alexametrics
33 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

Pendampingan Perhutanan Sosial Di Era Revolusi Industri 4.0

Oleh : Restituta Harpina

Pembangunan kehutanan penting untuk diperhatikan mengingat ± 50 juta orang bergantung hidupnya dari hutan. Sektor kehutanan juga merupakan salah satu sektor yang berkontribusi dalam pembangunan kelestarian lingkungan hidup (sesuai dengan salah satu tujuan pembangunan millennium). Saat ini (sustainable develomptment goals/SDGs) menjadi isu yang penting dan menjadi perhatian banyak pihak.

Memastikan Kelestarian Lingkungan (Kemenhut 2012), dengan kebijakan pemerintah pusat  melalui Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam pembangunan kehutanan kini lebih menitikberatkan pada masyarakat sebagai pelaku utama kegiatan. Perhutanan Sosial menjadi salah satu program nasional yang memberikan akses kelola kawasan kepada masyarakat dengan rtujuan untuk pemerataan ekonomi dan mengurangi ketimpangan melalui tiga pilar : lahan, kesempatan berusaha dan sumberdaya manusia.

Revolusi Industri 4.0 merupakan sebuah proyek yang diprakasai oleh pemerintahan Jerman untuk mempromosikan komputerisasi manufaktur. Dimana di era disrupsi teknologi revolusi industri 4.0 sebagian besar perusahan menggunakan teknologi untuk menjual produk mereka secara online (the economist, 2017). Indonesia perlu meningkatkan kualitas keterampilan tenaga kerja dengan teknologi digital (Parray, ILO, 2017). Lebih dari 55% organisasi menyatakan bahwa “digital talent gap” semakin lebar (Linkedin, 2017). Dalam menyiapkan tenaga ini melalui Menteri Komunikasi dan Informasi membuaka Online Academy (OA) dalam menyiapkan “Digital Talent Scholarship” (kominfo.go.id).

Baca Juga :  Refleksi Hardiknas Jaga Kewarasan Generasi

Pertanyaannya sudah siapkan pendamping Perhutanan Sosial berada di era revolusi industry 4.0?. Kualitas pendampingan dipengaruhi oleh eksistensi pendampingan melaui kompetensi (kompetensi teknik dan kompetensi managerial) serta intensitas pelaksanaan pendampingan. Beberapa faktor mempengaruhi kualitas pendampingan yaitu dari dukungan pendampingan itu sendiri dan dari kualitas pendampingan.

Dari dukungan pendampingan meliput (a) dukungan kelembagaan pendampingan, (b) dukungan kompetensi pendamping kehutanan, (c) dukungan metode pendampingan, (d) dukungan materi pendampingan, dan (e) dukungan prasarana pendampingan. Sedangkan dari kualitas pendampingan meliputi (a) keefektifan metode pendampingan, (b) keefektifan materi pendampingan, dan (c) keefektifan prasarana pendampingan (Asmoro, 2018).

Tantangan pendampingan Perhutanan Sosial di era revolusi industri 4.0 adalah bahwa para pendamping milenial yang menjadi tumpuan penyelenggaran pendampingan harus menguasi proses pemberdayaan modern yang banyak memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi serta sejalan dengan revolusi industri 4.0.

Tantangan Pembangunan Sumber Daya Manusia Pembangunan Indonesia, yaitu mengembangkan kompetensi para pendamping dan masyarakat dengan kualifikasi utama yaitu (1) kebiasaan berbicara yang baik/positif (positive word habits), (2) kepemimpinan (leadership), (3) komunikasi (communication), (4) teknis (technical), (5) penyelesaian masalah (problem solving), (6) literasi TIK (ICT  Literacy), (7) kerja tim (team work), (9) sikap mandiri (interdependence attitude), dan (10) tindakan koperatif (cooperative action).

Baca Juga :  Musibah untuk Semua

Yang menjadi tantangan juga di era industri 4.0 adalah kelembagaan pendampingan dimana diperlukan kompetensi tenga pendamping perhutanan sosial, metode dan materi pendampingan berbasis teknologi informasi, sarana parasaran pendamping yang berbasis teknologi informasi, dan  infrastruktur lainya (server/jaringan dan kapasitas internet).

Peran pendamping adalah memperkuat akses masyarakat terhadap informasi dan inovasi yang tepat guna yang by design dipersiapan oleh jaringan komunikasi seperti sistem informasi pendamping (SIMPING), design pemasaran produk (shop online), dan design-design lainnya. Karena itu kita juga harus mempersiapkan kelembagaan pendampingan yang mampu bersaing dan beradaptasi dengan cepat terhadap revolusi industri 4.0 ini, baik itu kelembagaan pemerintah, BUMN/BUMD, BUMS, dan para LSM.

Pemanfaatan media komunikasi digital yang mendiseminasikan  (inovasi) produk teknologi tepat guna dari dunia industri merupakan jawaban atas tantangan yang dihadapi masyarakat di era revolusi inustri 4.0 ke depan (Sumardjo, 2018).

*Penulis, Mahasiswa Magister Ilmu Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

Oleh : Restituta Harpina

Pembangunan kehutanan penting untuk diperhatikan mengingat ± 50 juta orang bergantung hidupnya dari hutan. Sektor kehutanan juga merupakan salah satu sektor yang berkontribusi dalam pembangunan kelestarian lingkungan hidup (sesuai dengan salah satu tujuan pembangunan millennium). Saat ini (sustainable develomptment goals/SDGs) menjadi isu yang penting dan menjadi perhatian banyak pihak.

Memastikan Kelestarian Lingkungan (Kemenhut 2012), dengan kebijakan pemerintah pusat  melalui Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam pembangunan kehutanan kini lebih menitikberatkan pada masyarakat sebagai pelaku utama kegiatan. Perhutanan Sosial menjadi salah satu program nasional yang memberikan akses kelola kawasan kepada masyarakat dengan rtujuan untuk pemerataan ekonomi dan mengurangi ketimpangan melalui tiga pilar : lahan, kesempatan berusaha dan sumberdaya manusia.

Revolusi Industri 4.0 merupakan sebuah proyek yang diprakasai oleh pemerintahan Jerman untuk mempromosikan komputerisasi manufaktur. Dimana di era disrupsi teknologi revolusi industri 4.0 sebagian besar perusahan menggunakan teknologi untuk menjual produk mereka secara online (the economist, 2017). Indonesia perlu meningkatkan kualitas keterampilan tenaga kerja dengan teknologi digital (Parray, ILO, 2017). Lebih dari 55% organisasi menyatakan bahwa “digital talent gap” semakin lebar (Linkedin, 2017). Dalam menyiapkan tenaga ini melalui Menteri Komunikasi dan Informasi membuaka Online Academy (OA) dalam menyiapkan “Digital Talent Scholarship” (kominfo.go.id).

Baca Juga :  Musibah untuk Semua

Pertanyaannya sudah siapkan pendamping Perhutanan Sosial berada di era revolusi industry 4.0?. Kualitas pendampingan dipengaruhi oleh eksistensi pendampingan melaui kompetensi (kompetensi teknik dan kompetensi managerial) serta intensitas pelaksanaan pendampingan. Beberapa faktor mempengaruhi kualitas pendampingan yaitu dari dukungan pendampingan itu sendiri dan dari kualitas pendampingan.

Dari dukungan pendampingan meliput (a) dukungan kelembagaan pendampingan, (b) dukungan kompetensi pendamping kehutanan, (c) dukungan metode pendampingan, (d) dukungan materi pendampingan, dan (e) dukungan prasarana pendampingan. Sedangkan dari kualitas pendampingan meliputi (a) keefektifan metode pendampingan, (b) keefektifan materi pendampingan, dan (c) keefektifan prasarana pendampingan (Asmoro, 2018).

Tantangan pendampingan Perhutanan Sosial di era revolusi industri 4.0 adalah bahwa para pendamping milenial yang menjadi tumpuan penyelenggaran pendampingan harus menguasi proses pemberdayaan modern yang banyak memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi serta sejalan dengan revolusi industri 4.0.

Tantangan Pembangunan Sumber Daya Manusia Pembangunan Indonesia, yaitu mengembangkan kompetensi para pendamping dan masyarakat dengan kualifikasi utama yaitu (1) kebiasaan berbicara yang baik/positif (positive word habits), (2) kepemimpinan (leadership), (3) komunikasi (communication), (4) teknis (technical), (5) penyelesaian masalah (problem solving), (6) literasi TIK (ICT  Literacy), (7) kerja tim (team work), (9) sikap mandiri (interdependence attitude), dan (10) tindakan koperatif (cooperative action).

Baca Juga :  Refleksi Hardiknas Jaga Kewarasan Generasi

Yang menjadi tantangan juga di era industri 4.0 adalah kelembagaan pendampingan dimana diperlukan kompetensi tenga pendamping perhutanan sosial, metode dan materi pendampingan berbasis teknologi informasi, sarana parasaran pendamping yang berbasis teknologi informasi, dan  infrastruktur lainya (server/jaringan dan kapasitas internet).

Peran pendamping adalah memperkuat akses masyarakat terhadap informasi dan inovasi yang tepat guna yang by design dipersiapan oleh jaringan komunikasi seperti sistem informasi pendamping (SIMPING), design pemasaran produk (shop online), dan design-design lainnya. Karena itu kita juga harus mempersiapkan kelembagaan pendampingan yang mampu bersaing dan beradaptasi dengan cepat terhadap revolusi industri 4.0 ini, baik itu kelembagaan pemerintah, BUMN/BUMD, BUMS, dan para LSM.

Pemanfaatan media komunikasi digital yang mendiseminasikan  (inovasi) produk teknologi tepat guna dari dunia industri merupakan jawaban atas tantangan yang dihadapi masyarakat di era revolusi inustri 4.0 ke depan (Sumardjo, 2018).

*Penulis, Mahasiswa Magister Ilmu Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

Most Read

Artikel Terbaru

/