alexametrics
24 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Optimalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar

Oleh: Herlinda Sulistiawati

SAAT ini Indonesia tengah menghadapi abad ke 21 yang ditandai dengan berbagai kecenderungan global yaitu pertama, berlangsungnya revolusi industry keempat yang ditandai dengan fenomena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam era revolusi digital. Kedua, perubahan peradaban masyarakat yang ditandai dengan berubahnya sendi-sendi kehidupan, kebudayaan, peradaban dan kemasyakatan termasuk pendidikan. Ketiga, semakin tegasnya fenomena abad kreatif yang menempatkan informasi, pengetahuan, kreativitas, inovasi dan jejaring sebagai sumber daya strategis bagi individu, masyarakat, korporasi dan negara.

Hal tersebut menimbulkan tatanan, ukuran dan kebutuhan yang baru dan berbeda dari sebelumnya sehingga harus ditanggapi dan dipenuhi oleh seluruh pemangku kepentingan Pendidikan. Disini peran sentral dunia Pendidikan untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai kapital intelektual yang mampu beradaptasi dan diharapkan memiliki keunggulan kompetitif di dalam era persaingan global.

Penguatan Pendidikan Karakter seperti yang tercantum dalam Perpres Nomor 87 tahun 2017 adalah Gerakan Pendidikan di bawah tanggung jawab satuan Pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa dan olah raga dengan pelibatan kerjasama antara satuan Pendidikan, keluarga dan masyarakat. Penguatan pendidikan karakter bertujuan untuk membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan Pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan.

Dilihat dari perkembangan era digital saat ini maka dapat diprediksi bahwa di masa yang akan datang akan lebih kompetitif dan menantang, hal ini ditandai dengan adanya perubahan yang cepat serta dinamis. Anak yang memiliki karakter kuat dan positif memiliki kemungkinan sukses lebih besar di Pendidikan dan pekerjaan.

Baca Juga :  Kemuliaan Bulan Suci Ramadan

Pembentukan karakter menjadi dasar dari proses tumbuh kembang anak, terutama dalam menguasai keterampilan-keterampilan hidup lainnya. Melalui pembentukan  karakter, anak akan mengembangkan rasa percaya diri, keberanian, pantang menyerah, gigih. Dimana hal tersebut akan membantu anak untuk mau terus belajar dan mampu menghadapi kesulitan yang dihadapi ketika ia belajar keterampilan tertentu di sekolah.

Pearson&Nicholson (2000) mengatakan bahwa dimilikinya karakter yang baik dan positif akan menghubungkan 3 aspek dalam hidup anak yaitu dirinya sendiri, orang lain dan komunitas/ masyarakat luas. Dengan dirinya sendiri, anak yang memiliki karakter positif dapat menunjukkan perilaku mandiri, gigih dan banyak akal. Sedangkan dengan orang lain dan masyarakat luas, anak yang memiliki karakter positif seperti berani dan adaptif terhadap perbedaan-perbedaan yang ada.

Karakter merupakan perwujudan dari kebiasaan berperilaku baik dalam keseharian yang meliputi watak terpuji, akhlak mulia, sikap mental dan budi pekerti luhur. Adapun nilai-nilai utama karakter yaitu: religious, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas. Pendidikan karakter harus dapat ditanamkan sedini mungkin khususnya pada anak usia sekolah dasar karena anak masih rentan dengan hal-hal yang negatif.

Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah dasar dapat diimplementasikan dengan tiga pendekatan. Pertama, PPK berbasis kelas yaitu integrasi nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran atau mata pelajaran, pengelolaan kelas dan metode pembelajaran, evaluasi pembelajaran/ pembimbingan, pengembangan kurikulum muatan lokal sesuai karakteristik daerah. Kedua, PPK berbasis budaya sekolah yaitu pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian sekolah; keteladanan antar warga sekolah, pelibatan seluruh pemangku kepentingan Pendidikan, membangun norma, peraturan dan tradisi sekolah, pengembangan keunikan, keunggulan dan daya saing sekolah sebagai ciri khas sekolah, memberi ruang yang luas kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi melalui kegiatan literasi dan kegiatan ekstrakurikuler. Ketiga, PPK berbasis masyarakat yaitu memperkuat peranan orang tua dan komite sekolah, melibatkan dan memberdayakan potensi lingkungan sebagai sumber belajar seperti keberadaan dan dukungan pegiat seni dan budaya, tokoh masyarakat, alumni, dunia usaha dan dunia industry dan sinergi PPK dengan berbagai program yang ada dalam lingkup akademisi, pegiat Pendidikan, lembaga swadaya masyarakat dan lembaga informasi.

Baca Juga :  Ironi Pangan di Negeri Lumbung Padi

Anak usia sekolah dasar merupakan generasi penerus yang akan menentukan masa depan bangsa. Usia sekolah dasar adalah masa awal untuk memulai membentuk diri dan kepribadian mereka untuk menuju masa dewasa. Oleh karena itu usia anak sekolah dasar merupakan usia yang tepat untuk penanaman Pendidikan karakter sebagai upaya agar anak dapat terbentuk kepribadian yang baik dan sesuai karakter bangsa Indonesia.**

*Penulis adalah guru SD Negeri 33 Pontianak Utara.

Oleh: Herlinda Sulistiawati

SAAT ini Indonesia tengah menghadapi abad ke 21 yang ditandai dengan berbagai kecenderungan global yaitu pertama, berlangsungnya revolusi industry keempat yang ditandai dengan fenomena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam era revolusi digital. Kedua, perubahan peradaban masyarakat yang ditandai dengan berubahnya sendi-sendi kehidupan, kebudayaan, peradaban dan kemasyakatan termasuk pendidikan. Ketiga, semakin tegasnya fenomena abad kreatif yang menempatkan informasi, pengetahuan, kreativitas, inovasi dan jejaring sebagai sumber daya strategis bagi individu, masyarakat, korporasi dan negara.

Hal tersebut menimbulkan tatanan, ukuran dan kebutuhan yang baru dan berbeda dari sebelumnya sehingga harus ditanggapi dan dipenuhi oleh seluruh pemangku kepentingan Pendidikan. Disini peran sentral dunia Pendidikan untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai kapital intelektual yang mampu beradaptasi dan diharapkan memiliki keunggulan kompetitif di dalam era persaingan global.

Penguatan Pendidikan Karakter seperti yang tercantum dalam Perpres Nomor 87 tahun 2017 adalah Gerakan Pendidikan di bawah tanggung jawab satuan Pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa dan olah raga dengan pelibatan kerjasama antara satuan Pendidikan, keluarga dan masyarakat. Penguatan pendidikan karakter bertujuan untuk membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan Pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan.

Dilihat dari perkembangan era digital saat ini maka dapat diprediksi bahwa di masa yang akan datang akan lebih kompetitif dan menantang, hal ini ditandai dengan adanya perubahan yang cepat serta dinamis. Anak yang memiliki karakter kuat dan positif memiliki kemungkinan sukses lebih besar di Pendidikan dan pekerjaan.

Baca Juga :  Pemimpin Perubahan

Pembentukan karakter menjadi dasar dari proses tumbuh kembang anak, terutama dalam menguasai keterampilan-keterampilan hidup lainnya. Melalui pembentukan  karakter, anak akan mengembangkan rasa percaya diri, keberanian, pantang menyerah, gigih. Dimana hal tersebut akan membantu anak untuk mau terus belajar dan mampu menghadapi kesulitan yang dihadapi ketika ia belajar keterampilan tertentu di sekolah.

Pearson&Nicholson (2000) mengatakan bahwa dimilikinya karakter yang baik dan positif akan menghubungkan 3 aspek dalam hidup anak yaitu dirinya sendiri, orang lain dan komunitas/ masyarakat luas. Dengan dirinya sendiri, anak yang memiliki karakter positif dapat menunjukkan perilaku mandiri, gigih dan banyak akal. Sedangkan dengan orang lain dan masyarakat luas, anak yang memiliki karakter positif seperti berani dan adaptif terhadap perbedaan-perbedaan yang ada.

Karakter merupakan perwujudan dari kebiasaan berperilaku baik dalam keseharian yang meliputi watak terpuji, akhlak mulia, sikap mental dan budi pekerti luhur. Adapun nilai-nilai utama karakter yaitu: religious, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas. Pendidikan karakter harus dapat ditanamkan sedini mungkin khususnya pada anak usia sekolah dasar karena anak masih rentan dengan hal-hal yang negatif.

Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah dasar dapat diimplementasikan dengan tiga pendekatan. Pertama, PPK berbasis kelas yaitu integrasi nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran atau mata pelajaran, pengelolaan kelas dan metode pembelajaran, evaluasi pembelajaran/ pembimbingan, pengembangan kurikulum muatan lokal sesuai karakteristik daerah. Kedua, PPK berbasis budaya sekolah yaitu pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian sekolah; keteladanan antar warga sekolah, pelibatan seluruh pemangku kepentingan Pendidikan, membangun norma, peraturan dan tradisi sekolah, pengembangan keunikan, keunggulan dan daya saing sekolah sebagai ciri khas sekolah, memberi ruang yang luas kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi melalui kegiatan literasi dan kegiatan ekstrakurikuler. Ketiga, PPK berbasis masyarakat yaitu memperkuat peranan orang tua dan komite sekolah, melibatkan dan memberdayakan potensi lingkungan sebagai sumber belajar seperti keberadaan dan dukungan pegiat seni dan budaya, tokoh masyarakat, alumni, dunia usaha dan dunia industry dan sinergi PPK dengan berbagai program yang ada dalam lingkup akademisi, pegiat Pendidikan, lembaga swadaya masyarakat dan lembaga informasi.

Baca Juga :  Pejuang Pendidikan Daerah Kepulauan, Setiap Hari Sebrangi Lautan

Anak usia sekolah dasar merupakan generasi penerus yang akan menentukan masa depan bangsa. Usia sekolah dasar adalah masa awal untuk memulai membentuk diri dan kepribadian mereka untuk menuju masa dewasa. Oleh karena itu usia anak sekolah dasar merupakan usia yang tepat untuk penanaman Pendidikan karakter sebagai upaya agar anak dapat terbentuk kepribadian yang baik dan sesuai karakter bangsa Indonesia.**

*Penulis adalah guru SD Negeri 33 Pontianak Utara.

Most Read

Artikel Terbaru

/