alexametrics
30.6 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Pendidikan Karakter Berlalu Lintas di Jalan

Selamat Hari Bhayangkara ke-76

Pendidikan Karakter Berlalu Lintas di Jalan

Oleh: M Rif’at

SELAMAT Hari Bhayangkara ke-76! Semoga Kepolisian Negara Republik Indonesia terus berjaya – bersama rakyat membangun dan mengayomi. Mohon izin, kami menuliskan beberapa pokok pikiran terkait berlalu lintas atau berkendaraan bermotor (khusus) di jalan raya atau jalan umum lainnya.

Dalam konteks pendidikan, ada tiga ranah yang diperlukan bagi setiap pengendara. Ranah pengetahuan dapat diukur melalui proses ujian tulis yang diberikan – dimana peserta wajib lulus sesuai kriteria capaian pengetahuan kelalulintasan. Ranah ini relatif telah berjalan baik. Sepertinya tidak ada masalah serius, apalagi sumber-sumber bacaan dapat diperoleh secara luas dan bervariasi, terutama berkat kemajuan teknologi informasi. Ranah keterampilan sebagian kecil juga sudah diujikan melalui ujian praktik, yakni untuk beberapa keterampilan dasar atau minimum telah diamati dan dinilai. Sementara ranah sikap atau perilaku berlalu lintas sepertinya masih menjadi kajian krusial – paling tidak terkait karakter pengendara.

Masalah yang penulis rasakan masih menggelitik adalah ranah keterampilan dan sikap atau perilaku berlalulintas. Kedua ranah tersebut sepertinya seimbang dan haruslah diberikan porsi lebih banyak daripada ranah pengetahuan.

Keseimbangan sebagaimana dimaksud bermakna bahwa kedua ranah tersebut alih-alih sebagai variabel eksogen dan endogen, sikap dan keterampilan memiliki hubungan kuat dan signifikan dibandingkan korelasi pasangan kedua ranah tersebut dengan pengetahuan. Sebagai contoh, sulit mengaitkan pengetahuan dengan sikap, karena tidak ada jaminan bahwa pengetahuan yang banyak menyebabkan sikap menjadi lebih baik.

Kita tahu benar bahwa masyarakat sebenarnya mengetahui aturan berlalu lintas, tetapi masih banyak yang melanggar. Hal lain yang cukup serius adalah, bahwa pengetahuan yang dimiliki ternyata tidak terkait (bahkan tidak mempengaruhi) keterampilan menggunakan kendaraan. Bahkan, seseorang yang terampil dan memiliki pengetahuan berlalu-lintas, malahan memperlihatkan pelanggaran-pelanggaran. Inilah aspek perilaku atau sikap yang perlu terus dijadikan instrumen berlalu-lintas.

Seringkali pengendara terampil juga melakukan pelanggaran, dan yang bersikap benar dapat menjadi korban (terjadi kecekalaan atau tabrakan) karena ulah pengendara terampil. Maksud penulis adalah mereka terampil berkendara, tetapi bersikap tidak sebagaimana mestinya. Hal-hal yang penulis amati selama berlalu-lintas antara lain adalah: mendahului dari kiri; mendahului di tikungan; belum berperilaku tepat pada atau sewaktu melewati traffic light; tidak taat ketentuan rambu-rambu mengenai kecepatan kendaraan; kecepatan lebih rendah tetapi berada di jalur kanan; dan tidak mendahulukan kendaraan yang akan mengikuti jalan melurus terhadap yang akan berbelok.

Baca Juga :  Mengenal Surah An-Nisa’

Perilaku berlalu lintas dapat dipandang sebagai karakter, mulai tampak saat ini sebagai kajian hangat, bahkan menjadi materi berbagai kegiatan, tetapi sepertinya belum merupakan bahan kajian. Pendidikan berlalu lintas seakan perlu menemukan momentum reevaluation atau harus dikritisi secara komprehensif, bukan hanya yang berkenaan dengan implementasi, tetapi secara serempak perlu dikaitkan dengan filosofi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apa yang mendasari pemikiran tersebut? Ada fenomena dan kejadian tentang berbagai peristiwa berlalu lintas bahkan konflik. Pendidikan berlalu lintas tidak hanya berada dalam lingkup kajian “kedirian” yang mendefinisikan eksistensi biner, tetapi sesungguhnya menjadi kajian awal sebelum membincangkan ranah-ranah pendidikan berlalu lintas. Eksistensi diri dan cara pandang dalam melihat “yang lain” membawa konsekuensi luas.

Karena itu, dalam konteks berlalu lintas, mengakui perbedaan saja tidak cukup. Masih perlu pengakuan dan pemberian ruang bagi eksistensi ”pengedara yang lain” serta serius membangun semangat kebersamaan.

Ragam perilaku berlalu lintas memberikan pengandaian akan adanya kesadaran dengan titik tekan terletak pada domain bangunan kesadaran akan keragaman. Ragam tersebut mengisyaratkan kesadaran yang dibangun atas cita-cita ideal, yakni menuju kepada zero accident sebagai kesadaran kolektif mengarah pada pembentukan masyarakat berkarakter dalam berlalu lintas. Resistensi, trauma, dan endapan menggejala harus menjadi perhatian pertama sebelum berupaya mewujudkan kembali pengendara yang toleran dan bijak dalam menyikapi berbagai perangkat berlalu lintas. Di sisi lain nampak bahwa untuk bersikap yang berkarakter, perlu dibangun kesadaran bersama dan penghormatan. Tidak saja mengakui, akan tetapi juga merayakan kehidupan.

Mengamati perilaku berlalu lintas, apa yang sebaiknya kita lakukan? Secara keseluruhan, ada dua langkah dasar yang harus dilakukan agar kita memiliki kesadaran, punya kesempatan dan pemahaman tinggi tentang berlalu lintas. Pertama, mendorong pengendara berubah menjadi masyarakat dengan kesadaran yang tinggi. Kedua, mengusahakan agar peristiwa di jalan raya yang sekarang ini masih memprihatinkan secara berangsur-angsur ditekan melalui pemahaman dan pengertian secara mendalam. Kedua hal ini tidak dapat dilakukan secara serta-merta.

Baca Juga :  Urgensi Menjaga Lingkungan Hidup

Lembaga Kepolisian harus terus berperan terutama sebagai pusat pengkajian, penerapan, dan pengembangan program-program berbasis dan berorientasi zero accident. Lembaga tersebut juga perlu mengenali dan mengumpulkan data serta informasi pada ranah perilaku dalam konteks nilai-nilai luhur bangsa (Pancasila). Lebih jauh lagi, lembaga kepolisian juga harus mampu melihat kebutuhan pengendara secara keseluruhan dan menggali berbagai notasi kesadaran berlalu lintas, dan yang berimplikasi untuk peningkatan mutu berlalu lintas.Lembaga Kepolisian haruslah menampakkan dan memasukkan pengetahuan masyarakat misalnya untuk pengembangan keterampilan, mempromosikan kajian kritis tentang lalu lintas di jalan raya.

Konsep sikap berlalu lintas berkaitan dengan penanganan masalah-masalah yang dipandang sebagai potensi untuk menyelesaikan berbagai isu terkait.  Keberhasilan penyelenggaraan dan pelayanan ditentukan oleh informasi, pengetahuan, keterampilan, program yang berorientasi zero accident.

Upaya tersebut memang memungkinkan karena lembaga kepolisian sesungguhnya merupakan pelayan dimana semua pihak ikut memilikinya. Pemberian peran dan tanggungjawab secara luas akan memungkinkan untuk memahami tugas dan fungsi masing-masing, dapat menyiapkan dan mengembangkan kapasitas otonomi, memahami dan menghayati semua segi konstruksi lalu lintas, memberikan arahan dan bimbingan, membentuk berbagai forum, melakukan inovasi, mendorong melakukan berbagai kreativitas, menjadikan jasa pelayanan sebagai fasilitas bagi masyarakat, serta dapat memberdayakan fungsi-fungsi melalui berbagai keputusan partisipatif.

Aspek lalu lintas perlu dibenahi dan dikembangkan karena memiliki dampak yang luas terhadap pembangunan karakter manusia (pengendara). Persoalan harus kita kenali secara mendalam. Isu pokok yang patut menjadi perhatian antara lain adalah: kecelakaan.  Kita semua perlu menyadari bahwa gejala berlalu lintas dapat dipandang sebagai nilai-nilai dan perubahan norma masyarakat.

Perubahan gaya hidup juga dapat memudarkan kaidah perilaku yang telah dijadikan acuan tingkah laku dalam masyarakat. Masyarakat perlu diberikan pengetahuan dan kemampuan sebagai upaya aktualisasi sehingga mereka akan semakin berbudaya dan berperadaban terpuji. Selain itu, juga dalam rangka mengendalikan secara tepat berbagai persoalan baru yang akan muncul yang berpotensi untuk menimbulkan gangguan di jalan. Kemampuan mengambil alih penguasaan peradaban memag sangat diperlukan.Oleh karena itu, lembaga kepolisian perlu ditingkatkan guna dapat mengambil alih peradaban berlalu lintas tersebut. Selamat ber-ulang tahun, terima kasih. Penulis Adalah Dosen FKIP Untan

Selamat Hari Bhayangkara ke-76

Pendidikan Karakter Berlalu Lintas di Jalan

Oleh: M Rif’at

SELAMAT Hari Bhayangkara ke-76! Semoga Kepolisian Negara Republik Indonesia terus berjaya – bersama rakyat membangun dan mengayomi. Mohon izin, kami menuliskan beberapa pokok pikiran terkait berlalu lintas atau berkendaraan bermotor (khusus) di jalan raya atau jalan umum lainnya.

Dalam konteks pendidikan, ada tiga ranah yang diperlukan bagi setiap pengendara. Ranah pengetahuan dapat diukur melalui proses ujian tulis yang diberikan – dimana peserta wajib lulus sesuai kriteria capaian pengetahuan kelalulintasan. Ranah ini relatif telah berjalan baik. Sepertinya tidak ada masalah serius, apalagi sumber-sumber bacaan dapat diperoleh secara luas dan bervariasi, terutama berkat kemajuan teknologi informasi. Ranah keterampilan sebagian kecil juga sudah diujikan melalui ujian praktik, yakni untuk beberapa keterampilan dasar atau minimum telah diamati dan dinilai. Sementara ranah sikap atau perilaku berlalu lintas sepertinya masih menjadi kajian krusial – paling tidak terkait karakter pengendara.

Masalah yang penulis rasakan masih menggelitik adalah ranah keterampilan dan sikap atau perilaku berlalulintas. Kedua ranah tersebut sepertinya seimbang dan haruslah diberikan porsi lebih banyak daripada ranah pengetahuan.

Keseimbangan sebagaimana dimaksud bermakna bahwa kedua ranah tersebut alih-alih sebagai variabel eksogen dan endogen, sikap dan keterampilan memiliki hubungan kuat dan signifikan dibandingkan korelasi pasangan kedua ranah tersebut dengan pengetahuan. Sebagai contoh, sulit mengaitkan pengetahuan dengan sikap, karena tidak ada jaminan bahwa pengetahuan yang banyak menyebabkan sikap menjadi lebih baik.

Kita tahu benar bahwa masyarakat sebenarnya mengetahui aturan berlalu lintas, tetapi masih banyak yang melanggar. Hal lain yang cukup serius adalah, bahwa pengetahuan yang dimiliki ternyata tidak terkait (bahkan tidak mempengaruhi) keterampilan menggunakan kendaraan. Bahkan, seseorang yang terampil dan memiliki pengetahuan berlalu-lintas, malahan memperlihatkan pelanggaran-pelanggaran. Inilah aspek perilaku atau sikap yang perlu terus dijadikan instrumen berlalu-lintas.

Seringkali pengendara terampil juga melakukan pelanggaran, dan yang bersikap benar dapat menjadi korban (terjadi kecekalaan atau tabrakan) karena ulah pengendara terampil. Maksud penulis adalah mereka terampil berkendara, tetapi bersikap tidak sebagaimana mestinya. Hal-hal yang penulis amati selama berlalu-lintas antara lain adalah: mendahului dari kiri; mendahului di tikungan; belum berperilaku tepat pada atau sewaktu melewati traffic light; tidak taat ketentuan rambu-rambu mengenai kecepatan kendaraan; kecepatan lebih rendah tetapi berada di jalur kanan; dan tidak mendahulukan kendaraan yang akan mengikuti jalan melurus terhadap yang akan berbelok.

Baca Juga :  Amankan Kekayaan Laut Indonesia

Perilaku berlalu lintas dapat dipandang sebagai karakter, mulai tampak saat ini sebagai kajian hangat, bahkan menjadi materi berbagai kegiatan, tetapi sepertinya belum merupakan bahan kajian. Pendidikan berlalu lintas seakan perlu menemukan momentum reevaluation atau harus dikritisi secara komprehensif, bukan hanya yang berkenaan dengan implementasi, tetapi secara serempak perlu dikaitkan dengan filosofi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apa yang mendasari pemikiran tersebut? Ada fenomena dan kejadian tentang berbagai peristiwa berlalu lintas bahkan konflik. Pendidikan berlalu lintas tidak hanya berada dalam lingkup kajian “kedirian” yang mendefinisikan eksistensi biner, tetapi sesungguhnya menjadi kajian awal sebelum membincangkan ranah-ranah pendidikan berlalu lintas. Eksistensi diri dan cara pandang dalam melihat “yang lain” membawa konsekuensi luas.

Karena itu, dalam konteks berlalu lintas, mengakui perbedaan saja tidak cukup. Masih perlu pengakuan dan pemberian ruang bagi eksistensi ”pengedara yang lain” serta serius membangun semangat kebersamaan.

Ragam perilaku berlalu lintas memberikan pengandaian akan adanya kesadaran dengan titik tekan terletak pada domain bangunan kesadaran akan keragaman. Ragam tersebut mengisyaratkan kesadaran yang dibangun atas cita-cita ideal, yakni menuju kepada zero accident sebagai kesadaran kolektif mengarah pada pembentukan masyarakat berkarakter dalam berlalu lintas. Resistensi, trauma, dan endapan menggejala harus menjadi perhatian pertama sebelum berupaya mewujudkan kembali pengendara yang toleran dan bijak dalam menyikapi berbagai perangkat berlalu lintas. Di sisi lain nampak bahwa untuk bersikap yang berkarakter, perlu dibangun kesadaran bersama dan penghormatan. Tidak saja mengakui, akan tetapi juga merayakan kehidupan.

Mengamati perilaku berlalu lintas, apa yang sebaiknya kita lakukan? Secara keseluruhan, ada dua langkah dasar yang harus dilakukan agar kita memiliki kesadaran, punya kesempatan dan pemahaman tinggi tentang berlalu lintas. Pertama, mendorong pengendara berubah menjadi masyarakat dengan kesadaran yang tinggi. Kedua, mengusahakan agar peristiwa di jalan raya yang sekarang ini masih memprihatinkan secara berangsur-angsur ditekan melalui pemahaman dan pengertian secara mendalam. Kedua hal ini tidak dapat dilakukan secara serta-merta.

Baca Juga :  Optimalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar

Lembaga Kepolisian harus terus berperan terutama sebagai pusat pengkajian, penerapan, dan pengembangan program-program berbasis dan berorientasi zero accident. Lembaga tersebut juga perlu mengenali dan mengumpulkan data serta informasi pada ranah perilaku dalam konteks nilai-nilai luhur bangsa (Pancasila). Lebih jauh lagi, lembaga kepolisian juga harus mampu melihat kebutuhan pengendara secara keseluruhan dan menggali berbagai notasi kesadaran berlalu lintas, dan yang berimplikasi untuk peningkatan mutu berlalu lintas.Lembaga Kepolisian haruslah menampakkan dan memasukkan pengetahuan masyarakat misalnya untuk pengembangan keterampilan, mempromosikan kajian kritis tentang lalu lintas di jalan raya.

Konsep sikap berlalu lintas berkaitan dengan penanganan masalah-masalah yang dipandang sebagai potensi untuk menyelesaikan berbagai isu terkait.  Keberhasilan penyelenggaraan dan pelayanan ditentukan oleh informasi, pengetahuan, keterampilan, program yang berorientasi zero accident.

Upaya tersebut memang memungkinkan karena lembaga kepolisian sesungguhnya merupakan pelayan dimana semua pihak ikut memilikinya. Pemberian peran dan tanggungjawab secara luas akan memungkinkan untuk memahami tugas dan fungsi masing-masing, dapat menyiapkan dan mengembangkan kapasitas otonomi, memahami dan menghayati semua segi konstruksi lalu lintas, memberikan arahan dan bimbingan, membentuk berbagai forum, melakukan inovasi, mendorong melakukan berbagai kreativitas, menjadikan jasa pelayanan sebagai fasilitas bagi masyarakat, serta dapat memberdayakan fungsi-fungsi melalui berbagai keputusan partisipatif.

Aspek lalu lintas perlu dibenahi dan dikembangkan karena memiliki dampak yang luas terhadap pembangunan karakter manusia (pengendara). Persoalan harus kita kenali secara mendalam. Isu pokok yang patut menjadi perhatian antara lain adalah: kecelakaan.  Kita semua perlu menyadari bahwa gejala berlalu lintas dapat dipandang sebagai nilai-nilai dan perubahan norma masyarakat.

Perubahan gaya hidup juga dapat memudarkan kaidah perilaku yang telah dijadikan acuan tingkah laku dalam masyarakat. Masyarakat perlu diberikan pengetahuan dan kemampuan sebagai upaya aktualisasi sehingga mereka akan semakin berbudaya dan berperadaban terpuji. Selain itu, juga dalam rangka mengendalikan secara tepat berbagai persoalan baru yang akan muncul yang berpotensi untuk menimbulkan gangguan di jalan. Kemampuan mengambil alih penguasaan peradaban memag sangat diperlukan.Oleh karena itu, lembaga kepolisian perlu ditingkatkan guna dapat mengambil alih peradaban berlalu lintas tersebut. Selamat ber-ulang tahun, terima kasih. Penulis Adalah Dosen FKIP Untan

Most Read

Artikel Terbaru

/