alexametrics
27 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Mantan Narapidana Harus Percaya Diri

Oleh: Wahyu Saefudin*

Terkadang kita mendengar ketika seorang teman, sahabat, atau pasangan menyampaikan ketakutan dalam menghadapi suatu persoalan. Misalkan, ujian kampus, mengerjakan proyek yang sulit, dsb. Kadang juga dimintai saran atau nasihat terkait individu lain. Misalnya, apakah dia  termasuk orang yang mampu dalam mengemban amanah kepemimpinan atau menduduki posisi tertentu dalam pekerjaan. Bahkan, di waktu yang berbeda, ternyata kita yang berada di posisi itu. Membutuhkan motivasi untuk menyelesaikan deadline di kantor dan harus diyakinkan bahwa bisa bertanggung jawab terhadap amanah di komunitas, dan tepat untuk memimpin sebuah rapat penting.

Kondisi serupa dengan persoalan yang lebih kompleks secara psikologis juga terjadi pada narapidana menjelang bebas. Berbagai kecemasan muncul menjelang mereka menjalani program reintegrasi. Baik itu pembebasan bersyarat maupun cuti bersyarat.

Pembebasan bersyarat dan cuti bersyarat adalah program pembinaan untuk mengintegrasikan narapidana dan anak ke dalam kehidupan masyarakat setelah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Meskipun demikian, keduanya terdapat perbedaan pada syarat terkait masa pidana yang harus dijalani. Pada pembebasan bersyarat Narapidana minimal harus menjalani 2/3 masa pidana untuk Dewasa (9 bulan) dan ½ masa pidana untuk Anak. Sedangkan pada cuti bersyarat paling lama diberikan untuk jangka 6 bulan.

Sebelum bebas para narapidana mempunyai kecemasan terkait kondisinya, apakah dia dapat kembali diterima oleh keluarga, apakah masyarakat mau menerima, dapatkah mereka berperilaku sesuai norma. Lalu apabila ada labeling pada mereka, apakah nanti akan tetap bisa berperilaku baik. Tak kalah penting adalah ketakutan mengenai apakah ada yang mau mempekerjakan mereka kembali. Apakah mereka dapat menjawab kepercayaan apabila diberikan sebuah pekerjaan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini kerap kali muncul dari narapidana sehingga memunculkan berbagai gejala kecemasan menjelang bebas bersyarat. Sebagai pembimbing kemasyarakatan penulis sering mendengarkan kegelisahan dari Narapidana terkait persoalan-persoalan tersebut. Ketakutan semacam ini banyak dijumpai pada narapidana yang jarang dijenguk atau berkomunikasi dengan keluarga terdekat.

Baca Juga :  Metode Pencegahan Narkoba Bagi Pelajar di 2021

Oleh karena itu, diperlukan program pembinaan dan pembimbingan yang juga mengedepankan pada peningkatan kepercayaan diri pada narapidana. Baik laki-laki, perempuan, maupun anak pidana. Tujuannya agar warga binaan merasa yakin terhadap dirinya, sehingga akan mampu dalam melaksanakan setiap tanggung jawab di lingkungannya kelak. Keyakinan semacam ini dalam ilmu psikologi disebut self-efficacy.

Self-Efficacy

Albert Bandura, psikolog berkebangsaan Amerika memperkenalkan teori ini secara lebih luas. Psikolog yang pernah menjabat Presiden Asosiasi Psikologi Amerika (APA) ini mendefinisikan self-efficacy sebagai judgement seseorang atas kemampuannya untuk merencanakan dan melaksanakan tindakan yang mengarah pada pencapaian tujuan tertentu.

Istilah self-efficacy digunakan oleh Bandura untuk mengacu pada keyakinan (beliefs) tentang kemampuan seseorang. Kemampuan yang dimaksud berkaitan mengorganisasikan dan melaksanakan tindakan untuk pencapaian hasil.Dengan kata lain, self-efficacy adalah keyakinan penilaian diri berkenaan dengan kompetensi seseorang untuk sukses dalam tugas-tugasnya.

Lebih jauh lagi, self-efficacy merupakan faktor kunci sumber tindakan manusia (human egency), “apa yang orang pikirkan, percaya, dan rasakan mempengaruhi bagaimana mereka bertindak”. Di samping itu, keyakinan efficacy juga mempengaruhi cara atas pilihan tindakan seseorang, seberapa banyak upaya yang mereka lakukan.

Termasuk seberapa lama mereka akan tekun dalam menghadapi rintangan dan kegagalan.Seberapa kuat ketahanan mereka menghadapi kemalangan.Seberapa jernih pikiran mereka merupakan rintangan diri atau bantuan diri.Seberapa banyak tekanan dan kegundahan pengalaman mereka dalam meniru (copying) tuntunan lingkungan. Seberapa tinggi tingkat pemenuhan yang mereka wujudkan.

Apabila melihat demikian, internalisasi self-efficacy pada warga binaan merupakan hal yang penting. Bagaimanapun juga melalui program pembinaan maupun pembimbingan harus juga dapat menjadikan narapidana menjadi individu yang dapat menentukan sejauh mana usaha yang akan dikerahkan dalam suatu aktivitas. Membuat mereka gigih ketika menghadapi rintangan, dan menjadikan mereka ulet ketika menghadapi situasi yang tidak cocok.

Tak kalah penting adalahself-efficacy dapat meningkatkan kemampuan individu sekaligus kesejahteraan (well-being). Dampaknya, para narapidana ini akan memandang tugas-tugas yang sulit (ketika bebas) sebagai sebuah tantangan untuk ditaklukkan, bukan sebaliknya sebagai ancaman yang harus dihindari.

Baca Juga :  Tegakkan Pancasila, NKRI Jaya

Penologi Pengayoman

Penologi pengayoman sebagai paradigma penghukuman lahir dari pemikiran Sahardjo melalui pidato berjudul “Pohon Beringin Pengayoman” pada tahun 1963. Sejak saat itu, konsep penghukuman tidak lagi dijadikan sebagai balas dendam Negara, melainkan memasyarakatkan kembali para pelaku pidana.

Penologi pengayoman menurut Akmal (2020) bertumpu pada peran aktif individu pelaku tindak pidana. Dengan tujuan untuk memperbaiki kembali hubungan sosialnya dengan masyarakat. Selain itu, melibatkan peran serta masyarakat sebagai pendukung untuk mewujudkan perubahan perilaku pelanggar hukum. Artinya berbagai pihak turut terlibat dalam upaya mengembalikan individu ke dalam keadaan semula.

Oleh karena itu, pelaksanaan hukuman sebagai upaya pembinaan pada pelanggar hukum harus memperhatikan berbagai macam hal. Termasuk dampak dari upaya penghukuman itu sendiri. Mempertimbangkan berbagai aspek psikologis tidak kalah penting dari pemenuhan kebutuhan biologis.

Negara harus bisa menjamin terpenuhinya hak asasi manusia pada setiap warga Negara. Sehingga berbagai bentuk upaya yang diberikan guna memulihkan keadaan pelanggar hukum dapat terukur. Maksud maupun tujuannya. Karena untuk bisa memulihkan hubungan hidup, kehidupan, dan penghidupan tidak bisa dilakukan dengan semena-mena.

Upaya untuk meningkatkan self-efficacy pada warga binaan harus dipandang sebagai salah satu bentuk program pembinaan dan pembimbingan yang berkesinambungan. Sehingga, warga binaan lebih siap lagi dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk identitas baru yang melekat sebagai mantan napi ketika bebas.

Kita harus setuju, bahwa perilaku kejahatan memang harus dihilangkan. Sedangkan pelaku kejahatan harus kita benahi, agar hilang perilaku jahatnya. Namun, kita tetap harus mempunyai landasan dalam mewujudkan hal tersebut. Salah satunya dengan internalisasi self-efficacy pada narapidana.**

*Penulis adalah mahasiswa Master of Counseling and Islamic Psychotherapy, UNISZA-Malaysia/ASN Kemenkumham.

Oleh: Wahyu Saefudin*

Terkadang kita mendengar ketika seorang teman, sahabat, atau pasangan menyampaikan ketakutan dalam menghadapi suatu persoalan. Misalkan, ujian kampus, mengerjakan proyek yang sulit, dsb. Kadang juga dimintai saran atau nasihat terkait individu lain. Misalnya, apakah dia  termasuk orang yang mampu dalam mengemban amanah kepemimpinan atau menduduki posisi tertentu dalam pekerjaan. Bahkan, di waktu yang berbeda, ternyata kita yang berada di posisi itu. Membutuhkan motivasi untuk menyelesaikan deadline di kantor dan harus diyakinkan bahwa bisa bertanggung jawab terhadap amanah di komunitas, dan tepat untuk memimpin sebuah rapat penting.

Kondisi serupa dengan persoalan yang lebih kompleks secara psikologis juga terjadi pada narapidana menjelang bebas. Berbagai kecemasan muncul menjelang mereka menjalani program reintegrasi. Baik itu pembebasan bersyarat maupun cuti bersyarat.

Pembebasan bersyarat dan cuti bersyarat adalah program pembinaan untuk mengintegrasikan narapidana dan anak ke dalam kehidupan masyarakat setelah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Meskipun demikian, keduanya terdapat perbedaan pada syarat terkait masa pidana yang harus dijalani. Pada pembebasan bersyarat Narapidana minimal harus menjalani 2/3 masa pidana untuk Dewasa (9 bulan) dan ½ masa pidana untuk Anak. Sedangkan pada cuti bersyarat paling lama diberikan untuk jangka 6 bulan.

Sebelum bebas para narapidana mempunyai kecemasan terkait kondisinya, apakah dia dapat kembali diterima oleh keluarga, apakah masyarakat mau menerima, dapatkah mereka berperilaku sesuai norma. Lalu apabila ada labeling pada mereka, apakah nanti akan tetap bisa berperilaku baik. Tak kalah penting adalah ketakutan mengenai apakah ada yang mau mempekerjakan mereka kembali. Apakah mereka dapat menjawab kepercayaan apabila diberikan sebuah pekerjaan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini kerap kali muncul dari narapidana sehingga memunculkan berbagai gejala kecemasan menjelang bebas bersyarat. Sebagai pembimbing kemasyarakatan penulis sering mendengarkan kegelisahan dari Narapidana terkait persoalan-persoalan tersebut. Ketakutan semacam ini banyak dijumpai pada narapidana yang jarang dijenguk atau berkomunikasi dengan keluarga terdekat.

Baca Juga :  Mengenal Surah An-Nisa’

Oleh karena itu, diperlukan program pembinaan dan pembimbingan yang juga mengedepankan pada peningkatan kepercayaan diri pada narapidana. Baik laki-laki, perempuan, maupun anak pidana. Tujuannya agar warga binaan merasa yakin terhadap dirinya, sehingga akan mampu dalam melaksanakan setiap tanggung jawab di lingkungannya kelak. Keyakinan semacam ini dalam ilmu psikologi disebut self-efficacy.

Self-Efficacy

Albert Bandura, psikolog berkebangsaan Amerika memperkenalkan teori ini secara lebih luas. Psikolog yang pernah menjabat Presiden Asosiasi Psikologi Amerika (APA) ini mendefinisikan self-efficacy sebagai judgement seseorang atas kemampuannya untuk merencanakan dan melaksanakan tindakan yang mengarah pada pencapaian tujuan tertentu.

Istilah self-efficacy digunakan oleh Bandura untuk mengacu pada keyakinan (beliefs) tentang kemampuan seseorang. Kemampuan yang dimaksud berkaitan mengorganisasikan dan melaksanakan tindakan untuk pencapaian hasil.Dengan kata lain, self-efficacy adalah keyakinan penilaian diri berkenaan dengan kompetensi seseorang untuk sukses dalam tugas-tugasnya.

Lebih jauh lagi, self-efficacy merupakan faktor kunci sumber tindakan manusia (human egency), “apa yang orang pikirkan, percaya, dan rasakan mempengaruhi bagaimana mereka bertindak”. Di samping itu, keyakinan efficacy juga mempengaruhi cara atas pilihan tindakan seseorang, seberapa banyak upaya yang mereka lakukan.

Termasuk seberapa lama mereka akan tekun dalam menghadapi rintangan dan kegagalan.Seberapa kuat ketahanan mereka menghadapi kemalangan.Seberapa jernih pikiran mereka merupakan rintangan diri atau bantuan diri.Seberapa banyak tekanan dan kegundahan pengalaman mereka dalam meniru (copying) tuntunan lingkungan. Seberapa tinggi tingkat pemenuhan yang mereka wujudkan.

Apabila melihat demikian, internalisasi self-efficacy pada warga binaan merupakan hal yang penting. Bagaimanapun juga melalui program pembinaan maupun pembimbingan harus juga dapat menjadikan narapidana menjadi individu yang dapat menentukan sejauh mana usaha yang akan dikerahkan dalam suatu aktivitas. Membuat mereka gigih ketika menghadapi rintangan, dan menjadikan mereka ulet ketika menghadapi situasi yang tidak cocok.

Tak kalah penting adalahself-efficacy dapat meningkatkan kemampuan individu sekaligus kesejahteraan (well-being). Dampaknya, para narapidana ini akan memandang tugas-tugas yang sulit (ketika bebas) sebagai sebuah tantangan untuk ditaklukkan, bukan sebaliknya sebagai ancaman yang harus dihindari.

Baca Juga :  IMPLIKASI PUTUSAN MK NOMOR: 35/PPUXVII/2018, SEMAKIN MENGUATKAN PERADI SEBAGAI SINGLE BAR

Penologi Pengayoman

Penologi pengayoman sebagai paradigma penghukuman lahir dari pemikiran Sahardjo melalui pidato berjudul “Pohon Beringin Pengayoman” pada tahun 1963. Sejak saat itu, konsep penghukuman tidak lagi dijadikan sebagai balas dendam Negara, melainkan memasyarakatkan kembali para pelaku pidana.

Penologi pengayoman menurut Akmal (2020) bertumpu pada peran aktif individu pelaku tindak pidana. Dengan tujuan untuk memperbaiki kembali hubungan sosialnya dengan masyarakat. Selain itu, melibatkan peran serta masyarakat sebagai pendukung untuk mewujudkan perubahan perilaku pelanggar hukum. Artinya berbagai pihak turut terlibat dalam upaya mengembalikan individu ke dalam keadaan semula.

Oleh karena itu, pelaksanaan hukuman sebagai upaya pembinaan pada pelanggar hukum harus memperhatikan berbagai macam hal. Termasuk dampak dari upaya penghukuman itu sendiri. Mempertimbangkan berbagai aspek psikologis tidak kalah penting dari pemenuhan kebutuhan biologis.

Negara harus bisa menjamin terpenuhinya hak asasi manusia pada setiap warga Negara. Sehingga berbagai bentuk upaya yang diberikan guna memulihkan keadaan pelanggar hukum dapat terukur. Maksud maupun tujuannya. Karena untuk bisa memulihkan hubungan hidup, kehidupan, dan penghidupan tidak bisa dilakukan dengan semena-mena.

Upaya untuk meningkatkan self-efficacy pada warga binaan harus dipandang sebagai salah satu bentuk program pembinaan dan pembimbingan yang berkesinambungan. Sehingga, warga binaan lebih siap lagi dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk identitas baru yang melekat sebagai mantan napi ketika bebas.

Kita harus setuju, bahwa perilaku kejahatan memang harus dihilangkan. Sedangkan pelaku kejahatan harus kita benahi, agar hilang perilaku jahatnya. Namun, kita tetap harus mempunyai landasan dalam mewujudkan hal tersebut. Salah satunya dengan internalisasi self-efficacy pada narapidana.**

*Penulis adalah mahasiswa Master of Counseling and Islamic Psychotherapy, UNISZA-Malaysia/ASN Kemenkumham.

Most Read

Berharap Tuah Kandang

Apresiasi PCNU Hadirkan Kiai ke Singkawang.

Hati Wadah Kebenaran

Artikel Terbaru

/