alexametrics
26.7 C
Pontianak
Tuesday, May 17, 2022

Nasehat Guru Masih Dipatuhi

Oleh: Siti Utami, S.Pd.

Seorang ibu mengeluh terhadap sikap anaknya yang tidak mau memotong rambutnya yang sudah terlihat panjang. Sudah berulang kali sang ibu menyuruh anaknya untuk memotong rambut, tapi si anak masih bersikeras tidak mau. Namun di saat masuk sekolah, dan sepulang dari sekolah si anak mengatakan kepada ibunya di rumah, “Mak, tadi di sekolah Ibu guru menyuruh memotong rambutku karena sudah panjang. Nanti sore kita potong rambut ya Mak.” Begitulah anak-anak kita, mereka lebih mendengar ucapan gurunya daripada ucapan orang tuanya.

Profesi guru yang saban hari berinteraksi dengan siswa di sekolah tidak luput dari nasehat, meskipun sebagian siswa mengganggapnya sebagai celoteh belaka atau bahkan ada yang menyebutnya omong kosong. Tanpa mereka sadari, bahwa kata-kata guru itu akan mengendap dalam alam bawah sadar yang sewaktu-waktu akan muncul ke permukaan ketika sudah dewasa dan mereka baru menyadari bahwa dulu gurunya pernah berkata ternyata semua itu bernilai nasehat bagi dirinya yang sarat manfaat.

Nasehat adalah ajaran atau pelajaran yang baik atau anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yang baik. Ibarat atau perumpamaan yang terkandung dalam suatu cerita dan sebagainya juga disebut sebagai nasehat (KBBI, 2008). Nasehat yang diucapkan oleh guru di sekolah bukan hanya tertuju kepada siswa tertentu saja, melainkan kepada semua siswa. Misalnya, guru menasehati siswanya agar rajin-rajin belajar, rambut dan pakaian harus rapi dan bersih, menghormati orang tua dan guru, menyayangi yang lebih muda, dan sebagainya.

Ketika seorang guru berbicara kepada siswanya, berarti sang guru sedang memberi nasehat kepada mereka. Guru yang peduli dan bertanggung jawab adalah guru yang selalu memberi nasehat kepada siswanya. Tugas guru tidak hanya mentransfer ilmu, membimbing, melatih, memaksimalkan minat dan bakat siswanya, melainkan juga memberikan nasehat dengan tutur kata yang baik dan mudah diterima oleh siswa.

Baca Juga :  RESTORATIVE JUSTICE

Sebagai contoh ketika siswa diminta untuk duduk dengan rapi dan sopan, jangan duduk seperti di warung kopi. Contoh seperti ini siswa dididik dengan mengutamakan akhlak mulia dengan harapan kelak mereka bisa menjadi anak yang pandai dalam bergaul dan memposisikan dirinya di masyarakat. Tentu dengan bimbingan yang baik dari orang tua dan lingkungan masyarakat. Guru yang mengajarkan dan mendorong para siswanya untuk berakhlak baik, jujur dalam setiap keadaan, membiasakan hidup disipilin, dan tanggung jawab dalam setiap bertindak, maka prestasinyapun akan meningkat sebagaimana jurnal oleh Ahmad Wahyu Hidayat (2019) yang berjudul “Hubungan yang signifikan antara akhlak mahmudah dengan prestasi belajar siswa”.

Bicaranya sang guru yang bernilai nasehat memang seketika belum mendatangkan manfaat secara instant, namun di kemudian hari, 10 atau 15 tahun yang akan datang akan berdampak bagi kehidupan siswa yang pernah mendengar nasehat dari guru-gurunya. Pengalaman pribadi penulis sebagai guru, siswa baru akan merasakan dampaknya dari nasehat yang pernah disampaikan kepada siswa ketika mereka sudah tamat dari sekolah dan mereka bertemu dengan gurunya dan berkata, “Ternyata benar apa yang dulu pernah guru sampaikan kepada kami.”

Pengakuan siswa menjadi bukti empiris di lapangan bahwa nasehat yang disampaikan oleh guru bukanlah sekedar celoteh belaka, tapi mengandung nilai yang ada manfaatnya. Setiap siswa pasti punya kenangan tersendiri dengan gurunya, bahkan susunan kalimat yang diucapkan oleh gurunya masih diingat sampai hari ini. Seperti apa nasehat yang dulu pernah didengar oleh siswa terekam kuat di memori otaknya. Oleh karena itu, kepada siswa janganlah menganggap remeh kata-kata dari guru karena itu adalah nasehat yang sangat bermanfaat. Tujuan guru bukanlah menceramahi, tapi untuk kebaikan siswa juga agar ke depan menjadi lebih baik lagi.

Baca Juga :  Persiapan Pembelajaran Tatap Muka, Guru SMPN 1 Segedong Test Swab

Memberikan nasehat kepada sesama adalah perintah dari Allah SWT, sebagaimana surah al-‘Ashr ayat 1-3, “Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling nasehat-menasehati untuk kebenaran dan saling nasehat-menasehati untuk kesabaran.”

Surah ini biasa dibaca bersama-sama oleh siswa kita ketika jam pulang sekolah, dan mereka sudah hafal sejak TK atau SD. Tidak sedikit orang tua yang mengeluh karena anak-anak zaman sekarang tidak mau mendengar kata-kata orang tuanya, mereka lebih mendengar kata-kata dari gurunya. Oleh karena itu, kepada semua guru jangan pernah bosan untuk memberikan nasehat kepada siswa-siswa kita, karena tidak sedikit dari mereka bisa berubah hanya dengan mendengar nasehat dari gurunya. Sampaikan kepada mereka bahwa Allah SWT menciptakan manusia dua telinga dan satu mulut. Itu artinya, setiap manusia harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Semoga siswa kita mau mendengar nasehat dari gurunya untuk kebaikan mereka. Amin.**

Penulis adalah Guru SMP Negeri 3 Tekarang, Kabupaten Sambas.

Oleh: Siti Utami, S.Pd.

Seorang ibu mengeluh terhadap sikap anaknya yang tidak mau memotong rambutnya yang sudah terlihat panjang. Sudah berulang kali sang ibu menyuruh anaknya untuk memotong rambut, tapi si anak masih bersikeras tidak mau. Namun di saat masuk sekolah, dan sepulang dari sekolah si anak mengatakan kepada ibunya di rumah, “Mak, tadi di sekolah Ibu guru menyuruh memotong rambutku karena sudah panjang. Nanti sore kita potong rambut ya Mak.” Begitulah anak-anak kita, mereka lebih mendengar ucapan gurunya daripada ucapan orang tuanya.

Profesi guru yang saban hari berinteraksi dengan siswa di sekolah tidak luput dari nasehat, meskipun sebagian siswa mengganggapnya sebagai celoteh belaka atau bahkan ada yang menyebutnya omong kosong. Tanpa mereka sadari, bahwa kata-kata guru itu akan mengendap dalam alam bawah sadar yang sewaktu-waktu akan muncul ke permukaan ketika sudah dewasa dan mereka baru menyadari bahwa dulu gurunya pernah berkata ternyata semua itu bernilai nasehat bagi dirinya yang sarat manfaat.

Nasehat adalah ajaran atau pelajaran yang baik atau anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yang baik. Ibarat atau perumpamaan yang terkandung dalam suatu cerita dan sebagainya juga disebut sebagai nasehat (KBBI, 2008). Nasehat yang diucapkan oleh guru di sekolah bukan hanya tertuju kepada siswa tertentu saja, melainkan kepada semua siswa. Misalnya, guru menasehati siswanya agar rajin-rajin belajar, rambut dan pakaian harus rapi dan bersih, menghormati orang tua dan guru, menyayangi yang lebih muda, dan sebagainya.

Ketika seorang guru berbicara kepada siswanya, berarti sang guru sedang memberi nasehat kepada mereka. Guru yang peduli dan bertanggung jawab adalah guru yang selalu memberi nasehat kepada siswanya. Tugas guru tidak hanya mentransfer ilmu, membimbing, melatih, memaksimalkan minat dan bakat siswanya, melainkan juga memberikan nasehat dengan tutur kata yang baik dan mudah diterima oleh siswa.

Baca Juga :  Program Pembiasaan SD

Sebagai contoh ketika siswa diminta untuk duduk dengan rapi dan sopan, jangan duduk seperti di warung kopi. Contoh seperti ini siswa dididik dengan mengutamakan akhlak mulia dengan harapan kelak mereka bisa menjadi anak yang pandai dalam bergaul dan memposisikan dirinya di masyarakat. Tentu dengan bimbingan yang baik dari orang tua dan lingkungan masyarakat. Guru yang mengajarkan dan mendorong para siswanya untuk berakhlak baik, jujur dalam setiap keadaan, membiasakan hidup disipilin, dan tanggung jawab dalam setiap bertindak, maka prestasinyapun akan meningkat sebagaimana jurnal oleh Ahmad Wahyu Hidayat (2019) yang berjudul “Hubungan yang signifikan antara akhlak mahmudah dengan prestasi belajar siswa”.

Bicaranya sang guru yang bernilai nasehat memang seketika belum mendatangkan manfaat secara instant, namun di kemudian hari, 10 atau 15 tahun yang akan datang akan berdampak bagi kehidupan siswa yang pernah mendengar nasehat dari guru-gurunya. Pengalaman pribadi penulis sebagai guru, siswa baru akan merasakan dampaknya dari nasehat yang pernah disampaikan kepada siswa ketika mereka sudah tamat dari sekolah dan mereka bertemu dengan gurunya dan berkata, “Ternyata benar apa yang dulu pernah guru sampaikan kepada kami.”

Pengakuan siswa menjadi bukti empiris di lapangan bahwa nasehat yang disampaikan oleh guru bukanlah sekedar celoteh belaka, tapi mengandung nilai yang ada manfaatnya. Setiap siswa pasti punya kenangan tersendiri dengan gurunya, bahkan susunan kalimat yang diucapkan oleh gurunya masih diingat sampai hari ini. Seperti apa nasehat yang dulu pernah didengar oleh siswa terekam kuat di memori otaknya. Oleh karena itu, kepada siswa janganlah menganggap remeh kata-kata dari guru karena itu adalah nasehat yang sangat bermanfaat. Tujuan guru bukanlah menceramahi, tapi untuk kebaikan siswa juga agar ke depan menjadi lebih baik lagi.

Baca Juga :  Bakar Rumah Ortu Karena Sakit Hati, Bripda DN Terancam Pecat

Memberikan nasehat kepada sesama adalah perintah dari Allah SWT, sebagaimana surah al-‘Ashr ayat 1-3, “Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling nasehat-menasehati untuk kebenaran dan saling nasehat-menasehati untuk kesabaran.”

Surah ini biasa dibaca bersama-sama oleh siswa kita ketika jam pulang sekolah, dan mereka sudah hafal sejak TK atau SD. Tidak sedikit orang tua yang mengeluh karena anak-anak zaman sekarang tidak mau mendengar kata-kata orang tuanya, mereka lebih mendengar kata-kata dari gurunya. Oleh karena itu, kepada semua guru jangan pernah bosan untuk memberikan nasehat kepada siswa-siswa kita, karena tidak sedikit dari mereka bisa berubah hanya dengan mendengar nasehat dari gurunya. Sampaikan kepada mereka bahwa Allah SWT menciptakan manusia dua telinga dan satu mulut. Itu artinya, setiap manusia harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Semoga siswa kita mau mendengar nasehat dari gurunya untuk kebaikan mereka. Amin.**

Penulis adalah Guru SMP Negeri 3 Tekarang, Kabupaten Sambas.

Most Read

Artikel Terbaru

/