alexametrics
23.2 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Zakat sebagai Distribusi Kekayaan

Oleh: Eko Bahtiar*

Islam datang dengan aturan (syari’at) yang sempurna yang diturunkan demi kemaslahatan umat Islam secara menyeluruh. Oleh sebab itu penerapan syari’at Islam baik dalam tataran individu maupun dalam skala masyarakat secara umum merupakan upaya Islam menjaga eksistensi dan keutuhan masyarakat. Artinya, penerapan syariah Islam mengandung beberapa hikmah yang sangat besar dalam kehidupan, baik secara pribadi maupun secara kolektif salah satunya yaitu tentang zakat. Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang wajib ditunaikan. Ibadah zakat merupakan pusat dan training moment untuk melatih umat membentuk mental dan akhlakul karimah.

Zakat adalah bagian dari rukun Islam yang mencari keseimbangan dalam kehidupan manusia antara yang kaya (yang memiliki kelebihan harta) dan miskin (yang tidak memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya). Kesadaran menunaikan zakat adalah juga merupakan bagian dari kesadaran bermasyarakat dan merupakan kesempurnaan kesadaran keberagamaan seseorang. Secara Terminologi zakat artinya “tumbuh” dan “suci. Secara Syari’ah zakat berarti kewajiban atas harta atau kewajiban atas sejumlah harta tertentu untuk kelompok tertentu dan dalam waktu tertentu. Kewajiban zakat juga akan berimplikasi kepada pensucian jiwa dan harta, sebagaimana firman Allah SWT, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan doakanlah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103)

Dalam Islam, harta yang lebih (surplus) di satu sektor mesti dialirkan kepada sektor yang mengalami kekurangan (deficit). Islam melarang bertumpuknya dan tertahannya harta di tangan orang kaya saja. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Hasyr ayat 7: “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”

Distribusi kekayaan dalam ekonomi Islam tidak cukup hanya dalam bentuk ‘konsumsi’ yang dilakukan oleh orang kaya di pasar dan diatur oleh mekanisme pasar. Islam memandang perlu sebuah mekanisme lain yang menjamin alokasi kekayaan tersebut benar-benar masuk kepada orang yang memerlukan. Mekanisme pasar hanya efektif bagi mereka yang memiliki modal, informasi dan kemampuan untuk masuk dan berinteraksi di pasar, sedangkan mereka yang miskin hanya akan menjadi ‘penonton’ di luar arena dari berbagai macam transaksi barang dan jasa yang tidak mampu dimilikinya.

Baca Juga :  Kado Idul Fitri Itu Sepasang Iman Dan Taqwa

Zakat disini memastikan transfer harta kepada orang yang kurang mampu (miskin) sehingga harta tersebut tidak beredar dikalangan mereka yang kaya saja (pemilik modal). Zakat dalam hal ini berfungsi sebagai wealth transfer mechanism yang menjamin distribusi kekayaan negara secara ‘konstan’ dari mereka yang memiliki kelebihan harta (surplus sectors) kepada mereka yang merasa kekurangan (deficit sectors) sehingga perekonomian sebuah negara menjadi seimbang dan jurang sosial di dalam masyarakat menjadi semakin kecil.

Harta zakat yang telah dikumpulkan dan dibagi-bagikan kepada delapan sektor yang berhak menerima zakat, akan memberikan “multiplier effect” berupa transformasi pertumbuhan ekonomi dari yang selama ini hanya terjadi di kalangan mereka yang kaya kepada mereka yang miskin. Transformasi ekonomi tersebut akan mempunyai implikasi positif kepada pemerataan dan keadilan distribusi ekonomi kepada setiap golongan ekonomi dalam masyarakat sehingga jurang sosial-ekonomi menjadi semakin kecil. Makna tumbuh juga bermaksud bahwa zakat harus bisa menjadi alat empowerment orang  miskin sehingga keluar dari belenggu kemiskinan dan menjadi muzakki (orang yang membayar zakat). Zakat tidak bermaksud tumbuh, kalau distribusinya habis untuk tingkat konsumtif fakir dan miskin saja. Sebaliknya, zakat harus mempunyai implikasi produktif yang bisa menggerakkan ekonomi fakir dan miskin untuk memperbaiki kehidupan mereka ke arah yang lebih baik.

Zakat dalam hal ini menjalankan dua fungsi; sebagai pembersih sifat kotor manusia dan sebagai pembersih harta manusia. Hati manusia memang tidaklah selalu suci seratus persen. Sifat alami manusia untuk cenderung suka kepada harta benda, kekayaan dan kemewahan, mementingkan dirinya sendiri dan lain-lain menyebabkan dirinya sering kali lalai dalam mengendalikan hawa nafsu. Zakat dimaksudkan untuk menghilangkan sifat ini dan menundukkan hawa nafsu sehingga hati manusia menjadi suci, tidak ada lagi sifat mementingkan diri sendiri dan rakus terhadap harta benda, kemudian selanjutnya akan tumbuh perasaan sosial, sikap kasih sayang dan tolong menolong sesama manusia. Zakat juga dimaksudkan sebagai pembersih harta manusia. Ketika zakat dikeluarkan, maka berarti kita telah menyucikan harta kita  Zakat adalah alat yang sempurna untuk menerjemahkan prinsip Islam tentang persaudaraan dan rasa kemanusiaan ke dalam kehidupan yang nyata.

Baca Juga :  Basa-Basi Pendidikan Agama untuk Anak Negeri

Namun demikian, perlulah menjadi perhatian kita bersama, meskipun zakat dimaksudkan sebagai wealth transfer mechanism agar distribusi harta dikalangan masyarakat merata dan berkeadilan, juga supaya hati manusia menjadi suci dari sifat rakus akan kemewahan, dalam praktiknya, untuk mencapai tujuan tersebut perlu kepada beberapa aspek pendukung lainnya, seperti manajemen zakat yang efisien, distribusi yang benar dan adil, dan yang lebih penting lagi adalah kesadaran dalam diri manusia untuk menjadi ‘suci’ (fitrah).  Karena itu, zakat tidaklah bermaksud tumbuh jikalau pengelolaannya tidak benar, pengumpulannya tidak diatur dengan rapi, distribusinya tidak adil dan tidak dapat merubah kondisi hidup si penerima zakat. Demikian pula, zakat tidaklah bermaksud suci kalau pembayaran zakat hanya sekedar ritual tahunan tanpa ada kesan mendalam kepada perubahan tingkah laku sehingga sifat serakah terhadap harta tidak lenyap dari hati dan kembali menumpuk harta dengan jalan yang batil (akl amwal al-nas bi al-batil).

Sebab itulah, dalam sebuah sistem ekonomi yang berdasarkan kepada nilai-nilai Islam, kesadaran untuk membayar zakat menjadi tidak membawa kesan apapun jika tidak ada mekanisme pengumpulan zakat yang efisien dan tidak terorganisir dengan rapi. Demikian pula, manajemen zakat yang bagus juga tidak cukup, kalau tidak tumbuh kesadaran untuk mensucikan hati dari perilaku mencari harta dengan cara yang haram, serakah dan tidak pernah merasa cukup terhadap harta benda. **

*Penulis adalah Pengamat Ekonomi Syariah Kalbar dan Dosen FEBI IAIN Pontianak.

Oleh: Eko Bahtiar*

Islam datang dengan aturan (syari’at) yang sempurna yang diturunkan demi kemaslahatan umat Islam secara menyeluruh. Oleh sebab itu penerapan syari’at Islam baik dalam tataran individu maupun dalam skala masyarakat secara umum merupakan upaya Islam menjaga eksistensi dan keutuhan masyarakat. Artinya, penerapan syariah Islam mengandung beberapa hikmah yang sangat besar dalam kehidupan, baik secara pribadi maupun secara kolektif salah satunya yaitu tentang zakat. Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang wajib ditunaikan. Ibadah zakat merupakan pusat dan training moment untuk melatih umat membentuk mental dan akhlakul karimah.

Zakat adalah bagian dari rukun Islam yang mencari keseimbangan dalam kehidupan manusia antara yang kaya (yang memiliki kelebihan harta) dan miskin (yang tidak memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya). Kesadaran menunaikan zakat adalah juga merupakan bagian dari kesadaran bermasyarakat dan merupakan kesempurnaan kesadaran keberagamaan seseorang. Secara Terminologi zakat artinya “tumbuh” dan “suci. Secara Syari’ah zakat berarti kewajiban atas harta atau kewajiban atas sejumlah harta tertentu untuk kelompok tertentu dan dalam waktu tertentu. Kewajiban zakat juga akan berimplikasi kepada pensucian jiwa dan harta, sebagaimana firman Allah SWT, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan doakanlah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103)

Dalam Islam, harta yang lebih (surplus) di satu sektor mesti dialirkan kepada sektor yang mengalami kekurangan (deficit). Islam melarang bertumpuknya dan tertahannya harta di tangan orang kaya saja. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Hasyr ayat 7: “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”

Distribusi kekayaan dalam ekonomi Islam tidak cukup hanya dalam bentuk ‘konsumsi’ yang dilakukan oleh orang kaya di pasar dan diatur oleh mekanisme pasar. Islam memandang perlu sebuah mekanisme lain yang menjamin alokasi kekayaan tersebut benar-benar masuk kepada orang yang memerlukan. Mekanisme pasar hanya efektif bagi mereka yang memiliki modal, informasi dan kemampuan untuk masuk dan berinteraksi di pasar, sedangkan mereka yang miskin hanya akan menjadi ‘penonton’ di luar arena dari berbagai macam transaksi barang dan jasa yang tidak mampu dimilikinya.

Baca Juga :  Mantan Narapidana Harus Percaya Diri

Zakat disini memastikan transfer harta kepada orang yang kurang mampu (miskin) sehingga harta tersebut tidak beredar dikalangan mereka yang kaya saja (pemilik modal). Zakat dalam hal ini berfungsi sebagai wealth transfer mechanism yang menjamin distribusi kekayaan negara secara ‘konstan’ dari mereka yang memiliki kelebihan harta (surplus sectors) kepada mereka yang merasa kekurangan (deficit sectors) sehingga perekonomian sebuah negara menjadi seimbang dan jurang sosial di dalam masyarakat menjadi semakin kecil.

Harta zakat yang telah dikumpulkan dan dibagi-bagikan kepada delapan sektor yang berhak menerima zakat, akan memberikan “multiplier effect” berupa transformasi pertumbuhan ekonomi dari yang selama ini hanya terjadi di kalangan mereka yang kaya kepada mereka yang miskin. Transformasi ekonomi tersebut akan mempunyai implikasi positif kepada pemerataan dan keadilan distribusi ekonomi kepada setiap golongan ekonomi dalam masyarakat sehingga jurang sosial-ekonomi menjadi semakin kecil. Makna tumbuh juga bermaksud bahwa zakat harus bisa menjadi alat empowerment orang  miskin sehingga keluar dari belenggu kemiskinan dan menjadi muzakki (orang yang membayar zakat). Zakat tidak bermaksud tumbuh, kalau distribusinya habis untuk tingkat konsumtif fakir dan miskin saja. Sebaliknya, zakat harus mempunyai implikasi produktif yang bisa menggerakkan ekonomi fakir dan miskin untuk memperbaiki kehidupan mereka ke arah yang lebih baik.

Zakat dalam hal ini menjalankan dua fungsi; sebagai pembersih sifat kotor manusia dan sebagai pembersih harta manusia. Hati manusia memang tidaklah selalu suci seratus persen. Sifat alami manusia untuk cenderung suka kepada harta benda, kekayaan dan kemewahan, mementingkan dirinya sendiri dan lain-lain menyebabkan dirinya sering kali lalai dalam mengendalikan hawa nafsu. Zakat dimaksudkan untuk menghilangkan sifat ini dan menundukkan hawa nafsu sehingga hati manusia menjadi suci, tidak ada lagi sifat mementingkan diri sendiri dan rakus terhadap harta benda, kemudian selanjutnya akan tumbuh perasaan sosial, sikap kasih sayang dan tolong menolong sesama manusia. Zakat juga dimaksudkan sebagai pembersih harta manusia. Ketika zakat dikeluarkan, maka berarti kita telah menyucikan harta kita  Zakat adalah alat yang sempurna untuk menerjemahkan prinsip Islam tentang persaudaraan dan rasa kemanusiaan ke dalam kehidupan yang nyata.

Baca Juga :  Menakar Tingkat Residivisme

Namun demikian, perlulah menjadi perhatian kita bersama, meskipun zakat dimaksudkan sebagai wealth transfer mechanism agar distribusi harta dikalangan masyarakat merata dan berkeadilan, juga supaya hati manusia menjadi suci dari sifat rakus akan kemewahan, dalam praktiknya, untuk mencapai tujuan tersebut perlu kepada beberapa aspek pendukung lainnya, seperti manajemen zakat yang efisien, distribusi yang benar dan adil, dan yang lebih penting lagi adalah kesadaran dalam diri manusia untuk menjadi ‘suci’ (fitrah).  Karena itu, zakat tidaklah bermaksud tumbuh jikalau pengelolaannya tidak benar, pengumpulannya tidak diatur dengan rapi, distribusinya tidak adil dan tidak dapat merubah kondisi hidup si penerima zakat. Demikian pula, zakat tidaklah bermaksud suci kalau pembayaran zakat hanya sekedar ritual tahunan tanpa ada kesan mendalam kepada perubahan tingkah laku sehingga sifat serakah terhadap harta tidak lenyap dari hati dan kembali menumpuk harta dengan jalan yang batil (akl amwal al-nas bi al-batil).

Sebab itulah, dalam sebuah sistem ekonomi yang berdasarkan kepada nilai-nilai Islam, kesadaran untuk membayar zakat menjadi tidak membawa kesan apapun jika tidak ada mekanisme pengumpulan zakat yang efisien dan tidak terorganisir dengan rapi. Demikian pula, manajemen zakat yang bagus juga tidak cukup, kalau tidak tumbuh kesadaran untuk mensucikan hati dari perilaku mencari harta dengan cara yang haram, serakah dan tidak pernah merasa cukup terhadap harta benda. **

*Penulis adalah Pengamat Ekonomi Syariah Kalbar dan Dosen FEBI IAIN Pontianak.

Most Read

Artikel Terbaru

/