alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Memaknai Hari Lahir Pancasila

Oleh: P. Adrianus, S.Si., M.Pd.

Lahirnya Pancasila diperingati setiap 1 Juni dalam kalender Masehi. Ini merupakan bukti bahwa Bangsa Indonesia menempatkan Pancasila pada tempat istimewa dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Semoga dalam tiap peringatan dihayati, diingat, dan kian diamalkan dalam setiap kehidupan masyarakat dalam pergaulan sehari-hari atas nilai-nilai yang terkandung dalam butir-butir Pancasila tersebut.

Penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila dilakukan oleh Presiden Joko Widodo, melalui Keputusan Presiden No. 24/2016. Tetapi tidak tanggung-tanggung setiap 1 Juni  juga ditetapkan sebagai hari libur nasional alias ditetapkan dengan tanggal merah sebagai tanda libur nasional itu.

Bagaimana sih proses panjang lahirnya Pancasila itu? Penulis reproduksi dari laman wikipedia berikut. Menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai. Dokuritsu Junbi Cosakai, berarti Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan”, yang kemudian di ujung kata tersebut ditambahkan kata ‘Indonesia’. Mungkin maksudnya adalah memperjelas bahwa Badan tersebut khusus untuk persiapan kemerdekaan Indonesia.

Pembukaan sidang diadakan 28 Mei 1945, tapi pelaksanaan sidang pertama, 29 Mei dan berakhir  1 Juni 1945. Rapat pertama membahas tema dasar negara. Rapat pertama ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya yang dinamakannya ‘Pancasila’. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Junbi Cosakai.

Setelah itu, BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Panitia Sembilan terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasarkan pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga :  Bergerak Aktif Perkokoh Nilai-nilai Pancasila

Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut, Panitia Sembilan mencantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI.

Pancasila merupakan satu di antara pilar-pilar negara. Di Indonesia sudah harga mati, dimaknai bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila-lah yang menjadi dasar bagi anak-anak bangsa dalam pergaulan dalam negeri maupun luar negeri.

Sekolah merupakan salah satu tempat dilaksanakannya proses pendidikan, tempat menimba ilmu pengetahuan. Sekolah juga menjadi tempat menanamkan nilai-nilai universal kehidupan yang ternyata terdapat dalam nilai-nilai yang tercantum dalam tiga puluh enam butir Pancasila.

Adakah sekolah sekarang ini mengajarkan nilai-nilai Pancasila pada generasi penerus bangsa? Adakah kita merasakan penurunan nilai-nilai Pancasila yang tercantum dalam tiga puluh enam butir Pancasila itu di tengah masyarakat? Jika terjadi penurunan, adakah sekolah sebagai penyiapan masyarakat berkontribusi terhadap penurunan nilai-nilai Pancasila? Lalu, bagaimanakah sekolah menjadi tempat untuk menyemaikan nilai-nilai tiga puluh enam butir Pancasila tersebut?

Pertama, restrukturisasi kurikulum. Ajarkan nilai-nilai dalam butir Pancasila tersebut. Kita berkeyakinan bahwa jika nilai-nilai dalam tiga puluh enam butir masuk kembali ke kurikulum, misalnya kembali ke mata pelajaran PKn, sehingga menjadi PPKn, yaitu Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, maka paling tidak, siswa dapat memahami dan akhirnya mengimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat kelak. Di perguruan tinggi dimunculkan lagi pengajaran nilai-nilai yang tercantum dalam tiga puluh enam butir Pancasila tersebut, tanpa harus menyelenggarakan Penataran P4 atau P7 seperti yang lalu.

Kedua, stakeholders di sekolah harus menjiwai, mengamalkan, dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila ini tanpa tawar-menawar. Pertama-tama, adakan edukasi kepada stakeholders di sekolah, seperti kepala sekolah, guru, dan staf lainnya. Dalam edukasi ditekankan pada taraf implementatif dalam interaksi pembelajaran di kelas maupun di luar kelas.

Baca Juga :  Ikhlaskanlah Ibadahmu

Ketiga, stakeholders di luar lingkungan sekolah juga dapat dilakukan edukasi, misalnya kepada orang tua siswa, komite sekolah dan/atau pengurus yayasan, diutamakan yang belum mengenal nilai-nilai Pancasila tersebut. Rancang moment khusus yang diselenggarakan oleh sekolah untuk mengenalkan kembali atau mengajarkan kembali nilai-nilai Pancasila tersebut.

Keempat, pemangku kepentingan atau dinas terkait, terutama Dinas Pendidikan. Adanya anggaran yang cukup untuk melaksanakan kembali pembelajaran ulang terhadap nilai-nilai Pancasila. Laksanakan lokakarya penanaman nilai-nilai terhadap guru-guru, PNS di lingkungan pemerintahan pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

Kelima, adakan pusat-pusat studi untuk mendalami nilai-nilai pada tingkat masyarakat, misalnya tingkat RT, RW atau kelurahan. Sadarkan masyarakat pula dengan pentingnya memahami dan lebih-lebih melakukan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan pribadi di rumah tangga dan pergaulan di lingkungan tempat tinggal, atau dalam pergaulan di luar lingkaran lingkungan tempat tinggal.

Inilah kelima cara sesuai dengan lima sila dalam Pancasila, yang sekiranya dapat menjadi cara untuk mengembalikan dan menguatkan kembali implementasi nilai-nilai Pancasila di masyarakat kita secara luas. Masyarakat kita adalah masyarakat yang universal dengan nilai-nilai universalitas yang paling banyak tercantum dalam butir-butir Pancasila yang merupakan jabaran dari lima butir Pancasila.

Dengan melakukan melakukan edukasi terus-menerus pada setiap level stakeholders sekolah (pendidikan), dapatlah kita memiliki masyarakat yang Pancasilais dengan melakukan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam pergaulan di masyarakat lokal dan internasional. Hal itu kian diperkuat penghayatan terhadap momen peringatan Hari Lahir Pancasila. Mudah-mudahan!**

Penulis adalah Waka Humas, Guru SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak, Alumnus TEP FKIP Untan, Kalbar.

Oleh: P. Adrianus, S.Si., M.Pd.

Lahirnya Pancasila diperingati setiap 1 Juni dalam kalender Masehi. Ini merupakan bukti bahwa Bangsa Indonesia menempatkan Pancasila pada tempat istimewa dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Semoga dalam tiap peringatan dihayati, diingat, dan kian diamalkan dalam setiap kehidupan masyarakat dalam pergaulan sehari-hari atas nilai-nilai yang terkandung dalam butir-butir Pancasila tersebut.

Penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila dilakukan oleh Presiden Joko Widodo, melalui Keputusan Presiden No. 24/2016. Tetapi tidak tanggung-tanggung setiap 1 Juni  juga ditetapkan sebagai hari libur nasional alias ditetapkan dengan tanggal merah sebagai tanda libur nasional itu.

Bagaimana sih proses panjang lahirnya Pancasila itu? Penulis reproduksi dari laman wikipedia berikut. Menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai. Dokuritsu Junbi Cosakai, berarti Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan”, yang kemudian di ujung kata tersebut ditambahkan kata ‘Indonesia’. Mungkin maksudnya adalah memperjelas bahwa Badan tersebut khusus untuk persiapan kemerdekaan Indonesia.

Pembukaan sidang diadakan 28 Mei 1945, tapi pelaksanaan sidang pertama, 29 Mei dan berakhir  1 Juni 1945. Rapat pertama membahas tema dasar negara. Rapat pertama ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya yang dinamakannya ‘Pancasila’. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Junbi Cosakai.

Setelah itu, BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Panitia Sembilan terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasarkan pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga :  Hari Lahir Pancasila, DPRD Kalbar Ajak Warga Bersatu Lawan COVID-19

Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut, Panitia Sembilan mencantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI.

Pancasila merupakan satu di antara pilar-pilar negara. Di Indonesia sudah harga mati, dimaknai bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila-lah yang menjadi dasar bagi anak-anak bangsa dalam pergaulan dalam negeri maupun luar negeri.

Sekolah merupakan salah satu tempat dilaksanakannya proses pendidikan, tempat menimba ilmu pengetahuan. Sekolah juga menjadi tempat menanamkan nilai-nilai universal kehidupan yang ternyata terdapat dalam nilai-nilai yang tercantum dalam tiga puluh enam butir Pancasila.

Adakah sekolah sekarang ini mengajarkan nilai-nilai Pancasila pada generasi penerus bangsa? Adakah kita merasakan penurunan nilai-nilai Pancasila yang tercantum dalam tiga puluh enam butir Pancasila itu di tengah masyarakat? Jika terjadi penurunan, adakah sekolah sebagai penyiapan masyarakat berkontribusi terhadap penurunan nilai-nilai Pancasila? Lalu, bagaimanakah sekolah menjadi tempat untuk menyemaikan nilai-nilai tiga puluh enam butir Pancasila tersebut?

Pertama, restrukturisasi kurikulum. Ajarkan nilai-nilai dalam butir Pancasila tersebut. Kita berkeyakinan bahwa jika nilai-nilai dalam tiga puluh enam butir masuk kembali ke kurikulum, misalnya kembali ke mata pelajaran PKn, sehingga menjadi PPKn, yaitu Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, maka paling tidak, siswa dapat memahami dan akhirnya mengimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat kelak. Di perguruan tinggi dimunculkan lagi pengajaran nilai-nilai yang tercantum dalam tiga puluh enam butir Pancasila tersebut, tanpa harus menyelenggarakan Penataran P4 atau P7 seperti yang lalu.

Kedua, stakeholders di sekolah harus menjiwai, mengamalkan, dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila ini tanpa tawar-menawar. Pertama-tama, adakan edukasi kepada stakeholders di sekolah, seperti kepala sekolah, guru, dan staf lainnya. Dalam edukasi ditekankan pada taraf implementatif dalam interaksi pembelajaran di kelas maupun di luar kelas.

Baca Juga :  Bergerak Aktif Perkokoh Nilai-nilai Pancasila

Ketiga, stakeholders di luar lingkungan sekolah juga dapat dilakukan edukasi, misalnya kepada orang tua siswa, komite sekolah dan/atau pengurus yayasan, diutamakan yang belum mengenal nilai-nilai Pancasila tersebut. Rancang moment khusus yang diselenggarakan oleh sekolah untuk mengenalkan kembali atau mengajarkan kembali nilai-nilai Pancasila tersebut.

Keempat, pemangku kepentingan atau dinas terkait, terutama Dinas Pendidikan. Adanya anggaran yang cukup untuk melaksanakan kembali pembelajaran ulang terhadap nilai-nilai Pancasila. Laksanakan lokakarya penanaman nilai-nilai terhadap guru-guru, PNS di lingkungan pemerintahan pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

Kelima, adakan pusat-pusat studi untuk mendalami nilai-nilai pada tingkat masyarakat, misalnya tingkat RT, RW atau kelurahan. Sadarkan masyarakat pula dengan pentingnya memahami dan lebih-lebih melakukan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan pribadi di rumah tangga dan pergaulan di lingkungan tempat tinggal, atau dalam pergaulan di luar lingkaran lingkungan tempat tinggal.

Inilah kelima cara sesuai dengan lima sila dalam Pancasila, yang sekiranya dapat menjadi cara untuk mengembalikan dan menguatkan kembali implementasi nilai-nilai Pancasila di masyarakat kita secara luas. Masyarakat kita adalah masyarakat yang universal dengan nilai-nilai universalitas yang paling banyak tercantum dalam butir-butir Pancasila yang merupakan jabaran dari lima butir Pancasila.

Dengan melakukan melakukan edukasi terus-menerus pada setiap level stakeholders sekolah (pendidikan), dapatlah kita memiliki masyarakat yang Pancasilais dengan melakukan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam pergaulan di masyarakat lokal dan internasional. Hal itu kian diperkuat penghayatan terhadap momen peringatan Hari Lahir Pancasila. Mudah-mudahan!**

Penulis adalah Waka Humas, Guru SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak, Alumnus TEP FKIP Untan, Kalbar.

Most Read

Artikel Terbaru

/