alexametrics
31 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Mengutuk Bencana

Oleh: Andry Fitriyanto*

Januari 2021 dilewati dengan sangat dramatis. Bagaimana tidak, selain terjangan gelombang corona yang belum menyurut, awal tahun penduduk tanah air berhadapan dengan ragam duka oleh bencana. Mulai dari banjir, tanah longsor, gunung meletus, hingga gempa bumi. BNPB mencatat sebanyak 236 bencana alam terjadi di Indonesia. Ratusan nyawa melayang dan jutaan manusia terdampak kejadian pilu ini. Belum lagi kelamnya insiden penerbangan SJ 182 Jakarta-Pontianak yang turut mengambil orang-orang terdekat kita. Kepedihan itu semakin bertambah dengan kenyataan berpulangnya ke hadirat Ilahi belasan ulama tanah air yang sangat dicintai.

Semua kejadian itu cukup menyontak kesadaran eksistensial selaku manusia yang tak berdaya di hadapan ganasnya alam dan takdir kematian. Kini Februari telah terbit.  Terselip harapan agar badai segera berlalu dan ketentraman hidup kembali bersinar di bulan ini dan bulan berikutnya. Meski harus diakui gema duka masih terngiang di jiwa kita yang terluka.

Bencana memang membawa kesengsaraan dan penderitaan. Jika hal tersebut menimpa para penculas, mungkin kita tak akan terlalu meributkannya. Namun, seolah tak pandang bulu, banyak dari kemalangan itu justru menimpa korban yang kita kenal sebagai “orang baik”. Jikalah boleh menimbang, rasanya kematian tragis dalam kecelakaan dan bencana merupakan hal yang tak pantas bagi mereka. Asbab keterkejutan kita pada suatu kejadian suram tak terduga itumemunculkan tanda tanya besar. Mengapa harus mereka yang menderita oleh bencana? Mengapa Tuhan tak menyelamatkan orang-orang baik? Mengapa tidak para koruptor saja yang mendapatkan kengerian itu? Pertanyaan-pertanyaan ini menghegemoni benak saya selama sebulan terakhir.

Kaum atheis biasanya memiliki jawaban yang lebih simpel dibandingkan kita yang bertuhan. Bagi mereka, semua peristiwa termasuk petaka sekalipun, hanyalah sebuah fakta kehidupan yang tak memiliki keterkaitan dengan persoalan keilahian. Penderitaan, kecelakaan, bencana, kemalangan, dan hal sebaliknya merupakan suatu yang tak bernilai lebih (biasa) dalam kehidupan manusia. Toh hidup itu memang absurd ucap Camus atau nihil kata Nietzsche. Tanpa tujuan dan makna selain kehidupan itu sendiri. Apa pun bisa terjadi pada siapa pun. Hingga tak ada ruang untuk bertanya mengapa. Satu-satunya hal paling rasional dalam ke-nirmaknaan ini adalah hadapi dan jalani sajadengan penuh kesadaran dan keberanian.

Baca Juga :  Kiat Siswa Sukses UNBK 2020 

Namun bagi para penyembah Tuhan, ragam pertanyaan itu memunculkan suatu diskursus rumit nan panjang dalam ranah filsafat agama. Dikenal dengan Theodicy (“Theos” Tuhan, “Dike” keadilan). Pertanyaan mendasarnya adalah “Jika Tuhan Maha Baik, Maha Kuasa dan Maha Adil, lalu mengapa hal-hal buruk pun terjadi pada orang-orang baik?”

Sebuah kontradiksi yang menyeruak menjadi teka-teki. Menghilangkan salah satu premisnya demi sebuah jawaban akan menjebak kita dalam dilema. Orang baik semestinya mendapatkan balasan baik, atau dijauhkan dan dihindarkan dari hal buruk, namun kenyataannya tak selalu begitu. Bahkan kontras, banyak penjahat yang hidup dengan penuh kesenangan. Sangat susah kita terima jawaban bahwa Tuhan tidak baik karena memunculkan fenomena itu, atau Tuhan tidak kuasa karena membiarkannya.

Dari sinilah muncul ragam jawaban dalam upayamengurai misteri. Namun sayang, setiap argumentasi yang dilontarkan memiliki celah logisnya sendiri. Hingga menyebabkan kegagalan menghilangkan dahaga keingintahuan penyelesaian enigma ketuhanan ini. Mulai dari diktum dosa pembawa bencana, hingga pasal kebaikan tersembunyi di balik derita. Kenyataannya, korban bencana tak semua pendosa dan kebaikan tidak mesti dibayar mahal dengan variasisengsara sebelumnya.

Harold Kusher dalam When Bad Things Happen To Good Peoplemaju satu langkah dalam masalah ini.Berangkat dari clock maker theory. Bahwa Tuhan tak turut campur dalam segala urusan manusia setelah Ia selesai menciptakan alam semesta beserta segala hukumnya. Semua berjalan secara otomatis sesuai dengan mekanisme hukum alam yang dikenal buta, berpola acak, dan tentunya tak memiliki alasan moral pada kinerjanya. Termasuk pula berbagai kemalangandi sekitar kita. Tak peduli korbannya apakah orang baik atau laknat. Meski demikian, rumusan yang diajukan Kusher membentur realita.Bahwa kita juga terkadang menyaksikan atau mempercayai kejadian yang berada di luar nalar dan tidak sejalan dengan hukum alam dalam kasus tertentu. Hal yang justru mengukuhkan keikutsertaan Tuhan dalam kehidupan. Jika demikian, kita akan kembali berputar pada pertanyaan dasar pertama. Singkatnya, tak ada jawaban yang memuaskan secara logika.

Turut urun rembug dalam kerumitan ini, paling tidak ada dua pandangan yang coba saya lontarkan. Pertama,dengan menambah satu aksioma bahwa tidak semua hal dapat diselesaikan dengan pendekatan rasional(intelektual). Dan memang diakui bahwa pola tersebut dianggap kurang lengkap karena linieritas dan determinitasnya yang membawa kita pada kondisi “jika tidak hitam, ya putih” atau sebaliknya.

Baca Juga :  Melatih Anak Berpuasa

Pendekatan asosiatif dalam ranah emosional pun seakan tak mampu melengkapi kekurangan rekannya. Karena ia bersifat tidak akurat, dan cenderung terikat pada perasaan, kebiasaan serta pengalaman. Hingga diperlukan satu jenis pendekatan lain yang menyempurnakan keduanya, yaitu pendekatan unitif dalam ranah spiritual quotient. Yaitu berkaitan dengan kemampuan memecahkan masalah pemaknaan dan nilai dalam setiap kejadian di kehidupan. Dalam artian kemampuan untuk membingkai ulang atau mengkontekstualisasikan pengalaman kita. Sepertinya ini sejalan dengan apa yang diajarkan para filosof Stoic bahwa kemerdekaan penerjemahan internal suatu peristiwa di luar diri kita adalah satu-satunya amunisi yang ampuh untuk diandalkan dalam menghadapi semua jenis kenyataan.

Satu kemampuan yang sanggup menopang kokoh kaki kita untuk tetap berdiri di tengah bencana dan petaka. Memunculkan keberanian dan kesadaran untuk menerima realita, tanpa berontak “mengapa”. Mentransformasikan radiasi negatif sebuah peristiwa menjadi energi positif untuk menapak langkah kehidupan selanjutnya. Kecerdasan inilah yang saya kira membawa para sufi ternama dalam level kebertuhanan yang tak lagi menganggap surga neraka sebagai hal yang utama. Sebagaimana nikmat dan sengsara yang bisa jadi terlihat sama saja karena keterpanaan pada sesuatu sesuatu yang lebih agung di baliknya.

Kedua, dengan menggunakan the pragmatic theory of truth yang menekankan konsekuensi fungsionalitas. Dengan jalan mempertanyakan pilihan sikap kita (dalam bingkai asas kebermanfaaatan) ketika menyikapi bencana. Menimbang faedah antara pertanyaan “mengapa itu terjadi” yang berbasis gugatan pada Tuhan, dengan pertanyaan “mengapa itu terjadi” yang berada dalam jalur ilmiah. Hal pertama tentu akan menarik kita dalam pusaran yang tak berujung. Sedangkan hal kedua membawa kita dalam pengejewantahan nilai ilmu pengetahuan sebagai media penjelasan suatu peristiwa.Untuk selanjutnya menumbuhkan kemampuan prediksi dan pengendaliannatural disaster, meminimalisir human eror sertatechnical erordi masa depan. Hingga kita akan sampai pada pertanyaan selanjutnya, “tindakan terbaik apa yang harus dilakukan?”. Saya pikir dua hal tersebut lebih solutif daripada kita berontak pada kenyataan, menggugat Tuhan atau bersikap mengutuk bencana. Wallahu a’lam bishawab. **

*Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak.

Oleh: Andry Fitriyanto*

Januari 2021 dilewati dengan sangat dramatis. Bagaimana tidak, selain terjangan gelombang corona yang belum menyurut, awal tahun penduduk tanah air berhadapan dengan ragam duka oleh bencana. Mulai dari banjir, tanah longsor, gunung meletus, hingga gempa bumi. BNPB mencatat sebanyak 236 bencana alam terjadi di Indonesia. Ratusan nyawa melayang dan jutaan manusia terdampak kejadian pilu ini. Belum lagi kelamnya insiden penerbangan SJ 182 Jakarta-Pontianak yang turut mengambil orang-orang terdekat kita. Kepedihan itu semakin bertambah dengan kenyataan berpulangnya ke hadirat Ilahi belasan ulama tanah air yang sangat dicintai.

Semua kejadian itu cukup menyontak kesadaran eksistensial selaku manusia yang tak berdaya di hadapan ganasnya alam dan takdir kematian. Kini Februari telah terbit.  Terselip harapan agar badai segera berlalu dan ketentraman hidup kembali bersinar di bulan ini dan bulan berikutnya. Meski harus diakui gema duka masih terngiang di jiwa kita yang terluka.

Bencana memang membawa kesengsaraan dan penderitaan. Jika hal tersebut menimpa para penculas, mungkin kita tak akan terlalu meributkannya. Namun, seolah tak pandang bulu, banyak dari kemalangan itu justru menimpa korban yang kita kenal sebagai “orang baik”. Jikalah boleh menimbang, rasanya kematian tragis dalam kecelakaan dan bencana merupakan hal yang tak pantas bagi mereka. Asbab keterkejutan kita pada suatu kejadian suram tak terduga itumemunculkan tanda tanya besar. Mengapa harus mereka yang menderita oleh bencana? Mengapa Tuhan tak menyelamatkan orang-orang baik? Mengapa tidak para koruptor saja yang mendapatkan kengerian itu? Pertanyaan-pertanyaan ini menghegemoni benak saya selama sebulan terakhir.

Kaum atheis biasanya memiliki jawaban yang lebih simpel dibandingkan kita yang bertuhan. Bagi mereka, semua peristiwa termasuk petaka sekalipun, hanyalah sebuah fakta kehidupan yang tak memiliki keterkaitan dengan persoalan keilahian. Penderitaan, kecelakaan, bencana, kemalangan, dan hal sebaliknya merupakan suatu yang tak bernilai lebih (biasa) dalam kehidupan manusia. Toh hidup itu memang absurd ucap Camus atau nihil kata Nietzsche. Tanpa tujuan dan makna selain kehidupan itu sendiri. Apa pun bisa terjadi pada siapa pun. Hingga tak ada ruang untuk bertanya mengapa. Satu-satunya hal paling rasional dalam ke-nirmaknaan ini adalah hadapi dan jalani sajadengan penuh kesadaran dan keberanian.

Baca Juga :  Mungkinkah Lelang Rambah Dunia E-Commerce di Era Digital?

Namun bagi para penyembah Tuhan, ragam pertanyaan itu memunculkan suatu diskursus rumit nan panjang dalam ranah filsafat agama. Dikenal dengan Theodicy (“Theos” Tuhan, “Dike” keadilan). Pertanyaan mendasarnya adalah “Jika Tuhan Maha Baik, Maha Kuasa dan Maha Adil, lalu mengapa hal-hal buruk pun terjadi pada orang-orang baik?”

Sebuah kontradiksi yang menyeruak menjadi teka-teki. Menghilangkan salah satu premisnya demi sebuah jawaban akan menjebak kita dalam dilema. Orang baik semestinya mendapatkan balasan baik, atau dijauhkan dan dihindarkan dari hal buruk, namun kenyataannya tak selalu begitu. Bahkan kontras, banyak penjahat yang hidup dengan penuh kesenangan. Sangat susah kita terima jawaban bahwa Tuhan tidak baik karena memunculkan fenomena itu, atau Tuhan tidak kuasa karena membiarkannya.

Dari sinilah muncul ragam jawaban dalam upayamengurai misteri. Namun sayang, setiap argumentasi yang dilontarkan memiliki celah logisnya sendiri. Hingga menyebabkan kegagalan menghilangkan dahaga keingintahuan penyelesaian enigma ketuhanan ini. Mulai dari diktum dosa pembawa bencana, hingga pasal kebaikan tersembunyi di balik derita. Kenyataannya, korban bencana tak semua pendosa dan kebaikan tidak mesti dibayar mahal dengan variasisengsara sebelumnya.

Harold Kusher dalam When Bad Things Happen To Good Peoplemaju satu langkah dalam masalah ini.Berangkat dari clock maker theory. Bahwa Tuhan tak turut campur dalam segala urusan manusia setelah Ia selesai menciptakan alam semesta beserta segala hukumnya. Semua berjalan secara otomatis sesuai dengan mekanisme hukum alam yang dikenal buta, berpola acak, dan tentunya tak memiliki alasan moral pada kinerjanya. Termasuk pula berbagai kemalangandi sekitar kita. Tak peduli korbannya apakah orang baik atau laknat. Meski demikian, rumusan yang diajukan Kusher membentur realita.Bahwa kita juga terkadang menyaksikan atau mempercayai kejadian yang berada di luar nalar dan tidak sejalan dengan hukum alam dalam kasus tertentu. Hal yang justru mengukuhkan keikutsertaan Tuhan dalam kehidupan. Jika demikian, kita akan kembali berputar pada pertanyaan dasar pertama. Singkatnya, tak ada jawaban yang memuaskan secara logika.

Turut urun rembug dalam kerumitan ini, paling tidak ada dua pandangan yang coba saya lontarkan. Pertama,dengan menambah satu aksioma bahwa tidak semua hal dapat diselesaikan dengan pendekatan rasional(intelektual). Dan memang diakui bahwa pola tersebut dianggap kurang lengkap karena linieritas dan determinitasnya yang membawa kita pada kondisi “jika tidak hitam, ya putih” atau sebaliknya.

Baca Juga :  Masa Depan Penanggulangan Karhutla selama Pandemi

Pendekatan asosiatif dalam ranah emosional pun seakan tak mampu melengkapi kekurangan rekannya. Karena ia bersifat tidak akurat, dan cenderung terikat pada perasaan, kebiasaan serta pengalaman. Hingga diperlukan satu jenis pendekatan lain yang menyempurnakan keduanya, yaitu pendekatan unitif dalam ranah spiritual quotient. Yaitu berkaitan dengan kemampuan memecahkan masalah pemaknaan dan nilai dalam setiap kejadian di kehidupan. Dalam artian kemampuan untuk membingkai ulang atau mengkontekstualisasikan pengalaman kita. Sepertinya ini sejalan dengan apa yang diajarkan para filosof Stoic bahwa kemerdekaan penerjemahan internal suatu peristiwa di luar diri kita adalah satu-satunya amunisi yang ampuh untuk diandalkan dalam menghadapi semua jenis kenyataan.

Satu kemampuan yang sanggup menopang kokoh kaki kita untuk tetap berdiri di tengah bencana dan petaka. Memunculkan keberanian dan kesadaran untuk menerima realita, tanpa berontak “mengapa”. Mentransformasikan radiasi negatif sebuah peristiwa menjadi energi positif untuk menapak langkah kehidupan selanjutnya. Kecerdasan inilah yang saya kira membawa para sufi ternama dalam level kebertuhanan yang tak lagi menganggap surga neraka sebagai hal yang utama. Sebagaimana nikmat dan sengsara yang bisa jadi terlihat sama saja karena keterpanaan pada sesuatu sesuatu yang lebih agung di baliknya.

Kedua, dengan menggunakan the pragmatic theory of truth yang menekankan konsekuensi fungsionalitas. Dengan jalan mempertanyakan pilihan sikap kita (dalam bingkai asas kebermanfaaatan) ketika menyikapi bencana. Menimbang faedah antara pertanyaan “mengapa itu terjadi” yang berbasis gugatan pada Tuhan, dengan pertanyaan “mengapa itu terjadi” yang berada dalam jalur ilmiah. Hal pertama tentu akan menarik kita dalam pusaran yang tak berujung. Sedangkan hal kedua membawa kita dalam pengejewantahan nilai ilmu pengetahuan sebagai media penjelasan suatu peristiwa.Untuk selanjutnya menumbuhkan kemampuan prediksi dan pengendaliannatural disaster, meminimalisir human eror sertatechnical erordi masa depan. Hingga kita akan sampai pada pertanyaan selanjutnya, “tindakan terbaik apa yang harus dilakukan?”. Saya pikir dua hal tersebut lebih solutif daripada kita berontak pada kenyataan, menggugat Tuhan atau bersikap mengutuk bencana. Wallahu a’lam bishawab. **

*Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak.

Most Read

Artikel Terbaru

/