alexametrics
25 C
Pontianak
Thursday, August 11, 2022

Memaksimalkan Kebaikan di Bulan Haram

Oleh: Herlin

ALHAMDULILLAH, sekarang kita sudah memasuki  bulan Zulhijjah. Artinya, bulan ini merupakan salah satu dari bulan-bulan haram sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam Alquran.

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan. Dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna.

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Maysir, tafsir surat At Taubah ayat 36).

Kenapa perlu bagi kita untuk memaksimalkan pahala di bulan-bulan haram tersebut dan bagaimana tafsir para ulama mengenai masalah tersebut?

Baca Juga :  Mengenal Surah At Taubah

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai orang-orang sholih di masa dahulu sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Latho-if Al Ma’arif: 214).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pula menafsirkan ayat di atas. “(Janganlah kalian menganiaya diri kalian) dalam seluruh bulan. Kemudian Allah mengkhususkan empat bulan sebagai bulan-bulan haram dan Allah pun mengagungkan kemuliaannya. Allah juga menjadikan perbuatan dosa yang dilakukan di dalamnya lebih besar. Demikian pula, Allah pun menjadikan amalan shalih dan ganjaran yang didapatkan didalamnya lebih besar pula” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/26).

Adapun Qotadah rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Karena kezaaliman yang dilakukan pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezaliman yang dilakukan pada bulan-bulan selainnya. Walaupun zalim dalam setiap keadaan itu pada hakikatnya adalah perkara yang besar dan terlarang, akan tetapi Allah menetapkan besarnya sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.”

Di antara bulan-bulan yang ada, Allah pun telah memilih Ramadhan dan bulan-bulan haram. Dia memilih hari Jumat di antara hari-hari yang lainnya, memilih malam Lailatul Qadar di antara malam-malam yang ada. Maka agungkanlah segala yang diagungkan oleh Allah, karena menurut pandangan orang yang memiliki pemahaman dan akal yang baik bahwa sesuatu itu menjadi agung dengan diagungkan oleh Allah.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan (haram) yang empat itu. Maksudnya pada bulan-bulan haram ini, karena dosa (pada bulan-bulan tersebut) lebih kuat dan lebih parah dibandingkan pada bulan-bulan selainnya, sebagaimana kemaksiatan di tanah suci (Makkah dan Madinah) dilipatgandakan (dalam masalah besarnya dosa). Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

Baca Juga :  Kemuliaan Bulan Suci Ramadan

“Dan barangsiapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih (Al-Hajj: 25). Demikian pula kemaksiatan (yang dilakukan) pada bulan-bulan haram, (juga) bertambah berat kadar dosa-dosa (yang dilakukan). Oleh karena itu, menurut madzhab Syafi’iyyah dan banyak ulama memandang bahwa tebusan (diyat) juga bertambah besarnya pada bulan-bulan haram. Demikian pula orang yang melakukan pembunuhan di tanah suci atau membunuh saudara yang masih ada hubungan mahram dengannya” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/26).

Setelah kita ketahui bahwa di antara keutamaan yang telah Allah tetapkan bagi bulan-bulan haram ini adalah dilipatgandakannya pahala bagi seorang yang mengerjakan amalan shalih, maka seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk lebih memperbanyak amal kebaikan di bulan-bulan tersebut.

Begitu pula, perbuatan dosa yang dilakukan di dalamnya menjadi lebih besar di sisi Allah, sehingga sudah sepatutnya bagi kita untuk berusaha sesungguh mungkin untuk mencegah diri dari melakukan keburukan dan maksiat.

Semoga kita bisa meraih ketakwaan yang lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya dengan memaksimalkan melakukan kebaikan dan semakin menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan. Dengan demikian, kebahagiaan, ketentraman, dan keselamatan di dunia dan akhirat bisa terwujud. Semoga bermanfaat.

Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Singkawang

Oleh: Herlin

ALHAMDULILLAH, sekarang kita sudah memasuki  bulan Zulhijjah. Artinya, bulan ini merupakan salah satu dari bulan-bulan haram sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam Alquran.

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan. Dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna.

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Maysir, tafsir surat At Taubah ayat 36).

Kenapa perlu bagi kita untuk memaksimalkan pahala di bulan-bulan haram tersebut dan bagaimana tafsir para ulama mengenai masalah tersebut?

Baca Juga :  Refleksi Hardiknas Jaga Kewarasan Generasi

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai orang-orang sholih di masa dahulu sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Latho-if Al Ma’arif: 214).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pula menafsirkan ayat di atas. “(Janganlah kalian menganiaya diri kalian) dalam seluruh bulan. Kemudian Allah mengkhususkan empat bulan sebagai bulan-bulan haram dan Allah pun mengagungkan kemuliaannya. Allah juga menjadikan perbuatan dosa yang dilakukan di dalamnya lebih besar. Demikian pula, Allah pun menjadikan amalan shalih dan ganjaran yang didapatkan didalamnya lebih besar pula” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/26).

Adapun Qotadah rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Karena kezaaliman yang dilakukan pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezaliman yang dilakukan pada bulan-bulan selainnya. Walaupun zalim dalam setiap keadaan itu pada hakikatnya adalah perkara yang besar dan terlarang, akan tetapi Allah menetapkan besarnya sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.”

Di antara bulan-bulan yang ada, Allah pun telah memilih Ramadhan dan bulan-bulan haram. Dia memilih hari Jumat di antara hari-hari yang lainnya, memilih malam Lailatul Qadar di antara malam-malam yang ada. Maka agungkanlah segala yang diagungkan oleh Allah, karena menurut pandangan orang yang memiliki pemahaman dan akal yang baik bahwa sesuatu itu menjadi agung dengan diagungkan oleh Allah.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan (haram) yang empat itu. Maksudnya pada bulan-bulan haram ini, karena dosa (pada bulan-bulan tersebut) lebih kuat dan lebih parah dibandingkan pada bulan-bulan selainnya, sebagaimana kemaksiatan di tanah suci (Makkah dan Madinah) dilipatgandakan (dalam masalah besarnya dosa). Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

Baca Juga :  Ayo Saling Menjaga Jarak Fisik Antar Kita

“Dan barangsiapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih (Al-Hajj: 25). Demikian pula kemaksiatan (yang dilakukan) pada bulan-bulan haram, (juga) bertambah berat kadar dosa-dosa (yang dilakukan). Oleh karena itu, menurut madzhab Syafi’iyyah dan banyak ulama memandang bahwa tebusan (diyat) juga bertambah besarnya pada bulan-bulan haram. Demikian pula orang yang melakukan pembunuhan di tanah suci atau membunuh saudara yang masih ada hubungan mahram dengannya” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/26).

Setelah kita ketahui bahwa di antara keutamaan yang telah Allah tetapkan bagi bulan-bulan haram ini adalah dilipatgandakannya pahala bagi seorang yang mengerjakan amalan shalih, maka seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk lebih memperbanyak amal kebaikan di bulan-bulan tersebut.

Begitu pula, perbuatan dosa yang dilakukan di dalamnya menjadi lebih besar di sisi Allah, sehingga sudah sepatutnya bagi kita untuk berusaha sesungguh mungkin untuk mencegah diri dari melakukan keburukan dan maksiat.

Semoga kita bisa meraih ketakwaan yang lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya dengan memaksimalkan melakukan kebaikan dan semakin menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan. Dengan demikian, kebahagiaan, ketentraman, dan keselamatan di dunia dan akhirat bisa terwujud. Semoga bermanfaat.

Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Singkawang

Most Read

Artikel Terbaru

/