alexametrics
25 C
Pontianak
Sunday, May 29, 2022

Puasa dan Berfikir Positif

Oleh: H. Kartono, S.PdI.,M.Pd.

Nilai yang terkandung dalam ibadah puasa adalah upaya mengendalikan diri dari hal-hal yang negatif, karena setiap saat dapat menggerogoti jiwa seseorang. Inti dari ibadah puasa adalah pengendalian diri.

Cara sederhana yang paling efektif dalam mengendalikan diri dengan belajar untuk berpikir positif, yakni selalu berpikir sesuatu yang baik-baik terhadap semua hal agar dapat memiliki rasa syukur terhadap nikmat Allah. Kita harus selalu melatih pikiran untuk selalu berpikir positif karena pikiran otomatis mempengaruhi perilaku seseorang untuk menjadi pribadi yang baik.

Ramadan adalah kesempatan yang tepat untuk melatih seseorang selalu berpikir positif. Berpikir positif dalam rumah tangga misalnya membutuhkan seorang figur tauladan. Figur terpenting dalam keluarga adalah orang tua. Diharapkan untuk setiap orang tua dapat berpikir dan bertindak positif sehingga menjadi contoh bagi anak-anaknya di rumah.

Contoh sederhana, jika selama ini yang punya kebiasaan bergosip ke tetangga sekitar, maka pada Ramadan ini mulai melatih diri untuk berkumpul ke arah positif seperti berdiskusi tentang agama atau membangun jaringan bisnis. Berkumpul dengan para tetangga itu tidak salah, namun sangat disarankan agar dimanfaatkan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman positif, membahas hal-hal ringan tentang keseharian, disarankan juga berbagi pengalaman yang solutif untuk kehidupan yang lebih baik. Ini salah satu bentuk pengendalian diri agar tidak mencela dan membicarakan keburukan orang lain.

Baca Juga :  Zakat Tepat, Umat Kuat

Banyak kesempatan penting lainnya yang dapat digunakan untuk membangun sikap positif dalam rumah tangga. Mulai dari saat bersahur, shalat subuh berjamaah atau pada waktu berbuka puasa bersama. Ibu dan Ayah dapat bekerja sama menyediakan makanan untuk sahur bersama, membangunkan anak ketika makanan sudah hampir matang.

Kebersamaan ini akan menjadi sebuah contoh yang baik bagi anak-anak dalam kehidupannya. Sungguh berpikir positif akan melahirkan perilaku positif dan tentunya juga akan mengarah kepada masa depan yang positif. Berpikir positif akan mengantarkan seseorang pada pribadi yang ikhlas. Seseorang hanya dapat bersikap ikhlas jika dia mampu menerima kondisi saat ini dan memiliki harapan baik untuk masa depannya.

Seseorang yang berjiwa positif ketika mendapatkan rezeki sedikit hari ini tentu akan berkata, “Tidak apa-apa kita mendapat rezeki segini pada hari ini, karena masih ada hari esok, Insya Allah hari esok akan dapat rezeki yang lebih baik dan lebih banyak lagi.” Itu perkataan orang yang berpikir positif. Berbeda dengan orang yang suka berpikir negatif. Ketika mendapat rezeki sedikit, dia akan mengeluh, “Aduh, susah banget dapat rezeki hari ini, apalagi besok pasti lebih susah lagi.”

Berpikir positif tidak hanya mengantarkan seseorang untuk menjadi pribadi yang ikhlas, tetapi juga membangun sikap optimistis dalam dirinya. Semangat dan sikap optimistis inilah yang dibutuhkan untuk seseorang bertahan, terus berjuang demi kehidupan yang lebih baik. Bagaimana pikiran positif ini menjadi pengendalian diri bagi seseorang?

Baca Juga :  Tausiah Gubernur di Malam Ketiga Ramadhan

Bayangkan, jika seseorang merasa sulit mencari rezeki yang halal dan baik, dan dia langsung pesimistis maka bisa mengubah masa depannya. Ia akan sulit mengendalikan diri untuk tidak mengambil hak-hak orang lain, baik dengan cara mencuri, merampok, ataupun korupsi, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu ibadah puasa melatih manusia untuk mengendalikan diri, dimulai dari hal yang sederhana, yaitu tidak makan dan minum pada siang hari dan menahan diri dari sesuatu yang dapat mengurangi pahala ibadah puasa. Sampai kepada pengendalian yang utama, untuk tidak mencuri hak-hak orang lain, termasuk tidak mencuri haknya Allah dengan tidak menyekutukan-Nya, seperti tidak bersifat riya’dalam melaksanakan ibadah.

Berpikir positif adalah dasar tindakan seseorang. Sebab disadari atau tidak, orang tersebut bertindak sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya. Jika ia memiliki pikiran positif, maka ia akan melakukan tindakan yang positif dan tentu saja akan mendatangkan hasil yang lebih baik pula. Maka mari kita gunakan momen Ramadanini, dan mulai dengan berpikir positif terhadap semua hal agar kita menjadi pribadi yang mampu bersyukur dan selalu memiliki harapan baik ke depannya. (*)

Oleh: H. Kartono, S.PdI.,M.Pd.

Nilai yang terkandung dalam ibadah puasa adalah upaya mengendalikan diri dari hal-hal yang negatif, karena setiap saat dapat menggerogoti jiwa seseorang. Inti dari ibadah puasa adalah pengendalian diri.

Cara sederhana yang paling efektif dalam mengendalikan diri dengan belajar untuk berpikir positif, yakni selalu berpikir sesuatu yang baik-baik terhadap semua hal agar dapat memiliki rasa syukur terhadap nikmat Allah. Kita harus selalu melatih pikiran untuk selalu berpikir positif karena pikiran otomatis mempengaruhi perilaku seseorang untuk menjadi pribadi yang baik.

Ramadan adalah kesempatan yang tepat untuk melatih seseorang selalu berpikir positif. Berpikir positif dalam rumah tangga misalnya membutuhkan seorang figur tauladan. Figur terpenting dalam keluarga adalah orang tua. Diharapkan untuk setiap orang tua dapat berpikir dan bertindak positif sehingga menjadi contoh bagi anak-anaknya di rumah.

Contoh sederhana, jika selama ini yang punya kebiasaan bergosip ke tetangga sekitar, maka pada Ramadan ini mulai melatih diri untuk berkumpul ke arah positif seperti berdiskusi tentang agama atau membangun jaringan bisnis. Berkumpul dengan para tetangga itu tidak salah, namun sangat disarankan agar dimanfaatkan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman positif, membahas hal-hal ringan tentang keseharian, disarankan juga berbagi pengalaman yang solutif untuk kehidupan yang lebih baik. Ini salah satu bentuk pengendalian diri agar tidak mencela dan membicarakan keburukan orang lain.

Baca Juga :  Menginternalisasi Kandungan Nilai Surah al Fatihah

Banyak kesempatan penting lainnya yang dapat digunakan untuk membangun sikap positif dalam rumah tangga. Mulai dari saat bersahur, shalat subuh berjamaah atau pada waktu berbuka puasa bersama. Ibu dan Ayah dapat bekerja sama menyediakan makanan untuk sahur bersama, membangunkan anak ketika makanan sudah hampir matang.

Kebersamaan ini akan menjadi sebuah contoh yang baik bagi anak-anak dalam kehidupannya. Sungguh berpikir positif akan melahirkan perilaku positif dan tentunya juga akan mengarah kepada masa depan yang positif. Berpikir positif akan mengantarkan seseorang pada pribadi yang ikhlas. Seseorang hanya dapat bersikap ikhlas jika dia mampu menerima kondisi saat ini dan memiliki harapan baik untuk masa depannya.

Seseorang yang berjiwa positif ketika mendapatkan rezeki sedikit hari ini tentu akan berkata, “Tidak apa-apa kita mendapat rezeki segini pada hari ini, karena masih ada hari esok, Insya Allah hari esok akan dapat rezeki yang lebih baik dan lebih banyak lagi.” Itu perkataan orang yang berpikir positif. Berbeda dengan orang yang suka berpikir negatif. Ketika mendapat rezeki sedikit, dia akan mengeluh, “Aduh, susah banget dapat rezeki hari ini, apalagi besok pasti lebih susah lagi.”

Berpikir positif tidak hanya mengantarkan seseorang untuk menjadi pribadi yang ikhlas, tetapi juga membangun sikap optimistis dalam dirinya. Semangat dan sikap optimistis inilah yang dibutuhkan untuk seseorang bertahan, terus berjuang demi kehidupan yang lebih baik. Bagaimana pikiran positif ini menjadi pengendalian diri bagi seseorang?

Baca Juga :  Lahirkan Buku di Tengah Pandemi

Bayangkan, jika seseorang merasa sulit mencari rezeki yang halal dan baik, dan dia langsung pesimistis maka bisa mengubah masa depannya. Ia akan sulit mengendalikan diri untuk tidak mengambil hak-hak orang lain, baik dengan cara mencuri, merampok, ataupun korupsi, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu ibadah puasa melatih manusia untuk mengendalikan diri, dimulai dari hal yang sederhana, yaitu tidak makan dan minum pada siang hari dan menahan diri dari sesuatu yang dapat mengurangi pahala ibadah puasa. Sampai kepada pengendalian yang utama, untuk tidak mencuri hak-hak orang lain, termasuk tidak mencuri haknya Allah dengan tidak menyekutukan-Nya, seperti tidak bersifat riya’dalam melaksanakan ibadah.

Berpikir positif adalah dasar tindakan seseorang. Sebab disadari atau tidak, orang tersebut bertindak sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya. Jika ia memiliki pikiran positif, maka ia akan melakukan tindakan yang positif dan tentu saja akan mendatangkan hasil yang lebih baik pula. Maka mari kita gunakan momen Ramadanini, dan mulai dengan berpikir positif terhadap semua hal agar kita menjadi pribadi yang mampu bersyukur dan selalu memiliki harapan baik ke depannya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/