alexametrics
23.9 C
Pontianak
Saturday, August 13, 2022

Pesan Simbolik Ibadah Kurban

Pesan Simbolik Ibadah Kurban

Oleh: Mustafa

Bulan Dzulhijjah telah menyapa kita, salah satu bulan haram yang ditetapkan oleh Allah. Bulan yang di dalamnya nilai ibadah dilipatgandakan. Khususnya untuk sepuluh hari pertama.

Sebagaimana dalam Hadits Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari di mana amal saleh pada hari itu lebih dicintai Allah SWT daripada hari-hari ini (yakni 10 hari pertama Dzulhijah).”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa, raga, dan hartanya, kemudian tidak bersisa lagi.” (HR Bukhari).

Mengapa hari-hari itu ibadah begitu istimewa dan utama?. Karena di dalamnya terkumpul banyak ibadah utama, ibadah tersebut tak bisa dikerjakan di bulan lain. Diantatanya adalah ibadah haji dan hari raya Iduladha atau ibadah urban yakni penyembelihan hewan kurban (udhiyah).

Ibadah kurban adalah penyembelihan hewan kurban (udhiyah) setiap tahun, ribuan, bahkan ratusan ribu kambing, sapi, domba dan unta diserahkan umat Islam sebagai hewan qurban untuk disembelih hingga hari-hari tasyrik berikutnya. Ibadah kurban erat kaitannya dengan kisah Nabi Ibrahim yang akan menyembelih putranya, Nabi Ismail as.

Dikisahkan ketika Nabi Ibrahim diusia uzurnya, rambut dan janggutnya telah memutih dimakan usia. Kemudian Nabi Ibrahim as atas izin Allah menikahi Hajar, dari rahimnya lahirlah seorang anak bernama Ismail yang lebih dari seratus tahun ditunggu kelahirannya untuk disiapkan sebagai putra mahkota mengantikan kepemimpinan yang telah berpuluh tahun digeluti hingga dipenghujung usianya.

Kebahagiaan dan lamunan kasih sayang kepada putranya Ismail as yang dirasakan Ibrahim as tidaklah berjalan lama. Kesenangan tersentak ketika Nabi Ibrahim as bermimpi mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya Nabi Ismail as. Bagai petir yang menyambar di siang bolong. Nabi Ibrahim as tunduk dan patuh mengikhlaskan hati untuk memenuhi perintah Allah sebagai wahyu yang tersirat dan tersurat yang perintah itu tidak boleh ditolak apalagi diingkari tidak ada pilihan lain perintah harus dilaksanakan tanpa alasan, senang atau tidak senang walaupun perintah itu melalui mimpi.

Perintah Allah melalui mimpi itupun lantas disampaikan kepada putranya Nabi Ismail as, “…Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” (As-Saffat/37:102). Nabi Ismail, menunduk menyimak perintah tersebut seraya, “Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”(As-Saffat/37:102).

Semua telah disiapkan Ibrahim dan Ismail pun pergi melangkahkan kaki menuju tempat yang pasti memenuhi janji Ilahi, meskipun suara Ismail terdengar lirih sedih, saat berpamitan dengan Bunda belahan hati. Tapi jiwa Ismail as yang teguh bagai karang di laut. Kemudian Nabi Ismail berpesan kepada ayahnya, Nabi Ibrahim as. “Tolong baju Ananda ditutupkan di mata agar Ayah tidak lagi ragu dan bimbang hati.”

Baca Juga :  Eko-Pastoral Laudato SI

Setelah semuanya disiapkan setan dan iblis pun mengoda tak dihiraukan pedang di tangan Nabi Ibrahim tergenggam siap menghujam di leher setajam belati. Nabi Ismail pun berbaring tergeletak pasrah siap mengalirkan darah pengorbanan dari leher anak yang memiliki budi pekerti, keduanya bertekat memenuhi janji zat Yang Mahasuci. Atas kekuasaan Allah SWT kejadian begitu cepat berganti Nabi Ismail tergeletak tak sadarkan diri telah diganti seekor kambing kibas dengan sendiri.

Banyak hikmah dari kisah peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim as dan putranya Nabi Ismail as. Peristiwa monomental religius, suatu peristiwa yang luar biasa yang tidak terjadi secara kebetulan saja.

Peristiwa kurban yang setiap tahunnya diperingati, adalah suatu peristiwa yang sudah sepantasnya dijadikan pegangan hidup di dunia dan cerminan keteladanan. Pesan simbolik dari peristiwa kurban yang ditayangkan oleh Allah bagi hambanya agar bisa mengambil manfaat serta memahami arti penting sebuah pengorbanan Ismail as. Pertama, ujian keimanan. Nabi Ibrahim as telah berhasil menjalani ujian keimanan kepada Allah SWT melalui pengorbanan putranya Nabi Ismail as dengan tangannya sendiri, demi menyelamatkan orang lain dari korban pembodohan dan penindasan. Tertindas di bawah kekuasaan dan diperas oleh sang penumpuk harta atau terjebak dalam kemunafikan dan kesengsaraan.

Pilihan yang berat, menaati perintah Allah SWT dengan mengorbankan putranya atau melindungi anaknya dengan mengabaikan perintah Allah. Di situlah ujian keimanan. Dan Nabi Ibrahim as beserta putranya Nabi Ismail as telah memberikan contoh teladan keikhlasan dan kesabaran dalam ketaatan. Mereka rela mengorbankan apa yang paling dicintai demi memenuhi perintah Allah. Dan pengorbanan itu dibalas Allah dengan balasan yang terbaik pula.

Semua ini adalah upaya Allah SWT menguji keimanan, keikhlasan dan kesabaran dalam ketaatan. Karena hidup ini sebuah proses menjadi baik, wajar jika setiap hamba harus diuji imannya, tak terkecuali seorang nabi sekalipun. Iman mesti diuji agar terangkat derajatnya, sebagaimana dalam firman Allah SWT, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,”sedangkan mereka tidak diuji?” (Al-Ankabut/29:2).

Keteguhan iman agar terhindar dari yang menyesatkan dan menipu diri. Iman yang tangguh agar terbebas dari nafsu hewaniyah dan bisikan setan. Oleh karena itu jangan sekali-kali sudah merasa aman dan terlindungi dari godaan setan, sebab setan senantiasa mengintai dan mengitari umat manusia.

Baca Juga :  Peluang Pemda atas Perubahan UU Pertambangan Mineral dan Batubara

Kedua, prinsip demokrasi. Peristiwa kurban itu adalah diakuinya prinsip tentang demokrasi yang diwarnai suasana dialogis, suatu prinsip yang mengakui dan menghargai eksistesnsi seseorang dengan segala keadaannya. Prinsip demokrasi yang tergambar dalam peristiwa qurban, bahwa Nabi Ibrahim as sebagai penerima mandat dari Allah pada saat itu, tidaklah melakukan perintah itu dengan semaunya (otoriter) melainkan terlebih dahulu meminta pendapat dari putranya Ismail as, pertanyaan singkat Nabi Ibrahim as yang ditujukan  kepada Ismail as “fandzur maadzatara” (bagaimanakah pendapatmu wahai anak-ku?). Ini benar-benar harus kita sadari bahwa prinsip demokrasi hendaklah ditanamkan dari unit terkecil dalam keluarga hingga tingkat rukun tetangga di lingkungan masyarakat bahkan sampai tingkat negara.

Ketiga, kerjasama harmonis

Peristiwa kurban ini menjalin hubungan yang harmonis antara generasi tua dan generasi muda, antara pendidik dan peserta didiknya. Dengan terbukti kerjasama yang harmonis antara kedua generasi maka suatu pekerjaan yang berat akan menjadi ringan, sebesar apapun masalah yang dihadapi akan akan ada solusi dalam penyelesaiannya. Inilah yang digambarkan oleh Ibrahim as dan Ismail as, keduanya dapat berjalan sesuai keinginan yang didasari kesabaran dan keikhlasan dalam ketaatan untuk mencapai tujuan mulia yang telah direncanakan bersama.

Keempat, syukur nikmat

Berkurban wujud syukur atas apa yang sudah diberikan Allah, dengan cara meningkatkan ketaqwaan. Salah satunya adalah melaksanakan perintah berqurban. Sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Kausar/108/1-3).

Kurban tidak sekedar memiliki dimensi religius yang menghubungkan makhluk dengan Allah SWT. Kurban bukan sekedar penyembelihan hewan Kurban dan aktivitas membagikan daging kurban kepada yang tidak mampu dan berhak menerimanya, namun qurban juga memiliki dimensi sosial. Menjadikan semua lingkup sosial bergembira, sukaria atas datangnya hari raya kurban tersebut. Khususnya bagi mereka anak-anak yatim dan dhuafa yang mungkin jarang sekali merasakan kenikmatan dengan merasakan olahan daging kurban yang mereka dapatkan.

Nabi Ibrahim mampu mengorbankan putranya dengan ikhlas dan sabar demi ketaatan dan kecintaannya kepada Allah, Lalu bagaimana dengan kita? Sudah seberapa besar ketaatan kita kepada Allah? Sudahkah kita mengorbankan apa yang kita miliki demi meraih kecintaan Allah? Jika belum, maka inilah saatnya. Bersabar dan ikhlas dan rela mengorbankan apa saja kita cintai untuk ketaatan dan meraih keridhaan Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis adalah Guru PAI Madrasah Aliyah Tarbiyatul Islamiyah Rantau Panjang Kabupaten Landak dan Sekretaris DPD Forum Komunikasi Orang Bugis Kota Pontianak.

 

Pesan Simbolik Ibadah Kurban

Oleh: Mustafa

Bulan Dzulhijjah telah menyapa kita, salah satu bulan haram yang ditetapkan oleh Allah. Bulan yang di dalamnya nilai ibadah dilipatgandakan. Khususnya untuk sepuluh hari pertama.

Sebagaimana dalam Hadits Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari di mana amal saleh pada hari itu lebih dicintai Allah SWT daripada hari-hari ini (yakni 10 hari pertama Dzulhijah).”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa, raga, dan hartanya, kemudian tidak bersisa lagi.” (HR Bukhari).

Mengapa hari-hari itu ibadah begitu istimewa dan utama?. Karena di dalamnya terkumpul banyak ibadah utama, ibadah tersebut tak bisa dikerjakan di bulan lain. Diantatanya adalah ibadah haji dan hari raya Iduladha atau ibadah urban yakni penyembelihan hewan kurban (udhiyah).

Ibadah kurban adalah penyembelihan hewan kurban (udhiyah) setiap tahun, ribuan, bahkan ratusan ribu kambing, sapi, domba dan unta diserahkan umat Islam sebagai hewan qurban untuk disembelih hingga hari-hari tasyrik berikutnya. Ibadah kurban erat kaitannya dengan kisah Nabi Ibrahim yang akan menyembelih putranya, Nabi Ismail as.

Dikisahkan ketika Nabi Ibrahim diusia uzurnya, rambut dan janggutnya telah memutih dimakan usia. Kemudian Nabi Ibrahim as atas izin Allah menikahi Hajar, dari rahimnya lahirlah seorang anak bernama Ismail yang lebih dari seratus tahun ditunggu kelahirannya untuk disiapkan sebagai putra mahkota mengantikan kepemimpinan yang telah berpuluh tahun digeluti hingga dipenghujung usianya.

Kebahagiaan dan lamunan kasih sayang kepada putranya Ismail as yang dirasakan Ibrahim as tidaklah berjalan lama. Kesenangan tersentak ketika Nabi Ibrahim as bermimpi mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya Nabi Ismail as. Bagai petir yang menyambar di siang bolong. Nabi Ibrahim as tunduk dan patuh mengikhlaskan hati untuk memenuhi perintah Allah sebagai wahyu yang tersirat dan tersurat yang perintah itu tidak boleh ditolak apalagi diingkari tidak ada pilihan lain perintah harus dilaksanakan tanpa alasan, senang atau tidak senang walaupun perintah itu melalui mimpi.

Perintah Allah melalui mimpi itupun lantas disampaikan kepada putranya Nabi Ismail as, “…Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” (As-Saffat/37:102). Nabi Ismail, menunduk menyimak perintah tersebut seraya, “Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”(As-Saffat/37:102).

Semua telah disiapkan Ibrahim dan Ismail pun pergi melangkahkan kaki menuju tempat yang pasti memenuhi janji Ilahi, meskipun suara Ismail terdengar lirih sedih, saat berpamitan dengan Bunda belahan hati. Tapi jiwa Ismail as yang teguh bagai karang di laut. Kemudian Nabi Ismail berpesan kepada ayahnya, Nabi Ibrahim as. “Tolong baju Ananda ditutupkan di mata agar Ayah tidak lagi ragu dan bimbang hati.”

Baca Juga :  Eko-Pastoral Laudato SI

Setelah semuanya disiapkan setan dan iblis pun mengoda tak dihiraukan pedang di tangan Nabi Ibrahim tergenggam siap menghujam di leher setajam belati. Nabi Ismail pun berbaring tergeletak pasrah siap mengalirkan darah pengorbanan dari leher anak yang memiliki budi pekerti, keduanya bertekat memenuhi janji zat Yang Mahasuci. Atas kekuasaan Allah SWT kejadian begitu cepat berganti Nabi Ismail tergeletak tak sadarkan diri telah diganti seekor kambing kibas dengan sendiri.

Banyak hikmah dari kisah peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim as dan putranya Nabi Ismail as. Peristiwa monomental religius, suatu peristiwa yang luar biasa yang tidak terjadi secara kebetulan saja.

Peristiwa kurban yang setiap tahunnya diperingati, adalah suatu peristiwa yang sudah sepantasnya dijadikan pegangan hidup di dunia dan cerminan keteladanan. Pesan simbolik dari peristiwa kurban yang ditayangkan oleh Allah bagi hambanya agar bisa mengambil manfaat serta memahami arti penting sebuah pengorbanan Ismail as. Pertama, ujian keimanan. Nabi Ibrahim as telah berhasil menjalani ujian keimanan kepada Allah SWT melalui pengorbanan putranya Nabi Ismail as dengan tangannya sendiri, demi menyelamatkan orang lain dari korban pembodohan dan penindasan. Tertindas di bawah kekuasaan dan diperas oleh sang penumpuk harta atau terjebak dalam kemunafikan dan kesengsaraan.

Pilihan yang berat, menaati perintah Allah SWT dengan mengorbankan putranya atau melindungi anaknya dengan mengabaikan perintah Allah. Di situlah ujian keimanan. Dan Nabi Ibrahim as beserta putranya Nabi Ismail as telah memberikan contoh teladan keikhlasan dan kesabaran dalam ketaatan. Mereka rela mengorbankan apa yang paling dicintai demi memenuhi perintah Allah. Dan pengorbanan itu dibalas Allah dengan balasan yang terbaik pula.

Semua ini adalah upaya Allah SWT menguji keimanan, keikhlasan dan kesabaran dalam ketaatan. Karena hidup ini sebuah proses menjadi baik, wajar jika setiap hamba harus diuji imannya, tak terkecuali seorang nabi sekalipun. Iman mesti diuji agar terangkat derajatnya, sebagaimana dalam firman Allah SWT, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,”sedangkan mereka tidak diuji?” (Al-Ankabut/29:2).

Keteguhan iman agar terhindar dari yang menyesatkan dan menipu diri. Iman yang tangguh agar terbebas dari nafsu hewaniyah dan bisikan setan. Oleh karena itu jangan sekali-kali sudah merasa aman dan terlindungi dari godaan setan, sebab setan senantiasa mengintai dan mengitari umat manusia.

Baca Juga :  Gagal Menjadi Pendidik

Kedua, prinsip demokrasi. Peristiwa kurban itu adalah diakuinya prinsip tentang demokrasi yang diwarnai suasana dialogis, suatu prinsip yang mengakui dan menghargai eksistesnsi seseorang dengan segala keadaannya. Prinsip demokrasi yang tergambar dalam peristiwa qurban, bahwa Nabi Ibrahim as sebagai penerima mandat dari Allah pada saat itu, tidaklah melakukan perintah itu dengan semaunya (otoriter) melainkan terlebih dahulu meminta pendapat dari putranya Ismail as, pertanyaan singkat Nabi Ibrahim as yang ditujukan  kepada Ismail as “fandzur maadzatara” (bagaimanakah pendapatmu wahai anak-ku?). Ini benar-benar harus kita sadari bahwa prinsip demokrasi hendaklah ditanamkan dari unit terkecil dalam keluarga hingga tingkat rukun tetangga di lingkungan masyarakat bahkan sampai tingkat negara.

Ketiga, kerjasama harmonis

Peristiwa kurban ini menjalin hubungan yang harmonis antara generasi tua dan generasi muda, antara pendidik dan peserta didiknya. Dengan terbukti kerjasama yang harmonis antara kedua generasi maka suatu pekerjaan yang berat akan menjadi ringan, sebesar apapun masalah yang dihadapi akan akan ada solusi dalam penyelesaiannya. Inilah yang digambarkan oleh Ibrahim as dan Ismail as, keduanya dapat berjalan sesuai keinginan yang didasari kesabaran dan keikhlasan dalam ketaatan untuk mencapai tujuan mulia yang telah direncanakan bersama.

Keempat, syukur nikmat

Berkurban wujud syukur atas apa yang sudah diberikan Allah, dengan cara meningkatkan ketaqwaan. Salah satunya adalah melaksanakan perintah berqurban. Sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Kausar/108/1-3).

Kurban tidak sekedar memiliki dimensi religius yang menghubungkan makhluk dengan Allah SWT. Kurban bukan sekedar penyembelihan hewan Kurban dan aktivitas membagikan daging kurban kepada yang tidak mampu dan berhak menerimanya, namun qurban juga memiliki dimensi sosial. Menjadikan semua lingkup sosial bergembira, sukaria atas datangnya hari raya kurban tersebut. Khususnya bagi mereka anak-anak yatim dan dhuafa yang mungkin jarang sekali merasakan kenikmatan dengan merasakan olahan daging kurban yang mereka dapatkan.

Nabi Ibrahim mampu mengorbankan putranya dengan ikhlas dan sabar demi ketaatan dan kecintaannya kepada Allah, Lalu bagaimana dengan kita? Sudah seberapa besar ketaatan kita kepada Allah? Sudahkah kita mengorbankan apa yang kita miliki demi meraih kecintaan Allah? Jika belum, maka inilah saatnya. Bersabar dan ikhlas dan rela mengorbankan apa saja kita cintai untuk ketaatan dan meraih keridhaan Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis adalah Guru PAI Madrasah Aliyah Tarbiyatul Islamiyah Rantau Panjang Kabupaten Landak dan Sekretaris DPD Forum Komunikasi Orang Bugis Kota Pontianak.

 

Most Read

Artikel Terbaru

/