alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Citizen Science Cagar Alam Laut Kepulauan Karimata

Oleh : Y. Sudaryanti

CAGAR Alam Laut (CAL) merupakan sebuah Kawasan Suaka Alam yang karenakeadaan alam lautnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistem yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Sebagai suatu kawasan laut yang alami dan mempunyai sifat khas dalam hal tumbuhan, fauna dan ekosistemnya, CAL juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan, bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan.

Cagar Alam(CA) adalah kawasan konservasi yang pemanfaatannya untuk kegiatan penelitan dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam, penyerapan dan atau penyimpanan Karbon dan pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya. Berdasarkan aturan tersebut, sampai saat ini,tidak diakomodasikan adanya ruang pemanfaatan di CA untuk kepentingan wisata alam atau rekreasi bagi para wisatawan baik lokal maupun asing yang dapat memberikan dampak ekonomi secara langsung kepada masyarakat akibat multiplier effect dari aktivitas wisata sebagaimana pada kawasan Taman Nasional atau Taman Wisata Alam.

CAL Kepulauan Karimata dengan segala aturan yang membatasinya, potensi keindahan alamnya bagaikan magnet yang mampu menarik para pengunjung.Tantangan baru saat ini,adanya kunjungan masyarakat untuk tujuan wisata bahari dan wisata minat khusus terutama untuk kegiatan menyelam. Potensi kawasan CAL Karimata mampu memberikan peluang kesejahteraan langsung kepada masyarakat sekitar kawasan, namun demikian harus tetap sesuai dengan tujuan pemanfaatan kawasan Cagar Alam dan tidak bertentangan dengan regulasi yang ada.

Merujuk pada “10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi di Indonesia” yang digagas oleh Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc (tahun 2019), maka seharusnya masyarakat merasakan manfaat langsung dari kawasan dengan berperan sebagai “Subjek” atau pelaku utama dalam berbagai model pengelolaan kawasan, pengembangan daerah penyangga melalui ekowisata, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK), jasa lingkungan, air, patrol kawasan, penjagaan kawasan, restorasi kawasan, pengendalian kebakaran, budi daya dan penangkaran satwa, penanggulangan konflik satwa, pencegahan perburuan dan perdagangan satwa.

Baca Juga :  Manusia itu Umat yang Satu

Keberadaan CA selayaknya tetap memberikan ruang-ruang bagi masyarakat untuk dapat mengambil peran sebagai subjek, dengan harapan pengelolaan kawasan CAL Karimata dapat berdaya guna bagi masyarakat akan tetapi masih sesua dengan fungsi dan tujuan pemanfaatan kawasan. Konsep “Pengelolaan Kawasan CAL Kepulauan Karimata Sebagai Destinasi Penelitian/Citizen Science Berbasis Masyarakat” maka sangatlah diperlukan.

CAL Kepulauan Karimata berada di Kabupaten Kayong Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 733/Menhut-II/2014 tanggal 2 September 2014 tentang Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Provinsi Kalimantan Barat, luas CAL Kepulauan Karimata adalah 190.945 Ha. Cagar Alam Kepulauan Karimata terdiri dari gugusan pulau besar dan kecil. Terdapat 2 (dua) pulau besar, yaitu Pulau Karimata dan Pulau Serutu serta 41 (empat puluh satu) pulau kecil lainnya.

Gugusan Kepulauan Karimata untuk pertama kalinya ditunjuk sebagai Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No. 2240/DJ/I/1981 tanggal 15 Juni 1981 dengan luas 77.000 ha. Dalam SK ini jelas disebutkan bahwa kawasan Kepulauan Karimata dan perairan laut di sekitarnya merupakan habitat berbagai jenis ikan hias yang termasuk ke dalam spesies ikan karang seperti Microcanthus strigatus, Abudefduf saxatilis, Zebrasoma veliferum, ikan giru/ikan nemo (Amphiprion ocellaris), dan jenis-jenis ikan lainnya yang membentuk pemandangan indah, serta banyak dijumpai kelompok-kelompok Duyung (Dugong dugong) yang mulai langka, sehingga perlu dilestarikan agar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, rekreasi dan pariwisata.

Konsep Sains Khalayak (Citizen Science) yang diinisiasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalbar, secara umum diartikan sebagai penelitian ilmiah yang dilakukan peneliti amatir baik di sela waktu paruh atau semua waktu yang dimiliki. Secara khusus, citizen science diartikan sebagai proses sistematik dalam pengumpulan dan analisis data; mengembangkan teknologi; uji coba fenomena alam; dan diseminasi aktivitas-aktivitas tersebut oleh peneliti-peneliti yang berbasis hobi.

Baca Juga :  Usaha Rumah Tangga

Bentuk aktivitas citizen science bisa bermacam-macam namun biasanya adalah mengelola sendiri waktu dan instrument pendukung untuk mendapatkan data yang diinginkannya atau atas bagian dari sebuah proyek besar. Ada pula yang mengartikan bahwa sains khalayak adalah ketika masyarakat umum berkolaborasi dengan ilmuwan professional dalam mengoleksi, menuliskan, mengelompokkan dan atau menganalisis data yang berkontribusi untuk menambah pemahaman kita, serta dalam rangka pengelolaan alam dan lingkungan. Pada intinya, masyarakat umum ikut serta menjadi tim peneliti, minimal sebagai tim pengoleksi data yang memberikan datanya kepada si ilmuwan.

Sesuai dengan status kawasan, konsep pengelolaan CA Karimata sebagai tujuan penelitian dengan pelibatan aktif masyarakat, diharapkan mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat terutama untuk peningkatan perekonomian secara langsung, di antaranya masyarakat sebagai penyedia moda transportasi memberikan fasilitas angkutan dengan harga bersaing dan kondisi moda transportasi yang baik dan memadai (transportasi dapat berupa motor air/kapal kelotok atau kapal speed long boat dari Sukadana menuju Kepulauan Karimata).

Diharapkan untuk transportasi ini dapat disediakan oleh masyarakat pelaku usaha, bukan  kapal reguler yang dikelola oleh korporasi; khusus masyarakat di dalam kawasan khususnya Desa Betok dan Desa Padang mampu memberikan pendampingan penelitian; menyediakan transportasi antar pulau di dalam kawasan yang menarik dan memadai untuk pelaksanaan penelitian.

Menyiapkan homestay yang nyaman meskipun sederhana dengan tuan rumah yang ramah juga dengan menu katering yang khas dari desa setempat dan bervariasi. Untuk pendampingan, homestay dan katering yang akan ditawarkan pada para peneliti agar tidak memberatkan terutama peneliti lokal tapi juga tetap memberikan keuntungan pada masyarakat, sehingga kunjungan peneliti ke kawasan dapat berkesinambungan.**

*Penulis, Mahasiswa Pascasarjana Program Magister Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

Oleh : Y. Sudaryanti

CAGAR Alam Laut (CAL) merupakan sebuah Kawasan Suaka Alam yang karenakeadaan alam lautnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistem yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Sebagai suatu kawasan laut yang alami dan mempunyai sifat khas dalam hal tumbuhan, fauna dan ekosistemnya, CAL juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan, bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan.

Cagar Alam(CA) adalah kawasan konservasi yang pemanfaatannya untuk kegiatan penelitan dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam, penyerapan dan atau penyimpanan Karbon dan pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya. Berdasarkan aturan tersebut, sampai saat ini,tidak diakomodasikan adanya ruang pemanfaatan di CA untuk kepentingan wisata alam atau rekreasi bagi para wisatawan baik lokal maupun asing yang dapat memberikan dampak ekonomi secara langsung kepada masyarakat akibat multiplier effect dari aktivitas wisata sebagaimana pada kawasan Taman Nasional atau Taman Wisata Alam.

CAL Kepulauan Karimata dengan segala aturan yang membatasinya, potensi keindahan alamnya bagaikan magnet yang mampu menarik para pengunjung.Tantangan baru saat ini,adanya kunjungan masyarakat untuk tujuan wisata bahari dan wisata minat khusus terutama untuk kegiatan menyelam. Potensi kawasan CAL Karimata mampu memberikan peluang kesejahteraan langsung kepada masyarakat sekitar kawasan, namun demikian harus tetap sesuai dengan tujuan pemanfaatan kawasan Cagar Alam dan tidak bertentangan dengan regulasi yang ada.

Merujuk pada “10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi di Indonesia” yang digagas oleh Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc (tahun 2019), maka seharusnya masyarakat merasakan manfaat langsung dari kawasan dengan berperan sebagai “Subjek” atau pelaku utama dalam berbagai model pengelolaan kawasan, pengembangan daerah penyangga melalui ekowisata, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK), jasa lingkungan, air, patrol kawasan, penjagaan kawasan, restorasi kawasan, pengendalian kebakaran, budi daya dan penangkaran satwa, penanggulangan konflik satwa, pencegahan perburuan dan perdagangan satwa.

Baca Juga :  Pemanfaatan Dana Desa Bagi Kesejahteraan Masyarakat

Keberadaan CA selayaknya tetap memberikan ruang-ruang bagi masyarakat untuk dapat mengambil peran sebagai subjek, dengan harapan pengelolaan kawasan CAL Karimata dapat berdaya guna bagi masyarakat akan tetapi masih sesua dengan fungsi dan tujuan pemanfaatan kawasan. Konsep “Pengelolaan Kawasan CAL Kepulauan Karimata Sebagai Destinasi Penelitian/Citizen Science Berbasis Masyarakat” maka sangatlah diperlukan.

CAL Kepulauan Karimata berada di Kabupaten Kayong Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 733/Menhut-II/2014 tanggal 2 September 2014 tentang Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Provinsi Kalimantan Barat, luas CAL Kepulauan Karimata adalah 190.945 Ha. Cagar Alam Kepulauan Karimata terdiri dari gugusan pulau besar dan kecil. Terdapat 2 (dua) pulau besar, yaitu Pulau Karimata dan Pulau Serutu serta 41 (empat puluh satu) pulau kecil lainnya.

Gugusan Kepulauan Karimata untuk pertama kalinya ditunjuk sebagai Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No. 2240/DJ/I/1981 tanggal 15 Juni 1981 dengan luas 77.000 ha. Dalam SK ini jelas disebutkan bahwa kawasan Kepulauan Karimata dan perairan laut di sekitarnya merupakan habitat berbagai jenis ikan hias yang termasuk ke dalam spesies ikan karang seperti Microcanthus strigatus, Abudefduf saxatilis, Zebrasoma veliferum, ikan giru/ikan nemo (Amphiprion ocellaris), dan jenis-jenis ikan lainnya yang membentuk pemandangan indah, serta banyak dijumpai kelompok-kelompok Duyung (Dugong dugong) yang mulai langka, sehingga perlu dilestarikan agar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, rekreasi dan pariwisata.

Konsep Sains Khalayak (Citizen Science) yang diinisiasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalbar, secara umum diartikan sebagai penelitian ilmiah yang dilakukan peneliti amatir baik di sela waktu paruh atau semua waktu yang dimiliki. Secara khusus, citizen science diartikan sebagai proses sistematik dalam pengumpulan dan analisis data; mengembangkan teknologi; uji coba fenomena alam; dan diseminasi aktivitas-aktivitas tersebut oleh peneliti-peneliti yang berbasis hobi.

Baca Juga :  Ramadhan Penawar Covid19

Bentuk aktivitas citizen science bisa bermacam-macam namun biasanya adalah mengelola sendiri waktu dan instrument pendukung untuk mendapatkan data yang diinginkannya atau atas bagian dari sebuah proyek besar. Ada pula yang mengartikan bahwa sains khalayak adalah ketika masyarakat umum berkolaborasi dengan ilmuwan professional dalam mengoleksi, menuliskan, mengelompokkan dan atau menganalisis data yang berkontribusi untuk menambah pemahaman kita, serta dalam rangka pengelolaan alam dan lingkungan. Pada intinya, masyarakat umum ikut serta menjadi tim peneliti, minimal sebagai tim pengoleksi data yang memberikan datanya kepada si ilmuwan.

Sesuai dengan status kawasan, konsep pengelolaan CA Karimata sebagai tujuan penelitian dengan pelibatan aktif masyarakat, diharapkan mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat terutama untuk peningkatan perekonomian secara langsung, di antaranya masyarakat sebagai penyedia moda transportasi memberikan fasilitas angkutan dengan harga bersaing dan kondisi moda transportasi yang baik dan memadai (transportasi dapat berupa motor air/kapal kelotok atau kapal speed long boat dari Sukadana menuju Kepulauan Karimata).

Diharapkan untuk transportasi ini dapat disediakan oleh masyarakat pelaku usaha, bukan  kapal reguler yang dikelola oleh korporasi; khusus masyarakat di dalam kawasan khususnya Desa Betok dan Desa Padang mampu memberikan pendampingan penelitian; menyediakan transportasi antar pulau di dalam kawasan yang menarik dan memadai untuk pelaksanaan penelitian.

Menyiapkan homestay yang nyaman meskipun sederhana dengan tuan rumah yang ramah juga dengan menu katering yang khas dari desa setempat dan bervariasi. Untuk pendampingan, homestay dan katering yang akan ditawarkan pada para peneliti agar tidak memberatkan terutama peneliti lokal tapi juga tetap memberikan keuntungan pada masyarakat, sehingga kunjungan peneliti ke kawasan dapat berkesinambungan.**

*Penulis, Mahasiswa Pascasarjana Program Magister Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

Most Read

Artikel Terbaru

/