alexametrics
25.6 C
Pontianak
Monday, May 23, 2022

Sudah Jadi Apa Kita dengan Puasa Ramadan?

OLEH: THAMRIN USMAN

SETIAP kali Ramadan tiba selalu muncul pertanyaan, masihkah berbekas hikmah puasa Ramadan yang telah dilakukan pada tahun tahun sebelumnya?Sudahkah menjadi orang yang bertakwa seperti perintah Allah SWT kepada orang-orang muslim yang beriman untuk berpuasa? Dampak kebaikan apa yang diberikan kepada manusia dan alam semesta ini dengan telah berpuasa.

Mari kita bermuhasabah dan melakukan ikhtiar menuju kesempurnaan mumpung masih diberikan Allah SWT kesempatan bertemu Ramadan kali ini.

Meski terjadi perbedaan penetapan satu Ramadan 1443H, alhamdulillah untuk kesekian kalinya kita dapat menemui bulan yang sangat istimewa yaitu Bulan Ramadan. Di dalamnya terdapat salah satu kemulian yaitu perintah dari Allah SWT untuk melaksanakan puasa wajib sebulan penuh kepada kaum muslimin dan muslimat yang beriman.

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah 183: ”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Sudahkah kita termasuk orang orang yang diajak untuk melaksanakan ibadah Saum Ramadan yaitu orang-orang yang beriman? Sebuah kriteria yang harus dipenuhi untuk orang-orang yang diwajibkan untuk berpuasa untuk mendapatkan hasil berupa derajat takwa. Selanjutnya apakah kita telah mendapatkan derajat (reward) takwa tersebut?

Berbekaskah derajat takwa tersebut dalam keseharian hidup kita?
Dalam surat Al Anfal 2-4 Allah SWT berfirman yang terjemahannya ”Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hatinya,dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat(tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia”.

Baca Juga :  Urgensi Literasi Digital Menyongsong Revolusi Industri 4.0

Dari surat Al Anfal 2-4 ini Allah SWT memberikan ciri-ciri orang yang beriman, yang termasuk untuk dipanggil melaksanakan sebuah proses peningkatan mutu yaitu berpuasa. Proses ini akan menghantarkan orang orang yang beriman menjadi orang yang bertakwa. Sebuah derajat kemuliaan yang dilekatkan kepada orang-orang beriman setelah usai melaksanakan saum Ramadan.

Allah SWT memberikan keistimewaan kepada orang bertakwa di antaranya seperti dalam Surat An Nahal 128: ”Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. Dalam Surat At Taubah 4: ”Sesungguhnya Allah mencitai orang-orang yang bertakwa”.

Allah berikan Furqan (pembeda baik dan buruk) seperti dalam Surat Al Anfaal 29. Selanjutnya Allah berikan kepada orang-orang bertakwa untuk mendapatkan kemudahan setelah kesulitan dan mendapat jalan keluar setelah kesempitan (At-Thalaq 2-4), serta “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu (Al Hujarat 13).

Baca Juga :  Akhir Pekan Bulan Ramadan Seru-seruan Bareng Lewat Virtual Daihatsu Festival

Luar biasa sesungguhnya ibadah puasa Ramadan karena tidak sembarang orang yang diajak melaksanakan ibadah Ash Shiyam untuk dinaikkan kemuliaannya, sebuah proses purifikasi/pemurniaan. Ibarat emas yang 20 karat dijadikan 24 karat atau bahkan lebih(99,99%).

Setelah banyak kali puasa Ramadan yang dilaksanakan dari tahun ke tahun, apakah kita tambah dekat dengan Allah, apakah makin dicintai Allah, apakah tersemat dalam diri sifat furqan (pembeda yang haq dan bathil), apakah setiap kali mendengar nama Allah bergetarkah hati dan apabila dibacakan ayat-ayat bertambahkah iman.

Selanjutnya apakah selalu ingat bahwa rezeki yang diproleh di dalamnya ada hak fakir miskin dan yatim piatu, sesering dan sebesar apa infak sadaqah dikeluarkan, sedalam apa rasa emphati kepada sesama mahluk hidup di muka bumi ini.

Mari kita lihat ke belakang (retro vision) hikmah dari puasa Ramadan yang telah ditunaikan dan faedahnya untuk diri dan orang lain serta alam semesta.
Selayaknya setiap hadirnya Ramadan dilakukan kaliberasi ketakwaan kita agar jejak-jejak puasa Ramadan tidak terhapus oleh zaman dan kesibukan duniawi kita.

Semoga Allah SWT lancarkan ibadah Saum Ramadan dan Amaliah Ramadan kali ini dan kita dapat memperoleh derajat takwa, sebuah kemuliaan. Aamiin.

*Penulis, Ketua ICMI Orwil Kalbar

OLEH: THAMRIN USMAN

SETIAP kali Ramadan tiba selalu muncul pertanyaan, masihkah berbekas hikmah puasa Ramadan yang telah dilakukan pada tahun tahun sebelumnya?Sudahkah menjadi orang yang bertakwa seperti perintah Allah SWT kepada orang-orang muslim yang beriman untuk berpuasa? Dampak kebaikan apa yang diberikan kepada manusia dan alam semesta ini dengan telah berpuasa.

Mari kita bermuhasabah dan melakukan ikhtiar menuju kesempurnaan mumpung masih diberikan Allah SWT kesempatan bertemu Ramadan kali ini.

Meski terjadi perbedaan penetapan satu Ramadan 1443H, alhamdulillah untuk kesekian kalinya kita dapat menemui bulan yang sangat istimewa yaitu Bulan Ramadan. Di dalamnya terdapat salah satu kemulian yaitu perintah dari Allah SWT untuk melaksanakan puasa wajib sebulan penuh kepada kaum muslimin dan muslimat yang beriman.

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah 183: ”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Sudahkah kita termasuk orang orang yang diajak untuk melaksanakan ibadah Saum Ramadan yaitu orang-orang yang beriman? Sebuah kriteria yang harus dipenuhi untuk orang-orang yang diwajibkan untuk berpuasa untuk mendapatkan hasil berupa derajat takwa. Selanjutnya apakah kita telah mendapatkan derajat (reward) takwa tersebut?

Berbekaskah derajat takwa tersebut dalam keseharian hidup kita?
Dalam surat Al Anfal 2-4 Allah SWT berfirman yang terjemahannya ”Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hatinya,dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat(tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia”.

Baca Juga :  Penentuan Ramadan Kembali Berbeda, ICMI Kalbar Tawarkan Pencitraan Satelit

Dari surat Al Anfal 2-4 ini Allah SWT memberikan ciri-ciri orang yang beriman, yang termasuk untuk dipanggil melaksanakan sebuah proses peningkatan mutu yaitu berpuasa. Proses ini akan menghantarkan orang orang yang beriman menjadi orang yang bertakwa. Sebuah derajat kemuliaan yang dilekatkan kepada orang-orang beriman setelah usai melaksanakan saum Ramadan.

Allah SWT memberikan keistimewaan kepada orang bertakwa di antaranya seperti dalam Surat An Nahal 128: ”Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. Dalam Surat At Taubah 4: ”Sesungguhnya Allah mencitai orang-orang yang bertakwa”.

Allah berikan Furqan (pembeda baik dan buruk) seperti dalam Surat Al Anfaal 29. Selanjutnya Allah berikan kepada orang-orang bertakwa untuk mendapatkan kemudahan setelah kesulitan dan mendapat jalan keluar setelah kesempitan (At-Thalaq 2-4), serta “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu (Al Hujarat 13).

Baca Juga :  Aksi Borong Berpotensi Picu Inflasi

Luar biasa sesungguhnya ibadah puasa Ramadan karena tidak sembarang orang yang diajak melaksanakan ibadah Ash Shiyam untuk dinaikkan kemuliaannya, sebuah proses purifikasi/pemurniaan. Ibarat emas yang 20 karat dijadikan 24 karat atau bahkan lebih(99,99%).

Setelah banyak kali puasa Ramadan yang dilaksanakan dari tahun ke tahun, apakah kita tambah dekat dengan Allah, apakah makin dicintai Allah, apakah tersemat dalam diri sifat furqan (pembeda yang haq dan bathil), apakah setiap kali mendengar nama Allah bergetarkah hati dan apabila dibacakan ayat-ayat bertambahkah iman.

Selanjutnya apakah selalu ingat bahwa rezeki yang diproleh di dalamnya ada hak fakir miskin dan yatim piatu, sesering dan sebesar apa infak sadaqah dikeluarkan, sedalam apa rasa emphati kepada sesama mahluk hidup di muka bumi ini.

Mari kita lihat ke belakang (retro vision) hikmah dari puasa Ramadan yang telah ditunaikan dan faedahnya untuk diri dan orang lain serta alam semesta.
Selayaknya setiap hadirnya Ramadan dilakukan kaliberasi ketakwaan kita agar jejak-jejak puasa Ramadan tidak terhapus oleh zaman dan kesibukan duniawi kita.

Semoga Allah SWT lancarkan ibadah Saum Ramadan dan Amaliah Ramadan kali ini dan kita dapat memperoleh derajat takwa, sebuah kemuliaan. Aamiin.

*Penulis, Ketua ICMI Orwil Kalbar

Most Read

Rumah Produksi Mocaf

Banjir Jeruk Tebas

Tiga Kecamatan Terendam

Xing Fu Beri Bantuan Biaya Berobat

Artikel Terbaru

/