belajar dan mengajar, Knowles (1993) menyampaikan ada tujuh aspek utama perbedaan pedagogi dan andragogi, yaitu suasana, perencanaan, diagnosa kebutuhan, penetapan tujuan, desain belajar, kegiatan belajar, dan evaluasi belajar. Ketujuh aspek tersebut mengutamakan kerja sama antara guru dan peserta didik, termasuk dengan melibatkan siswa dalam pengalaman-pengalaman langsung.

Adanya metode belajar yang dinamis tentu akan membuat peserta didik bisa lebih memahami dan menikmati proses belajar mengajar yang ada. Termasuk agar tujuan pembelajaran dapat dicapai bersama-sama. Pendidikan andragogi juga dapat digunakan sebagai cara ampuh untuk menginternalisasi nilai-nilai positif pada peserta didik. Salah satunya adalah dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba oleh peserta didik.

Wilayah Kalimantan barat termasuk zona merah dalam peredaran narkotika nasional. Hal tersebut tidak terlepas dari kondisi geografis Kalbar yang berbatasan dengan Malaysia. Fakta itu dibenarkan oleh Gubernur Sutarmidji. Menurutnya lebih dari 90 persen narkoba berasal dari negara tersebut.

Tingginya persentase narkoba yang berasal dari Malaysia karena setidaknya terdapat 70 jalur tikus di sepanjang perbatasan Kalbar. Jalur-jalur tersebut sering digunakan oleh para sindikat untuk mengirimkan narkoba maupun perdagangan ilegal lainnya.

Pada Maret 2019, Badan Narkotika Nasional Provinsi Kalbar berhasil mengamankan 100 kilogram narkoba jenis sabu. Yang lebih baru dengan jumlah besar juga terjadi pada Agustus 2019. Polda Kalbar berhasil menggagalkan peredaran narkoba jenis yang sama sebanyak 26 kilogram.

Jumlah peredaran narkoba yang besar berbanding lurus dengan jumlah penyalahgunaan yang terjadi. Tahun 2018 sekitar 24.560 pelajar di Kalbar pernah menyalahgunakan narkoba, sedangkan kalangan pekerja sekitar 23.032 orang. Polda Kalbar sendiri hingga bulan Juli 2019 sudah berhasil mengungkap 426 tindak pidana penyalahgunaan narkoba, menangkap 572 tersangka, dan mengumpulkan barang bukti 47 kilogram sabu.

Baca Juga :  Jalan Takwa dalam Ibadah Kurban

Kondisi ini jelas mengkhawatirkan. Melihat besarnya jumlah peserta didik yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, masa depan generasi muda di wilayah ini akan terancam. Terlebih lagi penyalahgunaan narkoba juga mempunyai keterkaitan dengan tindak pidana lain seperti pencurian dan perampasan. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan penggunaan narkoba.

Penyalahgunaan narkoba oleh peserta didik tujuannya untuk mendapatkan efek tenang maupun menjaga kondisi tubuh agar tetap bisa beraktivitas. Alasan lain adalah untuk coba-coba dan upaya untuk tetap dianggap ada oleh lingkungan sosial anak. Lingkungan sosial anak mempunyai pengaruh signifikan terhadap tingginya angka penyalahgunaan anak pada narkoba.

Dampak negatif dari penyalahgunaan narkoba tidaklah sedikit. Mulai dari merasakan halusinasi, merasa terstimulasi, kecanduan, merusak organ pernapasan, menurunkan daya pikir, meracuni tubuh, menyebabkan disfungsi seksual, mengalami penurunan kekebalan tubuh, dan menghilangkan kepercayaan diri.

Generasi muda terpelajar sebagai penerus kepemimpinan bangsa Indonesia harus memahami dampak buruk ini. Oleh karena itu, edukasi untuk mereka secara masih sangat diperlukan, baik kaitannya dengan penanganan kepada pelajar yang sudah terlanjur menyalahgunakan maupun upaya preventifnya.

Sudah menjadi kewajiban kita bersama, termasuk orang tua untuk bisa memberikan edukasi ini kepada para pelajar. Para orang tua yang mempunyai lebih banyak waktu di rumah juga harus bisa memberikan pengawasan. Tenaga pelajar harus bisa menginisiasi kegiatan kreatif. Salah satunya dengan memberikan pengalaman pembelajaran langsung dengan instansi terkait yang mempunyai tugas dan wewenang dalam bidang tersebut.

Bekerja Sama dengan BNN

Badan Narkotika Nasional (BNN) adalah lembaga pemerintah nonkementerian yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap psikotropika, prekursor, dan bahan adiktif. Sekolah dapat melakukan kerja sama dengan BNNP atau BNN Kota untuk bisa memberikan edukasi pada peserta didik. Upaya edukasi ini pun bisa dalam berbagai aspek, dengan tujuan untuk upaya pencegahan hingga penyembuhan untuk penyalahguna.

Baca Juga :  Menyikapi Musibah dengan Bijak

Bekerja Sama dengan Kepolisian

Kepolisian adalah suatu pranata umum sipil yang menjaga ketertiban, keamanan, dan penegakan hukum di seluruh wilayah negara. Kepolisian juga mempunyai unit khusus dalam hal yang berhubungan dengan pemberantasan narkoba. Artinya, dengan bekerja sama dengan kepolisian dalam hal edukasi kepada pelajar sangat penting. Pelajar dapat mengetahui gambaran bagaimana tugas anggota polisi dalam pemberantasan narkoba, dan mengetahui bagaimana para sindikat narkoba menyasar pelajar.

Kerja sama dengan UPT Pemasyarakatan

UPT Pemasyarakatan seperti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) dapat dijadikan tempat untuk memberikan gambaran pada para pelajar bahwa dampak dari penyalahgunaan narkoba dapat membawanya masuk menjadi penghuni di dalamnya. Hal tersebut juga pernah dilakukan oleh penulis beserta peserta didik dengan mengunjungi LPKA Sungai Raya.

Kunjungan langsung atau kelas lapangan dapat memberikan pengalaman nyata kepada pelajar untuk lebih bisa mendapatkan gambaran visual yang lebih kompleks. Hal tersebut akan lebih membekas dalam ingatan peserta didik apabila dapat dipadukan dengan teori pelajaran yang aktual.

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah melalui kementerian atau lembaga terkait dalam hal pencegahan, pemberantasan, dan penyembuhan penyalahgunaan harus didukung upaya kreatif dari tenaga pengajar. Tenaga pengajar memegang peranan penting dalam hal ini, untuk memasukkan dan mengampanyekan anti narkoba kepada peserta didik yang disesuaikan dengan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.

Yang harus menjadi kesepakatan adalah bahwa masa depan seorang anak adalah tanggung jawab bersama, oleh karena itu setiap elemen masyarakat dari berbagai profesi dan pemangku kepentingan harus ambil bagian dalam kampanye anti narkoba.

*Guru SMA N 4 Sungai Raya

Oleh: Ambar Harum, S.Sos”

KITA mengenal dua metode pembelajaran, yaitu pedagogi dan andragogi. Secara sederhana, pedagogi berfokus pada guru, sedangkan andragogi sebaliknya. Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno aner, yang berarti orang dewasa, dan agogus yang berarti membimbing atau membina. Dengan kata lain, pendidikan andragogi adalah seni mengajar yang berfokus pada siswa.

Pendidikan andragogi mengutamakan keaktifan peserta didik dalam kegiatan belajar dan mengajar, Knowles (1993) menyampaikan ada tujuh aspek utama perbedaan pedagogi dan andragogi, yaitu suasana, perencanaan, diagnosa kebutuhan, penetapan tujuan, desain belajar, kegiatan belajar, dan evaluasi belajar. Ketujuh aspek tersebut mengutamakan kerja sama antara guru dan peserta didik, termasuk dengan melibatkan siswa dalam pengalaman-pengalaman langsung.

Adanya metode belajar yang dinamis tentu akan membuat peserta didik bisa lebih memahami dan menikmati proses belajar mengajar yang ada. Termasuk agar tujuan pembelajaran dapat dicapai bersama-sama. Pendidikan andragogi juga dapat digunakan sebagai cara ampuh untuk menginternalisasi nilai-nilai positif pada peserta didik. Salah satunya adalah dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba oleh peserta didik.

Wilayah Kalimantan barat termasuk zona merah dalam peredaran narkotika nasional. Hal tersebut tidak terlepas dari kondisi geografis Kalbar yang berbatasan dengan Malaysia. Fakta itu dibenarkan oleh Gubernur Sutarmidji. Menurutnya lebih dari 90 persen narkoba berasal dari negara tersebut.

Tingginya persentase narkoba yang berasal dari Malaysia karena setidaknya terdapat 70 jalur tikus di sepanjang perbatasan Kalbar. Jalur-jalur tersebut sering digunakan oleh para sindikat untuk mengirimkan narkoba maupun perdagangan ilegal lainnya.

Pada Maret 2019, Badan Narkotika Nasional Provinsi Kalbar berhasil mengamankan 100 kilogram narkoba jenis sabu. Yang lebih baru dengan jumlah besar juga terjadi pada Agustus 2019. Polda Kalbar berhasil menggagalkan peredaran narkoba jenis yang sama sebanyak 26 kilogram.

Jumlah peredaran narkoba yang besar berbanding lurus dengan jumlah penyalahgunaan yang terjadi. Tahun 2018 sekitar 24.560 pelajar di Kalbar pernah menyalahgunakan narkoba, sedangkan kalangan pekerja sekitar 23.032 orang. Polda Kalbar sendiri hingga bulan Juli 2019 sudah berhasil mengungkap 426 tindak pidana penyalahgunaan narkoba, menangkap 572 tersangka, dan mengumpulkan barang bukti 47 kilogram sabu.

Baca Juga :  Wapena: Dakwah Islam di Austria dan Hubungan Baik dengan Pontianak

Kondisi ini jelas mengkhawatirkan. Melihat besarnya jumlah peserta didik yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, masa depan generasi muda di wilayah ini akan terancam. Terlebih lagi penyalahgunaan narkoba juga mempunyai keterkaitan dengan tindak pidana lain seperti pencurian dan perampasan. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan penggunaan narkoba.

Penyalahgunaan narkoba oleh peserta didik tujuannya untuk mendapatkan efek tenang maupun menjaga kondisi tubuh agar tetap bisa beraktivitas. Alasan lain adalah untuk coba-coba dan upaya untuk tetap dianggap ada oleh lingkungan sosial anak. Lingkungan sosial anak mempunyai pengaruh signifikan terhadap tingginya angka penyalahgunaan anak pada narkoba.

Dampak negatif dari penyalahgunaan narkoba tidaklah sedikit. Mulai dari merasakan halusinasi, merasa terstimulasi, kecanduan, merusak organ pernapasan, menurunkan daya pikir, meracuni tubuh, menyebabkan disfungsi seksual, mengalami penurunan kekebalan tubuh, dan menghilangkan kepercayaan diri.

Generasi muda terpelajar sebagai penerus kepemimpinan bangsa Indonesia harus memahami dampak buruk ini. Oleh karena itu, edukasi untuk mereka secara masih sangat diperlukan, baik kaitannya dengan penanganan kepada pelajar yang sudah terlanjur menyalahgunakan maupun upaya preventifnya.

Sudah menjadi kewajiban kita bersama, termasuk orang tua untuk bisa memberikan edukasi ini kepada para pelajar. Para orang tua yang mempunyai lebih banyak waktu di rumah juga harus bisa memberikan pengawasan. Tenaga pelajar harus bisa menginisiasi kegiatan kreatif. Salah satunya dengan memberikan pengalaman pembelajaran langsung dengan instansi terkait yang mempunyai tugas dan wewenang dalam bidang tersebut.

Bekerja Sama dengan BNN

Badan Narkotika Nasional (BNN) adalah lembaga pemerintah nonkementerian yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap psikotropika, prekursor, dan bahan adiktif. Sekolah dapat melakukan kerja sama dengan BNNP atau BNN Kota untuk bisa memberikan edukasi pada peserta didik. Upaya edukasi ini pun bisa dalam berbagai aspek, dengan tujuan untuk upaya pencegahan hingga penyembuhan untuk penyalahguna.

Baca Juga :  Kesadaran Tertib Lalu Lintas di Kota Pontianak Masih Rendah

Bekerja Sama dengan Kepolisian

Kepolisian adalah suatu pranata umum sipil yang menjaga ketertiban, keamanan, dan penegakan hukum di seluruh wilayah negara. Kepolisian juga mempunyai unit khusus dalam hal yang berhubungan dengan pemberantasan narkoba. Artinya, dengan bekerja sama dengan kepolisian dalam hal edukasi kepada pelajar sangat penting. Pelajar dapat mengetahui gambaran bagaimana tugas anggota polisi dalam pemberantasan narkoba, dan mengetahui bagaimana para sindikat narkoba menyasar pelajar.

Kerja sama dengan UPT Pemasyarakatan

UPT Pemasyarakatan seperti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) dapat dijadikan tempat untuk memberikan gambaran pada para pelajar bahwa dampak dari penyalahgunaan narkoba dapat membawanya masuk menjadi penghuni di dalamnya. Hal tersebut juga pernah dilakukan oleh penulis beserta peserta didik dengan mengunjungi LPKA Sungai Raya.

Kunjungan langsung atau kelas lapangan dapat memberikan pengalaman nyata kepada pelajar untuk lebih bisa mendapatkan gambaran visual yang lebih kompleks. Hal tersebut akan lebih membekas dalam ingatan peserta didik apabila dapat dipadukan dengan teori pelajaran yang aktual.

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah melalui kementerian atau lembaga terkait dalam hal pencegahan, pemberantasan, dan penyembuhan penyalahgunaan harus didukung upaya kreatif dari tenaga pengajar. Tenaga pengajar memegang peranan penting dalam hal ini, untuk memasukkan dan mengampanyekan anti narkoba kepada peserta didik yang disesuaikan dengan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.

Yang harus menjadi kesepakatan adalah bahwa masa depan seorang anak adalah tanggung jawab bersama, oleh karena itu setiap elemen masyarakat dari berbagai profesi dan pemangku kepentingan harus ambil bagian dalam kampanye anti narkoba.

*Guru SMA N 4 Sungai Raya

Most Read

Desa Jeruju Besar Berkembang Pesat

Rakor-Loka Karya Hukum Adat Dayak

Wujudkan MTQ Berkualitas dan Berprestasi

Pria Sompak Nekat Akhiri Hidup

Artikel Terbaru

/