alexametrics
33 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

Menghargai Penulis

Oleh: Aswandi*

TIDAK sedikit kita temui kisah oang sukses karena mereka mendapat pengetahuan, bertambah wawasan, maju pola pikirnya dan berubah sikapnya menjadi lebih baik karena dipengaruhi oleh karya tulis yang dibacanya. Kasus lain, ada perusahaan penerbit yang tadinya sudah tidak berproduksi lagi dan semua karyawannya di PHK bangkit kembali dan berkembang pesat karena menerbitkan buku karya seorang penulis JK. Rawling. Setiap kali buku karyanya dilaunching dan dijual, para pembaca takut tidak kebagian buku tersebut siap antri sepanjang 10 km, bahkan diantaranya ada yang pingsan.

Seorang dosen menceritakan pengalamannya membeli buku di kota Finlandia (negara terbaik mutu pendidikan di dunia) layaknya membeli makanan dan minimal (sembilan bahan pokok) di super market di tempat kita. Pembeli harus menggunakan kereta dorong untuk menempatkan buku-buku yang dibelinya, jarang ditemui pembeli buku tanpa membawa kereta dorong karena banyaknya buku yang mereka beli. Fenomena tersebut menggambarkan tingginya literasi membaca masyarakat Finlandia berdampak pada penghargaan yang tinggi pula terhadap penulis.

Sejak duduk di sekolah menengah, penulis membaca buku berjudul “Kapita Selekta” dan artikel di majalah Panji Masyarakat yang ditulis oleh bapak Muhammad Natsir, seorang tokoh Masyumi, mantan Perdana Menteri, seorang pemimpin yang sangat penulis hormati di negeri ini. Alhamdulillah, di sela-sela waktu pada saat studi magister, penulis sempat bersilaturahmi dengan beliau di rumahnya di Jakarta. Setelah itu silaturrahmi berlanjut sebanyak dua kali saat beliau terbaring sakit hingga wafat.

Pada saat silaturahmi pertama, penulis diterima oleh beliau didampingi istrinya. Di saat itu penulis menyaksikan sendiri perusahaan penerbit datang ke rumahnya menyerahkan uang royalty dari buku-buku yang ditulisnya, penulis mendapat informasi dari karyawan penerbit tersebut bahwa selama hidupnya beliau menulis banyak buku dan artikel, diterbitkan dan dimuat di media cetak baik di dalam maupun di luar negeri, namun beliau tidak pernah mendapatkan royalty atau jasa dari aktivitas`menulisnya.

Penulis menyaksikan uang royalty dan jasa yang diserahkan penerbit tersebut diterimanya. Setelah itu uang tersebut dibagi-bagikannya kepada para dai yang baru pulang studi di Timur Tengah. Terdengar di telinga penulis, beliau mengatakan uang ini lebih berarti jika diserahkan kepada para dai yang akan pulang ke rumah masing-masing setelah lima tahun berpisah dengan keluarganya. Ibu Ummy yang duduk di sampingnya mengatakan,

Baca Juga :  Menyambut Ramadan

“Bolehkah Abi (demikian ia memanggil suaminya) saya meminta sedikit uang tersebut, suaminya (M. Natsir) menjawab “Tentu saja boleh, Ummy”, istrinya meminta uang untuk membeli beras. Mendengar jawaban Ummy, batin penulis menangis. Seorang mantan perdana menteri, pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, presiden Muktamar`Rabithah Alam Islami dan banyak lagi jabatan lainnya kehabisan beras untuk keperluan kesehariannya. Penulis beruntung menyaksikan langsung kehidupan seorang pemimpin sejati di negeri ini yang senang menulis.

Saat studi lanjut pada program magister dan doktor di Kota Malang, penulis sempat berinteraksi dengan seorang dosen pengampu mata kuliah Agama Islam/ Selain berprofesi sebagai dosen, beliau dikenal sebagai seorang ulama yang rutin menyampaikan ceramah. Sebagian waktu dalam hidupnya digunakan untuk berceramah.

Suatu saat putrinya menyampaikan usul kepada ayahnya untuk mengurangi aktivitas ceramah karena melihat kondisi ayahnya terlalu capek dan perlu istirahat mengganti aktivitasnya dengan menulis buku. Singkat cerita, beliau ikuti usul dari putrinya sekalipun dengan bersusah payah sebagai penulis pemula melakukan aktivitas menulis tersebut.

Karena beliau menyenangi profesi barunya sebagai penulis maka beliau mampu menghasilkan banyak buku, khususnya buku bidang keagamaan. Kepada penulis ia mengakan, “merasakan mendapat kepuasaan batin justru setelah menjadi penulis”.

Penulis sempat berteman dengan Cak Nun (Emha Ainun Najib). Dari beliau  penulis belajar menulis karya ilmiah populer di media massa. Yang penulis tahu, beliau mendapat royalty dari buku dan artikel yang ditulisnya. Seingat penulis, beliau pernah mengatakan bahwa jasa yang diperoleh dari penjualan sebuah buku berjudul “Markesot” disumbangkan beliau kepada PGRI Jombang. Dalam pikiran penulis, kok terbalik, mengapa bukan PGRI yang membeli buku yang ditulisnya sebagai sebuah penghargaan kepada seorang penulis.

Profesor. Dr. Sugiyono, seorang dosen UNY, sangat dikenal sebagai penulis produktif buku bertema “Metodelogi Penelitian”. Sisi menarik dari seorang penulis (Profesor. Dr. Sugiyono) ini adalah menyumbangkan hasil penjualan buku karyanya untuk membangun masjid, surau dan fasilitas sosial keagamaan lainnya.

Lebih memprihatinkan penulis ketika mendengar kisah seorang dosen menulis buku ajar yang akan digunakan oleh mahasiswanya. Buku bahan ajar tersebut diterbitkan, kemudian dibagikan kepada mahasiswanya dengan harapan mahasiswa bersedia mengganti biaya cetak/terbit sebesar Rp. 25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah).

Ditunggu beliau dari waktu ke waktu, tidak seorangpun mahasiswanya membayar biaya cetak buku tersebut. Puncaknya setelah ujian akhir semester dilaksanakan mahasiswa secara bersama-sama mengembalikan buku ajar tersebut kepada dosennya. Di antara mereka ada yang mengucapkan terima kasih, namun tidak sedikit yang tidak mengucapkan terima kasih. Beliau mengatakan, “Saya Sangat Kecewa”.

Baca Juga :  Bersatu Membangun Budaya AntiKorupsi

Penulis sendiri, hingga bulan Juni 2021 ini telah menghasilkan 17 judul buku. Terima kasih disampaikan kepada harian Pontianak Post yang selalu bersedia menerbitkan opini penulis setiap hari Senin secara rutin sejak Januari 2000 yang kemudian opini tersebut menjadi entri tulisan pada setiap buku karya penulis. Kesempatan yang diberikan oleh Pontianak Post tersebut memiliki arti yang sangat penting dan bermakna bagi penulis dalam mengembangkan ketrampilan menulis dan kesempatan mengikat pikiran.

Alhamdulillh biaya penerbitan buku dibantu banyak orang, beberapa diantaranya penulis harus mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dokter Buchary (almarhun) Wali Kota Pontianak, Prof. Dr. Thamrin Usman dan Prof. Dr. Garuda Wiko (Rektor Universitas Tanjungpura) serta Dr. Martono (Dekan FKIP Untan). Semoga bantuan yang bapak berikan kepada penulis dicatat sebagai amal ibadah di sisiNya. Aamiiin

Penulis sering mengikuti launching buku, jika dana tersedia penulis membeli sejumlah buku yang dilauching tersebut, kemudian membagikannya kepada siapa saja yang mengikuti launching. Mengikuti dan membeli sejumlah buku yang dilaunching adalah sebuah bentuk penghargaan penulis kepada penulis buku.

Pemerintah menyadari bahwa menulis adalah satu bentuk berpikir kritis yang sistematis dan sistemik sangat diperlukan bagi kehidupan masyarakat di era industry 4.0 sekarang ini. Mendorong lahirnya kesadaran (literasi) menulis masyarakat harus diikuti penghargaan pemerintah dan masyarakat kepada penulis. Jujur diakui, penghargaan kepada penulis sangatlah kurang.

Aktivitas intelektual menulis sampai hari ini belum mendapat penghargaan yang layak. Sungguhpun demikian seorang penulis mendapat kepuasan batih yang tidak ternilai harganya ketika tulisannya terpublikasi dan dibaca banyak orang, setidaknya melalui menulis mereka telah mengikat apa yang mereka pikirkan.

Pramoedya Ananta Toer menyatakan bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.

Helpi Tiana Rosa menambahkan, “Kalau usiamu tidak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang adamu di dunia dan amalmu di akhirat kelak”.

Aristoteles mengingatkan, “Tuliskan sebuah kebenaran yang diperlukan untuk kebaikan dengan penuh rasa tanggung jawab.”

*Dosen FKIP Untan

Oleh: Aswandi*

TIDAK sedikit kita temui kisah oang sukses karena mereka mendapat pengetahuan, bertambah wawasan, maju pola pikirnya dan berubah sikapnya menjadi lebih baik karena dipengaruhi oleh karya tulis yang dibacanya. Kasus lain, ada perusahaan penerbit yang tadinya sudah tidak berproduksi lagi dan semua karyawannya di PHK bangkit kembali dan berkembang pesat karena menerbitkan buku karya seorang penulis JK. Rawling. Setiap kali buku karyanya dilaunching dan dijual, para pembaca takut tidak kebagian buku tersebut siap antri sepanjang 10 km, bahkan diantaranya ada yang pingsan.

Seorang dosen menceritakan pengalamannya membeli buku di kota Finlandia (negara terbaik mutu pendidikan di dunia) layaknya membeli makanan dan minimal (sembilan bahan pokok) di super market di tempat kita. Pembeli harus menggunakan kereta dorong untuk menempatkan buku-buku yang dibelinya, jarang ditemui pembeli buku tanpa membawa kereta dorong karena banyaknya buku yang mereka beli. Fenomena tersebut menggambarkan tingginya literasi membaca masyarakat Finlandia berdampak pada penghargaan yang tinggi pula terhadap penulis.

Sejak duduk di sekolah menengah, penulis membaca buku berjudul “Kapita Selekta” dan artikel di majalah Panji Masyarakat yang ditulis oleh bapak Muhammad Natsir, seorang tokoh Masyumi, mantan Perdana Menteri, seorang pemimpin yang sangat penulis hormati di negeri ini. Alhamdulillah, di sela-sela waktu pada saat studi magister, penulis sempat bersilaturahmi dengan beliau di rumahnya di Jakarta. Setelah itu silaturrahmi berlanjut sebanyak dua kali saat beliau terbaring sakit hingga wafat.

Pada saat silaturahmi pertama, penulis diterima oleh beliau didampingi istrinya. Di saat itu penulis menyaksikan sendiri perusahaan penerbit datang ke rumahnya menyerahkan uang royalty dari buku-buku yang ditulisnya, penulis mendapat informasi dari karyawan penerbit tersebut bahwa selama hidupnya beliau menulis banyak buku dan artikel, diterbitkan dan dimuat di media cetak baik di dalam maupun di luar negeri, namun beliau tidak pernah mendapatkan royalty atau jasa dari aktivitas`menulisnya.

Penulis menyaksikan uang royalty dan jasa yang diserahkan penerbit tersebut diterimanya. Setelah itu uang tersebut dibagi-bagikannya kepada para dai yang baru pulang studi di Timur Tengah. Terdengar di telinga penulis, beliau mengatakan uang ini lebih berarti jika diserahkan kepada para dai yang akan pulang ke rumah masing-masing setelah lima tahun berpisah dengan keluarganya. Ibu Ummy yang duduk di sampingnya mengatakan,

Baca Juga :  Peranan Anak Single Mother Meraih Sukses

“Bolehkah Abi (demikian ia memanggil suaminya) saya meminta sedikit uang tersebut, suaminya (M. Natsir) menjawab “Tentu saja boleh, Ummy”, istrinya meminta uang untuk membeli beras. Mendengar jawaban Ummy, batin penulis menangis. Seorang mantan perdana menteri, pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, presiden Muktamar`Rabithah Alam Islami dan banyak lagi jabatan lainnya kehabisan beras untuk keperluan kesehariannya. Penulis beruntung menyaksikan langsung kehidupan seorang pemimpin sejati di negeri ini yang senang menulis.

Saat studi lanjut pada program magister dan doktor di Kota Malang, penulis sempat berinteraksi dengan seorang dosen pengampu mata kuliah Agama Islam/ Selain berprofesi sebagai dosen, beliau dikenal sebagai seorang ulama yang rutin menyampaikan ceramah. Sebagian waktu dalam hidupnya digunakan untuk berceramah.

Suatu saat putrinya menyampaikan usul kepada ayahnya untuk mengurangi aktivitas ceramah karena melihat kondisi ayahnya terlalu capek dan perlu istirahat mengganti aktivitasnya dengan menulis buku. Singkat cerita, beliau ikuti usul dari putrinya sekalipun dengan bersusah payah sebagai penulis pemula melakukan aktivitas menulis tersebut.

Karena beliau menyenangi profesi barunya sebagai penulis maka beliau mampu menghasilkan banyak buku, khususnya buku bidang keagamaan. Kepada penulis ia mengakan, “merasakan mendapat kepuasaan batin justru setelah menjadi penulis”.

Penulis sempat berteman dengan Cak Nun (Emha Ainun Najib). Dari beliau  penulis belajar menulis karya ilmiah populer di media massa. Yang penulis tahu, beliau mendapat royalty dari buku dan artikel yang ditulisnya. Seingat penulis, beliau pernah mengatakan bahwa jasa yang diperoleh dari penjualan sebuah buku berjudul “Markesot” disumbangkan beliau kepada PGRI Jombang. Dalam pikiran penulis, kok terbalik, mengapa bukan PGRI yang membeli buku yang ditulisnya sebagai sebuah penghargaan kepada seorang penulis.

Profesor. Dr. Sugiyono, seorang dosen UNY, sangat dikenal sebagai penulis produktif buku bertema “Metodelogi Penelitian”. Sisi menarik dari seorang penulis (Profesor. Dr. Sugiyono) ini adalah menyumbangkan hasil penjualan buku karyanya untuk membangun masjid, surau dan fasilitas sosial keagamaan lainnya.

Lebih memprihatinkan penulis ketika mendengar kisah seorang dosen menulis buku ajar yang akan digunakan oleh mahasiswanya. Buku bahan ajar tersebut diterbitkan, kemudian dibagikan kepada mahasiswanya dengan harapan mahasiswa bersedia mengganti biaya cetak/terbit sebesar Rp. 25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah).

Ditunggu beliau dari waktu ke waktu, tidak seorangpun mahasiswanya membayar biaya cetak buku tersebut. Puncaknya setelah ujian akhir semester dilaksanakan mahasiswa secara bersama-sama mengembalikan buku ajar tersebut kepada dosennya. Di antara mereka ada yang mengucapkan terima kasih, namun tidak sedikit yang tidak mengucapkan terima kasih. Beliau mengatakan, “Saya Sangat Kecewa”.

Baca Juga :  Menjadi Sekolah Dambaan Siswa

Penulis sendiri, hingga bulan Juni 2021 ini telah menghasilkan 17 judul buku. Terima kasih disampaikan kepada harian Pontianak Post yang selalu bersedia menerbitkan opini penulis setiap hari Senin secara rutin sejak Januari 2000 yang kemudian opini tersebut menjadi entri tulisan pada setiap buku karya penulis. Kesempatan yang diberikan oleh Pontianak Post tersebut memiliki arti yang sangat penting dan bermakna bagi penulis dalam mengembangkan ketrampilan menulis dan kesempatan mengikat pikiran.

Alhamdulillh biaya penerbitan buku dibantu banyak orang, beberapa diantaranya penulis harus mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dokter Buchary (almarhun) Wali Kota Pontianak, Prof. Dr. Thamrin Usman dan Prof. Dr. Garuda Wiko (Rektor Universitas Tanjungpura) serta Dr. Martono (Dekan FKIP Untan). Semoga bantuan yang bapak berikan kepada penulis dicatat sebagai amal ibadah di sisiNya. Aamiiin

Penulis sering mengikuti launching buku, jika dana tersedia penulis membeli sejumlah buku yang dilauching tersebut, kemudian membagikannya kepada siapa saja yang mengikuti launching. Mengikuti dan membeli sejumlah buku yang dilaunching adalah sebuah bentuk penghargaan penulis kepada penulis buku.

Pemerintah menyadari bahwa menulis adalah satu bentuk berpikir kritis yang sistematis dan sistemik sangat diperlukan bagi kehidupan masyarakat di era industry 4.0 sekarang ini. Mendorong lahirnya kesadaran (literasi) menulis masyarakat harus diikuti penghargaan pemerintah dan masyarakat kepada penulis. Jujur diakui, penghargaan kepada penulis sangatlah kurang.

Aktivitas intelektual menulis sampai hari ini belum mendapat penghargaan yang layak. Sungguhpun demikian seorang penulis mendapat kepuasan batih yang tidak ternilai harganya ketika tulisannya terpublikasi dan dibaca banyak orang, setidaknya melalui menulis mereka telah mengikat apa yang mereka pikirkan.

Pramoedya Ananta Toer menyatakan bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.

Helpi Tiana Rosa menambahkan, “Kalau usiamu tidak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang adamu di dunia dan amalmu di akhirat kelak”.

Aristoteles mengingatkan, “Tuliskan sebuah kebenaran yang diperlukan untuk kebaikan dengan penuh rasa tanggung jawab.”

*Dosen FKIP Untan

Most Read

Artikel Terbaru

/