alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, July 2, 2022

Amal yang Strategis

Oleh: Pabali Musa

TAHUN 2020 sudah menjadi masa lalu dan tahun masa kini adalah 2021. Memasuki tahun baru ini, satu di antara banyak aspek introspeksi diri adalah mengevaluasi kualitas amal ibadah kita di tahun lalu, yang kemudian untuk diisi dengan upaya peningkatannya. Meskipun tidak mungkin sempurna, namun upayakan ada peningkatan terutama secara kualitas dan efektivitasnya. Di antaranya adalah dengan melakukan amal-amal yang strategis.

Amal yang strategis adalah setiap perbuatan yang kita lakukan, sekecil apapun bentuknya, dapat memberikan banyak manfaat di dalam kehidupan dunia serta mendapatkan pahala yang berlipat ganda dan bertambah terus-menerus baik di dunia maupun di akhirat. Amal strategis tergolong ke dalam jenis amal yang terbaik (ahsanu `amalan, seperti disebutkan di dalam Al-Quran surah ke-67/Al-Mulk: 2). Allah S.w.t berfirman: “Dialah (Allah) yang terlah menciptakan kematian dan kehidupan untuk mengujimu sesiapa di antara kamu yang terbaik amalnya. Dan adalah Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Beberapa ketentuan yang menjadikan perbuatan kita termasuk ke dalam kelompok amal strategis adalah pertama: Dimulai dengan amal perbuatan yang bernilai hukum paling tinggi (yaitu dalam hal perintah dimulai dari yang wajib kemudian sunat, sedangkan larangan dimulai yang haram kemudian yang makruh, dan seterusnya). Kewajiban-kewajiban kita yang dituntunkan syariat banyak sekali dan itu merupakan amal strategis untuk dilakukan, seperti kewajiban terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa/negara, dll. Akan tetapi terkadang kita dilalaikan dari hal itu karena disibukkan oleh kegiatan/perbuatan yang nilai hukumnya rendah bahkan yang terlarang.

Baca Juga :  Raksasa Itu Bernama BUMN

Hal terakhir tersebut merupakan strategi dan taktik godaan iblis/syetan. Ibnul-Qayyim Al-Jauziyah, dalam kitabnya Madârijus-Sâlikîn, menyatakan bahwa ada beberapa perangkap iblis dalam menyesatkan manusia, yaitu:

  1. (Strategi dengan target capaian yang paling tinggi) adalah berbagai bentuk tipu daya dan muslihat iblis untuk membujuk manusia agar menjadi murtad/ingkar kepada Allah.
  2. Jika tidak berhasil membuat seseorang murtad, maka dia akan merayunya agar mau melakukan membuat dan berbuat amalan bid`ah (mengada-ada dalam amalan ritual agama/ibadah khusus).
  3. Jika tidak berhasil membuat seseorang berbuat bid`ah dalam urusan ibadah khusus, maka dia akan merayunya agar mau melakukan dosa besar.
  4. Jika tidak berhasil membujuk seseorang untuk melakukan dosa besar, maka dia akan merayunya agar mau melakukan pekerjaan yang berakibat dosa kecil.
  5. Jika tidak berhasil membujuk seseorang untuk melakukan dosa kecil, maka dia akan merayunya agar mau melakukan pekerjaan yang bernilai mubah/boleh agar lalai dari pekerjaan yang bernilai sunat.
  6. Jika tidak berhasil membujuk seseorang untuk melakukan pekerjaan yang bernilai mubah, maka dia akan merayunya agar mau melakukan pekerjaan yang bernilai sunat agar lalai dari pekerjaan yang bernilai wajib.
  7. Jika semua strategi tersebut gagal, maka dia akan menggunakan strategi terakhir yang paling kasar yaitu mengirimkan bala-tentaranya (baik dari jin maupun manusia) untuk membinasakan orang tersebut.

Kedua: Bernilai ibadah (menjadikan pekerjaan sebagai perbuatan amal yang berpahala). Semua perbuatan kita dinilai sebagai amal ibadah dan akan mendapat pahala dari Allah SWT apabila memenuhi syarat-sayarat sebagai berikut:

  1. Fillâh, yaitu orang yang mengerjakannya memiliki iman yang murni pada Allah; tidak memiliki sifat-sifat kafir/ingkar (QS.5.Al-Maidah: 5 / QS.47.Muhammad: 32), tidak berkepercayaan syirik dan melakukan kemusyrikan (QS.6.Al-An`am: 88/QS.18.Al-Kahfi: 110), tidak munafik (QS.33.Al-Ahzab: 19), tidak angkuh (QS.49.Al-Hujurat: 2) dan tidak membenci ajaran Allah (QS.47: 9, 28).
  2. Lillâh, yaitu orang yang mengerjakannya memiliki niat yang ikhlas semata-mata karena Allah (QS.98.Al-Ikhlas: 5).
  3. Billâh, yaitu cara mengerjakannya baik dan benar; terutama dalam ibadah khusus harus sesuai dengan tuntunan, ajaran, aturan dan yang dicontohkan oleh Allah dan Rasulullah s.a.w. (QS.59.Al-Hasyar: 7).
  4. Ilallâh, yaitu tujuan mengerjakannya untuk mencari ridha Allah (QS.13.Ar-Ra`du: 22).
Baca Juga :  “Leter” Bang Midji kepada Perusahaan Sawit

Ketiga: Pekerjaan/perbuatan yang hasilnya/manfaatnya paling banyak dirasakan kebaikannya oleh makhluk Allah. Amal jenis ini dapat berupa infaq, shadaqah dan motivasi lainnya yang memberikan rasa optimisme kepada orang lain/makhluk dalam kehidupannya (Sabda Rasulullah s.a.w: “Amal yang paling utama setelah yang wajib adalah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang beriman”).

Keempat: Pekerjaan/perbuatan yang paling lama kebermanfaatannya. Bentuk amal perbuatan ini merupakan investasi akhirat terutama yang berbentuk pemberian sesuatu yang bersifat permanen baik eksistensinya maupun pemanfaatannya (yaitu wakaf), ilmu yang bermanfaat dan selalu dimanfaatkan oleh orang lain, serta pembangunan generasi terbaik (anak yang shaleh yang selalu mendoakan). Wallahu a`lam.**

*Penulis, Dosen Fisipol Untan dan Ketua PW Muhammadiyah Kalbar.

Oleh: Pabali Musa

TAHUN 2020 sudah menjadi masa lalu dan tahun masa kini adalah 2021. Memasuki tahun baru ini, satu di antara banyak aspek introspeksi diri adalah mengevaluasi kualitas amal ibadah kita di tahun lalu, yang kemudian untuk diisi dengan upaya peningkatannya. Meskipun tidak mungkin sempurna, namun upayakan ada peningkatan terutama secara kualitas dan efektivitasnya. Di antaranya adalah dengan melakukan amal-amal yang strategis.

Amal yang strategis adalah setiap perbuatan yang kita lakukan, sekecil apapun bentuknya, dapat memberikan banyak manfaat di dalam kehidupan dunia serta mendapatkan pahala yang berlipat ganda dan bertambah terus-menerus baik di dunia maupun di akhirat. Amal strategis tergolong ke dalam jenis amal yang terbaik (ahsanu `amalan, seperti disebutkan di dalam Al-Quran surah ke-67/Al-Mulk: 2). Allah S.w.t berfirman: “Dialah (Allah) yang terlah menciptakan kematian dan kehidupan untuk mengujimu sesiapa di antara kamu yang terbaik amalnya. Dan adalah Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Beberapa ketentuan yang menjadikan perbuatan kita termasuk ke dalam kelompok amal strategis adalah pertama: Dimulai dengan amal perbuatan yang bernilai hukum paling tinggi (yaitu dalam hal perintah dimulai dari yang wajib kemudian sunat, sedangkan larangan dimulai yang haram kemudian yang makruh, dan seterusnya). Kewajiban-kewajiban kita yang dituntunkan syariat banyak sekali dan itu merupakan amal strategis untuk dilakukan, seperti kewajiban terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa/negara, dll. Akan tetapi terkadang kita dilalaikan dari hal itu karena disibukkan oleh kegiatan/perbuatan yang nilai hukumnya rendah bahkan yang terlarang.

Baca Juga :  Mentalitas Pendaki

Hal terakhir tersebut merupakan strategi dan taktik godaan iblis/syetan. Ibnul-Qayyim Al-Jauziyah, dalam kitabnya Madârijus-Sâlikîn, menyatakan bahwa ada beberapa perangkap iblis dalam menyesatkan manusia, yaitu:

  1. (Strategi dengan target capaian yang paling tinggi) adalah berbagai bentuk tipu daya dan muslihat iblis untuk membujuk manusia agar menjadi murtad/ingkar kepada Allah.
  2. Jika tidak berhasil membuat seseorang murtad, maka dia akan merayunya agar mau melakukan membuat dan berbuat amalan bid`ah (mengada-ada dalam amalan ritual agama/ibadah khusus).
  3. Jika tidak berhasil membuat seseorang berbuat bid`ah dalam urusan ibadah khusus, maka dia akan merayunya agar mau melakukan dosa besar.
  4. Jika tidak berhasil membujuk seseorang untuk melakukan dosa besar, maka dia akan merayunya agar mau melakukan pekerjaan yang berakibat dosa kecil.
  5. Jika tidak berhasil membujuk seseorang untuk melakukan dosa kecil, maka dia akan merayunya agar mau melakukan pekerjaan yang bernilai mubah/boleh agar lalai dari pekerjaan yang bernilai sunat.
  6. Jika tidak berhasil membujuk seseorang untuk melakukan pekerjaan yang bernilai mubah, maka dia akan merayunya agar mau melakukan pekerjaan yang bernilai sunat agar lalai dari pekerjaan yang bernilai wajib.
  7. Jika semua strategi tersebut gagal, maka dia akan menggunakan strategi terakhir yang paling kasar yaitu mengirimkan bala-tentaranya (baik dari jin maupun manusia) untuk membinasakan orang tersebut.

Kedua: Bernilai ibadah (menjadikan pekerjaan sebagai perbuatan amal yang berpahala). Semua perbuatan kita dinilai sebagai amal ibadah dan akan mendapat pahala dari Allah SWT apabila memenuhi syarat-sayarat sebagai berikut:

  1. Fillâh, yaitu orang yang mengerjakannya memiliki iman yang murni pada Allah; tidak memiliki sifat-sifat kafir/ingkar (QS.5.Al-Maidah: 5 / QS.47.Muhammad: 32), tidak berkepercayaan syirik dan melakukan kemusyrikan (QS.6.Al-An`am: 88/QS.18.Al-Kahfi: 110), tidak munafik (QS.33.Al-Ahzab: 19), tidak angkuh (QS.49.Al-Hujurat: 2) dan tidak membenci ajaran Allah (QS.47: 9, 28).
  2. Lillâh, yaitu orang yang mengerjakannya memiliki niat yang ikhlas semata-mata karena Allah (QS.98.Al-Ikhlas: 5).
  3. Billâh, yaitu cara mengerjakannya baik dan benar; terutama dalam ibadah khusus harus sesuai dengan tuntunan, ajaran, aturan dan yang dicontohkan oleh Allah dan Rasulullah s.a.w. (QS.59.Al-Hasyar: 7).
  4. Ilallâh, yaitu tujuan mengerjakannya untuk mencari ridha Allah (QS.13.Ar-Ra`du: 22).
Baca Juga :  Rasa Nasionalisme Sudah Mulai Luntur?

Ketiga: Pekerjaan/perbuatan yang hasilnya/manfaatnya paling banyak dirasakan kebaikannya oleh makhluk Allah. Amal jenis ini dapat berupa infaq, shadaqah dan motivasi lainnya yang memberikan rasa optimisme kepada orang lain/makhluk dalam kehidupannya (Sabda Rasulullah s.a.w: “Amal yang paling utama setelah yang wajib adalah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang beriman”).

Keempat: Pekerjaan/perbuatan yang paling lama kebermanfaatannya. Bentuk amal perbuatan ini merupakan investasi akhirat terutama yang berbentuk pemberian sesuatu yang bersifat permanen baik eksistensinya maupun pemanfaatannya (yaitu wakaf), ilmu yang bermanfaat dan selalu dimanfaatkan oleh orang lain, serta pembangunan generasi terbaik (anak yang shaleh yang selalu mendoakan). Wallahu a`lam.**

*Penulis, Dosen Fisipol Untan dan Ketua PW Muhammadiyah Kalbar.

Most Read

Artikel Terbaru

/