alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, May 20, 2022

Kejujuran Dasar Segala Kebajikan

Oleh: Samsul Hidayat

KITA hampir akan mengakhiri bulan Ramadan karim 1442 H, bulan yang mengajarkan nilai-nilai kejujuran. Ibadah puasa berbeda dengan ibadah manapun, dia tak terlihat tak terdeteksi, hanya hamba danTuhan yang mengetahui, inilah momen dimana kejujuran akan diasah dan dididik, dengan harapan agar nilai kejujuran dapat diimplementasikan dalam kehidupan.

Di dalam kitab suci banyak dikabarkan betapa perbuatan jujur akan mendatangkan banyak kebaikan, sebaliknya perbuatan curang, dusta, korup dan mengambil hak orang lain akan menghasilkan berbagai macam keburukan. Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabat tentang apakah hakikat ajaran Islam? Beliau menjawab dengan singkat, “iman dan jujur”.

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan pergilah kamu bersama orang-orang yang benar” (At-Taubah 119).

Kejujuran adalah dasar dari segala kebajikan manusia. Dia adalah sifat mulia dan fitrah manusia yang diwariskan dari sifat Rasulullah SAW, dan sebagai seorang muslim nilai-nilai kejujuran hendaknya dapat diimplementasikan dalam rukun Islam.

Pertama, jujur dalam syahadat. Jujur dalam syahadat artinya kita mengimani Allah dengan sebenar-benar iman. Janganlah kita seperti iblis, yang mengaku percaya pada Allah, tapi tidak mempercayai Allah. Mulutnya berkata bertuhan Allah, tapi perbuatannya percaya pada Thagut.

“Tidak ada paksaan dalam beragama; sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Baqarah 256).

Lalu siapa thagut itu? Thagut adalah setiap hamba yang melampui batasnya sebagai hamba. Semua yang disembah selain Allah adalah thagut. Thagut adalah hal-hal yang melalaikan kita kepada Allah, dan thagut inilah yang kita kendalikan saat berpuasa, yaitu godaan di area perut dan kemaluan manusia; thagut itu bernama wanita/pria, harta dan tahta. Semuanya berada di daerah area perut ke bawah.

Pada usia remaja sampai 40-an biasanya godaan terbesar kita adalah wanita/pria, saat berumur 40-an ke atas godaan terberat adalah harta, di mana setiap orang pada umumnya membutuhkan kemapanan, dan pada usia 50-an ke atas manusia tergoda oleh kedudukan atau tahta.

Kita sering berbohong kepada Allah saat bersyahadat. Kita masih menjadikan wanita, harta, dan tahta sebagai obsesi dan tujuan hidup. Karena godaan wanita, kita rela berselingkuh bahkan berzina. Ibarat ada makanan enak buatan istri, tapi kita malah memakan nasi bungkus yang busuk. Karena harta, segala cara dilakukan meskipun harus korupsi dan mencari jalan haram.

Baca Juga :  Wanita dan Penelitiannya

Sejak KPK berdiri, uang rakyat yang berhasil dikembalikan senilai 168 triliun rupiah. Bayangkan berapa banyak uang kita yang digasak dan dilahap oleh para koruptor negeri ini, mulai dari koruptor kelas teri, seperti me-mark up belanja bahan kantor, uang bensin kantor, sampai koruptor kelas kakap yang memakan harta rakyat bermiliar-miliar rupaih, baik yang ditangkap dengan hukuman tahunan, atau yang tidak pernah ketangkap dan jumlahnya jauh lebih banyak.

Karena tahta dan jabatan, kita menutup mata dan hati lalu melakukan kecurangan. Lihatlah setiap ajang kontestasi kita yang centang perenang karena ambisi kekuasaan. Siapa yang punya harta dia yang berjaya, siapa yang berkuasa dia bebas durjana. Nilai keadilan dan kejujuran terkubur di bawah hasrat dan ambisi tahta dan kuasa. Nafsu bertahta adalah salah satu musuh terbesar manusia yang ingin dibakar selama berpuasa.

Kedua, jujur dalam shalat. Shalat pun membutuhkan kejujuran, shalat yang utuh, pada syariat dan hakikat. Tidak lah sempurna ibadah shalat jika yang diutamakan hanya pada soal syariat dan rukun ibadah, hanya pada seberapa pantas pakaian yang dipakai, seberapa harum parfum yang digunakan, seberapa rapat kaki di barisan, tapi zikir atau ingatan dan kesadaran pada Tuhan melantur dan mengawang-awang entah kemana.

Haluan shalat pada hakikat jauh lebih utama. Shalat belum dianggap tertib, jika terlalu banyak keluar dari hakikat di baitullah, akhirnya hawa dan nafsu yang berkuasa, tak sanggup mencegah perbuatan keji dan mungkar.

“Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot,” (QS-Albaqarah 143).

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul (pulang dan pergi) bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat,” (Al-Baqarah 125).

Ketiga, jujur dalam puasa, yakni melaksanakan ibadah puasa dengan sebenar-benar hakikat puasa yaitu mengendalikan hawa nafsu untuk meraih takwa atau terjaga imannya. Sebagian kita masih terjebak dengan tawaran dan janji kebaikan Ramadaan yang berlimpah, padahal puasa adalah momen latihan mengendalikan sifat-sifat hewani kita, semata-mata dalam rangka agar di luar bulan Ramadan nanti kita lebih siap mengendalikan hawa dan nafsu. Mereka yang terjebak dengan tawaran pahala, biasanya akan mulai mengendor ibadahnya pada saat memasuki bulan di luar Ramadan, lalu kembali lagi seperti muslim biasa.

Baca Juga :  Masa Depan Penanggulangan Karhutla selama Pandemi

Keempat, jujur dalam zakat, yakni membersihkan harta dengan memberikan yang terbaik dengan jumlah yang wajib dibayarkan. Jangan terlalu banyak berhitung dengan zakat, menunggu sampai nisab lah, menunggu sampai setahun lah, sampai akhirnya saat dihitung-hitung terasa sudah tidak ada yang tersisa untuk dizakatkan, akhirnya tidak jadi berzakat.

Kelima, jujur dalam haji, yakni melaksanakan ibadah sesuai rukun, niat berhaji benar-benar ingin menjadi muslim yang utuh, bukan untuk supaya dapat dipanggil sebagai pak haji, atau mungkin bisa menjadi imam masjid, atau bisa duduk paling depan di tarub pernikahan. Mirisnya sebagian dari saudara kita menggunakan harta haram untuk berhaji dengan niat untuk mensucikan hartanya, na’uzubillahiminzalik.

Begitu indahnya jika nilai kejujuran menjadi pakaian setiap muslim. Seorang anak yang jujur, mereka belajar dengan hasil usahanya sendiri, tidak menyontek danp lagiat. Seorang pedagang yang jujur, mereka menjual dengan modal yang halal dan menjual denganc cara halal.

Bagi Aparat Sipil Negara yang jujur, mereka bekerja dengan dispilin, tidak memanfaatkan jabatan, tidak memanipulasi laporan. Bagi Pemerintah yang jujur, mereka diangkat karena dipilih rakyat, bukan dari hasil membohongi dan membodohi rakyat. Para caleg dan dewan yang jujur, mereka yang menang akan menang dengan bermartabat, dan kalah dengan terhormat.

Berpuasa di bulan Ramadan benar-benar ingin memenangkan diri sejati kita, memenangkan sifat ilahiyah dari sifat hewaniyah kita, agar dapat kembali fitri seperti pada saat ruh pertama kali ditiupkan dalam tubuh manusia, yang seiring usia kemudian perlahan-lahan tercemar kegelapan hawa nafsu, lalu menjadi diri yang berselimut kezoliman dan kekufuran.

Kiranya Ramadan tahun ini memberikan kita kekuatan untuk memenangkan diri dari kuatnya godaan hawa nafsu dalam bentuk rasa lapar yang membuat kita memburu harta dengan segala cara, dari godaan seksual yang membuat kita melakukan perbuatan maksiat, dan dari nafsu amarah yang membuat kita menjadi pribadi pembenci dan susah mengampuni.

Semoga Ramadan tahun ini menjadi momen peningkatan iman dan takwa, dengan berpuasa seumur hidup secara hakikat, demi mengembalikan kesucian ruhani, agar dapat meraih jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah), sehingga bisa kembali kepada Allah SWT dalam husnul khotimah. Ada hubungan yang erat antara mudik lebaran dengan kembali fitrah. Jika mudik lebaran adalah kembalinya fisik ke kampung halaman, maka kembali fitri adalah batin yang senantiasa suci dan selalu terhubung kepada Tuhan. **

*Penulis, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Kalbar.

Oleh: Samsul Hidayat

KITA hampir akan mengakhiri bulan Ramadan karim 1442 H, bulan yang mengajarkan nilai-nilai kejujuran. Ibadah puasa berbeda dengan ibadah manapun, dia tak terlihat tak terdeteksi, hanya hamba danTuhan yang mengetahui, inilah momen dimana kejujuran akan diasah dan dididik, dengan harapan agar nilai kejujuran dapat diimplementasikan dalam kehidupan.

Di dalam kitab suci banyak dikabarkan betapa perbuatan jujur akan mendatangkan banyak kebaikan, sebaliknya perbuatan curang, dusta, korup dan mengambil hak orang lain akan menghasilkan berbagai macam keburukan. Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabat tentang apakah hakikat ajaran Islam? Beliau menjawab dengan singkat, “iman dan jujur”.

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan pergilah kamu bersama orang-orang yang benar” (At-Taubah 119).

Kejujuran adalah dasar dari segala kebajikan manusia. Dia adalah sifat mulia dan fitrah manusia yang diwariskan dari sifat Rasulullah SAW, dan sebagai seorang muslim nilai-nilai kejujuran hendaknya dapat diimplementasikan dalam rukun Islam.

Pertama, jujur dalam syahadat. Jujur dalam syahadat artinya kita mengimani Allah dengan sebenar-benar iman. Janganlah kita seperti iblis, yang mengaku percaya pada Allah, tapi tidak mempercayai Allah. Mulutnya berkata bertuhan Allah, tapi perbuatannya percaya pada Thagut.

“Tidak ada paksaan dalam beragama; sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Baqarah 256).

Lalu siapa thagut itu? Thagut adalah setiap hamba yang melampui batasnya sebagai hamba. Semua yang disembah selain Allah adalah thagut. Thagut adalah hal-hal yang melalaikan kita kepada Allah, dan thagut inilah yang kita kendalikan saat berpuasa, yaitu godaan di area perut dan kemaluan manusia; thagut itu bernama wanita/pria, harta dan tahta. Semuanya berada di daerah area perut ke bawah.

Pada usia remaja sampai 40-an biasanya godaan terbesar kita adalah wanita/pria, saat berumur 40-an ke atas godaan terberat adalah harta, di mana setiap orang pada umumnya membutuhkan kemapanan, dan pada usia 50-an ke atas manusia tergoda oleh kedudukan atau tahta.

Kita sering berbohong kepada Allah saat bersyahadat. Kita masih menjadikan wanita, harta, dan tahta sebagai obsesi dan tujuan hidup. Karena godaan wanita, kita rela berselingkuh bahkan berzina. Ibarat ada makanan enak buatan istri, tapi kita malah memakan nasi bungkus yang busuk. Karena harta, segala cara dilakukan meskipun harus korupsi dan mencari jalan haram.

Baca Juga :  Pendampingan Perhutanan Sosial Di Era Revolusi Industri 4.0

Sejak KPK berdiri, uang rakyat yang berhasil dikembalikan senilai 168 triliun rupiah. Bayangkan berapa banyak uang kita yang digasak dan dilahap oleh para koruptor negeri ini, mulai dari koruptor kelas teri, seperti me-mark up belanja bahan kantor, uang bensin kantor, sampai koruptor kelas kakap yang memakan harta rakyat bermiliar-miliar rupaih, baik yang ditangkap dengan hukuman tahunan, atau yang tidak pernah ketangkap dan jumlahnya jauh lebih banyak.

Karena tahta dan jabatan, kita menutup mata dan hati lalu melakukan kecurangan. Lihatlah setiap ajang kontestasi kita yang centang perenang karena ambisi kekuasaan. Siapa yang punya harta dia yang berjaya, siapa yang berkuasa dia bebas durjana. Nilai keadilan dan kejujuran terkubur di bawah hasrat dan ambisi tahta dan kuasa. Nafsu bertahta adalah salah satu musuh terbesar manusia yang ingin dibakar selama berpuasa.

Kedua, jujur dalam shalat. Shalat pun membutuhkan kejujuran, shalat yang utuh, pada syariat dan hakikat. Tidak lah sempurna ibadah shalat jika yang diutamakan hanya pada soal syariat dan rukun ibadah, hanya pada seberapa pantas pakaian yang dipakai, seberapa harum parfum yang digunakan, seberapa rapat kaki di barisan, tapi zikir atau ingatan dan kesadaran pada Tuhan melantur dan mengawang-awang entah kemana.

Haluan shalat pada hakikat jauh lebih utama. Shalat belum dianggap tertib, jika terlalu banyak keluar dari hakikat di baitullah, akhirnya hawa dan nafsu yang berkuasa, tak sanggup mencegah perbuatan keji dan mungkar.

“Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot,” (QS-Albaqarah 143).

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul (pulang dan pergi) bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat,” (Al-Baqarah 125).

Ketiga, jujur dalam puasa, yakni melaksanakan ibadah puasa dengan sebenar-benar hakikat puasa yaitu mengendalikan hawa nafsu untuk meraih takwa atau terjaga imannya. Sebagian kita masih terjebak dengan tawaran dan janji kebaikan Ramadaan yang berlimpah, padahal puasa adalah momen latihan mengendalikan sifat-sifat hewani kita, semata-mata dalam rangka agar di luar bulan Ramadan nanti kita lebih siap mengendalikan hawa dan nafsu. Mereka yang terjebak dengan tawaran pahala, biasanya akan mulai mengendor ibadahnya pada saat memasuki bulan di luar Ramadan, lalu kembali lagi seperti muslim biasa.

Baca Juga :  Ukhuwah Ilahiyah

Keempat, jujur dalam zakat, yakni membersihkan harta dengan memberikan yang terbaik dengan jumlah yang wajib dibayarkan. Jangan terlalu banyak berhitung dengan zakat, menunggu sampai nisab lah, menunggu sampai setahun lah, sampai akhirnya saat dihitung-hitung terasa sudah tidak ada yang tersisa untuk dizakatkan, akhirnya tidak jadi berzakat.

Kelima, jujur dalam haji, yakni melaksanakan ibadah sesuai rukun, niat berhaji benar-benar ingin menjadi muslim yang utuh, bukan untuk supaya dapat dipanggil sebagai pak haji, atau mungkin bisa menjadi imam masjid, atau bisa duduk paling depan di tarub pernikahan. Mirisnya sebagian dari saudara kita menggunakan harta haram untuk berhaji dengan niat untuk mensucikan hartanya, na’uzubillahiminzalik.

Begitu indahnya jika nilai kejujuran menjadi pakaian setiap muslim. Seorang anak yang jujur, mereka belajar dengan hasil usahanya sendiri, tidak menyontek danp lagiat. Seorang pedagang yang jujur, mereka menjual dengan modal yang halal dan menjual denganc cara halal.

Bagi Aparat Sipil Negara yang jujur, mereka bekerja dengan dispilin, tidak memanfaatkan jabatan, tidak memanipulasi laporan. Bagi Pemerintah yang jujur, mereka diangkat karena dipilih rakyat, bukan dari hasil membohongi dan membodohi rakyat. Para caleg dan dewan yang jujur, mereka yang menang akan menang dengan bermartabat, dan kalah dengan terhormat.

Berpuasa di bulan Ramadan benar-benar ingin memenangkan diri sejati kita, memenangkan sifat ilahiyah dari sifat hewaniyah kita, agar dapat kembali fitri seperti pada saat ruh pertama kali ditiupkan dalam tubuh manusia, yang seiring usia kemudian perlahan-lahan tercemar kegelapan hawa nafsu, lalu menjadi diri yang berselimut kezoliman dan kekufuran.

Kiranya Ramadan tahun ini memberikan kita kekuatan untuk memenangkan diri dari kuatnya godaan hawa nafsu dalam bentuk rasa lapar yang membuat kita memburu harta dengan segala cara, dari godaan seksual yang membuat kita melakukan perbuatan maksiat, dan dari nafsu amarah yang membuat kita menjadi pribadi pembenci dan susah mengampuni.

Semoga Ramadan tahun ini menjadi momen peningkatan iman dan takwa, dengan berpuasa seumur hidup secara hakikat, demi mengembalikan kesucian ruhani, agar dapat meraih jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah), sehingga bisa kembali kepada Allah SWT dalam husnul khotimah. Ada hubungan yang erat antara mudik lebaran dengan kembali fitrah. Jika mudik lebaran adalah kembalinya fisik ke kampung halaman, maka kembali fitri adalah batin yang senantiasa suci dan selalu terhubung kepada Tuhan. **

*Penulis, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Kalbar.

Most Read

Artikel Terbaru

/