alexametrics
33.9 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Berlaku Adil Dekat Kepada Takwa

Oleh: Sholihin H. Z

NILAI universal yang menjadi tema umum sehingga menembus batas-batas teritorial dan batas wilayah  antara lain adalah kesamaan, kejujuran dan keadilan serta kemakmuran bagi siapapun. Nilai-nilai ini menjadi hajat bagi semua orang meskipun diwujudkan dengan berbagai cara dan metode. Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan bagi masyarakatnya di bawah sistem kenegaraan yang mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentinggan golongan.

Keadilan –sebagaimana tema tulisan ini- menjadi nilai universal yang didambakan oleh siapapun dan dimanapun. Terwujudnya keadilan akan mengantarkan satu bangsa pada kewibawaan sebuah negeri, dan demikian juga sebaliknya manakala terjadi ketidakadilan maka berbagai problem sosial sebagai dampak ketidakadilan akan mudah terwujud.

Para founding father negeri ini yang juga mengajarkan kita pada generasi saat ini sudah menyebutkan dalam Pembukaan UUD 1945. Pembukaan UUD 1945 mengisyaratkan bahwa pembangunan negeri ini hendaklah selalu bertujuan mengantarkan rakyat Indonesia ke arah kehidupan yang berdaulat, adil dan makmur.

Adil dalam Kajian Kosa Kata

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online disebutkan arti adil adalah sama berat; tidak berat sebelah dan tidak memihak. Kata adil dengan penambahan ke dan an maka ia menjadi satu kata sifat sebagai perbuatan atau perlakuan.

Jika kita kembalikan kepada asal kata adil yang berasal dari bahasa Arab yakni al-‘adl maka kata ini sesungguhnya mempunyai beberapa arti yakni 1) persamaan sebagaimana disebutkan dalam QS. an-Nisa/4: 3; 2) seimbang sebagaimana disebutkan dalam QS. al Infithar/ 82: 7; 3) perhatian dan pemenuhan hak-hak pada setiap individu atau menempatkan sesuatu pada tempatnya; 4) dinisbatkan kepada Allah sebagai salah satu asma Allah yakni al-‘adl. Keadilan Allah SWT adalah untuk semua.

Baca Juga :  Akibat Korupsi Berjamaah

Secara umum, untuk arti terakhir ini dapat dikemukakan bahwa dalam jiwa kita ada nilai ketuhanan (ilahiyah) dan nilai kehewanan (hayawaniyah). Seseorang yang bersikap adil dalam segala tingkatannya dan belajar mewujudkannya dapat diartikan ia sedang menginternalisasikan nilai-nilai keadilan ilahiyyah ke dalam dirinya sendiri. Mencontoh “tabiat” Tuhan adalah sebuah kebenaran dan kebaikan. Bukankah Allah swt menyuruh kita untuk berlaku adil? (Perhatikan QS. an-Nahl/ 16: 90).

Dua kata kunci dari tulisan ini yakni adil dan takwa. Keduanya merupakan kata serapan dari bahasa Arab. Karenanya, pemaknaannya harus dikembalikan kepada makna semula supaya tidak terjadi bias dan salah penafsiran. Kata adil sebagaimana sikap seimbang dan persamaan dalam berbuat dan bertindak maka takwa menjadi simpul dari semua kebaikan. Takwa adalah iman kepada yang ghaib, mendirikan sholat dan berinfaq; takwa adalah sikap berhati-hati dalam berucap dan bertindak; takwa adalah menjaga lisan dan sikap dari menyakiti orang lain; takwa adalah akhir dari proses dan harapan orang yang berpuasa dan adil adalah sikap yang dekat kepada takwa.

Pada akhirnya takwa sebagai sikap seorang muslim maka Allah SWT menjanjikan dengan janji yang tidak akan pernah diingkari-Nya yaitu akan diberikan jalan keluar dari berbagai persoalan kehidupan, persoalan rumah tangga, persoalan karir dan jabatan, persoalan negeri ini bahkan persoalan keselamatan di dunia dan di akhirat. Bukan hanya itu, orang-orang yang bertakwa akan diberikan rezeki dan limpahan karunia dari arah yang tidak disangka-sangka. Masih ragukah kita dengan janji Allah?

Terwujudnya keadilan adalah dambaan bagi semua orang, sebagai perintah agama tentu yang harus difahami adalah 1) akan terkandung banyak kebaikan jika satu hal diperintah atau dilarang oleh agama; 2) keadilan sebagai satu sifat yang harus kita internalisasikan dalm kehidupan kita maka akan dijauhkan dari malapetaka dan musibah yang membinasakan penduduknya (Qs. Hud/ 11: 17).

Baca Juga :  Menggapai Asa Kinerja Anggaran yang Lebih Baik 

Keadilan sangat terkait dengan aspek hukum. Men-judge orang lain dengan tegas namun tidak didasari dengan unsur-unsur pemenuhan keadilan bukan menjadikan hukum itu dihormati dan disegani malah jutsru menjadikannya senjata bagi yang ingin membelokkan hukum ke jalan yang tidak sebenarnya. Seorang yang koruptor yang memakan duit rakyat ratusan juta, miliaran dan hidup bergelimang harta yang kemudian dihukumi dengan hukuman yang setimpal atau mungkin sama dengan kasus seorang nenek yang dimuat di kompas.com yang mencuri tujuh kayu jati dengan vonis yang tidak masuk akal meskipun akhirnya divonis bebas.

Selain hukum, keadilan juga terkait dengan kesejahteraan sosial sehingga ada istilah keadilan sosial. Ini maknanya bahwa terwujudnya keadilan berdampak pada kesejahteraan hidup dan kesejahteraan hidup masyarakat banyak berpengaruh pada keseimbangan sosial dan keseimbangan adalah salah satu dari makna keadilan yang sudah disebutkan di atas.

Penulis optimis, masih banyak nilai kebaikan yang bisa disemai dan dieksternalisasikan di negeri Indonesia yang tercinta ini. Banyaknya aksi kebaikan menunjukkan bahwa rahmat Allah akan mengitari setiap komunitas pada level yang berbeda. Allah swt menjanjikan dalam Qs. Hud/11: 117: “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan”.**

*Penulis, Guru MAN 2 Pontianak.

Oleh: Sholihin H. Z

NILAI universal yang menjadi tema umum sehingga menembus batas-batas teritorial dan batas wilayah  antara lain adalah kesamaan, kejujuran dan keadilan serta kemakmuran bagi siapapun. Nilai-nilai ini menjadi hajat bagi semua orang meskipun diwujudkan dengan berbagai cara dan metode. Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan bagi masyarakatnya di bawah sistem kenegaraan yang mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentinggan golongan.

Keadilan –sebagaimana tema tulisan ini- menjadi nilai universal yang didambakan oleh siapapun dan dimanapun. Terwujudnya keadilan akan mengantarkan satu bangsa pada kewibawaan sebuah negeri, dan demikian juga sebaliknya manakala terjadi ketidakadilan maka berbagai problem sosial sebagai dampak ketidakadilan akan mudah terwujud.

Para founding father negeri ini yang juga mengajarkan kita pada generasi saat ini sudah menyebutkan dalam Pembukaan UUD 1945. Pembukaan UUD 1945 mengisyaratkan bahwa pembangunan negeri ini hendaklah selalu bertujuan mengantarkan rakyat Indonesia ke arah kehidupan yang berdaulat, adil dan makmur.

Adil dalam Kajian Kosa Kata

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online disebutkan arti adil adalah sama berat; tidak berat sebelah dan tidak memihak. Kata adil dengan penambahan ke dan an maka ia menjadi satu kata sifat sebagai perbuatan atau perlakuan.

Jika kita kembalikan kepada asal kata adil yang berasal dari bahasa Arab yakni al-‘adl maka kata ini sesungguhnya mempunyai beberapa arti yakni 1) persamaan sebagaimana disebutkan dalam QS. an-Nisa/4: 3; 2) seimbang sebagaimana disebutkan dalam QS. al Infithar/ 82: 7; 3) perhatian dan pemenuhan hak-hak pada setiap individu atau menempatkan sesuatu pada tempatnya; 4) dinisbatkan kepada Allah sebagai salah satu asma Allah yakni al-‘adl. Keadilan Allah SWT adalah untuk semua.

Baca Juga :  WTP Tapi Korupsi

Secara umum, untuk arti terakhir ini dapat dikemukakan bahwa dalam jiwa kita ada nilai ketuhanan (ilahiyah) dan nilai kehewanan (hayawaniyah). Seseorang yang bersikap adil dalam segala tingkatannya dan belajar mewujudkannya dapat diartikan ia sedang menginternalisasikan nilai-nilai keadilan ilahiyyah ke dalam dirinya sendiri. Mencontoh “tabiat” Tuhan adalah sebuah kebenaran dan kebaikan. Bukankah Allah swt menyuruh kita untuk berlaku adil? (Perhatikan QS. an-Nahl/ 16: 90).

Dua kata kunci dari tulisan ini yakni adil dan takwa. Keduanya merupakan kata serapan dari bahasa Arab. Karenanya, pemaknaannya harus dikembalikan kepada makna semula supaya tidak terjadi bias dan salah penafsiran. Kata adil sebagaimana sikap seimbang dan persamaan dalam berbuat dan bertindak maka takwa menjadi simpul dari semua kebaikan. Takwa adalah iman kepada yang ghaib, mendirikan sholat dan berinfaq; takwa adalah sikap berhati-hati dalam berucap dan bertindak; takwa adalah menjaga lisan dan sikap dari menyakiti orang lain; takwa adalah akhir dari proses dan harapan orang yang berpuasa dan adil adalah sikap yang dekat kepada takwa.

Pada akhirnya takwa sebagai sikap seorang muslim maka Allah SWT menjanjikan dengan janji yang tidak akan pernah diingkari-Nya yaitu akan diberikan jalan keluar dari berbagai persoalan kehidupan, persoalan rumah tangga, persoalan karir dan jabatan, persoalan negeri ini bahkan persoalan keselamatan di dunia dan di akhirat. Bukan hanya itu, orang-orang yang bertakwa akan diberikan rezeki dan limpahan karunia dari arah yang tidak disangka-sangka. Masih ragukah kita dengan janji Allah?

Terwujudnya keadilan adalah dambaan bagi semua orang, sebagai perintah agama tentu yang harus difahami adalah 1) akan terkandung banyak kebaikan jika satu hal diperintah atau dilarang oleh agama; 2) keadilan sebagai satu sifat yang harus kita internalisasikan dalm kehidupan kita maka akan dijauhkan dari malapetaka dan musibah yang membinasakan penduduknya (Qs. Hud/ 11: 17).

Baca Juga :  Polda Kalbar Semakin Dipercaya

Keadilan sangat terkait dengan aspek hukum. Men-judge orang lain dengan tegas namun tidak didasari dengan unsur-unsur pemenuhan keadilan bukan menjadikan hukum itu dihormati dan disegani malah jutsru menjadikannya senjata bagi yang ingin membelokkan hukum ke jalan yang tidak sebenarnya. Seorang yang koruptor yang memakan duit rakyat ratusan juta, miliaran dan hidup bergelimang harta yang kemudian dihukumi dengan hukuman yang setimpal atau mungkin sama dengan kasus seorang nenek yang dimuat di kompas.com yang mencuri tujuh kayu jati dengan vonis yang tidak masuk akal meskipun akhirnya divonis bebas.

Selain hukum, keadilan juga terkait dengan kesejahteraan sosial sehingga ada istilah keadilan sosial. Ini maknanya bahwa terwujudnya keadilan berdampak pada kesejahteraan hidup dan kesejahteraan hidup masyarakat banyak berpengaruh pada keseimbangan sosial dan keseimbangan adalah salah satu dari makna keadilan yang sudah disebutkan di atas.

Penulis optimis, masih banyak nilai kebaikan yang bisa disemai dan dieksternalisasikan di negeri Indonesia yang tercinta ini. Banyaknya aksi kebaikan menunjukkan bahwa rahmat Allah akan mengitari setiap komunitas pada level yang berbeda. Allah swt menjanjikan dalam Qs. Hud/11: 117: “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan”.**

*Penulis, Guru MAN 2 Pontianak.

Most Read

Artikel Terbaru

/