alexametrics
32.8 C
Pontianak
Monday, July 4, 2022

Menjadi Sekolah Dambaan Siswa

Oleh: P. Adrianus, S.Si., M.Pd.

Propinisi Kalbar dan/atau Kota Pontianak harus berbeda dalam mengatasi dikotomi sekolah negeri dan swasta. Mendesak tersedianya Pergur atau Perwako untuk menaungi hal ini. Kondisi sekarang, sekolah swasta merasa perlu diperhatikan pula, tidak dibiarkan jalan sendiri dengan anggapan bahwa sekolah swasta telah memiliki intake tersendiri. Salurkanlah dana APBD juga untuk sekolah swasta dalam bentuk bantuan operasional sekolah khusus dari daerah (BOSDA).

Dalam koran Pontianak Post, 19 Mei 2022 (diakses 4/5/2022), yaitu “Anggota Komisi 3 DPRD Kota Pontianak, Mujiono mengatakan bahwa perlu adanya rasionalisasi jumlah siswa di sekolah negeri. Meski ini solusi jangka pendek, tetapi ini gagasan solutif untuk mengatasi persoalan dunia pendidikan. Contoh dalam PPDB, sekolah negeri perlu mengurangi jatah kuota, dari enam kelas seharusnya, diterimakan empat kelas, supaya dua kelas menjadi kesempatan kepada sekolah swasta”. Jika ini dilakukan oleh Pemerintah Kota Pontianak, niscaya eksistensi sekolah swasta tetap terjaga.

Jalur pendidikan dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ada tiga, yakni pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal. Pada pendidikan formal, terdapat paling tidak ada dua tipe sekolah yaitu pendidikan di sekolah negeri dan pendidikan di sekolah swasta. Sekolah negeri dikelolakan langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kini Kemendikbudristek. Sekolah swasta dikelola Kemendikbud melalui Lembaga Pendidikan masyarakat, disebut yayasan. Jadi, ada sekolah negeri dan terdapat sekolah swasta.

Jika memerhatikan dari fakta sejarah di Indonesia, sekolah swastalah yang dahulu berkecimpung mencerdaskan anak bangsa. Setelah ada bentuk negeri kita ketika Indonesia merdeka, baru ada sekolah negeri. Ini dimaklumi sebagai pewarisan dari kolonial yang memberi kesempatan kepada cendikia Indonesia yang mempunyai visi jauh ke depan untuk mempersiapkan generasi muda yang cerdas untuk mengembangkan Indonesia, misalnya R.A. Kartini dan KI Hajar Dewantara.

Tiga hal secara simbolik menghadirkan potret pendidikan yang utuh yang mengembangkan otak, hati, dan raga yaitu ruang kelas, perpustakaan, dan lapangan olahraga (bdk. Kartono, 2021, p.viii). Ruang kelas menjadi tempat saling tukar informasi dalam kesetaraan. Perpustakaan menjadi ajang penambahan pengetahuan dalam kesunyian. Lapangan olahraga mengasah raga, pencarian citra diri positif, dan mengasah aktualisasi diri. Setiap sekolah harusnya termasuk sekolah impian, tetapi labelisasi masyarakat usia sekolah sekolah bahwa sekolahnya sebenarnya merupakan sekolah impian. Jadi, sebetulnya sekolah impian tersebut seperti apa? Dalam presfektif penulis berikut.

Baca Juga :  Akses Layanan Pajak Semakin Mudah

Hal utama yang harus ada tersedia prasarana dan sarana. Gedung dengan ruang memadai harus ada dan layak dihuni oleh peserta didik. Gedung meliputi ruang kelas, laboratorium berupa ruang dan laboratorium alam. Gedung berupa ruang kelas dan ruang terbuka harus diisi dengan sarana berupa kursi dan meja memadai. Atribut pendukung pembelajaran, alat, dan bahan praktik, termasuk surat kabar/majalah/tabloid.

Ruang guru tersedia sarana pendukung yang memadai, jika mampu bisa menyedaiakan sarana pendukung berbasis ilmu dan teknologi yang selalu diperbaharui sesuai kemajuannya. Koneksi internet memadai penunjang guru dan staf meningkatkan pelayanan terhadap peserta didik.

Lapangan terbuka yang luas, pelan diubah menjadi prasarana olahraga dalam ruangan (indoor). Adanya tanaman terawat dan asri menjadi syarat sekolah hijau dan sehat, sanitasinya ideal. Lapangan indoor menjadi pemantik cakrawala peserta didik untuk mudah berekspresi dan berkreasi. Rasa haus jiwa-jiwa muda disalurkan dengan maksimal.

Lebih ideal bila sarana olahraga juga tersedia, dengan sanggup melayani setiap keinginan bathin peserta didik untuk unjuk diri dalam hobi diri yang menggelora. Lapangan indoor yang dapat menampung keinginan olahraga berupa bela diri, permainan bola besar maupun bola kecil, atletik, jika mungkin aquatik. Sarana penunjang ekstrakurikuler diharapkan dalam tersedia dalam kondisi memadai, dalam rangka menjadi sekolah dambaan siswa.

Hal kedua menjadi syarat sekolah agar menjadi sekolah dambaan adalah tersedianya kurikulum, guru, dan staf yang ideal dan selalu rajin berkreasi dan berinovasi (kreinov). Guru harus menciptakan suasana pembelajaran merdeka yang merupakan perjumpaan pribadi yang saling mengisi antara guru dengan peserta didik serta antar-peserta didik.

Semua guru harus merdeka, apalagi guru di sekolah luar negeri agar menjadi sekolah impian. Buatlah rancangan pelaksanaan pembelajaran yang sanggup menggugah peserta didik. Budayakan dalam pembelajaran memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk berkreasi dan kritis agar rasa percaya dirinya meninggi. Gurunya memang harus merdeka dalam belajar. Jadilah guru yang sanggup mengorkestra pembelajaran dan menggairahkan peserta didik.

Baca Juga :  Mengislamisasikan Ilmu Komunikasi

Untuk guru seperti itu harus mampu menjadi guru yang mampu mengendarai kurikulum atau ‘the man behind the gun’, dengan ‘gun’ merupakan kurikulum itu sendiri. Tidak boleh menjadi hamba kurikulum sehingga menjadi guru bagi kurikulum. Bagi guru merdeka, kurikulum adalah kendaraan dalam gerbong sekolah untuk membawa penumpang peserta didik ke terminal pengetahuan kritis (critical knowledge).

Proses yang memerdekakan harus menjadi ciri dari setiap sekolah dambaan siswa. Tidak lagi guru menjadi yang menggurui, semua bisa menjadi guru. Peserta didik pun adalah guru bagi peserta didik lain dan lingkungan sekolah mau pun ketika peserta didik berada di luar atau berada di lingkungan masyarakat. Interaksi pembelajaran yang memerdekakan, guru memberikan kesempatan seluas-luasnya menjadi contoh dan pioner dalam setiap perubahan yang terjadi di sekolah dan lingkungan masyarakat.

Orangtua dan peserta didik tidak lagi berpikir seberapa banyak biaya yang dikeluarkan, yang penting terjangkau, tetapi itu pun bagian dari kontribusi yang diberikan untuk menunjang dan menghidupi dirinya agar proses pembelajaran di tempatnya bersekolah, utamanya sekolah swasta itu tetap berjalan. Selain kontribusinya untuk berkreasi dan berinovasi terlibat penuh pada pemajuan dirinya.

Setiap lini di sekolah dambaan siswa, yang dikatakan stakeholder di sekolah itu saling bahu membahu lewat kapasitas masing-masing untuk ambil bagian dalam setiap kesempatan yang mungkin dirinya berperan, tidak saling menunggu. Adanya inisiatif personal bagi staf-karyawan, guru termasuk di dalamnya yayasan serta peserta didik. Tidak saling menunggu instruksi alias petunjuk dari atasan setiap saat, karena setiap lini taat pada role dalam rancangan.

Yang menjadi visi dan misi sekolah dambaan tersebut berupa manusia merdeka, visioner, siap menjadi pemimpin. Ada kesempatan dengan pelaksanaan Kurikulum Merdeka 2022. Inputnya bisa dari mana saja, prosesnya yang memerdekakan, memotivasi peserta didik, memantik jiwa kritis peserta didik, sekolah dambaan siswa sanggup melahirkan manusia yang siap menjadi pemimpin bagi dirinya dan orang lain. Sekolah dambaan siswa sanggup mewujudkan hal ini karena lulusannya memiliki keunikan dan daya kritis, inovatif, dan kreatif. Mudah-mudahan.**

Penulis adalah Waka Humas, Guru SMP/SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak, Alumnus TEP FKIP Untan Kalbar.

Oleh: P. Adrianus, S.Si., M.Pd.

Propinisi Kalbar dan/atau Kota Pontianak harus berbeda dalam mengatasi dikotomi sekolah negeri dan swasta. Mendesak tersedianya Pergur atau Perwako untuk menaungi hal ini. Kondisi sekarang, sekolah swasta merasa perlu diperhatikan pula, tidak dibiarkan jalan sendiri dengan anggapan bahwa sekolah swasta telah memiliki intake tersendiri. Salurkanlah dana APBD juga untuk sekolah swasta dalam bentuk bantuan operasional sekolah khusus dari daerah (BOSDA).

Dalam koran Pontianak Post, 19 Mei 2022 (diakses 4/5/2022), yaitu “Anggota Komisi 3 DPRD Kota Pontianak, Mujiono mengatakan bahwa perlu adanya rasionalisasi jumlah siswa di sekolah negeri. Meski ini solusi jangka pendek, tetapi ini gagasan solutif untuk mengatasi persoalan dunia pendidikan. Contoh dalam PPDB, sekolah negeri perlu mengurangi jatah kuota, dari enam kelas seharusnya, diterimakan empat kelas, supaya dua kelas menjadi kesempatan kepada sekolah swasta”. Jika ini dilakukan oleh Pemerintah Kota Pontianak, niscaya eksistensi sekolah swasta tetap terjaga.

Jalur pendidikan dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ada tiga, yakni pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal. Pada pendidikan formal, terdapat paling tidak ada dua tipe sekolah yaitu pendidikan di sekolah negeri dan pendidikan di sekolah swasta. Sekolah negeri dikelolakan langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kini Kemendikbudristek. Sekolah swasta dikelola Kemendikbud melalui Lembaga Pendidikan masyarakat, disebut yayasan. Jadi, ada sekolah negeri dan terdapat sekolah swasta.

Jika memerhatikan dari fakta sejarah di Indonesia, sekolah swastalah yang dahulu berkecimpung mencerdaskan anak bangsa. Setelah ada bentuk negeri kita ketika Indonesia merdeka, baru ada sekolah negeri. Ini dimaklumi sebagai pewarisan dari kolonial yang memberi kesempatan kepada cendikia Indonesia yang mempunyai visi jauh ke depan untuk mempersiapkan generasi muda yang cerdas untuk mengembangkan Indonesia, misalnya R.A. Kartini dan KI Hajar Dewantara.

Tiga hal secara simbolik menghadirkan potret pendidikan yang utuh yang mengembangkan otak, hati, dan raga yaitu ruang kelas, perpustakaan, dan lapangan olahraga (bdk. Kartono, 2021, p.viii). Ruang kelas menjadi tempat saling tukar informasi dalam kesetaraan. Perpustakaan menjadi ajang penambahan pengetahuan dalam kesunyian. Lapangan olahraga mengasah raga, pencarian citra diri positif, dan mengasah aktualisasi diri. Setiap sekolah harusnya termasuk sekolah impian, tetapi labelisasi masyarakat usia sekolah sekolah bahwa sekolahnya sebenarnya merupakan sekolah impian. Jadi, sebetulnya sekolah impian tersebut seperti apa? Dalam presfektif penulis berikut.

Baca Juga :  Pendekatan Hard Power dan Soft Power Terhadap Karhutla

Hal utama yang harus ada tersedia prasarana dan sarana. Gedung dengan ruang memadai harus ada dan layak dihuni oleh peserta didik. Gedung meliputi ruang kelas, laboratorium berupa ruang dan laboratorium alam. Gedung berupa ruang kelas dan ruang terbuka harus diisi dengan sarana berupa kursi dan meja memadai. Atribut pendukung pembelajaran, alat, dan bahan praktik, termasuk surat kabar/majalah/tabloid.

Ruang guru tersedia sarana pendukung yang memadai, jika mampu bisa menyedaiakan sarana pendukung berbasis ilmu dan teknologi yang selalu diperbaharui sesuai kemajuannya. Koneksi internet memadai penunjang guru dan staf meningkatkan pelayanan terhadap peserta didik.

Lapangan terbuka yang luas, pelan diubah menjadi prasarana olahraga dalam ruangan (indoor). Adanya tanaman terawat dan asri menjadi syarat sekolah hijau dan sehat, sanitasinya ideal. Lapangan indoor menjadi pemantik cakrawala peserta didik untuk mudah berekspresi dan berkreasi. Rasa haus jiwa-jiwa muda disalurkan dengan maksimal.

Lebih ideal bila sarana olahraga juga tersedia, dengan sanggup melayani setiap keinginan bathin peserta didik untuk unjuk diri dalam hobi diri yang menggelora. Lapangan indoor yang dapat menampung keinginan olahraga berupa bela diri, permainan bola besar maupun bola kecil, atletik, jika mungkin aquatik. Sarana penunjang ekstrakurikuler diharapkan dalam tersedia dalam kondisi memadai, dalam rangka menjadi sekolah dambaan siswa.

Hal kedua menjadi syarat sekolah agar menjadi sekolah dambaan adalah tersedianya kurikulum, guru, dan staf yang ideal dan selalu rajin berkreasi dan berinovasi (kreinov). Guru harus menciptakan suasana pembelajaran merdeka yang merupakan perjumpaan pribadi yang saling mengisi antara guru dengan peserta didik serta antar-peserta didik.

Semua guru harus merdeka, apalagi guru di sekolah luar negeri agar menjadi sekolah impian. Buatlah rancangan pelaksanaan pembelajaran yang sanggup menggugah peserta didik. Budayakan dalam pembelajaran memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk berkreasi dan kritis agar rasa percaya dirinya meninggi. Gurunya memang harus merdeka dalam belajar. Jadilah guru yang sanggup mengorkestra pembelajaran dan menggairahkan peserta didik.

Baca Juga :  Cegah Stunting Masa Kehamilan

Untuk guru seperti itu harus mampu menjadi guru yang mampu mengendarai kurikulum atau ‘the man behind the gun’, dengan ‘gun’ merupakan kurikulum itu sendiri. Tidak boleh menjadi hamba kurikulum sehingga menjadi guru bagi kurikulum. Bagi guru merdeka, kurikulum adalah kendaraan dalam gerbong sekolah untuk membawa penumpang peserta didik ke terminal pengetahuan kritis (critical knowledge).

Proses yang memerdekakan harus menjadi ciri dari setiap sekolah dambaan siswa. Tidak lagi guru menjadi yang menggurui, semua bisa menjadi guru. Peserta didik pun adalah guru bagi peserta didik lain dan lingkungan sekolah mau pun ketika peserta didik berada di luar atau berada di lingkungan masyarakat. Interaksi pembelajaran yang memerdekakan, guru memberikan kesempatan seluas-luasnya menjadi contoh dan pioner dalam setiap perubahan yang terjadi di sekolah dan lingkungan masyarakat.

Orangtua dan peserta didik tidak lagi berpikir seberapa banyak biaya yang dikeluarkan, yang penting terjangkau, tetapi itu pun bagian dari kontribusi yang diberikan untuk menunjang dan menghidupi dirinya agar proses pembelajaran di tempatnya bersekolah, utamanya sekolah swasta itu tetap berjalan. Selain kontribusinya untuk berkreasi dan berinovasi terlibat penuh pada pemajuan dirinya.

Setiap lini di sekolah dambaan siswa, yang dikatakan stakeholder di sekolah itu saling bahu membahu lewat kapasitas masing-masing untuk ambil bagian dalam setiap kesempatan yang mungkin dirinya berperan, tidak saling menunggu. Adanya inisiatif personal bagi staf-karyawan, guru termasuk di dalamnya yayasan serta peserta didik. Tidak saling menunggu instruksi alias petunjuk dari atasan setiap saat, karena setiap lini taat pada role dalam rancangan.

Yang menjadi visi dan misi sekolah dambaan tersebut berupa manusia merdeka, visioner, siap menjadi pemimpin. Ada kesempatan dengan pelaksanaan Kurikulum Merdeka 2022. Inputnya bisa dari mana saja, prosesnya yang memerdekakan, memotivasi peserta didik, memantik jiwa kritis peserta didik, sekolah dambaan siswa sanggup melahirkan manusia yang siap menjadi pemimpin bagi dirinya dan orang lain. Sekolah dambaan siswa sanggup mewujudkan hal ini karena lulusannya memiliki keunikan dan daya kritis, inovatif, dan kreatif. Mudah-mudahan.**

Penulis adalah Waka Humas, Guru SMP/SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak, Alumnus TEP FKIP Untan Kalbar.

Most Read

Artikel Terbaru

/