alexametrics
30 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Pengembangan Diri untuk Mengawal Bonus Demografi

Oleh: Wahyu Saefudin*

Bonus demografi terjadi ketika menurunnya rasio ketergantungan. Artinya penduduk usia produktif mempunyai proporsi yang lebih besar ketimbang penduduk bukan usia kerja. Penduduk usia kerja berada pada kisaran umur 15-65 tahun, sedangkan penduduk bukan usia kerja berada pada rentang umur 0-14 tahun dan lebih besar dari 65 tahun.

Bonus demografi yang dialami bangsa Indonesia saat ini, tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan Keluarga Berencana (KB) yang dilakukan pada tahun 1970-an. Kebijakan KB berhasil menurunkan angka kematian dan kelahiran serta meningkatkan kualitas kesehatan. Sehingga sejak itu Indonesia mengalami transisi demografi. Yakni kondisi dimana proporsi anak-anak usia 15 tahun ke bawah terjadinya penurunan yang signifikan, diiringi peningkatan penduduk usia kerja dan peningkatan perlahan penduduk lanjut usia.

Pada tahun 2030 diproyeksikan menjadi puncak bonus demografi yang dialami bangsa Indonesia. Dimana total penduduk dengan usia produktif mencapai 68,1% sedangkan angka rasio ketergantungan sebesar 46,9%. Sementara itu, saat ini Indonesia juga masih berada dalam kondisi bonus demografi. Dari hasil sensus penduduk yang dilakukan pada September 2020, tercatat 70,72% penduduk berada pada usia produktif. Jumlah penduduk Indonesia sendiri tercatat 270,20 juta jiwa.

Sudah selayaknya kita bersyukur karena sedang memasuki bonus demografi. Tidak bisa tidak, kondisi ini yang oleh para ahli disebut windows of opportunity (jendela peluang) ini bisa mengerek kondisi perekonomian yang sedang menghadapi masa sulit. Selain itu, akan hadir generasi baru yang lebih kreatif, serta yang lebih penting menjadi modal bangsa karena memiliki SDM unggul. Hanya saja, kondisi ini juga harus diimbangi dengan produktivitas penduduk usia kerja.

Dengan adanya produktivitas kerja, maka angkatan muda akan mendapatkan penghasilan yang lebih baik, tabungan yang lebih besar, serta investasi yang berkembang pesat. Kondisi ini akan turut meningkatkan kesejahteraan mereka. Meningkatnya kesejahteraan keluarga akan berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Baca Juga :  Bawang Putih Terkena Dampak Virus Corona

United Nations Population Fund (UNFPA), sebuah lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mempunyai fokus dalam meningkatkan kewaspadaan dan mengelola dukungan serta sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai millennium development goals. Menyatakan bahwa terdapat empat syarat yang harus dipenuhi agar suatu negara dapat menikmati bonus demografi, di antaranya kesehatan yang baik, pendidikan yang berkualitas, pekerjaan yang layak, dan kemandirian anak muda.

Komposisi Penduduk

Pada tahun 2020 pemerintah melalui Badan Pusat Statistik melakukan sensus penduduk. Hasil dari sensus tersebut dipublikasikan secara resmi melalui Berita Resmi Statistik dengan Nomor 07/01/Th. XXIV, tanggal 21 Januari 2021. Dari sensus pendudukan yang dilakukan, dapat diketahui bagaimana komposisi penduduk Indonesia secara keseluruhan, termasuk sebaran penduduk Indonesia berdasarkan wilayah. Sebaran penduduk di Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, dengan jumlah penduduk sebesar 56,10% atau sejumlah 151,59 juta jiwa. Sedangkan Pulau Sumatera menduduki posisi 2 dengan 21,68% penduduk.

Terkait komposisi penduduk, penduduk dengan usia 8-23 tahun atau yang lebih dikenal sebagai Generasi Z mendominasi jumlah penduduk yang ada dengan besaran 27,94%. Generasi Z merupakan penduduk yang lahir pada rentang tahun 1997-2012. Posisi kedua, dengan jumlah penduduk terbanyak merupakan Milenial. Penduduk dengan kategori Milenial mempunyai rentang usia 24-39 tahun. Milenial lahir pada rentang tahun 1981-1996.

Pada posisi ketiga dan keempat secara berurutan adalah Generasi X dan Baby Boomer. Generasi X mempunyai prosentase sebesar 21.88% sedangkan Baby Boomer sebanyak 11,56%. Rentang usia Generasi X adalah 40-55 tahun dan Baby Boomer 56-74 tahun.

Jika melihat komposisi ini Generasi X dan Milenial berjumlah lebih dari 50% dari total penduduk di Indonesia. Artinya, optimalisasi sumber daya manusia sebagai investasi jangka panjang sangat penting dilakukan. Berbagai upaya juga telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia ini. Yang paling terlihat adalah dari besaran porsi APBN yang dianggarkan untuk pendidikan dan kesehatan yang masing-masing sebesar 20%.

Baca Juga :  Manfaat Jantung Bebek Olahan Kaya Gizi

Pengembangan Diri

Pengembangan diri dalam konteks psikologi adalah pengembangan potensi-potensi yang berkelanjutan dan dioptimalkan secara efektif. Tujuan pengembangan diri adalah membentuk kepribadian yang sehat dan ideal.

Kepribadian yang sehat juga bermakna luas, tiap-tiap pakar psikologi mempunyai definisinya tersendiri. Sebagai contoh Jung, menggunakan istilah terindividuasi, Allport menggunakan istilah matang, Rogers menggunakan istilah berfungsi seutuhnya, Fromm dengan konsep produktif, maupun Maslow dengan pribadi yang mengaktualisasikan diri.

Semua pendapat dari para ahli mempunyai definisi yang berbeda, meskipun masih dalam cakupan yang sama. Pengembangan diri selalu bermakna positif. Pengembangan diri sebenarnya meliputi beragam aspek dalam kehidupan seorang individu. Sebut saja peningkatan kesadaran dan identitas diri. Di sisi lain juga mengembangkan bakat dan potensi. Termasuk di dalamnya adalah meningkatkan sumber daya manusia dan memfasilitasi kinerja.

Maka dari itu, jika melihat komposisi penduduk Generasi Z, dan Generasi Milenial pengembangan diri mutlak dibutuhkan. Bukan berarti penduduk generasi X tidak perlu melakukan pengembangan diri. Generasi Z pada umumnya masih berada pada jenjang pendidikan, baik itu SD, SMP, SMA, maupun Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, kesempatan generasi ini untuk bisa mengakses berbagai pengetahuan lebih diuntungkan dibanding generasi lainnya. Sementara itu, Generasi Milenial saat ini sudah memasuki dunia kerja, di mana mereka sedang berada pada level terbawah dari sebuah organisasi. Apabila ditopang dengan pengembangan diri yang bagus dalam berbagai hal akan menguntungkan generasi ini untuk berkarir secara maksimal.

Terlebih, dua generasi ini nantinya akan menentukan arah kebijakan bangsa Indonesia ke depannya. Tentunya, kesadaran untuk terus belajar dan berbagi harus terus dipupuk sejak dini. Sehingga bonus demografi dapat dijadikan sebagai loncatan Indonesia untuk bisa sejajar dengan Negara maju lainnya.

*Penulis adalah penulis Buku Psikologi Pemasyarakatan/Founder Kemenkumham Muda.

Oleh: Wahyu Saefudin*

Bonus demografi terjadi ketika menurunnya rasio ketergantungan. Artinya penduduk usia produktif mempunyai proporsi yang lebih besar ketimbang penduduk bukan usia kerja. Penduduk usia kerja berada pada kisaran umur 15-65 tahun, sedangkan penduduk bukan usia kerja berada pada rentang umur 0-14 tahun dan lebih besar dari 65 tahun.

Bonus demografi yang dialami bangsa Indonesia saat ini, tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan Keluarga Berencana (KB) yang dilakukan pada tahun 1970-an. Kebijakan KB berhasil menurunkan angka kematian dan kelahiran serta meningkatkan kualitas kesehatan. Sehingga sejak itu Indonesia mengalami transisi demografi. Yakni kondisi dimana proporsi anak-anak usia 15 tahun ke bawah terjadinya penurunan yang signifikan, diiringi peningkatan penduduk usia kerja dan peningkatan perlahan penduduk lanjut usia.

Pada tahun 2030 diproyeksikan menjadi puncak bonus demografi yang dialami bangsa Indonesia. Dimana total penduduk dengan usia produktif mencapai 68,1% sedangkan angka rasio ketergantungan sebesar 46,9%. Sementara itu, saat ini Indonesia juga masih berada dalam kondisi bonus demografi. Dari hasil sensus penduduk yang dilakukan pada September 2020, tercatat 70,72% penduduk berada pada usia produktif. Jumlah penduduk Indonesia sendiri tercatat 270,20 juta jiwa.

Sudah selayaknya kita bersyukur karena sedang memasuki bonus demografi. Tidak bisa tidak, kondisi ini yang oleh para ahli disebut windows of opportunity (jendela peluang) ini bisa mengerek kondisi perekonomian yang sedang menghadapi masa sulit. Selain itu, akan hadir generasi baru yang lebih kreatif, serta yang lebih penting menjadi modal bangsa karena memiliki SDM unggul. Hanya saja, kondisi ini juga harus diimbangi dengan produktivitas penduduk usia kerja.

Dengan adanya produktivitas kerja, maka angkatan muda akan mendapatkan penghasilan yang lebih baik, tabungan yang lebih besar, serta investasi yang berkembang pesat. Kondisi ini akan turut meningkatkan kesejahteraan mereka. Meningkatnya kesejahteraan keluarga akan berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Baca Juga :  Poligami dan Kekerasan dalam Rumah Tangga

United Nations Population Fund (UNFPA), sebuah lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mempunyai fokus dalam meningkatkan kewaspadaan dan mengelola dukungan serta sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai millennium development goals. Menyatakan bahwa terdapat empat syarat yang harus dipenuhi agar suatu negara dapat menikmati bonus demografi, di antaranya kesehatan yang baik, pendidikan yang berkualitas, pekerjaan yang layak, dan kemandirian anak muda.

Komposisi Penduduk

Pada tahun 2020 pemerintah melalui Badan Pusat Statistik melakukan sensus penduduk. Hasil dari sensus tersebut dipublikasikan secara resmi melalui Berita Resmi Statistik dengan Nomor 07/01/Th. XXIV, tanggal 21 Januari 2021. Dari sensus pendudukan yang dilakukan, dapat diketahui bagaimana komposisi penduduk Indonesia secara keseluruhan, termasuk sebaran penduduk Indonesia berdasarkan wilayah. Sebaran penduduk di Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, dengan jumlah penduduk sebesar 56,10% atau sejumlah 151,59 juta jiwa. Sedangkan Pulau Sumatera menduduki posisi 2 dengan 21,68% penduduk.

Terkait komposisi penduduk, penduduk dengan usia 8-23 tahun atau yang lebih dikenal sebagai Generasi Z mendominasi jumlah penduduk yang ada dengan besaran 27,94%. Generasi Z merupakan penduduk yang lahir pada rentang tahun 1997-2012. Posisi kedua, dengan jumlah penduduk terbanyak merupakan Milenial. Penduduk dengan kategori Milenial mempunyai rentang usia 24-39 tahun. Milenial lahir pada rentang tahun 1981-1996.

Pada posisi ketiga dan keempat secara berurutan adalah Generasi X dan Baby Boomer. Generasi X mempunyai prosentase sebesar 21.88% sedangkan Baby Boomer sebanyak 11,56%. Rentang usia Generasi X adalah 40-55 tahun dan Baby Boomer 56-74 tahun.

Jika melihat komposisi ini Generasi X dan Milenial berjumlah lebih dari 50% dari total penduduk di Indonesia. Artinya, optimalisasi sumber daya manusia sebagai investasi jangka panjang sangat penting dilakukan. Berbagai upaya juga telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia ini. Yang paling terlihat adalah dari besaran porsi APBN yang dianggarkan untuk pendidikan dan kesehatan yang masing-masing sebesar 20%.

Baca Juga :  Kudeta Myanmar: Krisis Demokrasi?

Pengembangan Diri

Pengembangan diri dalam konteks psikologi adalah pengembangan potensi-potensi yang berkelanjutan dan dioptimalkan secara efektif. Tujuan pengembangan diri adalah membentuk kepribadian yang sehat dan ideal.

Kepribadian yang sehat juga bermakna luas, tiap-tiap pakar psikologi mempunyai definisinya tersendiri. Sebagai contoh Jung, menggunakan istilah terindividuasi, Allport menggunakan istilah matang, Rogers menggunakan istilah berfungsi seutuhnya, Fromm dengan konsep produktif, maupun Maslow dengan pribadi yang mengaktualisasikan diri.

Semua pendapat dari para ahli mempunyai definisi yang berbeda, meskipun masih dalam cakupan yang sama. Pengembangan diri selalu bermakna positif. Pengembangan diri sebenarnya meliputi beragam aspek dalam kehidupan seorang individu. Sebut saja peningkatan kesadaran dan identitas diri. Di sisi lain juga mengembangkan bakat dan potensi. Termasuk di dalamnya adalah meningkatkan sumber daya manusia dan memfasilitasi kinerja.

Maka dari itu, jika melihat komposisi penduduk Generasi Z, dan Generasi Milenial pengembangan diri mutlak dibutuhkan. Bukan berarti penduduk generasi X tidak perlu melakukan pengembangan diri. Generasi Z pada umumnya masih berada pada jenjang pendidikan, baik itu SD, SMP, SMA, maupun Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, kesempatan generasi ini untuk bisa mengakses berbagai pengetahuan lebih diuntungkan dibanding generasi lainnya. Sementara itu, Generasi Milenial saat ini sudah memasuki dunia kerja, di mana mereka sedang berada pada level terbawah dari sebuah organisasi. Apabila ditopang dengan pengembangan diri yang bagus dalam berbagai hal akan menguntungkan generasi ini untuk berkarir secara maksimal.

Terlebih, dua generasi ini nantinya akan menentukan arah kebijakan bangsa Indonesia ke depannya. Tentunya, kesadaran untuk terus belajar dan berbagi harus terus dipupuk sejak dini. Sehingga bonus demografi dapat dijadikan sebagai loncatan Indonesia untuk bisa sejajar dengan Negara maju lainnya.

*Penulis adalah penulis Buku Psikologi Pemasyarakatan/Founder Kemenkumham Muda.

Most Read

Artikel Terbaru

/