alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Bertanya Tidak Mesti Pertanda Ketidaktahuan

Oleh:  Sholihin H. Z.*

Saat Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya  dalam satu majelis, tiba-tiba datang seseorang yang tidak dikenal dan belum pernah dilihat oleh para sahabat. Sepertinya ia adalah orang asing dan berasal dari tempat yang jauh, karena tidak satu pun yang kenal siapa orang ini.

Ketika orang asing ini masuk ia langsung duduk di hadapan Nabi SAW. Sangat dekatnya duduk dengan Nabi hingga lutut orang ini bertemu dengan lutut Nabi SAW. Lantas orang ini bertanya, “Ya Muhammad, ajarkan kepadaku apa itu Islam?”

Nabi SAW pun menyebutkan makna Islam. Orang tersebut pun berkata, “Ya Muhammad, ajarkan kepadaku  makna Iman?”

Nabi SAW dengan tenang menjawab pertanyaan orang tersebut. Dia bertanya lagi, “Ya Muhammad, ajarkan kepada apa itu Ihsan?” Nabi SAW kemudian menjawab pertanyaan orang tersebut dengan jelas dan terang.

Setiap selesai dengan jawabanNabi SAW, orang asing inipun membalas jawaban Nabi dengan “Engkau benar yang Muhammad”. Selesai mendengar jawaban Nabi SAW, orang asing inipun segera pamit dengan menyisakan pertanyaan di kalangan sahabat. Siapa orang ini? Mengapa dia juga yang bertanya dia juga yang membenarkan, lantas darimana ia berasal karena dikalangan kami tidak satupun yang kenal.

Kemudian Nabi SAW lanjut bertanya kepada para sahabat,”Wahai Sahabatku, tahukah kalian siapakah yang datang tadi?” Dijawab oleh para sahabat, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu.” “Wahai sahabatku, ketahuilah, yang datang tadi adalah  malaikat Jibril, ia datang diutus oleh Allah SWT untuk memberikan pengetahuan tentang islam, iman dan ihsan.”

Baca Juga :  Pemimpin Perubahan

Pelajaran apa yang dapatdiambil dari kisah ini? Pertama, tiga pondasi dalam beragama harus menjadi perhatian kita semua yakni memahami secara benar apa itu Islam, meyakini secara benar apa itu Iman dan mendalami secara benar apa itu ihsan. Menurut Sayyid Bakri al Makki, dalam kitabnya Kifayatul Atqiya Wa Minhajul Ashfiya, ada tiga ilmu yang harus dipelajari dan hukumnya fardhu ‘ain yakni ilmu yang dapat mengantarkan kepada sahnya ibadah yaitu ilmu syariat atau ilmu fiqh, ilmu yang dapat mengantarkan kepada sah atau validnya berkeyakinan yaitu ilmu tauhid atau ilmuaqidah, dan ilmu yang dapat membersihkan atau mensucikan hati yaitu ilmu tasawuf.

Kedua, berkaitan dengan sumber ilmu. Rasulullah sebagai sumber hukum kedua ia menjadi tempat bertanya. Rasulullah juga yang memutuskan dengan wahyu Allah. Pelajaran yang dapat diambil adalah jika ingin mendapatkan ilmu harus dekat dengan sumber ilmu, dalam hal ini Rasulullah SAW dan orang-orang mulia yang dekat dengan beliau (sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan para ulama). Sederhananya harus berguru, ada mursyid dan sebagainya. Ini juga mengajarkan kepada kita bahwa Ilmu harus dikunjungi dan bukan mengunjungi, ilmu harus diburu untuk didapatkan dan bukan sebaliknya. Belajar kepada guru membentuk karakter untuk sopan, tawadhu dan memperhatikan etika di majelis ilmu.

Baca Juga :  ESENSI ‘AL-FITHRI

Kegita, mungkinkah Jibril tidak tahu dan faham apa itu Islam, Iman dan Ihsan. Sesuatu yang tidak mungkin tentunya, bukankah Jibril yang menjadi perantara keilmuan antara Allah SWT dan Rasul-Nya. Adanya peristiwa di atas mengajarkan kepada kita bahwa orang yang bertanya dan siapapun itu tidak mesti menunjukkan ketidaktahuannya, bisa saja ia dijadikan Allah sebagai media untuk bertanya yang pertanyaan itu mewakili orang-orang disekitarnya yang mungkin malu bertanya, tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Disinilah pentingnya memahami etika saat di majelis ilmu, sehingga kata-katayang keluar oleh si pendengar bukanlah, “Itupun mau ditanyakan juga, sepele.” Kata-kata inilah yang mungkin bagi yang faham terkesan sederhana, tapi tahukah bahwa ada orang-orang yang ingin bertanya tentang hal serupa tapi sungkan untuk bertanya. Jibril dengan segala kisahnya telah mengedukasi manusia berkaitan dengan menumbuhkan tenggangrasa pda orang lain yang mungkin kelimuannya di bawah kita. Semoga Bermanfaat **

*Penulis adalah Guru MAN 2 Pontianak.

Oleh:  Sholihin H. Z.*

Saat Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya  dalam satu majelis, tiba-tiba datang seseorang yang tidak dikenal dan belum pernah dilihat oleh para sahabat. Sepertinya ia adalah orang asing dan berasal dari tempat yang jauh, karena tidak satu pun yang kenal siapa orang ini.

Ketika orang asing ini masuk ia langsung duduk di hadapan Nabi SAW. Sangat dekatnya duduk dengan Nabi hingga lutut orang ini bertemu dengan lutut Nabi SAW. Lantas orang ini bertanya, “Ya Muhammad, ajarkan kepadaku apa itu Islam?”

Nabi SAW pun menyebutkan makna Islam. Orang tersebut pun berkata, “Ya Muhammad, ajarkan kepadaku  makna Iman?”

Nabi SAW dengan tenang menjawab pertanyaan orang tersebut. Dia bertanya lagi, “Ya Muhammad, ajarkan kepada apa itu Ihsan?” Nabi SAW kemudian menjawab pertanyaan orang tersebut dengan jelas dan terang.

Setiap selesai dengan jawabanNabi SAW, orang asing inipun membalas jawaban Nabi dengan “Engkau benar yang Muhammad”. Selesai mendengar jawaban Nabi SAW, orang asing inipun segera pamit dengan menyisakan pertanyaan di kalangan sahabat. Siapa orang ini? Mengapa dia juga yang bertanya dia juga yang membenarkan, lantas darimana ia berasal karena dikalangan kami tidak satupun yang kenal.

Kemudian Nabi SAW lanjut bertanya kepada para sahabat,”Wahai Sahabatku, tahukah kalian siapakah yang datang tadi?” Dijawab oleh para sahabat, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu.” “Wahai sahabatku, ketahuilah, yang datang tadi adalah  malaikat Jibril, ia datang diutus oleh Allah SWT untuk memberikan pengetahuan tentang islam, iman dan ihsan.”

Baca Juga :  MENGENAL SURAH ALI IMRAN

Pelajaran apa yang dapatdiambil dari kisah ini? Pertama, tiga pondasi dalam beragama harus menjadi perhatian kita semua yakni memahami secara benar apa itu Islam, meyakini secara benar apa itu Iman dan mendalami secara benar apa itu ihsan. Menurut Sayyid Bakri al Makki, dalam kitabnya Kifayatul Atqiya Wa Minhajul Ashfiya, ada tiga ilmu yang harus dipelajari dan hukumnya fardhu ‘ain yakni ilmu yang dapat mengantarkan kepada sahnya ibadah yaitu ilmu syariat atau ilmu fiqh, ilmu yang dapat mengantarkan kepada sah atau validnya berkeyakinan yaitu ilmu tauhid atau ilmuaqidah, dan ilmu yang dapat membersihkan atau mensucikan hati yaitu ilmu tasawuf.

Kedua, berkaitan dengan sumber ilmu. Rasulullah sebagai sumber hukum kedua ia menjadi tempat bertanya. Rasulullah juga yang memutuskan dengan wahyu Allah. Pelajaran yang dapat diambil adalah jika ingin mendapatkan ilmu harus dekat dengan sumber ilmu, dalam hal ini Rasulullah SAW dan orang-orang mulia yang dekat dengan beliau (sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan para ulama). Sederhananya harus berguru, ada mursyid dan sebagainya. Ini juga mengajarkan kepada kita bahwa Ilmu harus dikunjungi dan bukan mengunjungi, ilmu harus diburu untuk didapatkan dan bukan sebaliknya. Belajar kepada guru membentuk karakter untuk sopan, tawadhu dan memperhatikan etika di majelis ilmu.

Baca Juga :  Zakat sebagai Distribusi Kekayaan

Kegita, mungkinkah Jibril tidak tahu dan faham apa itu Islam, Iman dan Ihsan. Sesuatu yang tidak mungkin tentunya, bukankah Jibril yang menjadi perantara keilmuan antara Allah SWT dan Rasul-Nya. Adanya peristiwa di atas mengajarkan kepada kita bahwa orang yang bertanya dan siapapun itu tidak mesti menunjukkan ketidaktahuannya, bisa saja ia dijadikan Allah sebagai media untuk bertanya yang pertanyaan itu mewakili orang-orang disekitarnya yang mungkin malu bertanya, tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Disinilah pentingnya memahami etika saat di majelis ilmu, sehingga kata-katayang keluar oleh si pendengar bukanlah, “Itupun mau ditanyakan juga, sepele.” Kata-kata inilah yang mungkin bagi yang faham terkesan sederhana, tapi tahukah bahwa ada orang-orang yang ingin bertanya tentang hal serupa tapi sungkan untuk bertanya. Jibril dengan segala kisahnya telah mengedukasi manusia berkaitan dengan menumbuhkan tenggangrasa pda orang lain yang mungkin kelimuannya di bawah kita. Semoga Bermanfaat **

*Penulis adalah Guru MAN 2 Pontianak.

Previous articleGelar Khitanan Gratis
Next articleMengutuk Bencana

Most Read

Cabai Tembus Rp 95.000 per Kilogram

Benahi Layanan Air Bersih

motor Pengerak Perubahan

Kompetisi ber-AKSI di Rumah Aja

Bersikap Posesif pada Anak

Artikel Terbaru

/