alexametrics
24 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Kehebatan Surah Al Fatihah

Namanya Menyiratkan Keagungan

Oleh: Harjani Hefni

Al Fatihah adalah surah paling agung yang diturunkan Allah kepada manusia. Beberapa nama dari al Fatihah menunjukkan keagungan surah ini. Ia dinamakan al Fatihah (pembuka), karena mushaf dibuka dengan surat ini dan setiap salat dibuka dengannya.

Dari kata fa-ta-ha juga lahir kata miftah yang berarti kunci, dan dari kata ini juga muncul kalimat al fath yang artinya kemenangan. Jadi al Fatihah dapat diartikan sebagai kunci pembuka untuk mencapai kemenangan, baik pribadi keluarga maupun di tengah-tengah masyarakat.

Surah al Fatihah juga dinamakan Ummul Kitab, Ummul Qur’an, dan Asas al Qur’an. Ummi (ibu) adalah penyebab awal kehidupan seseorang, dan dalam kondisi paling sulit, manusia  akan kembali kepada umminya.

Al Fatihah dinamakan Ummul Kitab dan Ummul Qur’an karena al Qur’an dimulai dengannya, dan dalam kondisi paling sulit, disaat semua teori manusia sudah kehilangan energinya,  manusia akan kembali kepada solusi al Qur’an, dan seluruh makna al Qur’an merujuk kepada tujuh ayat ini.

Dan disaat semua orang sudah cuek dengan al Qur’an, al Fatihah insya Allah masih ada di hatinya. Al Fatihah dinamakan juga As Sab’ul Matsani (tujuh yang berulang), karena surat ini selalu dibaca secara berulang minimal tujuh belas kali sehari semalam.

Pengulangan seperti ini menyiratkan ada makna besar di balik surah ini. Tidak mungkin diulang sebanyak itu kalau kandungannya tidak banyak manfaatnya bagi yang membaca dan mengamalkannya.

Ia juga disebut Al Qur’an al Adzim. Istilah ini secara eksplisit menyebutkan keagungan surat ini, seolah-olah al Qur’an adalah al Fatihah itu sendiri. Karenanya, para ulama juga menamakan surah ini dengan al Kafiyah (cukup), karena semua muatan al Qur’an terkandung di dalamnya.

Al Fatihah disebut juga asy Syifa’ (obat). Artinya, al Fatihah mengandung energi penyembuh penyakit yang diidap oleh masyarakat. Ia juga dinamakan ruqyah. Nama ini menyiratkan makna bahwa al Fatihah dapat menyembuhkan orang dari penyakit, baik penyakit fisik maupun penyakit akibat gangguan jin dan makhluk halus.

Al Fatihah juga dinamakan al kafiyah (sempurna), karena ia adalah satu kesatuan, tidak boleh membaca setengah surat al Fatihah di satu rakaat lalu dilanjutkan setengahnya lagi di rakaat kedua. Al kafiyah menyiratkan makna bahwa al Fatihah adalah totalitas, tidak akan efektif kekuatannya kalau hanya diambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain.

Baca Juga :  Vaksin Ruhani untuk Persiapan Ramadan

Al Waqiyah adalah salah satu nama al Fatihah. Nama ini secara bahasa berarti pelindung, tetapi nama ini menyiratkan makna kekuatan dalam surah ini. Yahya bin Abi Katsir yang menyebut al Fatihah dengan nama ini memahami bahwa al Fatihah mampu melindungi diri, keluarga, dan masyarakat dari berbagai hal yang tidak diinginkan.

Al Fatihah juga dinamakan salat. Karena salat dimulai dengan surat ini dan tidak sah salat seseorang kalau tidak membaca surah ini. Penamaan ini mengandung arti bahwa jika salah satu pekerjaan penting bahkan terpenting seperti salat tidak boleh mengabaikan al Fatihah, apalagi mengisi kehidupan dalam rentang yang cukup relatif panjang. Mengabaikan pemaknaan al Fatihah dalam mengisi kehidupan sebagian atau seluruhnya akan membuat hidup kita tidak berkualitas, keberadaan kita di muka bumi ini tidak sah dan ilegal.

Rasulullah Menanamkan Kehebatan Surah Ini

Rasulullah memahami benar kehebatan al Fatihah. Karenanya, beliau sangat antusias mengajarkannya kepada para sahabat. Keseriusan Nabi mengajarkan al Fatihah tampak dari rentang waktu beliau menyosialisasikan dan mengajarkan maknanya. Meskipun surah ini diturunkan di Mekkah, tetapi beliau tetap mengingatkan makna keagungan surah ini  hingga periode Madinah.

Di antara hadis-hadis yang menjelaskan antusiasme Rasulullah mengajarkan surah ini adalah sebagai berikut: Dari Abu Sa’id bin al Mu’alla berkata: Aku tengah salat di masjid, lalu Rasulullah SAW memanggilku, dan akupun tidak menjawab panggilan beliau. Aku berkata: Ya Rasulullah, tadi aku sedang salat.

Beliau berkata : Bukankah Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu”. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Aku sungguh akan mengajarkan kepadamu suatu surah yang paling agung dalam al Qur’an sebelum kamu keluar dari masjid”.

Kemudian beliau memegang tanganku. Ketika beliau ingin keluar,  aku berkata kerpadanya: Bukankah Engkau berkata akan mengajarkan kepadaku suatu surah yang paling agung dalam al Qur’an? Beliau berkata : “Alhamdulillah Robbil ‘Alamin”, ia adalah tujuh ayat yang berulang dan al Qur’an yang agung yang dianugerahkan kepadaku. (HR. Bukhari).

Hadis lain bersumber dari Abu Hurairah dari Ubay bin Ka’ab berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak pernah menurunkan di dalam Taurat maupun di dalam Injil seperti Ummil Qur’an. Ia adalah tujuh ayat yang berulang, ia terbagi dua, antara Allah dengan hamba-Nya, dan bagi hamba-Nya tergantung apa yag dia minta.(HR. Tirmidzi) .

Baca Juga :  Kejujuran Dasar Segala Kebajikan

Hadis ketiga Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW menemui Ubay bin Ka’ab yang sedang salat. Beliau berkata: Ya Ubai! Ubay pun menoleh tetapi tidak menjawab. Kemudian dia lanjutkan salat dengan agak tergesa-gesa. Kemudian beliaupun berpaling dari salat dan menuju Rasulullah saw dan berkata: Assalamu’alaika ya Rasulullah.

Beliau menjawab: Wa’alaika. Beliau berkata: Apa yang menghalangimu untuk memenuhi panggilanku Ya Ubay? Aku berkata: Aku sedang salat. Beliau bersabda: Apakah kamu tidak menemukan ayat yang diwahyukan kepadaku: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu”. Aku menjawab, benar wahai Rasulullah, aku tidak akan mengulanginya.

Beliau bersabda: “Maukah aku ajarkan kepadamu suatu surat yang tidak pernah turun di dalam Taurat, Injil, Zabur maupun al Qur’an sepertinya?” Aku menjawab, mau Ya Rasulullah. Beliau bersabda : “Aku berharap sebelum keluar dari pintu ini kamu sudah mengetahuinya. Ubay berkata, Rasulullah pun memegang tanganku sambil berbincang denganku. Aku pun memperlambat jalanku khawatir beliau tiba di pintu dan pembicaraan belum selesai.

Ketika kami sudah mendekati pintu, aku berkata: Ya Rasulullah, surah apakah yang Engkau janjikan kepadaku? Rasulullah bersabda: Apa yang kamu baca saat salat? Ubay berkata: Aku membaca Ummul Qur’an. Rasulullah bersabda: Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, Allah tidak menurunkan di dalam Taurat, Injil, Zabur maupun al Qur’an sepertinya. Dia adalah tujuh ayat yang berulang. (HR. Ahmad).

Selain mengajarkan tentang kehebatan surah ini, Rasulullah langsung menyontohkan bagaimana ayat demi ayat dalam surah ini dipraktikkan dalam kehidupan sehar-hari. Beliau mengajarkan agar selalu melalui pekerjaan dengan menyebut nama Allah, selalu mensyukuri nikmat Allah, senantiasa berpikir positif kepada Allah, sennatiasa berorientasi akhirat, senantiasa beribadah dan berdoa, meminta kepada Allah agar senantiasa istiqomah, dan selalu menjadikan orang-orang sukses sebagai motivator dalam mencapai sukses. Berangkat dari nilai-nilai inilah Rasulullah menjadi manusia paling spektakuler meraih kemenangan diri, keluarga, dan di tengah masyarakat.

Semoga kita juga mampu merasakan kehebatan surah al Fatihah, menerapkan nilai dan kandungannya serta menjadikannya sebagai kunci pembuka kesuksesan demi kesuksesan hidup. (*)

*) Penulis, Dosen IAIN Pontianak

Namanya Menyiratkan Keagungan

Oleh: Harjani Hefni

Al Fatihah adalah surah paling agung yang diturunkan Allah kepada manusia. Beberapa nama dari al Fatihah menunjukkan keagungan surah ini. Ia dinamakan al Fatihah (pembuka), karena mushaf dibuka dengan surat ini dan setiap salat dibuka dengannya.

Dari kata fa-ta-ha juga lahir kata miftah yang berarti kunci, dan dari kata ini juga muncul kalimat al fath yang artinya kemenangan. Jadi al Fatihah dapat diartikan sebagai kunci pembuka untuk mencapai kemenangan, baik pribadi keluarga maupun di tengah-tengah masyarakat.

Surah al Fatihah juga dinamakan Ummul Kitab, Ummul Qur’an, dan Asas al Qur’an. Ummi (ibu) adalah penyebab awal kehidupan seseorang, dan dalam kondisi paling sulit, manusia  akan kembali kepada umminya.

Al Fatihah dinamakan Ummul Kitab dan Ummul Qur’an karena al Qur’an dimulai dengannya, dan dalam kondisi paling sulit, disaat semua teori manusia sudah kehilangan energinya,  manusia akan kembali kepada solusi al Qur’an, dan seluruh makna al Qur’an merujuk kepada tujuh ayat ini.

Dan disaat semua orang sudah cuek dengan al Qur’an, al Fatihah insya Allah masih ada di hatinya. Al Fatihah dinamakan juga As Sab’ul Matsani (tujuh yang berulang), karena surat ini selalu dibaca secara berulang minimal tujuh belas kali sehari semalam.

Pengulangan seperti ini menyiratkan ada makna besar di balik surah ini. Tidak mungkin diulang sebanyak itu kalau kandungannya tidak banyak manfaatnya bagi yang membaca dan mengamalkannya.

Ia juga disebut Al Qur’an al Adzim. Istilah ini secara eksplisit menyebutkan keagungan surat ini, seolah-olah al Qur’an adalah al Fatihah itu sendiri. Karenanya, para ulama juga menamakan surah ini dengan al Kafiyah (cukup), karena semua muatan al Qur’an terkandung di dalamnya.

Al Fatihah disebut juga asy Syifa’ (obat). Artinya, al Fatihah mengandung energi penyembuh penyakit yang diidap oleh masyarakat. Ia juga dinamakan ruqyah. Nama ini menyiratkan makna bahwa al Fatihah dapat menyembuhkan orang dari penyakit, baik penyakit fisik maupun penyakit akibat gangguan jin dan makhluk halus.

Al Fatihah juga dinamakan al kafiyah (sempurna), karena ia adalah satu kesatuan, tidak boleh membaca setengah surat al Fatihah di satu rakaat lalu dilanjutkan setengahnya lagi di rakaat kedua. Al kafiyah menyiratkan makna bahwa al Fatihah adalah totalitas, tidak akan efektif kekuatannya kalau hanya diambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain.

Baca Juga :  Elegi Belanja

Al Waqiyah adalah salah satu nama al Fatihah. Nama ini secara bahasa berarti pelindung, tetapi nama ini menyiratkan makna kekuatan dalam surah ini. Yahya bin Abi Katsir yang menyebut al Fatihah dengan nama ini memahami bahwa al Fatihah mampu melindungi diri, keluarga, dan masyarakat dari berbagai hal yang tidak diinginkan.

Al Fatihah juga dinamakan salat. Karena salat dimulai dengan surat ini dan tidak sah salat seseorang kalau tidak membaca surah ini. Penamaan ini mengandung arti bahwa jika salah satu pekerjaan penting bahkan terpenting seperti salat tidak boleh mengabaikan al Fatihah, apalagi mengisi kehidupan dalam rentang yang cukup relatif panjang. Mengabaikan pemaknaan al Fatihah dalam mengisi kehidupan sebagian atau seluruhnya akan membuat hidup kita tidak berkualitas, keberadaan kita di muka bumi ini tidak sah dan ilegal.

Rasulullah Menanamkan Kehebatan Surah Ini

Rasulullah memahami benar kehebatan al Fatihah. Karenanya, beliau sangat antusias mengajarkannya kepada para sahabat. Keseriusan Nabi mengajarkan al Fatihah tampak dari rentang waktu beliau menyosialisasikan dan mengajarkan maknanya. Meskipun surah ini diturunkan di Mekkah, tetapi beliau tetap mengingatkan makna keagungan surah ini  hingga periode Madinah.

Di antara hadis-hadis yang menjelaskan antusiasme Rasulullah mengajarkan surah ini adalah sebagai berikut: Dari Abu Sa’id bin al Mu’alla berkata: Aku tengah salat di masjid, lalu Rasulullah SAW memanggilku, dan akupun tidak menjawab panggilan beliau. Aku berkata: Ya Rasulullah, tadi aku sedang salat.

Beliau berkata : Bukankah Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu”. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Aku sungguh akan mengajarkan kepadamu suatu surah yang paling agung dalam al Qur’an sebelum kamu keluar dari masjid”.

Kemudian beliau memegang tanganku. Ketika beliau ingin keluar,  aku berkata kerpadanya: Bukankah Engkau berkata akan mengajarkan kepadaku suatu surah yang paling agung dalam al Qur’an? Beliau berkata : “Alhamdulillah Robbil ‘Alamin”, ia adalah tujuh ayat yang berulang dan al Qur’an yang agung yang dianugerahkan kepadaku. (HR. Bukhari).

Hadis lain bersumber dari Abu Hurairah dari Ubay bin Ka’ab berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak pernah menurunkan di dalam Taurat maupun di dalam Injil seperti Ummil Qur’an. Ia adalah tujuh ayat yang berulang, ia terbagi dua, antara Allah dengan hamba-Nya, dan bagi hamba-Nya tergantung apa yag dia minta.(HR. Tirmidzi) .

Baca Juga :  Kapan Asap Karhutla Ini Berakhir?

Hadis ketiga Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW menemui Ubay bin Ka’ab yang sedang salat. Beliau berkata: Ya Ubai! Ubay pun menoleh tetapi tidak menjawab. Kemudian dia lanjutkan salat dengan agak tergesa-gesa. Kemudian beliaupun berpaling dari salat dan menuju Rasulullah saw dan berkata: Assalamu’alaika ya Rasulullah.

Beliau menjawab: Wa’alaika. Beliau berkata: Apa yang menghalangimu untuk memenuhi panggilanku Ya Ubay? Aku berkata: Aku sedang salat. Beliau bersabda: Apakah kamu tidak menemukan ayat yang diwahyukan kepadaku: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu”. Aku menjawab, benar wahai Rasulullah, aku tidak akan mengulanginya.

Beliau bersabda: “Maukah aku ajarkan kepadamu suatu surat yang tidak pernah turun di dalam Taurat, Injil, Zabur maupun al Qur’an sepertinya?” Aku menjawab, mau Ya Rasulullah. Beliau bersabda : “Aku berharap sebelum keluar dari pintu ini kamu sudah mengetahuinya. Ubay berkata, Rasulullah pun memegang tanganku sambil berbincang denganku. Aku pun memperlambat jalanku khawatir beliau tiba di pintu dan pembicaraan belum selesai.

Ketika kami sudah mendekati pintu, aku berkata: Ya Rasulullah, surah apakah yang Engkau janjikan kepadaku? Rasulullah bersabda: Apa yang kamu baca saat salat? Ubay berkata: Aku membaca Ummul Qur’an. Rasulullah bersabda: Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, Allah tidak menurunkan di dalam Taurat, Injil, Zabur maupun al Qur’an sepertinya. Dia adalah tujuh ayat yang berulang. (HR. Ahmad).

Selain mengajarkan tentang kehebatan surah ini, Rasulullah langsung menyontohkan bagaimana ayat demi ayat dalam surah ini dipraktikkan dalam kehidupan sehar-hari. Beliau mengajarkan agar selalu melalui pekerjaan dengan menyebut nama Allah, selalu mensyukuri nikmat Allah, senantiasa berpikir positif kepada Allah, sennatiasa berorientasi akhirat, senantiasa beribadah dan berdoa, meminta kepada Allah agar senantiasa istiqomah, dan selalu menjadikan orang-orang sukses sebagai motivator dalam mencapai sukses. Berangkat dari nilai-nilai inilah Rasulullah menjadi manusia paling spektakuler meraih kemenangan diri, keluarga, dan di tengah masyarakat.

Semoga kita juga mampu merasakan kehebatan surah al Fatihah, menerapkan nilai dan kandungannya serta menjadikannya sebagai kunci pembuka kesuksesan demi kesuksesan hidup. (*)

*) Penulis, Dosen IAIN Pontianak

Most Read

Artikel Terbaru

/