alexametrics
25.6 C
Pontianak
Monday, May 16, 2022

Puasa Membentuk Karakter Sosial

Oleh: Burhanudin S.Sos.I

Ketika surya telah terbenam di ufuk barat pada senja terakhir bulan Sya’ban, maka tibalah saat-saat yang paling berkesan dalam kehidupan masyarakat muslim di seluruh dunia, yakni datangnya bulan Suci Ramadan dan panggilan Allah untuk menjalankan ibadah puasa.

Puasa (shiyam) adalah Rukun Islam ketiga dari lima rukun islam.Puasa merupakan salah satu barometer keutuhan keberagaman kita.Puasa satu-satuNya ibadah formil terpanjang dalam isalam karena berlangsung dalam waktu satu bulan.

Al-Quran surah Al-baqarah Ayat 183 Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang orang yang beriman! Diwajibkan kepadamu berpuasa,sama seperti kewajiban pada umat umat sebelum kamu. Mudah mudahan kamu menjadi orang orang yang bertakwa.” (Al Baqarah : 183)

Nabi Muhammad SAW memberi ulasan tentang puasa baik dalam dimensi pembinaan raga, pendidikan moral dan pendidikan sosial.Antara lain tersebut dalam hadist yang artinya; “Berpuasalah supaya kamu sehat”;”Siapa yang berpuasa tapi tidak sanggup me-lenyapkan prilaku tercela dan perkataan kotor, maka tiada gunanya ia bersusah payah menhan lapar dan haus seharian”;”apabila datang keha-dapanmu seseorang mengajak betengkar , maka katakanlah kepadanya, maaf saya berpuasa”;” siapa yang berpuasa karena Allah dan berhasil membuang segala perilaku dosa dan tercela, maka ia dihari idul fitri ia kembali dalam keadan bersih bagaikan kehadiran seorang bayi yang baru terlahir dari Rahim ibunya”.

Spiritual pelaksanaan ibadah puasa maupun ibadah lain yang berhubungan erat secara universal cukup mudah terjangkau dan dihayati oleh setiap muslim, ialah menyadari betapa dekat hubungan setiap diri dengan Allah,dan membina iklim kebersamaan diantara sesama manusia.

Bagi orang yang  berpuasa karena Allah, seyogianya makin meresap kedalam jiwanya kesadaran Allah maha hadir, menyertai dan mengawasi disetiap tempat dan saat. Kalau pengamalan ibadah sholat, zakat dan haji terlihat nyata dimata orang lain, tetapi puasa merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Allah. Berpuasa atau tidak berpuasanya seseorang hanya diri yang bersangkutan dan Allah saja yang mengetahui. Dihadapan orang lain bisa saja seseorang bersikap seolah-olah sedang puasa atau tidak pernah batal puasanya. Demikian salah satu inti pendidikan moral memlalui ibadah puasa yakni latihan kejujuran dan memperkuat daya kontrol pribadi.

Baca Juga :  Kemenag Rilis Daftar Calon Haji

Firman Allah SWT: “Sesungguhanya Kami (Allah) telah menciptakan manusia dan kami mengetahui apa yang dibisikan oleh hatinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri.” (Qaf: 16).

Oleh karena itu relevanlah kita Allah menyeru orang mu’min agar menjauhi segala dosa, baik yang nyata maupun dosa-dosa yang tersembunyi dari pandangan manusia.

Ibadah puasa adalah perjuangan mengendalikan hawa nafsu sebagai langkah untuk menekan sifat serakah, individualistik, maupun watak agresif yang mendominasi jiwa manusia. Puasa juga disebut sebagai “jihadunnafs” yakni jihad menghadapi godaan di dalam diri sendiri yang justru lebih berat dibanding jihad menghadapi tantangan dari luar. Rasulullah Saw. dalam satu hadits mengatakan “Puasa itu adalah sebagian dari kesabaran dan ketahanan.

Banyak orang jatuh dalam kehidupan ini bukan karena kurang ilmu pengetahuan karena tidak sanggup mengendalikan hawa nafsu yang tidak mengenal kepuasan dan batas-batas kewajaran. Penyimpangan sikap dan sifat pribadi yang bersumber dari kegagalan mengendalikan hawa nafsu menyebabkan disorintasi hidup muslim sehingga eksistensinya tidak lagi menjadi rahmat bagi sesama manusia.

Peranan puasa membentuk kepekaan sosial, mengingatkan pada sejarah hidup Nabi Yusuf As. yang beberapa lama memegang pimpinan pemerintahan di Mesir sebagai Perdana Mentri. Nabi Yusuf ditengah kehidupan Istana yang serba lengkap dan mewah beiau sepanjang tahun melakukan puasa sunnah dengan sistim selang seling satu hari. Ketika ditanya apa maksud puasa yang dilakukannya itu? Di jawab nabi Yusuf “ Agar aku tidak lupa nasip orang-orang yang lapar.

Baca Juga :  Meraih Rahasia Malam Lailatul Qadar

Pengalaman berpuasa sangat tepat dijadikan latihan menumbuhkan perasaan solider dan kepekaan sosial terhadap penderitaan sesama manusia yang hidup serba kekurangan dan memperoleh rezeki di bawah standar kebutuhan sehari hari mereka, sedangankan sekitarnya orang berlomba lomba untuk menguasai lahandan bagunan.

Puasa ritual harus diikuti puasa sosial, ini merupakan terapi agama terhadap berbagai gaya hidup sosial, yang tidak memandang lingkungan, tidak peduli kesulitan orang lain, boros dan berlebih lebihan dalam segala hal.

Di pengujung dari puasa dan menjelang Idul Fitri 1 Syawal Umat islam diwajibkan mengeluarkan Zakat Fitrah kepada Fakir dan Miskin, Nabi berpesan “Lindungilah mereka (fakir dan miskin) di hari mulian ini agar tidak berkeliling menadahkan tangan.” Tentu saja initi dari tradisi Zakat Fitrah dalam agama tidak sekedar gambaran proses memberi  dan menerima (take and give) antara orang yang mampu dan orang tidak mampu. Tetapi justru yang dituju oleh islam adalah spirit (semangat) kesadaran dan tanggung jawab sosial yang mesti dimiliki oleh umatnya. Setelah mendekatkan diri kepada Allah, umat Islam diperintahkan memberikan perhatian dan perlindungan kepada sesama manusia dalam bentuk materil dan immateril. Perpaduan antara saleh ritual dan saleh sosial merupakan sisi terindah hikmah puasa Ramadan. (*)

Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Mempawah

Oleh: Burhanudin S.Sos.I

Ketika surya telah terbenam di ufuk barat pada senja terakhir bulan Sya’ban, maka tibalah saat-saat yang paling berkesan dalam kehidupan masyarakat muslim di seluruh dunia, yakni datangnya bulan Suci Ramadan dan panggilan Allah untuk menjalankan ibadah puasa.

Puasa (shiyam) adalah Rukun Islam ketiga dari lima rukun islam.Puasa merupakan salah satu barometer keutuhan keberagaman kita.Puasa satu-satuNya ibadah formil terpanjang dalam isalam karena berlangsung dalam waktu satu bulan.

Al-Quran surah Al-baqarah Ayat 183 Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang orang yang beriman! Diwajibkan kepadamu berpuasa,sama seperti kewajiban pada umat umat sebelum kamu. Mudah mudahan kamu menjadi orang orang yang bertakwa.” (Al Baqarah : 183)

Nabi Muhammad SAW memberi ulasan tentang puasa baik dalam dimensi pembinaan raga, pendidikan moral dan pendidikan sosial.Antara lain tersebut dalam hadist yang artinya; “Berpuasalah supaya kamu sehat”;”Siapa yang berpuasa tapi tidak sanggup me-lenyapkan prilaku tercela dan perkataan kotor, maka tiada gunanya ia bersusah payah menhan lapar dan haus seharian”;”apabila datang keha-dapanmu seseorang mengajak betengkar , maka katakanlah kepadanya, maaf saya berpuasa”;” siapa yang berpuasa karena Allah dan berhasil membuang segala perilaku dosa dan tercela, maka ia dihari idul fitri ia kembali dalam keadan bersih bagaikan kehadiran seorang bayi yang baru terlahir dari Rahim ibunya”.

Spiritual pelaksanaan ibadah puasa maupun ibadah lain yang berhubungan erat secara universal cukup mudah terjangkau dan dihayati oleh setiap muslim, ialah menyadari betapa dekat hubungan setiap diri dengan Allah,dan membina iklim kebersamaan diantara sesama manusia.

Bagi orang yang  berpuasa karena Allah, seyogianya makin meresap kedalam jiwanya kesadaran Allah maha hadir, menyertai dan mengawasi disetiap tempat dan saat. Kalau pengamalan ibadah sholat, zakat dan haji terlihat nyata dimata orang lain, tetapi puasa merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Allah. Berpuasa atau tidak berpuasanya seseorang hanya diri yang bersangkutan dan Allah saja yang mengetahui. Dihadapan orang lain bisa saja seseorang bersikap seolah-olah sedang puasa atau tidak pernah batal puasanya. Demikian salah satu inti pendidikan moral memlalui ibadah puasa yakni latihan kejujuran dan memperkuat daya kontrol pribadi.

Baca Juga :  Meraih Rahasia Malam Lailatul Qadar

Firman Allah SWT: “Sesungguhanya Kami (Allah) telah menciptakan manusia dan kami mengetahui apa yang dibisikan oleh hatinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri.” (Qaf: 16).

Oleh karena itu relevanlah kita Allah menyeru orang mu’min agar menjauhi segala dosa, baik yang nyata maupun dosa-dosa yang tersembunyi dari pandangan manusia.

Ibadah puasa adalah perjuangan mengendalikan hawa nafsu sebagai langkah untuk menekan sifat serakah, individualistik, maupun watak agresif yang mendominasi jiwa manusia. Puasa juga disebut sebagai “jihadunnafs” yakni jihad menghadapi godaan di dalam diri sendiri yang justru lebih berat dibanding jihad menghadapi tantangan dari luar. Rasulullah Saw. dalam satu hadits mengatakan “Puasa itu adalah sebagian dari kesabaran dan ketahanan.

Banyak orang jatuh dalam kehidupan ini bukan karena kurang ilmu pengetahuan karena tidak sanggup mengendalikan hawa nafsu yang tidak mengenal kepuasan dan batas-batas kewajaran. Penyimpangan sikap dan sifat pribadi yang bersumber dari kegagalan mengendalikan hawa nafsu menyebabkan disorintasi hidup muslim sehingga eksistensinya tidak lagi menjadi rahmat bagi sesama manusia.

Peranan puasa membentuk kepekaan sosial, mengingatkan pada sejarah hidup Nabi Yusuf As. yang beberapa lama memegang pimpinan pemerintahan di Mesir sebagai Perdana Mentri. Nabi Yusuf ditengah kehidupan Istana yang serba lengkap dan mewah beiau sepanjang tahun melakukan puasa sunnah dengan sistim selang seling satu hari. Ketika ditanya apa maksud puasa yang dilakukannya itu? Di jawab nabi Yusuf “ Agar aku tidak lupa nasip orang-orang yang lapar.

Baca Juga :  Penentuan 1 Ramadan 1443 H Tunggu Hasil Sidang Isbat yang Digelar 1 April

Pengalaman berpuasa sangat tepat dijadikan latihan menumbuhkan perasaan solider dan kepekaan sosial terhadap penderitaan sesama manusia yang hidup serba kekurangan dan memperoleh rezeki di bawah standar kebutuhan sehari hari mereka, sedangankan sekitarnya orang berlomba lomba untuk menguasai lahandan bagunan.

Puasa ritual harus diikuti puasa sosial, ini merupakan terapi agama terhadap berbagai gaya hidup sosial, yang tidak memandang lingkungan, tidak peduli kesulitan orang lain, boros dan berlebih lebihan dalam segala hal.

Di pengujung dari puasa dan menjelang Idul Fitri 1 Syawal Umat islam diwajibkan mengeluarkan Zakat Fitrah kepada Fakir dan Miskin, Nabi berpesan “Lindungilah mereka (fakir dan miskin) di hari mulian ini agar tidak berkeliling menadahkan tangan.” Tentu saja initi dari tradisi Zakat Fitrah dalam agama tidak sekedar gambaran proses memberi  dan menerima (take and give) antara orang yang mampu dan orang tidak mampu. Tetapi justru yang dituju oleh islam adalah spirit (semangat) kesadaran dan tanggung jawab sosial yang mesti dimiliki oleh umatnya. Setelah mendekatkan diri kepada Allah, umat Islam diperintahkan memberikan perhatian dan perlindungan kepada sesama manusia dalam bentuk materil dan immateril. Perpaduan antara saleh ritual dan saleh sosial merupakan sisi terindah hikmah puasa Ramadan. (*)

Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Mempawah

Most Read

Artikel Terbaru

/