alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Pendidik Penggerak Perubahan

Oleh: Aswandi

PENDIDIK pada opini ini adalah guru di sekolah dan dosen di perguruan tinggi. Fakta hari ini, kita hidup di era disruptif bercirikan: speed yakni bergerak cepat, surprises, yakni banyak kejutan, dan sudden shift, yakni pergeseran tiba-tiba, orang lain menyebutnya era industri 4.0 atau “cyber physical system” bercirikan: internet of thing, big data dan artificial intelligence.

Fakta tersebut mengharuskan terjadinya perubahan pola pikiran, perasaan dan tindakan atau kehidupan kita. Penulis kutip beberapa pernyataan pakar manajemen perubahan mengenai asumsi tersebut di atas.

Iqbal seorang pujangga Islam puluhan tahun yang lalu melalui sebait puisi ia mengingatkan, “Berhenti, tiada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak, mereka yang maju ke depan. Mereka yang berhenti sejenak sekalipun pasti tergilas”.

John Maynard Keynes seorang economist menegaskan, “Ketika fakta berubah, pikiran harus berubah”. John Kotter seorang pakar perubahan menambahkan, selain pikiran, perasaan harus berubah. Rhenald Kazali (2018) dalam bukunya “The Great Shifting” menegaskan bahwa “Ketika platform berubah, kehidupan dan bisnispun berubah”. Di buku lain berjudul “Change”, Rhenald Kazali (2005) mengatakan “Tak peduli berapa jauh jalan salah yang Anda jalani, putar arah sekarang juga”.

Memperhatikan fakta perubahan di atas, The World Economy Forum mengambil tindakan cepat, antara lain merumuskan tiga kemampuan dasar sumber daya manusia, yakni memiliki: (1) literasi dasar, meliputi: membaca (literacy), numeracy, scientific, information communication technology (ICT), finansial, cultural and civic; (2) kompetensi, meliputi: critical thinking/problem solving, creativity, communication, and collaboration; dan (3) kualitas karakter, meliputi: ingin tahu (curiosity), initiative, tekun (persistence), adaptabiliy, leadership, social and cultural awareness.

Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Peringatan Hari Guru Nasional 2019 dan sambutan pada pelantikan Rektor UI beberapa waktu lalu terkait erat (respons) terhadap fenomena dunia di era disruptif dan di era industri sebagaimana penulis jelaskan di atas.

Kepada guru Indonesia ia mengingatkan bahwa, “Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh ketidaknyamanan. Perubahan tidak dapat dimulai dari atas, semua berawal dari berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama. Dimanapun Anda berada, lakukan perubahan kecil mulai dari kelas Anda. Apapun perubahan kecil itu, jika satu guru di setiap sekolah, apalagi semua guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak.”

Baca Juga :  Aksi Borong Berpotensi Picu Inflasi

Guru penggerak adalah guru yang mengutamakan muridnya dari hal lain, bahkan dari karir dirinya sendiri. Maksudnya, Jadilah guru penggerak perubahan sebagai sebuah gerakan.

Pada pelantikan Rektor UI, dia mengatakan bahwa pendidikan kita berada di era disruptif, antara lain ditandai: (1) Gelar tidak lagi menjadi ukuran kompetensi; (2) Lulusan tidak menjamin kemampuan berkarya, program studi tidak ada korelasinya dengan karier lulusan. Penulis tambahkan orang kaya di dunia ini tidak sekolah; (3) Akreditasi tidak menjadi jaminan mutu pendidikan; (4) Kehadiran di ruang kelas tidak menjamin telah terjadi proses pembelajaran efektif; (5) Setiap jam mahasiswa berada di dalam kampus harus relevan dengan masa depannya.

Penulis tambahkan, Clayton Christensen selaku pakar disrupsi mengatakan: (1) Sebanyak 50% perguruan tinggi di Amerika Serikat dalam 10-15 tahun ke depan bangkrut. Saat ini sudah banyak perguruan tinggi tutup; (2) Sebanyak 65% siswa saat ini bakal mendapat pekerjaan dimana pekerjaan untuk mereka belum ada, sementara ribuan pekerjaan yang ada menghilang setiap tahunnya. Nasehat orang tua kepada anaknya, nasehat guru dan dosen kepada muridnya untuk memilih jurusan atau program studi yang memiliki peluang kerja lebih besar sudah tidak relevan lagi, sementara motivasi kuliah pada umumnya adalah setelah lulus cepat memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang layak. (3) Dunia usaha dan dunia industri tidak lagi mempersyaratkan ijazah dalam penerimaan (rekrutmen) pegawainya. Fakta lain, mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi pencipta lapangan kerja (startup) lebih dihargai dan dihormati ketimbang lulusan peroleh Indek Prestasi Komulatif (IPK) pujian; (4) CEO dunia usaha dan dunia industri mengeluhkan bukan karena ketidakmampuan teknik karyawannya karena kemampuan teknik telah digantikan oleh IT dan robot, melainkan mengeluh karena kualitas kompetensi karyawannya yang sangat rendah dan kualitas karakter karyawannya yang sangat lemah, (5) Sebanyak 42% pekerjaan telah digantikan oleh robot, dan pada tahun 2045 (satu abad Indonesia merdeka atau Indonesia Emas) sebanyak 50% pekerjaan sudah dilakukan oleh robot.

Lembaga pendidikan disinyalir institusi yang sangat lambat dan kurang inovatif merespons terpaan disrupsi ini. Inilah tren harus kita akui, sadari dan menuntut kesadaran kolektif adaptif kita jika tetap ingin bertahan hidup, apa yang kita pelajari di perguruan tinggi hanya sebatas starting point dari karir kita.

Baca Juga :  Zakat sebagai Distribusi Kekayaan

Sehubugan dengan itu, paradigma baru dosen adalah dosen penggerak (perubahan paradigma dosen, dari dosen menggurui dan memberi ceramah menjadi dosen penggerak) dengan karakteristik antara lain: (1) Dosen memfasilitasi mahasiswa, bukan dosen yang hanya memberi ceramah, dosen harus lebih banyak belajar dan menanyakan pertanyaan dari pada dia memberikan ceramah mengenai ilmunya, (2) Ketika dosen melihat mahasiswanya memiliki kapabilitas melampaui dirinya, maka ia harus merasa bangga bukan merasa terancam, (3) Memberi ilmu baru secara otomatis dan akan mencari orang-orang lain yang akan meningkatkan pembelajaran kelasnya, (4) Mengerjakan bermacam proyek di luar, melibatkan mahasiswanya agar mendapat pengalaman yang berbeda.

Jonathan Back seorang ahli sejarah mengatakan hal yag sama, “Buatlah perubahan sekalipun kau tidak punya apa-apa, nanti orang lain yang akan menyempurnakannya”. Apa-apa saja yang kita lihat “besar” hari ini, semua berawal dari hal-hal kecil yang dilakukan oleh mereka pendahulu kita.

Jika diantara kita ada yang terkejut atau shock mendengar ide-ide segar dan inspiratif dari Nadiem Anwar Makarim, bukan karena hebatnya ide-ide yang dia sampaikan, melainkan lebih disebabkan oleh “Kesalahan Berpikir” kita, kita hidup di abad 21, namun cara berpikir kita masih abad ke-18. Semestinya cara berpikr kita sesuai slogan “Future is Now” or “Tomorrow is Today”.

Peter F. Drucker seorang bapak manajemen modern menguatkan asumsi tersebut, dia mengatakan, “Turbulence terjadi bukanlah disebabkan karena banyaknya para pengacau dan perusuh, melainkan disebabkan oleh kesalahan berpikir”, misalnya menyelesaikan pekerjaan hari ini dengan cara berpikir kemarin.”

Melahirkan pendidik sebagai penggerak perubahan dapat diwujudkan melalui efektivitas manajemen personalia yang sistematis, sistemik, dan simultan, yaitu mensinergikan beberapa dimensi berikut ini: (1) Analisis kebutuhan, (2) Penyediaan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yang bermutu, (3) Rekruitmen dan seleksi, (4) Penempatan dan distribusi, (5) Evaluasi kinerja, (6) Pengembangan keprofesian berkelanjutan, dan (7) Pengawasan etika profesi.

*) Penulis, Dosen FKIP Untan

 

Oleh: Aswandi

PENDIDIK pada opini ini adalah guru di sekolah dan dosen di perguruan tinggi. Fakta hari ini, kita hidup di era disruptif bercirikan: speed yakni bergerak cepat, surprises, yakni banyak kejutan, dan sudden shift, yakni pergeseran tiba-tiba, orang lain menyebutnya era industri 4.0 atau “cyber physical system” bercirikan: internet of thing, big data dan artificial intelligence.

Fakta tersebut mengharuskan terjadinya perubahan pola pikiran, perasaan dan tindakan atau kehidupan kita. Penulis kutip beberapa pernyataan pakar manajemen perubahan mengenai asumsi tersebut di atas.

Iqbal seorang pujangga Islam puluhan tahun yang lalu melalui sebait puisi ia mengingatkan, “Berhenti, tiada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak, mereka yang maju ke depan. Mereka yang berhenti sejenak sekalipun pasti tergilas”.

John Maynard Keynes seorang economist menegaskan, “Ketika fakta berubah, pikiran harus berubah”. John Kotter seorang pakar perubahan menambahkan, selain pikiran, perasaan harus berubah. Rhenald Kazali (2018) dalam bukunya “The Great Shifting” menegaskan bahwa “Ketika platform berubah, kehidupan dan bisnispun berubah”. Di buku lain berjudul “Change”, Rhenald Kazali (2005) mengatakan “Tak peduli berapa jauh jalan salah yang Anda jalani, putar arah sekarang juga”.

Memperhatikan fakta perubahan di atas, The World Economy Forum mengambil tindakan cepat, antara lain merumuskan tiga kemampuan dasar sumber daya manusia, yakni memiliki: (1) literasi dasar, meliputi: membaca (literacy), numeracy, scientific, information communication technology (ICT), finansial, cultural and civic; (2) kompetensi, meliputi: critical thinking/problem solving, creativity, communication, and collaboration; dan (3) kualitas karakter, meliputi: ingin tahu (curiosity), initiative, tekun (persistence), adaptabiliy, leadership, social and cultural awareness.

Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Peringatan Hari Guru Nasional 2019 dan sambutan pada pelantikan Rektor UI beberapa waktu lalu terkait erat (respons) terhadap fenomena dunia di era disruptif dan di era industri sebagaimana penulis jelaskan di atas.

Kepada guru Indonesia ia mengingatkan bahwa, “Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh ketidaknyamanan. Perubahan tidak dapat dimulai dari atas, semua berawal dari berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama. Dimanapun Anda berada, lakukan perubahan kecil mulai dari kelas Anda. Apapun perubahan kecil itu, jika satu guru di setiap sekolah, apalagi semua guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak.”

Baca Juga :  Puasa Membentuk Karakter Sosial

Guru penggerak adalah guru yang mengutamakan muridnya dari hal lain, bahkan dari karir dirinya sendiri. Maksudnya, Jadilah guru penggerak perubahan sebagai sebuah gerakan.

Pada pelantikan Rektor UI, dia mengatakan bahwa pendidikan kita berada di era disruptif, antara lain ditandai: (1) Gelar tidak lagi menjadi ukuran kompetensi; (2) Lulusan tidak menjamin kemampuan berkarya, program studi tidak ada korelasinya dengan karier lulusan. Penulis tambahkan orang kaya di dunia ini tidak sekolah; (3) Akreditasi tidak menjadi jaminan mutu pendidikan; (4) Kehadiran di ruang kelas tidak menjamin telah terjadi proses pembelajaran efektif; (5) Setiap jam mahasiswa berada di dalam kampus harus relevan dengan masa depannya.

Penulis tambahkan, Clayton Christensen selaku pakar disrupsi mengatakan: (1) Sebanyak 50% perguruan tinggi di Amerika Serikat dalam 10-15 tahun ke depan bangkrut. Saat ini sudah banyak perguruan tinggi tutup; (2) Sebanyak 65% siswa saat ini bakal mendapat pekerjaan dimana pekerjaan untuk mereka belum ada, sementara ribuan pekerjaan yang ada menghilang setiap tahunnya. Nasehat orang tua kepada anaknya, nasehat guru dan dosen kepada muridnya untuk memilih jurusan atau program studi yang memiliki peluang kerja lebih besar sudah tidak relevan lagi, sementara motivasi kuliah pada umumnya adalah setelah lulus cepat memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang layak. (3) Dunia usaha dan dunia industri tidak lagi mempersyaratkan ijazah dalam penerimaan (rekrutmen) pegawainya. Fakta lain, mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi pencipta lapangan kerja (startup) lebih dihargai dan dihormati ketimbang lulusan peroleh Indek Prestasi Komulatif (IPK) pujian; (4) CEO dunia usaha dan dunia industri mengeluhkan bukan karena ketidakmampuan teknik karyawannya karena kemampuan teknik telah digantikan oleh IT dan robot, melainkan mengeluh karena kualitas kompetensi karyawannya yang sangat rendah dan kualitas karakter karyawannya yang sangat lemah, (5) Sebanyak 42% pekerjaan telah digantikan oleh robot, dan pada tahun 2045 (satu abad Indonesia merdeka atau Indonesia Emas) sebanyak 50% pekerjaan sudah dilakukan oleh robot.

Lembaga pendidikan disinyalir institusi yang sangat lambat dan kurang inovatif merespons terpaan disrupsi ini. Inilah tren harus kita akui, sadari dan menuntut kesadaran kolektif adaptif kita jika tetap ingin bertahan hidup, apa yang kita pelajari di perguruan tinggi hanya sebatas starting point dari karir kita.

Baca Juga :  Pendidikan Politik Meningkatkan Kualitas Pemilu

Sehubugan dengan itu, paradigma baru dosen adalah dosen penggerak (perubahan paradigma dosen, dari dosen menggurui dan memberi ceramah menjadi dosen penggerak) dengan karakteristik antara lain: (1) Dosen memfasilitasi mahasiswa, bukan dosen yang hanya memberi ceramah, dosen harus lebih banyak belajar dan menanyakan pertanyaan dari pada dia memberikan ceramah mengenai ilmunya, (2) Ketika dosen melihat mahasiswanya memiliki kapabilitas melampaui dirinya, maka ia harus merasa bangga bukan merasa terancam, (3) Memberi ilmu baru secara otomatis dan akan mencari orang-orang lain yang akan meningkatkan pembelajaran kelasnya, (4) Mengerjakan bermacam proyek di luar, melibatkan mahasiswanya agar mendapat pengalaman yang berbeda.

Jonathan Back seorang ahli sejarah mengatakan hal yag sama, “Buatlah perubahan sekalipun kau tidak punya apa-apa, nanti orang lain yang akan menyempurnakannya”. Apa-apa saja yang kita lihat “besar” hari ini, semua berawal dari hal-hal kecil yang dilakukan oleh mereka pendahulu kita.

Jika diantara kita ada yang terkejut atau shock mendengar ide-ide segar dan inspiratif dari Nadiem Anwar Makarim, bukan karena hebatnya ide-ide yang dia sampaikan, melainkan lebih disebabkan oleh “Kesalahan Berpikir” kita, kita hidup di abad 21, namun cara berpikir kita masih abad ke-18. Semestinya cara berpikr kita sesuai slogan “Future is Now” or “Tomorrow is Today”.

Peter F. Drucker seorang bapak manajemen modern menguatkan asumsi tersebut, dia mengatakan, “Turbulence terjadi bukanlah disebabkan karena banyaknya para pengacau dan perusuh, melainkan disebabkan oleh kesalahan berpikir”, misalnya menyelesaikan pekerjaan hari ini dengan cara berpikir kemarin.”

Melahirkan pendidik sebagai penggerak perubahan dapat diwujudkan melalui efektivitas manajemen personalia yang sistematis, sistemik, dan simultan, yaitu mensinergikan beberapa dimensi berikut ini: (1) Analisis kebutuhan, (2) Penyediaan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yang bermutu, (3) Rekruitmen dan seleksi, (4) Penempatan dan distribusi, (5) Evaluasi kinerja, (6) Pengembangan keprofesian berkelanjutan, dan (7) Pengawasan etika profesi.

*) Penulis, Dosen FKIP Untan

 

Most Read

Artikel Terbaru

/