alexametrics
25 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Mengenal Rasulullah SAW

Oleh: Harjani Hefni

Mukaddimah

MENGENAL Rasul adalah pintu utama untuk menuju cinta Rasul.Sebagai seorang yang beriman, mencintai Rasul adalah wajib, bahkan harus melebihi kecintaan terhadap dirinya sendiri. Dari cinta yang tulus akan lahir kemudahan ittiba’. Kita akan sukarela mengikuti apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW.

Dan oleh Allah SWT, ittiba’ atau mengikuti Rasul dijadikan prasyarat untuk cinta Allah. Allah berfirman: “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31). Karena mencintai Rasul adalah wajib, dan ittiba’ yang lahir dari cinta dijadikan syarat untuk cinta Allah, dan mencinta Rasul tidak bisa terwujud tanpa mengenalnya, maka mengenal Rasul menjadi wajib.

Selain sebagai pintu masuk untuk mencintai Allah, mengenal Rasul juga bertujuan untuk memantapkan syahadat kita. Setelah kita mengenal Allah dan meyakini bahwa kebenaran hanya berasal dari-Nya, maka syahadat kedua yang kita ucapkan adalah persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Tujuan dari persaksian kita adalah meyakinkan diri dengan sepenuhnya bahwa Muhammad adalah Nabi yang diutus oleh-Nya, dengan tugas menyampaikan seluruh risalah yang diterimanya secara sempurna dan memberikan contoh bagaimana melaksanakan risalah Allah di muka bumi. Kita tidak layak bersaksi kalau kita tidak mengenal orang yang kita persaksikan. Karenanya, kita wajib mengenal beliau agar persaksian kita sah, kuat dan diterima oleh Allah.

Dua Jalan Mengenal Rasul

Mengenal Rasul dapat dilakukan dengan dua jalan: pertama, mengenal ciri-ciri kerasulannya; dan kedua, mengenal seluruh aspek kehidupan beliau.

Jalan Pertama, Mengenal Ciri-Ciri Kerasulan Muhammad

Ciri-ciri dan bukti-bukti kerasulan Muhammad sangat banyak, tetapi dapat dibagi dalam dua kategori besar; pertama, ciri-ciri yang diketahui oleh umat terdahulu; dan kedua, ciri-ciri lewat mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Rasulullah.

Ciri-ciri Nabi Muhammad dalam Kitab Suci sebelum al-Quran sangat banyak dan jelas. Gambaran tentang jelasnya ciri-ciri Rasulullah dalam Taurat dan Injil laksana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Allah berfirman: “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknyasendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”(QS.2:146).

Ayat ini memiliki makna tersirat, jika ada orangtua yang tidak mengenal anaknya sendiri, semua orang akan mengatakan bahwa orang tua itu keterlaluan, dan dipastikan tidak ada orangtua yang seperti itu. Selain pernyataan al-Quran tentang akrabnya mereka dengan cirri Rasulullah SAW, persaksian sejarah memperkuat hal itu.

Baca Juga :  Guru sebagai Aktivator: “Frekuent of Testing”

Kisah Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani yang ditemui oleh Khadijah untuk menanyakan tentang kejadian yang dialami oleh Muhammad di Gua Hira’ adalah bukti sejarah yang tidak bisa disangkal. Setelah Khadijah menceritakan apa yang dialami oleh suaminya di Gua Hira’, tanpa keraguan sedikitpun Waraqah menjawab bahwa yang mendatangi Muhammad di Gua Hira’ itu adalah Namus yang pernah mendatangi Musa. Beliau menyatakan kesiapannya untuk mengikuti dan membela Rasul kalau Beliau masih hidup saat Muhammad akan diusir oleh kaumnya dari Makkah.

Kisah Salman Al Farisisampaike Madinah juga menjadi saksi sejarah betapa kenalnya mereka dengan ciri-ciri Nabi Muhammad SAW. Guru Salman al Farisi yang notabene adalah pendeta membekali Salman dengan tiga cirri Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW. Tiga hal itu adalah: Beliau tidak mau menerima sedekah, tetapi mau menerima hadiah, dan di punggungnya ada cirri kenabian. Ketika Rasulullah sampai ke Madinah, Salman langsung menemui Nabi yang saat itu sedang dikerumuni oleh banyak orang. Lalu Salman berusaha untuk bisa masuk dan mencocokkan tiga cirri Rasul akhir zaman yang diajarkan oleh gurunya itu padaRasulullah.

Salman menguji Nabi dengan menyodorkan sedekah sebagai cirri pertama. Nabi ternyata menolak. Dan cirri pertama pun terjawab. Lalu dalam kesempatan lain, Salman memberikan hadiah kepada Nabi, dan ternyata diterima oleh Nabi. Lalu setelah itu Salman berbalik ke belakang Nabi, ingin melihat cirri ketiga. Dan ternyata ada tanda di punggung Nabi yang oleh pendeta disebut sebagai tanda kenabian. Ternyata semua tanda ada pada Rasulullah SAW. Saat itu juga Salman langsung bersyahadat.

Cara kedua mengenal cirri Rasul adalah dari mukjizat yang diberikan Allah kepada beliau. Mukjizat beliau sangat banyak; baik yang terlihat nyata, prediksi masa depan, dan mukjizat terbesar adalah al-Quran. Target dari pengenalan ini adalah memperkuat keyakinan bahwa beliau adalah benar utusan Allah.

Jalan Kedua, Mengenal Seluruh Aspek Kehidupan Rasulullah SAW

Mengenal seluruh aspek kehidupan Rasulullah dapat dilakukan dengan mempelajari sirah nabawiyyah dan sunnah. Di sana kita akan menemukan tata cara ibadah Nabi, peran kepemimpinan nabi, nabi sebagai pedagang, suami, ayah dan anggota masyarakat. Target dari pengenalan seluruh aspek kehidupan Rasulullah di antaranya; pertama,agar muncul rasa kagum, cinta dan hormat kita kepadanya; kedua, bersedia mencontoh seluruh sisi kehidupan beliau, karena beliau diutus untuk dijadikan teladan; dan ketiga, agar kita mendakwahkan ajaran-ajaran beliau dan memperjuangkannya agar tegak di muka bumi. Mengenal Rasul adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk dapat mengamalkan Islam secara sempurna. Tanpa Rasul  maka kita tidak dapat melaksanakan Islam dengan baik. Jadi mengenal Rasul merupakan keperluan bagi seorang muslim sebagai metode atau cara mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Baca Juga :  RESTORATIVE JUSTICE

Para ulama kita sudah berjihad maksimal mengumpulkan informasi tentang sosok Nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah, meskipun kita tidak hidup semasa dengan Beliau, tetapi informasi yang sampai kepada kita tentang sosok Rasulullah sangat lengkap, seolah-olah film kehidupan Beliau hadir di depan mata kita.

Keuntungan Mengikuti Jalan Hidup Nabi

Kita akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus kalau mengikuti jalan hidup Rasulullah SAW; yaitu keuntungan dunia dan akhirat. Di dunia, kita akan dicintai Allah (Mahabbatulah) (QS.5:54), dirahmati Allah (Rahmatullah) (QS.3:132), mendapatkan hidayah Allah (Hidayatullah) (QS.42:53), mendapatkan kemuliaan (Al Izzah) (QS.63:8), dan memperoleh kemenangan dari Allah SWT ( Al Ghalabah) (QS.5:56). Sedangkan di akhirat, kita akan mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW  (QS.75:22),  diberi keceriaan wajah ( Nadharatul wajh) (QS.75:22), berdampingan dengan Rasul (Mujawaratul ar rasul), bersahabat dengan orang saleh (Mushahabatul Al Akhyar) (QS.4:69), mendapatkan keuntungan di akhirat, yaitu terhindar dari neraka dan mendapatkan surge (al Falah) (QS.58:22).

Penutup

Semoga tulisan singkat ini dapat menggugah kita untuk mengenal pribadi Rasulullah SAW, sehingga tumbuh di hati kita cinta Rasul, dan dengan kecintaan terhadap Rasul kita bersemangat untuk mengikuti setiap arahan dan petunjuk Beliau. Lalu setelah hidup kita dihiaasi dengan ittiba’ kepada Rasul, kita akan mendapatkan cinta Allah. Kalau Allah sudah cinta dan ridho dengan kita, maka seluruh aktivitas kita akan dibimbing oleh Allah SWT. Semoga semangat kita bangkit untuk mengenal beliau lebih dekat. Mari kita tutup dengan sholawat terhadap Rasul tercinta, Nabi Muhammad SAW. Semoga sholawat kita menjadi salah satu penyebab kita mendapatkan syafaatnya. Allahumma Sholli wa Sallim ‘ala Sayyidina Muhammad.**

*Penulis, Dosen IAIN Pontianak.

Oleh: Harjani Hefni

Mukaddimah

MENGENAL Rasul adalah pintu utama untuk menuju cinta Rasul.Sebagai seorang yang beriman, mencintai Rasul adalah wajib, bahkan harus melebihi kecintaan terhadap dirinya sendiri. Dari cinta yang tulus akan lahir kemudahan ittiba’. Kita akan sukarela mengikuti apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW.

Dan oleh Allah SWT, ittiba’ atau mengikuti Rasul dijadikan prasyarat untuk cinta Allah. Allah berfirman: “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31). Karena mencintai Rasul adalah wajib, dan ittiba’ yang lahir dari cinta dijadikan syarat untuk cinta Allah, dan mencinta Rasul tidak bisa terwujud tanpa mengenalnya, maka mengenal Rasul menjadi wajib.

Selain sebagai pintu masuk untuk mencintai Allah, mengenal Rasul juga bertujuan untuk memantapkan syahadat kita. Setelah kita mengenal Allah dan meyakini bahwa kebenaran hanya berasal dari-Nya, maka syahadat kedua yang kita ucapkan adalah persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Tujuan dari persaksian kita adalah meyakinkan diri dengan sepenuhnya bahwa Muhammad adalah Nabi yang diutus oleh-Nya, dengan tugas menyampaikan seluruh risalah yang diterimanya secara sempurna dan memberikan contoh bagaimana melaksanakan risalah Allah di muka bumi. Kita tidak layak bersaksi kalau kita tidak mengenal orang yang kita persaksikan. Karenanya, kita wajib mengenal beliau agar persaksian kita sah, kuat dan diterima oleh Allah.

Dua Jalan Mengenal Rasul

Mengenal Rasul dapat dilakukan dengan dua jalan: pertama, mengenal ciri-ciri kerasulannya; dan kedua, mengenal seluruh aspek kehidupan beliau.

Jalan Pertama, Mengenal Ciri-Ciri Kerasulan Muhammad

Ciri-ciri dan bukti-bukti kerasulan Muhammad sangat banyak, tetapi dapat dibagi dalam dua kategori besar; pertama, ciri-ciri yang diketahui oleh umat terdahulu; dan kedua, ciri-ciri lewat mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Rasulullah.

Ciri-ciri Nabi Muhammad dalam Kitab Suci sebelum al-Quran sangat banyak dan jelas. Gambaran tentang jelasnya ciri-ciri Rasulullah dalam Taurat dan Injil laksana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Allah berfirman: “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknyasendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”(QS.2:146).

Ayat ini memiliki makna tersirat, jika ada orangtua yang tidak mengenal anaknya sendiri, semua orang akan mengatakan bahwa orang tua itu keterlaluan, dan dipastikan tidak ada orangtua yang seperti itu. Selain pernyataan al-Quran tentang akrabnya mereka dengan cirri Rasulullah SAW, persaksian sejarah memperkuat hal itu.

Baca Juga :  Budaya Korupsi atau Korupsi Membudaya?

Kisah Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani yang ditemui oleh Khadijah untuk menanyakan tentang kejadian yang dialami oleh Muhammad di Gua Hira’ adalah bukti sejarah yang tidak bisa disangkal. Setelah Khadijah menceritakan apa yang dialami oleh suaminya di Gua Hira’, tanpa keraguan sedikitpun Waraqah menjawab bahwa yang mendatangi Muhammad di Gua Hira’ itu adalah Namus yang pernah mendatangi Musa. Beliau menyatakan kesiapannya untuk mengikuti dan membela Rasul kalau Beliau masih hidup saat Muhammad akan diusir oleh kaumnya dari Makkah.

Kisah Salman Al Farisisampaike Madinah juga menjadi saksi sejarah betapa kenalnya mereka dengan ciri-ciri Nabi Muhammad SAW. Guru Salman al Farisi yang notabene adalah pendeta membekali Salman dengan tiga cirri Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW. Tiga hal itu adalah: Beliau tidak mau menerima sedekah, tetapi mau menerima hadiah, dan di punggungnya ada cirri kenabian. Ketika Rasulullah sampai ke Madinah, Salman langsung menemui Nabi yang saat itu sedang dikerumuni oleh banyak orang. Lalu Salman berusaha untuk bisa masuk dan mencocokkan tiga cirri Rasul akhir zaman yang diajarkan oleh gurunya itu padaRasulullah.

Salman menguji Nabi dengan menyodorkan sedekah sebagai cirri pertama. Nabi ternyata menolak. Dan cirri pertama pun terjawab. Lalu dalam kesempatan lain, Salman memberikan hadiah kepada Nabi, dan ternyata diterima oleh Nabi. Lalu setelah itu Salman berbalik ke belakang Nabi, ingin melihat cirri ketiga. Dan ternyata ada tanda di punggung Nabi yang oleh pendeta disebut sebagai tanda kenabian. Ternyata semua tanda ada pada Rasulullah SAW. Saat itu juga Salman langsung bersyahadat.

Cara kedua mengenal cirri Rasul adalah dari mukjizat yang diberikan Allah kepada beliau. Mukjizat beliau sangat banyak; baik yang terlihat nyata, prediksi masa depan, dan mukjizat terbesar adalah al-Quran. Target dari pengenalan ini adalah memperkuat keyakinan bahwa beliau adalah benar utusan Allah.

Jalan Kedua, Mengenal Seluruh Aspek Kehidupan Rasulullah SAW

Mengenal seluruh aspek kehidupan Rasulullah dapat dilakukan dengan mempelajari sirah nabawiyyah dan sunnah. Di sana kita akan menemukan tata cara ibadah Nabi, peran kepemimpinan nabi, nabi sebagai pedagang, suami, ayah dan anggota masyarakat. Target dari pengenalan seluruh aspek kehidupan Rasulullah di antaranya; pertama,agar muncul rasa kagum, cinta dan hormat kita kepadanya; kedua, bersedia mencontoh seluruh sisi kehidupan beliau, karena beliau diutus untuk dijadikan teladan; dan ketiga, agar kita mendakwahkan ajaran-ajaran beliau dan memperjuangkannya agar tegak di muka bumi. Mengenal Rasul adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk dapat mengamalkan Islam secara sempurna. Tanpa Rasul  maka kita tidak dapat melaksanakan Islam dengan baik. Jadi mengenal Rasul merupakan keperluan bagi seorang muslim sebagai metode atau cara mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Baca Juga :  Pelajaran Kehidupan, Pelajaran Tanpa Ruang dan Waktu

Para ulama kita sudah berjihad maksimal mengumpulkan informasi tentang sosok Nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah, meskipun kita tidak hidup semasa dengan Beliau, tetapi informasi yang sampai kepada kita tentang sosok Rasulullah sangat lengkap, seolah-olah film kehidupan Beliau hadir di depan mata kita.

Keuntungan Mengikuti Jalan Hidup Nabi

Kita akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus kalau mengikuti jalan hidup Rasulullah SAW; yaitu keuntungan dunia dan akhirat. Di dunia, kita akan dicintai Allah (Mahabbatulah) (QS.5:54), dirahmati Allah (Rahmatullah) (QS.3:132), mendapatkan hidayah Allah (Hidayatullah) (QS.42:53), mendapatkan kemuliaan (Al Izzah) (QS.63:8), dan memperoleh kemenangan dari Allah SWT ( Al Ghalabah) (QS.5:56). Sedangkan di akhirat, kita akan mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW  (QS.75:22),  diberi keceriaan wajah ( Nadharatul wajh) (QS.75:22), berdampingan dengan Rasul (Mujawaratul ar rasul), bersahabat dengan orang saleh (Mushahabatul Al Akhyar) (QS.4:69), mendapatkan keuntungan di akhirat, yaitu terhindar dari neraka dan mendapatkan surge (al Falah) (QS.58:22).

Penutup

Semoga tulisan singkat ini dapat menggugah kita untuk mengenal pribadi Rasulullah SAW, sehingga tumbuh di hati kita cinta Rasul, dan dengan kecintaan terhadap Rasul kita bersemangat untuk mengikuti setiap arahan dan petunjuk Beliau. Lalu setelah hidup kita dihiaasi dengan ittiba’ kepada Rasul, kita akan mendapatkan cinta Allah. Kalau Allah sudah cinta dan ridho dengan kita, maka seluruh aktivitas kita akan dibimbing oleh Allah SWT. Semoga semangat kita bangkit untuk mengenal beliau lebih dekat. Mari kita tutup dengan sholawat terhadap Rasul tercinta, Nabi Muhammad SAW. Semoga sholawat kita menjadi salah satu penyebab kita mendapatkan syafaatnya. Allahumma Sholli wa Sallim ‘ala Sayyidina Muhammad.**

*Penulis, Dosen IAIN Pontianak.

Most Read

Artikel Terbaru

/