alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, July 2, 2022

Hati Wadah Kebenaran

Oleh: Syarif

KEBENARAN yang saya maksud dalam tulisan ini adalah “sesuatu yang benar”. Sesuatu yang benar itu adalah wujud yang datang dari pada Allah (Qs. Al-Baqarah/2:147).Yang datang dari pada Allah itu disebut iimaan (selanjutnya ditulis iman) , yaitu wujud kepercayan Allah atau yang dipercaya oleh Allah.
Ia datang bersamaan dengan ditiupkannya ruh ke dalam tubuh manusia. Ruh itu adalah diri kita ditugaskan dalam tubuh manusia untuk menyempurnakan manusia pada tubuhnya (al-Sajadah/32:9).

Ruh atau kita ditiupkan ke dalam jasad kita saat jasad ini berumur empat bulan sepuluh hari dalam kandungan ibu.

Bukti ada ruh adalah ada penglihatan, pendengaran, dan rasa. Jika ruh tidak ada pada tubuh karena kematianatau karena tidur (Qs. Al-Zunar/39:42), maka pendengaran, penglihatan, dan rasa tidak ada pada tubuh manusia. Artinya yang melihat, mendengar, dan merasa bukan mata, telinga, dan sekujur tubuh, tapi ruh.

Adapun bukti ada iman pada ruh atau pada kita adalah nyata sifatnya yaitu “siddiiq—jujur”. Iman itu yang tak pernah dusta. Ia selalu melahirkan catatan atau kitab di dalam dada. Catatan itu tidak pernah dibelokkan. Catatan itu berisi semua perbuatan kita, apakah perbuatan kita itu baik atau tidak baik. Maka disebutlah catatan itu atau kitab itu tidak pernah bengkok (Qs. Al-Kahfi/18:1).

Yang benar itu atau iman itu wujudnya rasa. Rasa itu adalah ejawantah zat yang dianugerahkan kepada kita ada dalam hati. Maka iman itu nanti sejatinya sebagai inti diri atau lubb. Lubb atau wujud yang menjadi rasa itu disebut “ni’mat” yang dalam bahasa Allah disebut “ni’matiya allatii an’amtu ‘alaikum—nikmat-Ku yang Kuanugerahkan kepadamu”. Sebenarnya hati itu tempat ruh atau kita merasa sesuatu. Artinya bukan wujud iman atau rasa atau nikmat itu seonggok ada dalam hati. Tetapi kita merasa sesuatu dengan nikmat itu di dalam hati.

Baca Juga :  Pembelajaran Berbasis Budaya

Dalam beberapa keterangan teks Alquran istilah selama ini hati setidaknya disebut dalam tiga bentuk. Sekalian dengan tulisan ini kita mengenal tiga istilah yang dinisbatkan dengan hati ini, yaitu pertama diungkap dengan kata “lubb—inti”. Sesunggunya pengungkapan kata “lubb” sebagai pernyataan bahwa iman atau zat atau rasa itu sebagai inti dari eksistensi ini. Ia wujudnya memang yang paling dalam. Kalau kita urutkan dari yang paling luar, susunannya adalah jasad, ruh, dan lubb. Kita bisa menamakan sebagai inti diri.

Lubb ini sebagai instrumen utama untuk mengenal Tuhan. Lubb ini yang menjadi batin menampung ‘aqal-fikir-khayal-faham-‘ilmu. Orang yang menemukan wujud inilah yang berhak mengucapkan “rabanaa maa khalaqta haadzaa baathilan—Tuhan kami, apa yang telah Engkau jadi ini tidak sia-sia”.

Lubb inilah yang dapat menangkap bahasa hidayah Allah yang “laa harfa walaa shaut—tanpa huruf dan tanpa suara”, mengiringi bahasa Allah yang juga demikian adanya.

Kedua, hati diungkap dengan kata fuaad—afidah. Sesungguhnya fuaad ini wujud lubb yang sudah menyentuh fisik. Lubb masih wujud asli iimaan yang selalu bersuara benar, jujur, apa adanya. Ia adalah ni’mat-rasa-dzat yang masih murni (pure). Suara lubb inilah yang disebut nurani. Saat lubb ini digunakan oleh ruh untuk merasakan juga sifat yang lahir dari jasad yaitu sifat insaniyah berupa hawa-nafsu, maka lahirlah lubb ini sebagai fuaad. Itu sebabnya fuad ini adalah sudah berupa wujud yang dapat merasakan dua jenis rasa yaitu baik dan buruk. Fuaad inilah yang berupa kitaab—catatan. Dalam catatan ini sudah ada dua jenis atau warnanya yaitu catatan baik dan catatan buruk.

Ketiga, hati diungkap dalam bentuk kata qalbu-quluub. Qalbu ini artinya bolak-balik, berganti-ganti, atau berubah-ubah. Ialah qalbu ini wujudnya adalah hati yang fisik atau yang dikenal liver. Liver ini bukan jantung. Jantung terjemah dari hati. Orang yang tidak mengerti wujud yang sesungguhnya qalbu diartikan jantung, karena jantung katanya bolak-balik. Padahal kerja jantung itu turun-naik bukan bolak-balik. Nah, sesungghnya bukan hati-liver itu yang bolak-balik sehingga bernama qalbu. Tetapi pada hati inilah fuaad menerapkan rasa yang berganti-ganti antara baik dan buruk itu. Rasa yang berganti-ganti atau bolak-balik, atau berubah-ubah itu dirasakan oleh ruh pada hati.

Baca Juga :  “Lima Kado” Ultah ke 76 Polri

Jadi, hidayah-petunjuk itu disebut berwadah dalam hati, artinya wujud yang selalu merasakan sifat nurani itu merasakan petunjuk atau mendapat taufiq dan hidayah berupa benar dan salah di dalam hati. Dalam arti, bukan petunjuk itu berwujud lembaran-lembaran di dalam hati. Sesungguhnya petunjuk atau hidayah itu telah lama ada pada wujud yang merasa dalam hati, bersamaan dengan ditiupkannya ruh atau bersamaan dengan ditugaskannya kita dalam tubuh manusia.

Nah, datanglah utusan Tuhan yaitu para auliyaa’-anbiyaa’ menyampaikan cara mengaktifkan dan cara menggunakan hidayah atau petunjuk itu. Yaitu dengan didahului supaya hamba yang dalam hati itu datang kepada Tuhannya untuk melakukan persembahan atau menyembah Tuhannya.

Para auliyaa’-anbiyaa’ bukan memberikan petunjuk atau hidayah, melainkam hanya mengabari cara datang kepada Tuhan dengan benar, supaya Tuhan—Allah Swt menolong hamba itu mengosongkan kekotoran yang ada dalam hatinya (Qs. Al-Anfaal/8:24, al-A’raaf/7:43. Yang demikian itu namanya Allah mengingatkan akan dia engkau (Qs. Al-Baqarah/2: 152).

Otomatis saat kekotoran hati itu hengkang, maka lubb berfungsi. Saat itulah nuur iimaan memancar pada tindak dan kata. Saat itulah seorang hamba disebut telah mendapat petunjuk. Maka dengan itu lahirlah prilaku hamba yang terbimbimbing, dan mewujudlah hamba Tuhan yang rendah hati (Qs. Al-Furqaan/25:63-64). (*)

*) Penulis adalah Rektor IAIN Pontianak

Oleh: Syarif

KEBENARAN yang saya maksud dalam tulisan ini adalah “sesuatu yang benar”. Sesuatu yang benar itu adalah wujud yang datang dari pada Allah (Qs. Al-Baqarah/2:147).Yang datang dari pada Allah itu disebut iimaan (selanjutnya ditulis iman) , yaitu wujud kepercayan Allah atau yang dipercaya oleh Allah.
Ia datang bersamaan dengan ditiupkannya ruh ke dalam tubuh manusia. Ruh itu adalah diri kita ditugaskan dalam tubuh manusia untuk menyempurnakan manusia pada tubuhnya (al-Sajadah/32:9).

Ruh atau kita ditiupkan ke dalam jasad kita saat jasad ini berumur empat bulan sepuluh hari dalam kandungan ibu.

Bukti ada ruh adalah ada penglihatan, pendengaran, dan rasa. Jika ruh tidak ada pada tubuh karena kematianatau karena tidur (Qs. Al-Zunar/39:42), maka pendengaran, penglihatan, dan rasa tidak ada pada tubuh manusia. Artinya yang melihat, mendengar, dan merasa bukan mata, telinga, dan sekujur tubuh, tapi ruh.

Adapun bukti ada iman pada ruh atau pada kita adalah nyata sifatnya yaitu “siddiiq—jujur”. Iman itu yang tak pernah dusta. Ia selalu melahirkan catatan atau kitab di dalam dada. Catatan itu tidak pernah dibelokkan. Catatan itu berisi semua perbuatan kita, apakah perbuatan kita itu baik atau tidak baik. Maka disebutlah catatan itu atau kitab itu tidak pernah bengkok (Qs. Al-Kahfi/18:1).

Yang benar itu atau iman itu wujudnya rasa. Rasa itu adalah ejawantah zat yang dianugerahkan kepada kita ada dalam hati. Maka iman itu nanti sejatinya sebagai inti diri atau lubb. Lubb atau wujud yang menjadi rasa itu disebut “ni’mat” yang dalam bahasa Allah disebut “ni’matiya allatii an’amtu ‘alaikum—nikmat-Ku yang Kuanugerahkan kepadamu”. Sebenarnya hati itu tempat ruh atau kita merasa sesuatu. Artinya bukan wujud iman atau rasa atau nikmat itu seonggok ada dalam hati. Tetapi kita merasa sesuatu dengan nikmat itu di dalam hati.

Baca Juga :  Mencapai Prestasi Puncak di Usia Lansia

Dalam beberapa keterangan teks Alquran istilah selama ini hati setidaknya disebut dalam tiga bentuk. Sekalian dengan tulisan ini kita mengenal tiga istilah yang dinisbatkan dengan hati ini, yaitu pertama diungkap dengan kata “lubb—inti”. Sesunggunya pengungkapan kata “lubb” sebagai pernyataan bahwa iman atau zat atau rasa itu sebagai inti dari eksistensi ini. Ia wujudnya memang yang paling dalam. Kalau kita urutkan dari yang paling luar, susunannya adalah jasad, ruh, dan lubb. Kita bisa menamakan sebagai inti diri.

Lubb ini sebagai instrumen utama untuk mengenal Tuhan. Lubb ini yang menjadi batin menampung ‘aqal-fikir-khayal-faham-‘ilmu. Orang yang menemukan wujud inilah yang berhak mengucapkan “rabanaa maa khalaqta haadzaa baathilan—Tuhan kami, apa yang telah Engkau jadi ini tidak sia-sia”.

Lubb inilah yang dapat menangkap bahasa hidayah Allah yang “laa harfa walaa shaut—tanpa huruf dan tanpa suara”, mengiringi bahasa Allah yang juga demikian adanya.

Kedua, hati diungkap dengan kata fuaad—afidah. Sesungguhnya fuaad ini wujud lubb yang sudah menyentuh fisik. Lubb masih wujud asli iimaan yang selalu bersuara benar, jujur, apa adanya. Ia adalah ni’mat-rasa-dzat yang masih murni (pure). Suara lubb inilah yang disebut nurani. Saat lubb ini digunakan oleh ruh untuk merasakan juga sifat yang lahir dari jasad yaitu sifat insaniyah berupa hawa-nafsu, maka lahirlah lubb ini sebagai fuaad. Itu sebabnya fuad ini adalah sudah berupa wujud yang dapat merasakan dua jenis rasa yaitu baik dan buruk. Fuaad inilah yang berupa kitaab—catatan. Dalam catatan ini sudah ada dua jenis atau warnanya yaitu catatan baik dan catatan buruk.

Ketiga, hati diungkap dalam bentuk kata qalbu-quluub. Qalbu ini artinya bolak-balik, berganti-ganti, atau berubah-ubah. Ialah qalbu ini wujudnya adalah hati yang fisik atau yang dikenal liver. Liver ini bukan jantung. Jantung terjemah dari hati. Orang yang tidak mengerti wujud yang sesungguhnya qalbu diartikan jantung, karena jantung katanya bolak-balik. Padahal kerja jantung itu turun-naik bukan bolak-balik. Nah, sesungghnya bukan hati-liver itu yang bolak-balik sehingga bernama qalbu. Tetapi pada hati inilah fuaad menerapkan rasa yang berganti-ganti antara baik dan buruk itu. Rasa yang berganti-ganti atau bolak-balik, atau berubah-ubah itu dirasakan oleh ruh pada hati.

Baca Juga :  Kembangkan Karakter dan Potensi Peserta Didik

Jadi, hidayah-petunjuk itu disebut berwadah dalam hati, artinya wujud yang selalu merasakan sifat nurani itu merasakan petunjuk atau mendapat taufiq dan hidayah berupa benar dan salah di dalam hati. Dalam arti, bukan petunjuk itu berwujud lembaran-lembaran di dalam hati. Sesungguhnya petunjuk atau hidayah itu telah lama ada pada wujud yang merasa dalam hati, bersamaan dengan ditiupkannya ruh atau bersamaan dengan ditugaskannya kita dalam tubuh manusia.

Nah, datanglah utusan Tuhan yaitu para auliyaa’-anbiyaa’ menyampaikan cara mengaktifkan dan cara menggunakan hidayah atau petunjuk itu. Yaitu dengan didahului supaya hamba yang dalam hati itu datang kepada Tuhannya untuk melakukan persembahan atau menyembah Tuhannya.

Para auliyaa’-anbiyaa’ bukan memberikan petunjuk atau hidayah, melainkam hanya mengabari cara datang kepada Tuhan dengan benar, supaya Tuhan—Allah Swt menolong hamba itu mengosongkan kekotoran yang ada dalam hatinya (Qs. Al-Anfaal/8:24, al-A’raaf/7:43. Yang demikian itu namanya Allah mengingatkan akan dia engkau (Qs. Al-Baqarah/2: 152).

Otomatis saat kekotoran hati itu hengkang, maka lubb berfungsi. Saat itulah nuur iimaan memancar pada tindak dan kata. Saat itulah seorang hamba disebut telah mendapat petunjuk. Maka dengan itu lahirlah prilaku hamba yang terbimbimbing, dan mewujudlah hamba Tuhan yang rendah hati (Qs. Al-Furqaan/25:63-64). (*)

*) Penulis adalah Rektor IAIN Pontianak

Most Read

Artikel Terbaru

/