alexametrics
31 C
Pontianak
Friday, July 1, 2022

Kesadaran Multikultural

Oleh: Dr. Syamsul Kurniawan, S.Th.I, M.S.I

Kesadaran multikultural adalah sesuatu hal yang perlu ditekankan dalam aktualisasi sikap keberagamaan kita yang tinggal di Indonesia. Sebabnya karena perbedaan agama di negara ini, harus diakui dan dihargai, sebagai kodrat bersama yang tidak hanya jadi bagian dari umat beragama tertentu tetapi juga sebagai bagian dari bangsa ini.

Mengapa “keberagaman” ini saya sebut kodrat? Sebab, seseorang jelas tidak dapat memesan agar dapat dilahirkan dari rahim ibu yang memeluk agama tertentu, dan/atau lahir di negara yang mayoritas menganut agama tertentu. Meskipun pada perkembangannya, kepemilikan seseorang atas agama bisa dikatakan adalah pilihan masing-masing berdasarkan keyakinan masing-masing. Bahkan, dalam kasus tertentu, ada yang berganti-ganti agama dengan alasan yang bermacam-macam.

Perbedaan agama adalah bukti majemuknya kita. Untuk itu kesadaran multikultural perlu dibangun, mengingat dengan kesadaran multikultural ini akan lahir sikap toleran atas perbedaan, yang mana seseorang yang beragama dapat mengakui dan menghargai kemajemukan, bekerjasama dan bergotong royong dengan sesamanya; tanpa disekat oleh perbedaan agama di tengah-tengah mereka. Hal ini berarti bahwa kesadaran multikultural ini tidak seharusnya berhenti pada “bentuk kesadaran” akan kemajemukan pada yang berbeda agama saja, tetapi wujudnya sikap toleran dan saling menghargai, serta kesediaan berkerjasama dan bergotong-royong. Sebagai pemeluk agama, kita selayaknya menyadari bahwa perbedaan agama adalah sesuatu hal yang lazim, sama lazimnya ketika kita melihat kemungkinan perbedaan madzhab dan cara kita memahami ajaran agama walau dalam konteks ini kita seagama.

Poin pentingnya adalah toleransi. Kaitannya dengan ini, ada dua bentuk toleransi: pertama, toleransi antar pemeluk agama yang sama, yaitu suatu bentuk toleran yang terjalin antar umat penganut satu agama; kedua, toleransi antar pemeluk agama yang berbeda, yaitu suatu bentuk sikap toleran yang terjalin antar pemeluk agama yang berbeda, semisal toleransi pemeluk agama Islam dengan pemeluk agama Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Konghucu dan lain-lain.

Baca Juga :  The Winner Will Be Human Immunity

Yang Dibutuhkan dari Juru Dakwah, Kaitannya dengan ini peran juru dakwah jelas dibutuhkan. Dalam konteks Islam misalnya, jamaah di masjid dan surau-surau jelas perlu asupan yang bergizi dalam hal kesadaran multikutural ini dari kiyai atau ustadz-ustadz mereka yang berperan sebagai juru dakwah bagi mereka. Untuk itu, juru dakwah harusnya bisa memperhatikan betul materi dakwah yang mereka sampaikan. Sebab, materi dakwah yang menjadi asupan jamaah di masjid dan surau-surau ini, akan beririsan dengan pemahaman, sikap, dan perilaku dari jamaahnya. Baik buruknya pemahaman, sikap, dan perilaku seputar kesadaran multikultural dari jamaah bukannya tidak mungkin sangat beririsan dengan materi yang mereka terima dari juru dakwah.

Kepada mereka ini, selayaknya juru dakwah perlu membagi wawasan yang baik dan benar pada jamaah mereka agar tidak muncul pemahaman yang kontraproduktif dengan pemahaman tersebut. Pemahaman yang baik dan benar tentang heterogenitas inilah yang mesti ditanamkan pada jamaah; bahwa keadaan heterogenitas dalam hal agama yang nyata di tengah-tengah mereka adalah sunatullah; sesuatu yang kodrati sebagaimana telah saya singgung.

Oleh karenanya, keadaan heterogen tersebut hendaknya dimengerti sebagai sebuah realita yang harus diterima dan disyukuri bersama, sebagai anugerah dari Allah Swt, Maha Pencipta. Dengan kata lain, bahwa keadaan yang heterogen dari sisi agama di Indonesia tersebut hendaknya bisa dipahami sebagai kehendak dari Allah Swt, supaya mereka saling mengenali satu dengan yang lain, dan saling berlomba atas alasan kebaikan. Dalam Qs Al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Baca Juga :  Menjadi Umat yang Tengah

Sementara dalam Qs Al-Maidah ayat 48, “Dan kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”

Kesadaran multikultural jamaah tentang agama-agama yang penting dibangun di sini hakikatnya adalah ikhtiar menjaga dua sisi kepentingan; yaitu sisi keimanan/keyakinan di satu sisi dan sisi kemajemukan sebagai sebuah realitas masyarakat yang rentan konflik di sisinya yang lain. Maksudnya, bahwa keimanan/keyakinan tidak seharusnya berbenturan dengan heterogenitas. Pembinaan yang tepat oleh juru dakwah pada jamaah mereka di masjid dan surau-surau, dan lain-lain adalah supaya tumbuh dan berkembang kesadaran multikultural di tengah-tengah umat.

Upaya membangun kesadaran multikultural dalam hal beragama ini, oleh juru dakwah selayaknya bisa ditempuh melalui model dakwah multikultural, seperti halnya model dakwah Wali Songo di masa lalu, saat mengislamkan tanah Jawa, dan ini hendaknya dapat dilakukan secara terencana dan sistematis. Support dari negara seputar hal ini juga penting. Dan, di situlah letak tantangannya.***

Penulis adalah dosen di IAIN Pontianak, Sekretaris Lembaga Hubungan Umat Beragama dan Peradaban, PW Muhammadiyah Kalimantan Barat.

Oleh: Dr. Syamsul Kurniawan, S.Th.I, M.S.I

Kesadaran multikultural adalah sesuatu hal yang perlu ditekankan dalam aktualisasi sikap keberagamaan kita yang tinggal di Indonesia. Sebabnya karena perbedaan agama di negara ini, harus diakui dan dihargai, sebagai kodrat bersama yang tidak hanya jadi bagian dari umat beragama tertentu tetapi juga sebagai bagian dari bangsa ini.

Mengapa “keberagaman” ini saya sebut kodrat? Sebab, seseorang jelas tidak dapat memesan agar dapat dilahirkan dari rahim ibu yang memeluk agama tertentu, dan/atau lahir di negara yang mayoritas menganut agama tertentu. Meskipun pada perkembangannya, kepemilikan seseorang atas agama bisa dikatakan adalah pilihan masing-masing berdasarkan keyakinan masing-masing. Bahkan, dalam kasus tertentu, ada yang berganti-ganti agama dengan alasan yang bermacam-macam.

Perbedaan agama adalah bukti majemuknya kita. Untuk itu kesadaran multikultural perlu dibangun, mengingat dengan kesadaran multikultural ini akan lahir sikap toleran atas perbedaan, yang mana seseorang yang beragama dapat mengakui dan menghargai kemajemukan, bekerjasama dan bergotong royong dengan sesamanya; tanpa disekat oleh perbedaan agama di tengah-tengah mereka. Hal ini berarti bahwa kesadaran multikultural ini tidak seharusnya berhenti pada “bentuk kesadaran” akan kemajemukan pada yang berbeda agama saja, tetapi wujudnya sikap toleran dan saling menghargai, serta kesediaan berkerjasama dan bergotong-royong. Sebagai pemeluk agama, kita selayaknya menyadari bahwa perbedaan agama adalah sesuatu hal yang lazim, sama lazimnya ketika kita melihat kemungkinan perbedaan madzhab dan cara kita memahami ajaran agama walau dalam konteks ini kita seagama.

Poin pentingnya adalah toleransi. Kaitannya dengan ini, ada dua bentuk toleransi: pertama, toleransi antar pemeluk agama yang sama, yaitu suatu bentuk toleran yang terjalin antar umat penganut satu agama; kedua, toleransi antar pemeluk agama yang berbeda, yaitu suatu bentuk sikap toleran yang terjalin antar pemeluk agama yang berbeda, semisal toleransi pemeluk agama Islam dengan pemeluk agama Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Konghucu dan lain-lain.

Baca Juga :  Kemuliaan Syukur

Yang Dibutuhkan dari Juru Dakwah, Kaitannya dengan ini peran juru dakwah jelas dibutuhkan. Dalam konteks Islam misalnya, jamaah di masjid dan surau-surau jelas perlu asupan yang bergizi dalam hal kesadaran multikutural ini dari kiyai atau ustadz-ustadz mereka yang berperan sebagai juru dakwah bagi mereka. Untuk itu, juru dakwah harusnya bisa memperhatikan betul materi dakwah yang mereka sampaikan. Sebab, materi dakwah yang menjadi asupan jamaah di masjid dan surau-surau ini, akan beririsan dengan pemahaman, sikap, dan perilaku dari jamaahnya. Baik buruknya pemahaman, sikap, dan perilaku seputar kesadaran multikultural dari jamaah bukannya tidak mungkin sangat beririsan dengan materi yang mereka terima dari juru dakwah.

Kepada mereka ini, selayaknya juru dakwah perlu membagi wawasan yang baik dan benar pada jamaah mereka agar tidak muncul pemahaman yang kontraproduktif dengan pemahaman tersebut. Pemahaman yang baik dan benar tentang heterogenitas inilah yang mesti ditanamkan pada jamaah; bahwa keadaan heterogenitas dalam hal agama yang nyata di tengah-tengah mereka adalah sunatullah; sesuatu yang kodrati sebagaimana telah saya singgung.

Oleh karenanya, keadaan heterogen tersebut hendaknya dimengerti sebagai sebuah realita yang harus diterima dan disyukuri bersama, sebagai anugerah dari Allah Swt, Maha Pencipta. Dengan kata lain, bahwa keadaan yang heterogen dari sisi agama di Indonesia tersebut hendaknya bisa dipahami sebagai kehendak dari Allah Swt, supaya mereka saling mengenali satu dengan yang lain, dan saling berlomba atas alasan kebaikan. Dalam Qs Al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Baca Juga :  Metode Pencegahan Narkoba Bagi Pelajar di 2021

Sementara dalam Qs Al-Maidah ayat 48, “Dan kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”

Kesadaran multikultural jamaah tentang agama-agama yang penting dibangun di sini hakikatnya adalah ikhtiar menjaga dua sisi kepentingan; yaitu sisi keimanan/keyakinan di satu sisi dan sisi kemajemukan sebagai sebuah realitas masyarakat yang rentan konflik di sisinya yang lain. Maksudnya, bahwa keimanan/keyakinan tidak seharusnya berbenturan dengan heterogenitas. Pembinaan yang tepat oleh juru dakwah pada jamaah mereka di masjid dan surau-surau, dan lain-lain adalah supaya tumbuh dan berkembang kesadaran multikultural di tengah-tengah umat.

Upaya membangun kesadaran multikultural dalam hal beragama ini, oleh juru dakwah selayaknya bisa ditempuh melalui model dakwah multikultural, seperti halnya model dakwah Wali Songo di masa lalu, saat mengislamkan tanah Jawa, dan ini hendaknya dapat dilakukan secara terencana dan sistematis. Support dari negara seputar hal ini juga penting. Dan, di situlah letak tantangannya.***

Penulis adalah dosen di IAIN Pontianak, Sekretaris Lembaga Hubungan Umat Beragama dan Peradaban, PW Muhammadiyah Kalimantan Barat.

Most Read

Artikel Terbaru

/