alexametrics
34 C
Pontianak
Sunday, May 29, 2022

Wapena: Dakwah Islam di Austria dan Hubungan Baik dengan Pontianak

Hidup di Eropa dengan beragam kebudayaan yang ada, awalnya sempat menimbulkan kekhawatiran bagi saya. Selama ini tinggal di Indonesia dengan segala keleluasaan mempraktikkan ajaran Islam tentu akan berbeda ketika berada di negara orang, ketika muslim bukanlah penduduk mayoritas. Ditambah lagi isu Islamophobia yang sering diberitakan di media internasional selama beberapa tahun ke belakang. Bahkan tahun lalu kasus terorisme di Wina juga menimbulkan sentimen negatif terhadap komunitas muslim di Austria.

Sejauh yang saya alami selama hampir enam bulan di kota Wina, kekhawatiran itu tidak terbukti. Sepanjang mata memandang, Anda bisa dengan mudah melihat wanita berkerudung, restoran-restoran halal, bahkan masjid dari masing-masing komunitas negara yang ada di Wina. Di Wina sendiri terdapat satu masjid besar bernama Islamic Centre of Vienna. Masjid ini menjadi tempat berkumpul masyarakat muslim di Austria. Tidak ketinggalan komunitas muslim asal Indonesia yang bernaung dalam wadah bernama Warga Pengajian Austria (Wapena).
Sebenarnya saya sudah pernah mendapatkan informasi dari Zairin Zain, dosen Fakultas Teknik UNTAN yang pernah menempuh pendidikan doktoral di Wina 10 tahun lalu, tentang komunitas muslim Indonesia ini. Sebelum berangkat ke Wina, saya juga sudah sempat mengikuti beberapa unggahan dari instagram mereka. Hingga akhirnya merasakan sendiri keramahtamahan khas Indonesia, khususnya saudara sesama muslim, di negari orang. Saya mencoba membagikan pengalaman dan kisah tentang komunitas muslim Indonesia di Austria lewat tulisan ini.

Wapena dan Dakwah Islam di Austria
Warga Muslim Indonesia di Wina sudah mulai mengadakan kajian keislaman sejak 1980-an yang dilakukan di KBRI/PTRI Wina atas prakarsa para staf kedutaan dan juga mahasiswa asal Indonesia. Islam di Austria sudah diakui sebagai agama resmi oleh negara sejak tahun 1882.

Pada perkembangannya komunitas ini memunculkan nama Warga Pengajian Wina (Wapena) di tahun 1991. Aktivitas pengajian mulai terbagi sesuai segmentasi. Yaitu pengajian remaja, mingguan, dan ibu-ibu. Wapena juga aktif berkontribusi di acara buka puasa bersama yang diselenggarakan di Masjid Islamic Center of Vienna. Secara rutin komunitas ini juga melaksanakan salat Idul fitri dan Idul adha di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Mengembalikan nostalgia beraktivitas sebagai muslim selayaknya di Indonesia mungkin jadi salah satu motivasi para pendahulu di Wapena.
Pada era 2000-an, Wapena mulai melebarkan sayap dengan rutin mengundang tokoh-tokoh muslim skala nasional dari Indonesia untuk berkegiatan di Austria. Selain itu, pada periode ini juga kegiatan Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA) untuk anak-anak berdiri secara otonom. Wapena juga menginisiasi program pemberangkatan haji bagi WNI di Austria.

Baca Juga :  Ramadhan Penawar Covid19

Empat puluh tahun keberadaan Wapena, telah memberikan kesan dan manfaat yang tidak terhitung bagi warga Indonesia yang berada di Austria, khususnya kota Wina. Pada perkembangannya menurut penuturan Ketua Umum Wapena saat ini, Arya Gunawan Usis, kepanjangan nama Wapena diperluas menjadi Warga Pengajian Austria karena jemaah tidak hanya terbatas pada muslim Indonesia di Wina melainkan juga di berbagai kota lainnya di Austria. Di Indonesia sendiri, Wapena memiliki kerja sama kontribusi artikel di salah satu rubrik media nasional pada tahun 2012 dengan menyediakan sekitar sembilan tulisan yang berisi aktivitas warga muslim Indonesia di Austria.

Menariknya, kontribusi warga muslim asal Malaysia dan Singapura juga sangat signifikan dari sejak pendirian hingga kini. Wapena tidak hanya milik warga muslim Indonesia, tapi boleh dibilang menjadi representasi muslim Asia Tenggara di Austria. Hal ini juga ditunjukkan dengan berdirinya masjid asal Asia Tenggara satu-satunya di Austria yang dikelola oleh Wapena. Masjid bernama As-Salam ini berupa ruangan bawah tanah dari satu bangunan apartemen yang terletak di Malfattigasse 18.

Ruangan berukuran sekitar 110 meter persegi ini ditempati dengan cara menyewa dan diresmikan pada Januari 2012. Sejak beberapa tahun terakhir, Wapena melakukan kegiatan penggalangan dana agar dapat memiliki masjid sendiri. Upaya ini membuahkan hasil tepatnya pada bulan Januari 2022, Wapena membeli satu ruangan seluas 165 meter persegi, yang diubah fungsinya menjadi masjid.

Saya secara pribadi merasakan beribadah di dua masjid tersebut serta aktif terlibat selama perpindahan yang berlangsung pada 6 Maret lalu. Nuansa yang penuh keakraban, muda dan tua, dari berbagai profesi, dan warga negara, semua bekerja sama dan bersemangat selama proses tersebut. Hal ini menandai langkah baru bagi perjalanan panjang masyarakat muslim Indonesia dan Asia Tenggara di Austria.

Wapena dan Hubungan Baik dengan Pontianak

Selain kesan yang saya rasakan di atas, ada satu hal lagi yang menarik untuk diceritakan. Wapena punya hubungan baik dengan Pontianak. Salah satu ustaz terkenal asal Pontianak, yaitu Ustaz Didik Nur Haris merupakan pengisi kajian rutin bagi jemaah Wapena. Bahkan sebelum pandemi, selama beberapa kali Ramadan, beliau diundang oleh Wapena untuk menetap beberapa pekan di Wina dalam rangka mengisi kajian secara langsung di Masjid As-Salam maupun KBRI.

Baca Juga :  Ketahanan Pangan di Era Pandemi

Saya mengetahui informasi ini dari beberapa pengurus. Saya juga menemukan rekaman youtube berisi episode serial ceramah beliau yang dibuat khusus selama di Wina. Silaturahmi yang terjalin ini menunjukkan bahwa Pontianak sudah dikenal di Austria lewat kajian-kajian yang dilakukan oleh Wapena. Meskipun tidak banyak orang Pontianak yang pernah ada di Wina, tapi tali silaturahmi itu masih terus erat terjalin. Saat ini saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi jembatan komunikasi antara Pontianak dan Wapena.

Potensi hubungan baik ini menurut saya bisa terus ditingkatkan. Dari sisi hubungan pemerintah, dunia bisnis, pendidikan, bahkan masyarakat. Konsep paradiplomasi yang mengedepankan upaya diplomasi dari daerah keluar negeri dapat dijadikan alternatif pembangunan. Misalnya dengan kerja sama antara Pemerintah Kota Pontianak atau Provinsi Kalimantan Barat dengan KBRI Wina atau Pemerintah Kota Wina. Peluang kerja sama di berbagai bidang, seperti teknologi, pendidikan, transportasi, lingkungan hidup, ekonomi, kesejahteraan sosial, dan bisnis pun rasanya bukan hal yang mustahil digagas.

Saya yakin pihak kedutaan akan menyambut baik jika ada usulan seperti ini. Atau secara khusus bisa juga diadakan kerja sama antara komunitas muslim Pontianak dan Wina dalam kegiatan-kegiatan keislaman atau sosial. Kemajuan teknologi yang begitu pesat, tidak lagi membatasi jarak membuat kerja sama kegiatan bersama lintas negara dapat dilakukan hanya bermodal jaringan internet.

Austria mungkin belum begitu dikenal oleh warga Pontianak, tapi sebaliknya Pontianak sudah dikenal baik di Austria lewat sepak terjang Ustaz Didik Nur Haris selama ini. Hubungan baik yang terjalin secara individu, sangat mungkin diperluas menjadi hubungan kelembagaan. Sehingga di kemudian hari dapat diwujudkan relasi yang lebih baik dan masif antara Pontianak dan Wina. Tidak menutup kemungkinan akan semakin banyak warga Pontianak yang beraktivitas di Austria, di jantung Eropa.

*Adityo Darmawan Sudagung
Pengamat dan pengajar Hubungan Internasional di FISIP Universitas Tanjungpura dan sedang menempuh S-3 di Institut für Internationale Entwicklung, University of Vienna, Austria.

Hidup di Eropa dengan beragam kebudayaan yang ada, awalnya sempat menimbulkan kekhawatiran bagi saya. Selama ini tinggal di Indonesia dengan segala keleluasaan mempraktikkan ajaran Islam tentu akan berbeda ketika berada di negara orang, ketika muslim bukanlah penduduk mayoritas. Ditambah lagi isu Islamophobia yang sering diberitakan di media internasional selama beberapa tahun ke belakang. Bahkan tahun lalu kasus terorisme di Wina juga menimbulkan sentimen negatif terhadap komunitas muslim di Austria.

Sejauh yang saya alami selama hampir enam bulan di kota Wina, kekhawatiran itu tidak terbukti. Sepanjang mata memandang, Anda bisa dengan mudah melihat wanita berkerudung, restoran-restoran halal, bahkan masjid dari masing-masing komunitas negara yang ada di Wina. Di Wina sendiri terdapat satu masjid besar bernama Islamic Centre of Vienna. Masjid ini menjadi tempat berkumpul masyarakat muslim di Austria. Tidak ketinggalan komunitas muslim asal Indonesia yang bernaung dalam wadah bernama Warga Pengajian Austria (Wapena).
Sebenarnya saya sudah pernah mendapatkan informasi dari Zairin Zain, dosen Fakultas Teknik UNTAN yang pernah menempuh pendidikan doktoral di Wina 10 tahun lalu, tentang komunitas muslim Indonesia ini. Sebelum berangkat ke Wina, saya juga sudah sempat mengikuti beberapa unggahan dari instagram mereka. Hingga akhirnya merasakan sendiri keramahtamahan khas Indonesia, khususnya saudara sesama muslim, di negari orang. Saya mencoba membagikan pengalaman dan kisah tentang komunitas muslim Indonesia di Austria lewat tulisan ini.

Wapena dan Dakwah Islam di Austria
Warga Muslim Indonesia di Wina sudah mulai mengadakan kajian keislaman sejak 1980-an yang dilakukan di KBRI/PTRI Wina atas prakarsa para staf kedutaan dan juga mahasiswa asal Indonesia. Islam di Austria sudah diakui sebagai agama resmi oleh negara sejak tahun 1882.

Pada perkembangannya komunitas ini memunculkan nama Warga Pengajian Wina (Wapena) di tahun 1991. Aktivitas pengajian mulai terbagi sesuai segmentasi. Yaitu pengajian remaja, mingguan, dan ibu-ibu. Wapena juga aktif berkontribusi di acara buka puasa bersama yang diselenggarakan di Masjid Islamic Center of Vienna. Secara rutin komunitas ini juga melaksanakan salat Idul fitri dan Idul adha di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Mengembalikan nostalgia beraktivitas sebagai muslim selayaknya di Indonesia mungkin jadi salah satu motivasi para pendahulu di Wapena.
Pada era 2000-an, Wapena mulai melebarkan sayap dengan rutin mengundang tokoh-tokoh muslim skala nasional dari Indonesia untuk berkegiatan di Austria. Selain itu, pada periode ini juga kegiatan Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA) untuk anak-anak berdiri secara otonom. Wapena juga menginisiasi program pemberangkatan haji bagi WNI di Austria.

Baca Juga :  Menghormati Orang Tua

Empat puluh tahun keberadaan Wapena, telah memberikan kesan dan manfaat yang tidak terhitung bagi warga Indonesia yang berada di Austria, khususnya kota Wina. Pada perkembangannya menurut penuturan Ketua Umum Wapena saat ini, Arya Gunawan Usis, kepanjangan nama Wapena diperluas menjadi Warga Pengajian Austria karena jemaah tidak hanya terbatas pada muslim Indonesia di Wina melainkan juga di berbagai kota lainnya di Austria. Di Indonesia sendiri, Wapena memiliki kerja sama kontribusi artikel di salah satu rubrik media nasional pada tahun 2012 dengan menyediakan sekitar sembilan tulisan yang berisi aktivitas warga muslim Indonesia di Austria.

Menariknya, kontribusi warga muslim asal Malaysia dan Singapura juga sangat signifikan dari sejak pendirian hingga kini. Wapena tidak hanya milik warga muslim Indonesia, tapi boleh dibilang menjadi representasi muslim Asia Tenggara di Austria. Hal ini juga ditunjukkan dengan berdirinya masjid asal Asia Tenggara satu-satunya di Austria yang dikelola oleh Wapena. Masjid bernama As-Salam ini berupa ruangan bawah tanah dari satu bangunan apartemen yang terletak di Malfattigasse 18.

Ruangan berukuran sekitar 110 meter persegi ini ditempati dengan cara menyewa dan diresmikan pada Januari 2012. Sejak beberapa tahun terakhir, Wapena melakukan kegiatan penggalangan dana agar dapat memiliki masjid sendiri. Upaya ini membuahkan hasil tepatnya pada bulan Januari 2022, Wapena membeli satu ruangan seluas 165 meter persegi, yang diubah fungsinya menjadi masjid.

Saya secara pribadi merasakan beribadah di dua masjid tersebut serta aktif terlibat selama perpindahan yang berlangsung pada 6 Maret lalu. Nuansa yang penuh keakraban, muda dan tua, dari berbagai profesi, dan warga negara, semua bekerja sama dan bersemangat selama proses tersebut. Hal ini menandai langkah baru bagi perjalanan panjang masyarakat muslim Indonesia dan Asia Tenggara di Austria.

Wapena dan Hubungan Baik dengan Pontianak

Selain kesan yang saya rasakan di atas, ada satu hal lagi yang menarik untuk diceritakan. Wapena punya hubungan baik dengan Pontianak. Salah satu ustaz terkenal asal Pontianak, yaitu Ustaz Didik Nur Haris merupakan pengisi kajian rutin bagi jemaah Wapena. Bahkan sebelum pandemi, selama beberapa kali Ramadan, beliau diundang oleh Wapena untuk menetap beberapa pekan di Wina dalam rangka mengisi kajian secara langsung di Masjid As-Salam maupun KBRI.

Baca Juga :  Indonesia Merdeka dengan Mewujudkan Swasembada Beras

Saya mengetahui informasi ini dari beberapa pengurus. Saya juga menemukan rekaman youtube berisi episode serial ceramah beliau yang dibuat khusus selama di Wina. Silaturahmi yang terjalin ini menunjukkan bahwa Pontianak sudah dikenal di Austria lewat kajian-kajian yang dilakukan oleh Wapena. Meskipun tidak banyak orang Pontianak yang pernah ada di Wina, tapi tali silaturahmi itu masih terus erat terjalin. Saat ini saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi jembatan komunikasi antara Pontianak dan Wapena.

Potensi hubungan baik ini menurut saya bisa terus ditingkatkan. Dari sisi hubungan pemerintah, dunia bisnis, pendidikan, bahkan masyarakat. Konsep paradiplomasi yang mengedepankan upaya diplomasi dari daerah keluar negeri dapat dijadikan alternatif pembangunan. Misalnya dengan kerja sama antara Pemerintah Kota Pontianak atau Provinsi Kalimantan Barat dengan KBRI Wina atau Pemerintah Kota Wina. Peluang kerja sama di berbagai bidang, seperti teknologi, pendidikan, transportasi, lingkungan hidup, ekonomi, kesejahteraan sosial, dan bisnis pun rasanya bukan hal yang mustahil digagas.

Saya yakin pihak kedutaan akan menyambut baik jika ada usulan seperti ini. Atau secara khusus bisa juga diadakan kerja sama antara komunitas muslim Pontianak dan Wina dalam kegiatan-kegiatan keislaman atau sosial. Kemajuan teknologi yang begitu pesat, tidak lagi membatasi jarak membuat kerja sama kegiatan bersama lintas negara dapat dilakukan hanya bermodal jaringan internet.

Austria mungkin belum begitu dikenal oleh warga Pontianak, tapi sebaliknya Pontianak sudah dikenal baik di Austria lewat sepak terjang Ustaz Didik Nur Haris selama ini. Hubungan baik yang terjalin secara individu, sangat mungkin diperluas menjadi hubungan kelembagaan. Sehingga di kemudian hari dapat diwujudkan relasi yang lebih baik dan masif antara Pontianak dan Wina. Tidak menutup kemungkinan akan semakin banyak warga Pontianak yang beraktivitas di Austria, di jantung Eropa.

*Adityo Darmawan Sudagung
Pengamat dan pengajar Hubungan Internasional di FISIP Universitas Tanjungpura dan sedang menempuh S-3 di Institut für Internationale Entwicklung, University of Vienna, Austria.

Most Read

Artikel Terbaru

/