alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, July 2, 2022

“Lampu Kuning” Pesantren

Oleh: Syamsul Kurniawan*

SEBUAH berita di media online merupakan “lampu kuning” bagi pesantren yang hendak memanggil kembali santri-santrinya belajar secara normal di pesantren. Bukan tidak mungkin, pesantren-pesantren akan menjadi episentrum baru di tengah pandemi ini. Satgas Covid-19 Ponorogo baru-baru ini misalnya mengumumkan tambahan 10 pasien positif terpapar covid-19. Enam di antaranya santri dari sebuah pondok pesantren modern Darussalam Gontor 2.

Secara historis, sebagai lembaga pendidikan Islam khas Indonesia, pesantren telah melalui perjalanan yang panjang di negeri ini. Pesantren dapat dikatakan telah berkiprah secara signifikan pada zaman-zaman yang dilaluinya, baik sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan ajaran Islam, sebagai lembaga dakwah, maupun sebagai lembaga pemberdayaan dan pengabdian masyarakat. Hal ini sesuai dengan esensi pesantren sebagai tempat orang berkumpul untuk belajar, yang mana melekat padanya ciri khas unsur-unsur pondok (sebagai asramanya), kiyai (sebagai sentral figurenya), masjid (titik pusat yang menjiwainya), dan kitab kuning (sumber belajarnya). Saking mapannya, sehingga sejumlah penulis mengasumsikan, mustahil disebut pesantren ketika salah satu dari unsur-unsur ini tidak ada (Dhofier, 1985; Hasyim, 1998; Hasbullah, 1999).

Namun, di sini pula letak permasalahannya ketika unsur-unsur ini tidak lentur dimaknai. Kenormalan baru sebagaimana yang dikehendaki negara, menjadi problematis jika ditafsirkan oleh pesantren sebagai sebuah keadaan “normal”. Jelas saat ini, kondisi kita di tengah pandemi, belumlah normal. Jumlah orang yang terinfeksi covid-19 secara statistik trennya bukan menurun, tetapi menanjak.

Mengapa sejumlah pesantren bersikeras mempertahankan sistem klasikalnya? Mengapa pendidikan tidak diselenggarakan secara daring saja? Tidakkah itu jauh lebih aman dan berisiko rendah di tengah pandemi covid-19 ini? Pertanyaan-pertanyaan ini, sesungguhnya bisa kita pahami dari perspektif fungsionalisme struktural Talcott Parsons (1968) dan Robert K. Merton (1938, 1968).

Sebagai sebuah sistem pendidikan yang mapan, pesantren memang telah lama mencakup prasyarat-prasyarat fungsional dari sebuah sistem. Pesantren dengan sistem klasikalnya telah melalui proses panjang dari apa yang oleh Parsons sebut dengan A-G-I-L (adaptation, goal-attainment, integration, dan latency). Tetapi meskipun sulit, bukan berarti mustahil terjadi perubahan sosial di tengah-tengah pesantren. Inovasi menurut Merton merupakan salah satu  cara yang memungkinkan.

Baca Juga :  Rahasia Cepat Membaca Ayat Alquran

Pandemi covid-19 saat ini, hemat saya sesungguhnya bisa mempercepat proses perubahan dalam sistem yang telah dibangun oleh pesantren sejak lama. Saat ini misalnya, sulit menggaransi santri-santri pesantren yang kembali mondok, tidak tertular covid-19 (beberapa contoh kasus telah saya ungkap di muka). Hal ini karena, ketika santri-santri kembali mondok tentu bukan perkara mudah mengatur physical distancing di antara mereka yang jumlahnya banyak itu. Sulit pula membayangkan santri-santri yang banyak itu berkumpul belajar tanpa prosedur protokol kesehatan yang ketat.

Jika pesantren ingin kembali menyelenggarakan pendidikan di tengah pandemi ini. Saya kira solusinya adalah dengan cara dalam jaringan (daring) atau sistem online. Namun, di sini pula tantangannya, karena jelas tidak semua pesantren setuju ketika proses belajar santri-santri mereka bergeser di rumah santri masing-masing (study from home). Hal ini membuat pesantren akan kehilangan ciri khasnya sebagai lembaga pendidikan yang mana pondok (sebagai asramanya), kiyai (sebagai sentral figurenya), dan masjid (titik pusat yang menjiwainya).

Dibutuhkan keberanian keluar dari zona nyaman. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren harusnya responsif dengan perubahan sosial. Kaitan dengan ini, pesantren semestinya berani keluar dari zona nyaman mereka, yang bertahan di empat unsur pesantren yang telah mapan itu. Di tengah pandemi covid-19 ini misalnya, jelas tantangan pesantren adalah bagaimana hak-hak santri dalam belajar bisa tetap diberikan, sementara hak-hak santri untuk sehat dan selamat dari covid-19 juga mereka dapat.

Maka menurut saya, pesantren yang merasa bertanggung jawab terhadap keberlangsungan pendidikan santri-santri mereka, mesti siap pula menggeser tempat belajar pesantren; dari pondok (sebagai unsur mapan dari sebuah pesantren) ke rumah masing-masing santri (study from home). Kecanggihan media baru (new media) dewasa ini hemat saya akan memuluskan kemungkinan tersebut.

Baca Juga :  Ketika Jalan Berubah Menjadi Parit

Saya kira justru kemunculan pandemi yang memiliki dampak luar biasa pada sistem pendidikan yang ada di negara ini, menjadi momentum bagus untuk mempercepat proses adaptasi lembaga-lembaga pendidikan dengan model pendidikan daring. Apalagi model pendidikan daring ke depannya saya kira akan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sebagai konsekuensi zaman. Meminjam istilah bapak Presiden Jokowi, model pendidikan daring ini sebagai kenormalan baru dunia pendidikan di Indonesia.

Maka di tengah pandemi ini, pesantren saya kira tidak harus kehilangan peran dan fungsinya sebagai sentra pencerdasan santri-santrinya, baik spiritual (SQ), intelektual (IQ), dan emosional (EQ). Pihak pesantren hanya perlu memperluas jangkauan lingkungan belajar santri-santri.

Betul, bahwa sebelumnya (di masa normal) pesantren banyak mengandalkan “pondok” sebagai lingkungan sosial yang dirancang untuk kepentingan pendidikan dan belajar. Sehingga segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan dan dialami para santri, atau seluruh penghuni pesantren di lingkungan pondok, terkondisikan untuk kepentingan pencapaian tujuan pendidikan. Tetapi, kondisi pandemi covid-19 yang entah kapan berakhir.  Harusnya membuat pihak pesantren legowo untuk menyelenggarakan pendidikan secara daring.

Mungkinkah? Saya jawab mungkin. Yang perlu dilakukan pihak pesantren sekarang adalah membuat blueprint tentang study from home bagi santri-santri mereka. Blue print ini jangan dibuat asal-asalan. Karena seperti kita tidak pernah bisa meramalkan kapan berakhirnya pandemi covid-19, kita juga tidak pernah tahu kapan pandemi-pandemi lain datang bertamu di tengah-tengah kita. Blue print yang sama, bukan tidak mungkin akan bermanfaat bagi masa depan pesantren.***

Penulis adalah Dosen FTIK IAIN Pontianak.

 

Oleh: Syamsul Kurniawan*

SEBUAH berita di media online merupakan “lampu kuning” bagi pesantren yang hendak memanggil kembali santri-santrinya belajar secara normal di pesantren. Bukan tidak mungkin, pesantren-pesantren akan menjadi episentrum baru di tengah pandemi ini. Satgas Covid-19 Ponorogo baru-baru ini misalnya mengumumkan tambahan 10 pasien positif terpapar covid-19. Enam di antaranya santri dari sebuah pondok pesantren modern Darussalam Gontor 2.

Secara historis, sebagai lembaga pendidikan Islam khas Indonesia, pesantren telah melalui perjalanan yang panjang di negeri ini. Pesantren dapat dikatakan telah berkiprah secara signifikan pada zaman-zaman yang dilaluinya, baik sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan ajaran Islam, sebagai lembaga dakwah, maupun sebagai lembaga pemberdayaan dan pengabdian masyarakat. Hal ini sesuai dengan esensi pesantren sebagai tempat orang berkumpul untuk belajar, yang mana melekat padanya ciri khas unsur-unsur pondok (sebagai asramanya), kiyai (sebagai sentral figurenya), masjid (titik pusat yang menjiwainya), dan kitab kuning (sumber belajarnya). Saking mapannya, sehingga sejumlah penulis mengasumsikan, mustahil disebut pesantren ketika salah satu dari unsur-unsur ini tidak ada (Dhofier, 1985; Hasyim, 1998; Hasbullah, 1999).

Namun, di sini pula letak permasalahannya ketika unsur-unsur ini tidak lentur dimaknai. Kenormalan baru sebagaimana yang dikehendaki negara, menjadi problematis jika ditafsirkan oleh pesantren sebagai sebuah keadaan “normal”. Jelas saat ini, kondisi kita di tengah pandemi, belumlah normal. Jumlah orang yang terinfeksi covid-19 secara statistik trennya bukan menurun, tetapi menanjak.

Mengapa sejumlah pesantren bersikeras mempertahankan sistem klasikalnya? Mengapa pendidikan tidak diselenggarakan secara daring saja? Tidakkah itu jauh lebih aman dan berisiko rendah di tengah pandemi covid-19 ini? Pertanyaan-pertanyaan ini, sesungguhnya bisa kita pahami dari perspektif fungsionalisme struktural Talcott Parsons (1968) dan Robert K. Merton (1938, 1968).

Sebagai sebuah sistem pendidikan yang mapan, pesantren memang telah lama mencakup prasyarat-prasyarat fungsional dari sebuah sistem. Pesantren dengan sistem klasikalnya telah melalui proses panjang dari apa yang oleh Parsons sebut dengan A-G-I-L (adaptation, goal-attainment, integration, dan latency). Tetapi meskipun sulit, bukan berarti mustahil terjadi perubahan sosial di tengah-tengah pesantren. Inovasi menurut Merton merupakan salah satu  cara yang memungkinkan.

Baca Juga :  Citizen Science Cagar Alam Laut Kepulauan Karimata

Pandemi covid-19 saat ini, hemat saya sesungguhnya bisa mempercepat proses perubahan dalam sistem yang telah dibangun oleh pesantren sejak lama. Saat ini misalnya, sulit menggaransi santri-santri pesantren yang kembali mondok, tidak tertular covid-19 (beberapa contoh kasus telah saya ungkap di muka). Hal ini karena, ketika santri-santri kembali mondok tentu bukan perkara mudah mengatur physical distancing di antara mereka yang jumlahnya banyak itu. Sulit pula membayangkan santri-santri yang banyak itu berkumpul belajar tanpa prosedur protokol kesehatan yang ketat.

Jika pesantren ingin kembali menyelenggarakan pendidikan di tengah pandemi ini. Saya kira solusinya adalah dengan cara dalam jaringan (daring) atau sistem online. Namun, di sini pula tantangannya, karena jelas tidak semua pesantren setuju ketika proses belajar santri-santri mereka bergeser di rumah santri masing-masing (study from home). Hal ini membuat pesantren akan kehilangan ciri khasnya sebagai lembaga pendidikan yang mana pondok (sebagai asramanya), kiyai (sebagai sentral figurenya), dan masjid (titik pusat yang menjiwainya).

Dibutuhkan keberanian keluar dari zona nyaman. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren harusnya responsif dengan perubahan sosial. Kaitan dengan ini, pesantren semestinya berani keluar dari zona nyaman mereka, yang bertahan di empat unsur pesantren yang telah mapan itu. Di tengah pandemi covid-19 ini misalnya, jelas tantangan pesantren adalah bagaimana hak-hak santri dalam belajar bisa tetap diberikan, sementara hak-hak santri untuk sehat dan selamat dari covid-19 juga mereka dapat.

Maka menurut saya, pesantren yang merasa bertanggung jawab terhadap keberlangsungan pendidikan santri-santri mereka, mesti siap pula menggeser tempat belajar pesantren; dari pondok (sebagai unsur mapan dari sebuah pesantren) ke rumah masing-masing santri (study from home). Kecanggihan media baru (new media) dewasa ini hemat saya akan memuluskan kemungkinan tersebut.

Baca Juga :  Ushul dan Hikmah Jamarat

Saya kira justru kemunculan pandemi yang memiliki dampak luar biasa pada sistem pendidikan yang ada di negara ini, menjadi momentum bagus untuk mempercepat proses adaptasi lembaga-lembaga pendidikan dengan model pendidikan daring. Apalagi model pendidikan daring ke depannya saya kira akan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sebagai konsekuensi zaman. Meminjam istilah bapak Presiden Jokowi, model pendidikan daring ini sebagai kenormalan baru dunia pendidikan di Indonesia.

Maka di tengah pandemi ini, pesantren saya kira tidak harus kehilangan peran dan fungsinya sebagai sentra pencerdasan santri-santrinya, baik spiritual (SQ), intelektual (IQ), dan emosional (EQ). Pihak pesantren hanya perlu memperluas jangkauan lingkungan belajar santri-santri.

Betul, bahwa sebelumnya (di masa normal) pesantren banyak mengandalkan “pondok” sebagai lingkungan sosial yang dirancang untuk kepentingan pendidikan dan belajar. Sehingga segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan dan dialami para santri, atau seluruh penghuni pesantren di lingkungan pondok, terkondisikan untuk kepentingan pencapaian tujuan pendidikan. Tetapi, kondisi pandemi covid-19 yang entah kapan berakhir.  Harusnya membuat pihak pesantren legowo untuk menyelenggarakan pendidikan secara daring.

Mungkinkah? Saya jawab mungkin. Yang perlu dilakukan pihak pesantren sekarang adalah membuat blueprint tentang study from home bagi santri-santri mereka. Blue print ini jangan dibuat asal-asalan. Karena seperti kita tidak pernah bisa meramalkan kapan berakhirnya pandemi covid-19, kita juga tidak pernah tahu kapan pandemi-pandemi lain datang bertamu di tengah-tengah kita. Blue print yang sama, bukan tidak mungkin akan bermanfaat bagi masa depan pesantren.***

Penulis adalah Dosen FTIK IAIN Pontianak.

 

Most Read

Manulife Peduli Kesehatan Nasabah

Anggaran Berbasis Ekologi

DAK Fisik Singkawang Tersalur 75%

Hadapi Dua Tim Asal Surabaya

Konflik di Kawasan Hutan Produksi Untan

Artikel Terbaru

/