alexametrics
26.7 C
Pontianak
Tuesday, May 17, 2022

Merdeka Belajar untuk Kita Semua

Oleh: Noraliza, S.Pd.

Setiap warga negara berhak atas pendidikan, hal ini telah dijamin oleh negara sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 31 UUD 1945 ayat 1, yaitu: “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.”

Setiap warga negara juga berhak mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak guna mewujudkan sistem pembelajaran yang baik, sebagaimana amanat Pasal 31 di atas. Pendidikan yang telah diprogramkan oleh pemerintah sebagai usaha agar bangsa Indonesia mampu mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Sebagai warga negara diharapkan mampu mengembangkan diri secara berkelanjutan dari generasi ke generasi. Sistem pendidikan kita dilaksanakan secara semesta, menyeluruh, dan terpadu. Semesta artinya pendidikan terbuka bagi seluruh rakyat dan berlaku di seluruh wilayah negara. Sedangkan menyeluruh artinya mencakup semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Dan terpadu artinya saling terikat antara pendidikan nasional dengan seluruh upaya pembangunan nasional. (Monica Ayu, 4 Februari 2022)

Kurikulum 2022 yang menitikberatkan merdeka belajar memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan, kepala sekolah, dan guru untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan pembentukan karakter peserta didik sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya tanpa ada diskriminasi dalam bentuk apapun.

Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), 13 Februari 2022, merdeka belajar adalah suatu pendekatan yang dilakukan supaya siswa bisa memilih pelajaran yang diminati. Hal ini dilakukan supaya para siswa bisa mengoptimalkan bakatnya dan bisa memberikan kontribusi yang paling baik dalam berkarya bagi bangsa. Konsep merdeka belajar yang diluncurkan oleh Mendikbudristek RI adalah berawal dari dorongan keinginannya menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu.

Baca Juga :  Komisi C Minta Disdikbud Tambah Anggaran Pendidikan di 2021

Pokok-pokok kebijakan kemendikbudristek tertuang dalam paparan di hadapan kepala dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia di Jakarta pada 11 Desember 2019 lalu. Di antara pokok kebijakan tersebut, pertama, Ujian Nasional (UN) diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan survei karakter. Kedua, Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) diserahkan ke sekolah. Dalam artian, sekolah diberikan keleluasaan dalam menentukan bentuk penilaiannya. Ketiga, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disederhanakan, yaitu hanya cukup satu halaman/lembar sehingga waktu guru tidak banyak terkuras untuk administrasi dan waktu yang banyak itu bisa dimanfaatkan untuk kegiatan belajar atau peningkatan kompetensi.

Mencermati kebijakan merdeka belajar dari kemendikbudristek, penulis menemukan ‘benang merah’ bahwa pembelajaran tidak melulu dilakukan di dalam kelas semata, melainkan juga bisa di luar kelas atau alam terbuka. Suasana dan kondisi seperti itu akan membuat lebih nyaman dan fresh, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, belajar adab dan sopan santun, serta memacu diri untuk saling berkompetisi yang sehat dengan kompetensi yang diperoleh.

Merdeka belajar akan terus mendukung banyak inovasi dalam dunia pendidikan kita, terutama kemajuan lembaga pendidikan termasuk sekolah atau madrasah dengan membentuk kompetensi guru. Perbedaan suku, adat-istiadat dan budaya menjadi tantangan tersendiri dan membuat kita untuk saling mengenal serta menjadi bangsa yang makmur dengan menghargai perbedaan yang ada sehingga akan muncul kesadaran untuk bekerjasama atau gotong-royong yang sudah menjadi warisan leluhur secara turun-temurun. Nilai-nilai Pancasila yang tertuang dalam Bhinneka Tunggal Ika dengan motto “Walaupun berbeda-beda, tetapi satu jua” harus terpatri dalam setiap jiwa insan pembelajar Indonesia.

Baca Juga :  Adanya Program "Siaplah" Permudah Bidang Pendidikan

Peran guru sebagai pendidik yang ditugaskan di sekolah untuk mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, membimbing, menilai, dan mengevaluasi peserta didik harus mampu mengidentifikasi minat dan bakat yang dimiliki setiap peserta didik supaya dapat memberikan pengarahan dan mengembangkannya sehingga setiap guru memiliki andil dalam membentuk karakter dari setiap kepribadian yang tidak sama. Peran mendidik peserta didik inilah yang merupakan hal menarik dan unik untuk dilakukan yang bernilai ibadah dan amal jariyah.

Melalui opini ini, penulis berharap implementasi merdeka belajar berlaku menyeluruh dan menyentuh kepada seluruh satuan pendidikan mulai dari pusat hingga ke pelosok negeri. Artinya, tidak ada perbedaan dalam perlakuan terhadap guru dan peserta didik dalam pelaksanaan merdeka belajar sehingga kesempatan belajar merata di seluruh penjuru negeri tanpa ada perbedaan sedikitpun.

Pemenuhan kebutuhan akan pendidikan juga diharapkan dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia seutuhnya. Kurikulum prototipe pada tahun 2022 yang di dalamnya menekankan merdeka belajar juga harus menyentuh ke sekolah-sekolah yang ada di daerah tanpa ada perbedaan dengan sekolah di kota, karena merdeka belajar untuk kita semua. Semoga!**

Penulis adalah Guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.

Oleh: Noraliza, S.Pd.

Setiap warga negara berhak atas pendidikan, hal ini telah dijamin oleh negara sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 31 UUD 1945 ayat 1, yaitu: “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.”

Setiap warga negara juga berhak mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak guna mewujudkan sistem pembelajaran yang baik, sebagaimana amanat Pasal 31 di atas. Pendidikan yang telah diprogramkan oleh pemerintah sebagai usaha agar bangsa Indonesia mampu mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Sebagai warga negara diharapkan mampu mengembangkan diri secara berkelanjutan dari generasi ke generasi. Sistem pendidikan kita dilaksanakan secara semesta, menyeluruh, dan terpadu. Semesta artinya pendidikan terbuka bagi seluruh rakyat dan berlaku di seluruh wilayah negara. Sedangkan menyeluruh artinya mencakup semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Dan terpadu artinya saling terikat antara pendidikan nasional dengan seluruh upaya pembangunan nasional. (Monica Ayu, 4 Februari 2022)

Kurikulum 2022 yang menitikberatkan merdeka belajar memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan, kepala sekolah, dan guru untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan pembentukan karakter peserta didik sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya tanpa ada diskriminasi dalam bentuk apapun.

Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), 13 Februari 2022, merdeka belajar adalah suatu pendekatan yang dilakukan supaya siswa bisa memilih pelajaran yang diminati. Hal ini dilakukan supaya para siswa bisa mengoptimalkan bakatnya dan bisa memberikan kontribusi yang paling baik dalam berkarya bagi bangsa. Konsep merdeka belajar yang diluncurkan oleh Mendikbudristek RI adalah berawal dari dorongan keinginannya menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu.

Baca Juga :  Marhaban Ya Ramadan

Pokok-pokok kebijakan kemendikbudristek tertuang dalam paparan di hadapan kepala dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia di Jakarta pada 11 Desember 2019 lalu. Di antara pokok kebijakan tersebut, pertama, Ujian Nasional (UN) diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan survei karakter. Kedua, Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) diserahkan ke sekolah. Dalam artian, sekolah diberikan keleluasaan dalam menentukan bentuk penilaiannya. Ketiga, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disederhanakan, yaitu hanya cukup satu halaman/lembar sehingga waktu guru tidak banyak terkuras untuk administrasi dan waktu yang banyak itu bisa dimanfaatkan untuk kegiatan belajar atau peningkatan kompetensi.

Mencermati kebijakan merdeka belajar dari kemendikbudristek, penulis menemukan ‘benang merah’ bahwa pembelajaran tidak melulu dilakukan di dalam kelas semata, melainkan juga bisa di luar kelas atau alam terbuka. Suasana dan kondisi seperti itu akan membuat lebih nyaman dan fresh, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, belajar adab dan sopan santun, serta memacu diri untuk saling berkompetisi yang sehat dengan kompetensi yang diperoleh.

Merdeka belajar akan terus mendukung banyak inovasi dalam dunia pendidikan kita, terutama kemajuan lembaga pendidikan termasuk sekolah atau madrasah dengan membentuk kompetensi guru. Perbedaan suku, adat-istiadat dan budaya menjadi tantangan tersendiri dan membuat kita untuk saling mengenal serta menjadi bangsa yang makmur dengan menghargai perbedaan yang ada sehingga akan muncul kesadaran untuk bekerjasama atau gotong-royong yang sudah menjadi warisan leluhur secara turun-temurun. Nilai-nilai Pancasila yang tertuang dalam Bhinneka Tunggal Ika dengan motto “Walaupun berbeda-beda, tetapi satu jua” harus terpatri dalam setiap jiwa insan pembelajar Indonesia.

Baca Juga :  Aturan Baru Pendidikan Segera Diumumkan

Peran guru sebagai pendidik yang ditugaskan di sekolah untuk mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, membimbing, menilai, dan mengevaluasi peserta didik harus mampu mengidentifikasi minat dan bakat yang dimiliki setiap peserta didik supaya dapat memberikan pengarahan dan mengembangkannya sehingga setiap guru memiliki andil dalam membentuk karakter dari setiap kepribadian yang tidak sama. Peran mendidik peserta didik inilah yang merupakan hal menarik dan unik untuk dilakukan yang bernilai ibadah dan amal jariyah.

Melalui opini ini, penulis berharap implementasi merdeka belajar berlaku menyeluruh dan menyentuh kepada seluruh satuan pendidikan mulai dari pusat hingga ke pelosok negeri. Artinya, tidak ada perbedaan dalam perlakuan terhadap guru dan peserta didik dalam pelaksanaan merdeka belajar sehingga kesempatan belajar merata di seluruh penjuru negeri tanpa ada perbedaan sedikitpun.

Pemenuhan kebutuhan akan pendidikan juga diharapkan dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia seutuhnya. Kurikulum prototipe pada tahun 2022 yang di dalamnya menekankan merdeka belajar juga harus menyentuh ke sekolah-sekolah yang ada di daerah tanpa ada perbedaan dengan sekolah di kota, karena merdeka belajar untuk kita semua. Semoga!**

Penulis adalah Guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.

Most Read

Artikel Terbaru

/