alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, July 2, 2022

Tahun Baru, Kebiasaan Baru

Oleh: Aswandi*

TAHUN Baru 2021 ini harus lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya agar kita digolongkan kepada orang-orang yang beruntung. Jika tahun baru ini sama saja (tidak mengalami perubahan) dari tahun-tahun sebelumnya berarti kita merugi, dan jika tahun ini lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya, maka segeralah bertaubat karena kita tergolong orang-orang yang ingkar terhadap nikmat Allah SWT.

Sejak bulan Februari 2020 hingga sekarang ini umat manusia dihampir seluruh belahan bumi ini menghadapi wabah Covid-19, kita jalani hidup dan kehidupan ini dalam suasana kurang menyenangkan. Barangkali kondisi kurang nyaman ini adalah cara Allah SWT mempersiapkan dan membesarkan kita, Allah SWT mengetahui sedang kita tidak mengetahui, bersangka baiklah kepadaNya.

Allah SWT berfirman, “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”, dikutip dari QS Al Baqarah : 216.

Insyaallah, buktinya dalam suasana sulit ini banyak diantara kita justru menjadi lebih produktif, inovatif, kreatif, adaptif dan akuntablel.

Apapun masalah kita di masa Covid-19 ini, benang merahnya adalah kebiasaan kita, kembalikan pada kebiasaan kita. Faktanya, belajar dari rumah berbasis daring kurang efektif atau tidak berjalan secara optimal karena selama ini kita belum terbiasa belajar dari rumah dan guru di Indonesia tidak dirancang untuk menjalankan pembelajaran jarak jauh berbasis daring secara masif, dikutip dari Kompas 31 Desember 2020.

Di masa pandemi Covid-19 ini penulis melakukan penelitian “Belajar dari Rumah di Kota Pontianak”, menyimpulkan beberapa hal berikut ini, antara lain: (1) terjadi peningkatan literasi teknologi informasi (digital) masyarakat, (2) terjadi perubahan perilaku belajar siswa dan mengajar guru serta inovasi dan ketrampilan pembelajaran baru lainnya, (3) sekalipun terpaksa, tumbuh dan berkembang kesadaran dan tanggung jawab orang tua dalam mendampingi dan mendidik anaknya, (4) bertambahnya pemahaman kita bahwa faktor sosial dan psikologi sangat penting dalam proses pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran, dan (5) lahirnya kebiasaan baru dalam pola hidup bersih dan sehat yang mana kita sudah merasa sangat enjoy menggunakan masker, lebih berhati-hati ketika bersin/batuk, terasa ada yang kurang jika belum mencuci tangan dengan sabun di air mengalir. Alhamdulillah.

Baca Juga :  Indonesia Bangkit: Belajar Bagaimana Hidup Bersama dengan yang Lain

Penulis yakin, selama kita bersikap positif terhadap bencana ini dan mau mulai melakukan kebiasaan baru yang lebih baik, maka hidup dan kehidupan kita di masa yang akan datang menjadi lebih baik pula. Aamiiin.

Sonny Harry B. Harmadi selaku Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 menegaskan bahwa “kita harus mengedepankan upaya pencegahan dan perubahan perilaku masyarakat sebagai ujung tombak penanganan Covid-19. Penanganan Covid-19 tidak cukup hanya bergantung pada upaya kesehatan, seperti vaksinasi dan pengobatan. Penelitian membuktikan, 99% resiko penularan dapat dicegah melalui perilaku atau kebiasaan (disiplin) masyarakat melaksanakan 3M (memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan  mencuci tangan menggunakan sabun di air mengalir)”, dikutip dari Kompas 29 Desember 2020.

Dalam praktiknya, mengubah kebiasaan buruk tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah karena mengubah kebiasaan sangat dipengaruhi oleh perubahan pikiran (mindset) dan sikap (attitude), dimana pikiran dan sikap negatif seseorang telah tersanda dalam kebiasaanya. Asumsi tersebut sejalan penelitian dari Duke University pada tahun 2007 menyimpulkan bahwa “40% lebih tindakan yang dilakukan orang setiap hari bukanlah keputusan sungguhan melainkan kebiasaan”, dikutip dari Charles Duhigg (2014) dalam bukunya “The Power of Habit”.

Jikapun terjadi perubahan, hanya sebentar saja, tidak kurang dari tiga bulan, setelah itu dengan mudah kambuh kembali. Pakar perubahan perilaku menjelaskan fenomena mudah kambuh setelah mengalami perubahan karena mereka yang baru saja mengalami perubahan tersebut belum stabil emosinya.

Alan Deutschman (2008) dalam bukunya “Change or Die” mengemukakan fakta-fakta berikut ini: (1) penelitian menyimpulkan bahwa sembilan dari sepuluh orang (90%) tidak mau berubah; (2) mereka sakit karena pilihan gaya hidup atau kebiasaan buruk mereka, bukan karena faktor-faktor di luar kontrol mereka. Orang yang telah menjalani operasi bypass akibat kebiasaan hidup tidak sehat yang dilakukannya, sebayak 90% diantaranya tidak mengubah gaya hidup atau kebiasaan buruk mereka setelah dua tahun pasca operasi; (3) di Amerika Serikat cukup mengejutkan, 30% para residivis ditahan kembali enam bulan kemudian dan 67,5% lainnya ditahan kembali tiga tahun kemudian. Sebagian besar tahanan ditangkap kembali karena melakukan kejahatan yang serius, artinya penjara tidak mampu merubah kebiasaan buruk mereka; dan (4) riset membuktikan, 90% pasien tidak mau berubah walaupun dokter telah memberinya informasi tentang apa yang harus mereka lakukan untuk memperpanjang hidup mereka, mereka sangat sulit meninggalkan kebiasaan buruk (kebiasaan hidup kurang sehat) mereka. Penyakit jantung dan kematian tidak memotivasi penderitanya untuk merubah kebiasaan buruk mereka dan ketakutan akan hilangnya pekerjaan juga tidak menggugah para pekerja untuk berubah.

Baca Juga :  Pengolahan Limbah Sabut Kelapa Jadi Pot Tanam

Mahatma Ghandi menasehati kita, “Bentuklah kebiasaanmu melalui perbuatanmu”.

Ibn Miskawaih (1998) dalam bukunya “Tahdzib Al-Akhlaq” menegaskan bahwa “karakter manusia terletak pada pikirannya, dan dapat dicapai melalui pendidikan dan pergaulan, pengulangan atau kebiasaan dan disiplin”. Joyce Divinyi (2003) dalam bukunya “Discipline Your Kids” mengatakan hal senada bahwa “otak membutuhkan pengulangan untuk membuat tingkah laku tertentu menjadi kebiasaan”. Para pakar neurofisiologi menyimpulkan temuan mereka, bahwa otak mempunyai kemampuan yang menakjubkan untuk menerima pikiran atau perilaku yang berulang-ulang dan menyambungkannya ke pola-pola atau kebiasaan-kebiasaan yang otomatis dan di bawah sadar. Semakin sering mengulangi pikiran dan tindakan yang konstruktif, pikiran atau tindakan itu akan menjadi semakin dalam, semakin cepat, dan semakin otomatis”, demikian dikutip dari Paul G. Stoltz (2000) dalam bukunya berjudul “Adversity Quotient”.

Para psikolog berkumpul di Fransisco University membahas satu tema “Mengubah Kebiasaan”. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah rekomendasi, bahwa merubah kebiasaan tergantung pada tiga unsur penting berikut ini: komitmen, modifikasi lingkungan dan monitoring/evaluasi.

Satgas Covid-19 membahas persoalan merubah kebiasaan ini melibatkan sebanyak 50 pakar dari berbagai disiplin ilmu, akhirnya menetapkan empat strategi perubahan perilaku dan kebiasaan, yakni: (1) nasihat (the sermon), yakni melalui diseminasi informasi secara masif. Satgas Covid-19 menggandeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, BKKBN, TNI hingga RT/RW dalam memberikan informasi kepada masyarakat; (2) dorongan (nudge), yakni mendorong perilaku yang diharapkan menjadi pilihan mudah untuk dilakukan; (3) insentif (the carrot), yakni memberi insentif bagi yang mematuhi protocol kesehatan dan (4) hukuman (the whip), yakni pembebanan kewajiban atas perbuatan melawan aturan, norma dan ketentuan yang berlaku.

*Dosen FKIP Untan

Oleh: Aswandi*

TAHUN Baru 2021 ini harus lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya agar kita digolongkan kepada orang-orang yang beruntung. Jika tahun baru ini sama saja (tidak mengalami perubahan) dari tahun-tahun sebelumnya berarti kita merugi, dan jika tahun ini lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya, maka segeralah bertaubat karena kita tergolong orang-orang yang ingkar terhadap nikmat Allah SWT.

Sejak bulan Februari 2020 hingga sekarang ini umat manusia dihampir seluruh belahan bumi ini menghadapi wabah Covid-19, kita jalani hidup dan kehidupan ini dalam suasana kurang menyenangkan. Barangkali kondisi kurang nyaman ini adalah cara Allah SWT mempersiapkan dan membesarkan kita, Allah SWT mengetahui sedang kita tidak mengetahui, bersangka baiklah kepadaNya.

Allah SWT berfirman, “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”, dikutip dari QS Al Baqarah : 216.

Insyaallah, buktinya dalam suasana sulit ini banyak diantara kita justru menjadi lebih produktif, inovatif, kreatif, adaptif dan akuntablel.

Apapun masalah kita di masa Covid-19 ini, benang merahnya adalah kebiasaan kita, kembalikan pada kebiasaan kita. Faktanya, belajar dari rumah berbasis daring kurang efektif atau tidak berjalan secara optimal karena selama ini kita belum terbiasa belajar dari rumah dan guru di Indonesia tidak dirancang untuk menjalankan pembelajaran jarak jauh berbasis daring secara masif, dikutip dari Kompas 31 Desember 2020.

Di masa pandemi Covid-19 ini penulis melakukan penelitian “Belajar dari Rumah di Kota Pontianak”, menyimpulkan beberapa hal berikut ini, antara lain: (1) terjadi peningkatan literasi teknologi informasi (digital) masyarakat, (2) terjadi perubahan perilaku belajar siswa dan mengajar guru serta inovasi dan ketrampilan pembelajaran baru lainnya, (3) sekalipun terpaksa, tumbuh dan berkembang kesadaran dan tanggung jawab orang tua dalam mendampingi dan mendidik anaknya, (4) bertambahnya pemahaman kita bahwa faktor sosial dan psikologi sangat penting dalam proses pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran, dan (5) lahirnya kebiasaan baru dalam pola hidup bersih dan sehat yang mana kita sudah merasa sangat enjoy menggunakan masker, lebih berhati-hati ketika bersin/batuk, terasa ada yang kurang jika belum mencuci tangan dengan sabun di air mengalir. Alhamdulillah.

Baca Juga :  Peningkatan Literasi dengan Artikel Ilmiah Populer

Penulis yakin, selama kita bersikap positif terhadap bencana ini dan mau mulai melakukan kebiasaan baru yang lebih baik, maka hidup dan kehidupan kita di masa yang akan datang menjadi lebih baik pula. Aamiiin.

Sonny Harry B. Harmadi selaku Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 menegaskan bahwa “kita harus mengedepankan upaya pencegahan dan perubahan perilaku masyarakat sebagai ujung tombak penanganan Covid-19. Penanganan Covid-19 tidak cukup hanya bergantung pada upaya kesehatan, seperti vaksinasi dan pengobatan. Penelitian membuktikan, 99% resiko penularan dapat dicegah melalui perilaku atau kebiasaan (disiplin) masyarakat melaksanakan 3M (memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan  mencuci tangan menggunakan sabun di air mengalir)”, dikutip dari Kompas 29 Desember 2020.

Dalam praktiknya, mengubah kebiasaan buruk tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah karena mengubah kebiasaan sangat dipengaruhi oleh perubahan pikiran (mindset) dan sikap (attitude), dimana pikiran dan sikap negatif seseorang telah tersanda dalam kebiasaanya. Asumsi tersebut sejalan penelitian dari Duke University pada tahun 2007 menyimpulkan bahwa “40% lebih tindakan yang dilakukan orang setiap hari bukanlah keputusan sungguhan melainkan kebiasaan”, dikutip dari Charles Duhigg (2014) dalam bukunya “The Power of Habit”.

Jikapun terjadi perubahan, hanya sebentar saja, tidak kurang dari tiga bulan, setelah itu dengan mudah kambuh kembali. Pakar perubahan perilaku menjelaskan fenomena mudah kambuh setelah mengalami perubahan karena mereka yang baru saja mengalami perubahan tersebut belum stabil emosinya.

Alan Deutschman (2008) dalam bukunya “Change or Die” mengemukakan fakta-fakta berikut ini: (1) penelitian menyimpulkan bahwa sembilan dari sepuluh orang (90%) tidak mau berubah; (2) mereka sakit karena pilihan gaya hidup atau kebiasaan buruk mereka, bukan karena faktor-faktor di luar kontrol mereka. Orang yang telah menjalani operasi bypass akibat kebiasaan hidup tidak sehat yang dilakukannya, sebayak 90% diantaranya tidak mengubah gaya hidup atau kebiasaan buruk mereka setelah dua tahun pasca operasi; (3) di Amerika Serikat cukup mengejutkan, 30% para residivis ditahan kembali enam bulan kemudian dan 67,5% lainnya ditahan kembali tiga tahun kemudian. Sebagian besar tahanan ditangkap kembali karena melakukan kejahatan yang serius, artinya penjara tidak mampu merubah kebiasaan buruk mereka; dan (4) riset membuktikan, 90% pasien tidak mau berubah walaupun dokter telah memberinya informasi tentang apa yang harus mereka lakukan untuk memperpanjang hidup mereka, mereka sangat sulit meninggalkan kebiasaan buruk (kebiasaan hidup kurang sehat) mereka. Penyakit jantung dan kematian tidak memotivasi penderitanya untuk merubah kebiasaan buruk mereka dan ketakutan akan hilangnya pekerjaan juga tidak menggugah para pekerja untuk berubah.

Baca Juga :  Pengolahan Limbah Sabut Kelapa Jadi Pot Tanam

Mahatma Ghandi menasehati kita, “Bentuklah kebiasaanmu melalui perbuatanmu”.

Ibn Miskawaih (1998) dalam bukunya “Tahdzib Al-Akhlaq” menegaskan bahwa “karakter manusia terletak pada pikirannya, dan dapat dicapai melalui pendidikan dan pergaulan, pengulangan atau kebiasaan dan disiplin”. Joyce Divinyi (2003) dalam bukunya “Discipline Your Kids” mengatakan hal senada bahwa “otak membutuhkan pengulangan untuk membuat tingkah laku tertentu menjadi kebiasaan”. Para pakar neurofisiologi menyimpulkan temuan mereka, bahwa otak mempunyai kemampuan yang menakjubkan untuk menerima pikiran atau perilaku yang berulang-ulang dan menyambungkannya ke pola-pola atau kebiasaan-kebiasaan yang otomatis dan di bawah sadar. Semakin sering mengulangi pikiran dan tindakan yang konstruktif, pikiran atau tindakan itu akan menjadi semakin dalam, semakin cepat, dan semakin otomatis”, demikian dikutip dari Paul G. Stoltz (2000) dalam bukunya berjudul “Adversity Quotient”.

Para psikolog berkumpul di Fransisco University membahas satu tema “Mengubah Kebiasaan”. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah rekomendasi, bahwa merubah kebiasaan tergantung pada tiga unsur penting berikut ini: komitmen, modifikasi lingkungan dan monitoring/evaluasi.

Satgas Covid-19 membahas persoalan merubah kebiasaan ini melibatkan sebanyak 50 pakar dari berbagai disiplin ilmu, akhirnya menetapkan empat strategi perubahan perilaku dan kebiasaan, yakni: (1) nasihat (the sermon), yakni melalui diseminasi informasi secara masif. Satgas Covid-19 menggandeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, BKKBN, TNI hingga RT/RW dalam memberikan informasi kepada masyarakat; (2) dorongan (nudge), yakni mendorong perilaku yang diharapkan menjadi pilihan mudah untuk dilakukan; (3) insentif (the carrot), yakni memberi insentif bagi yang mematuhi protocol kesehatan dan (4) hukuman (the whip), yakni pembebanan kewajiban atas perbuatan melawan aturan, norma dan ketentuan yang berlaku.

*Dosen FKIP Untan

Most Read

Artikel Terbaru

/