alexametrics
28 C
Pontianak
Saturday, May 21, 2022

Apa Sulitnya Pemimpin Memaafkan

Oleh: Aswandi

SETIAP kali mengucapkan “Selamat Hari Raya”, hari dimana kita kembali kepada kesucian. terasa tidak sempurna jika tidak disertai ucapan “Mohon Maaf Lahir dan Bathin”.

Quraish Shihab (1996) dalam bukunya “Wawasan Al-Qur’an” mengatakan kata maaf (al-‘afw) terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 34 kali. Kata ini pada mulanya berarti berlebihan, kemudian berkembang maknanya menjadi keterhapusan. Jadi memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati. Ayat-ayat yang berbicara tentang pemaafan semua dikemukakan tanpa ada usaha terlebih dahulu dari orang yang bersalah. Perhatikan juga firman Allah SWT dalam QS Al-Imran:152, 155 dan QS Al-Maidah: 95,101, ternyata tidak ditemukan satu ayat pun yang menganjurkan agar meminta maaf, tetapi yang ada adalah perintah untuk memberi maaf. Kesan yang disampaikan oleh ayat-ayat tersebut adalah anjuran untuk tidak menanti permohonan dari orang yang bersalah, melainkan memberi maaf sebelum diminta, jangan menundanya memberi maaf hanya karena dendam, gensi, keangkuhan atau kesombongan karena itu sifat-sifat setan laknatullah, sementara memaafkan adalah ciri orang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia.

Memaafkan adalah menggugurkan hak karena kemurahan dan kebaikan hati ketika mampu melakukan pembalasan. Allah SWT berfirman, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat, maka pahalanya dari Allah” (QS Asy-Syura : 40) sebagaimana Rasulullh Saw contohkan, antara lain: memberi maaf kepada pembunuh Hamzah ra paman beliau, memaafkan seorang Yahudi yang menyihir beliau, memaafkan perempuan Yahudi yang meracun melalui daging kambing dan memaafkan seorang musyrik yang hendak membunuh beliau. Diikuti oleh para khalifah Ar-Rasyidin, para sahabat dan orang shaleh lainnya.

Al Umari berkata, “Ketika Imam Malik dipukul dan dihukum, ia dibawa dalam keadaan pingsan. Banyak orang menjenguknya. Ketika beliau sadar, Ia berkata, “Aku bersaksi kepada kamu sekalian bahwa orang yang memukulku itu aku jadikan dalam keadaan tidak bersalah. Jika aku mati dan ketemu Rasulullah, aku malu kepadanya jika ada yang masuk neraka disebabkan oleh aku”, dikutip dari Syaikh Mahmud Al-Mishri (2018) dalam kitabnya “Sa’atan Sa’atan”. Selain itu, telah lahir pemimpin sejati yang dikenal dunia sebagai seorang pemimpin pemaaf, yakni Nelson Mandela dan Abraham Linclon.

Nelson Rolihlahla Mandela seorang pejuang menentang penindasan rasial di Afrika Selatan meraih hadiah nobel perdamaian dan jabatan presiden di negaranya. Menjelang pembebasannya di tahun 1990 setelah dipenjara lebih 27 tahun oleh pemerintah Apartheid. Ditanya apa yang akan dilakukan setelah memperoleh kebebasan tersebut.

Baca Juga :  Kehebatan Surah Al Fatihah

Satu jawaban pasti yang menggetarkan seantero dunia dan mengundang para pemimpin dunia untuk menjemputnya dari penjara dan menghadiri acara pelantikannya menjadi presiden, yakni keinginan yang kuat untuk memberi maaf atau pengampunan bukan meminta maaf kepada semua orang yang pernah menyakitinya, demikian Nelson Mandela (2000) dalam outobiografinya berjudul; “Menuju Jalan Kebebasan”.

Presiden Abraham Lincoln dikunjungi oleh Kolonel Scott, salah satu komandan pasukan penjaga Capitol dari serangan pasukan Konfederasi di Northern Virginia menyampaikan berita duka; istrinya tenggelam dalam peristiwa tabrakan kapal uap di Chesapeake Bay saat pulang setelah melakukan perjalanan ke Washington untuk merawat suaminya yang sedang sakit. Scott mengajukan permohonan cuti kepada komandan resimen, karena ingin menghadiri pemakaman istrinya dan menemani anak-anaknya yang sedang duka ditinggal ibunya dan terpisah cukup lama dari ayahnya. Permohonannya ditolak dengan alasan perang semakin dekat dan setiap prajurit sangat dibutuhkan. Presiden membela apa yang dilakukan bawahannya menolak permohonan cuti Scott dan berkata; ”tahukan anda setiap keluarga di negeri ini ditimpa kesedihan, semua harus menjalankan tugas penting menyelesaikan perang ini”. Kolonel Scott kembali ke baraknya dengan perasaan kecewa dan sangat sedih, terbayang almarhumah istrinya yang sedang ditangisi anak-anaknya.

Subuh keesokan harinya, Kolonel Scott dikejutkan bunyi ketukan di pintunya. Ia membuka pintu dan melihat presiden Abraham Lincoln berada di depan pintunya. Ia menjabat tangan Scott, memegang dan memeluknya, dan berkata; ”Kolonel, saya berlaku kejam kepada anda kemarin malam. Saya tidak punya alasan untuk saya tawarkan. Saya sangat lelah, tetapi saya tidak berhak memperlakukan seseorang pria dengan kasar, pada hal ia telah mempertaruhkan jiwa raga untuk negara, lebih-lebih seorang suami dan ayah dalam kesedihan. Saya mengalami malam yang penuh penyesalan dan sekarang yang tepat bagi saya untuk memberi dan meminta maaf  kepadamu”.

Lincoln menyerah dan sadar bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang salah, ia mengambil penuh tanggung jawab atas tindakannya dan dengan tulus memberi maaf, ia tidak mengirim pesan kepada Scott, ia datangi tempat tinggalnya dan mengatakan cara saya selaku presiden memperlakukan anda kemarin malam adalah salah besar, saya bersedih jika teringat peristiwa itu, lelaki yang anda temui kemarin malam bukanlah saya, melainkan seorang presiden yang congkak dan sombong.

Baca Juga :  Visibke Learning John Hattie

Ditemukan dalam studi kepemimpinan dewasa ini bahwa memberi maaf adalah sebuah variabel anteseden dari kepercayaan seorang pemimpin sejati. Kesadaran memberi maaf menjadi bagian tersulit bagi seorang, terutama bagi seorang pemimpin, namun sangat bermanfaat, tidak hanya berpotensi memperbaiki kesalahan, tetapi juga mengembalikan kepercayaan orang lain terhadapnya. Kegagalan banyak pemimpin dimulai saat mereka tidak mau mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan yang mesti menjadi tanggung jawabnya. Orang bijak berkata; “Semakin lama anda memberi maaf, semakin cepat kelemahan anda dikatakan sebagai kejahatan”.

Ketahuilah bahwa, memaafkan adalah pintu terbesar menuju terciptanya rasa saling mencintai diantara sesama manusia, dan Allah SWT selalu memberi pertolongan kepada umatya selama mereka memiliki sifat pemaaf.

Secara lahir, kasat mata kita saksikan dan kita dengar banyak orang, termasuk para pemimpin mengobral kata “maaf”. Namun secara bathin, memaafkan adalah sulit. Coba amati dengan cermat, mulutnya berucap dan jarinya menulis kata maaf, namun hatinya tetap menaruh rasa dendam.

Jika mereka mampu balas dendam, pujian bagi mereka jika mampu memaafkan. “… Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun”, QS An-Nisa : 99.

Gemar balas dendam adalah racun yang mematikan jiwa manusia. Dan kerugian yang ditimbulkan balas dendam sangat besar karena orang yang gemar balas dendam akan kehilangan kesenangan, ketenangan dan ketentraman.

Penguasa Abbasiah yang tidak sempat membunuh musuh-musuhnya dari bani Umayah karena meninggal sebelum ia berkuasa. Untuk memuaskan nafsu dendamnya, ia bongkar mayat-mayat mereka dari kubur. Sebahagian mayat bahkan telah menjadi tulang belulang. Ia memukul dan mencambuk tulang belulang tersebut kemudian membakarnya.

Dendam kusumat sebagaimana dilakukan penguasa Abbasiah terhadap bani Umayah di atas sulit ditemukan pada saat ini, namun dalam modus yang sedikit berbeda masih kita temukan sekarang ini, dendam kusumat seseorang diwariskan kepada anak, cucu, saudara dan keturunannya.

Jika kita temukan ada pemimpin yang sulit memaafkan karena sifat dendam yang masih melekat di dalam dirinya, maka sehebat apapun “Open House” yang diselenggarakannya tidak berarti apa-apa, ia tetap berkelimang dosa dan tidak mendapatkan nikmat kesucian dari puasanya. (*)

Penulis adalah Dosen FKIP Untan

Oleh: Aswandi

SETIAP kali mengucapkan “Selamat Hari Raya”, hari dimana kita kembali kepada kesucian. terasa tidak sempurna jika tidak disertai ucapan “Mohon Maaf Lahir dan Bathin”.

Quraish Shihab (1996) dalam bukunya “Wawasan Al-Qur’an” mengatakan kata maaf (al-‘afw) terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 34 kali. Kata ini pada mulanya berarti berlebihan, kemudian berkembang maknanya menjadi keterhapusan. Jadi memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati. Ayat-ayat yang berbicara tentang pemaafan semua dikemukakan tanpa ada usaha terlebih dahulu dari orang yang bersalah. Perhatikan juga firman Allah SWT dalam QS Al-Imran:152, 155 dan QS Al-Maidah: 95,101, ternyata tidak ditemukan satu ayat pun yang menganjurkan agar meminta maaf, tetapi yang ada adalah perintah untuk memberi maaf. Kesan yang disampaikan oleh ayat-ayat tersebut adalah anjuran untuk tidak menanti permohonan dari orang yang bersalah, melainkan memberi maaf sebelum diminta, jangan menundanya memberi maaf hanya karena dendam, gensi, keangkuhan atau kesombongan karena itu sifat-sifat setan laknatullah, sementara memaafkan adalah ciri orang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia.

Memaafkan adalah menggugurkan hak karena kemurahan dan kebaikan hati ketika mampu melakukan pembalasan. Allah SWT berfirman, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat, maka pahalanya dari Allah” (QS Asy-Syura : 40) sebagaimana Rasulullh Saw contohkan, antara lain: memberi maaf kepada pembunuh Hamzah ra paman beliau, memaafkan seorang Yahudi yang menyihir beliau, memaafkan perempuan Yahudi yang meracun melalui daging kambing dan memaafkan seorang musyrik yang hendak membunuh beliau. Diikuti oleh para khalifah Ar-Rasyidin, para sahabat dan orang shaleh lainnya.

Al Umari berkata, “Ketika Imam Malik dipukul dan dihukum, ia dibawa dalam keadaan pingsan. Banyak orang menjenguknya. Ketika beliau sadar, Ia berkata, “Aku bersaksi kepada kamu sekalian bahwa orang yang memukulku itu aku jadikan dalam keadaan tidak bersalah. Jika aku mati dan ketemu Rasulullah, aku malu kepadanya jika ada yang masuk neraka disebabkan oleh aku”, dikutip dari Syaikh Mahmud Al-Mishri (2018) dalam kitabnya “Sa’atan Sa’atan”. Selain itu, telah lahir pemimpin sejati yang dikenal dunia sebagai seorang pemimpin pemaaf, yakni Nelson Mandela dan Abraham Linclon.

Nelson Rolihlahla Mandela seorang pejuang menentang penindasan rasial di Afrika Selatan meraih hadiah nobel perdamaian dan jabatan presiden di negaranya. Menjelang pembebasannya di tahun 1990 setelah dipenjara lebih 27 tahun oleh pemerintah Apartheid. Ditanya apa yang akan dilakukan setelah memperoleh kebebasan tersebut.

Baca Juga :  Metode Demontrasi Terbimbing Tingkatkan Kemampuan Membaca

Satu jawaban pasti yang menggetarkan seantero dunia dan mengundang para pemimpin dunia untuk menjemputnya dari penjara dan menghadiri acara pelantikannya menjadi presiden, yakni keinginan yang kuat untuk memberi maaf atau pengampunan bukan meminta maaf kepada semua orang yang pernah menyakitinya, demikian Nelson Mandela (2000) dalam outobiografinya berjudul; “Menuju Jalan Kebebasan”.

Presiden Abraham Lincoln dikunjungi oleh Kolonel Scott, salah satu komandan pasukan penjaga Capitol dari serangan pasukan Konfederasi di Northern Virginia menyampaikan berita duka; istrinya tenggelam dalam peristiwa tabrakan kapal uap di Chesapeake Bay saat pulang setelah melakukan perjalanan ke Washington untuk merawat suaminya yang sedang sakit. Scott mengajukan permohonan cuti kepada komandan resimen, karena ingin menghadiri pemakaman istrinya dan menemani anak-anaknya yang sedang duka ditinggal ibunya dan terpisah cukup lama dari ayahnya. Permohonannya ditolak dengan alasan perang semakin dekat dan setiap prajurit sangat dibutuhkan. Presiden membela apa yang dilakukan bawahannya menolak permohonan cuti Scott dan berkata; ”tahukan anda setiap keluarga di negeri ini ditimpa kesedihan, semua harus menjalankan tugas penting menyelesaikan perang ini”. Kolonel Scott kembali ke baraknya dengan perasaan kecewa dan sangat sedih, terbayang almarhumah istrinya yang sedang ditangisi anak-anaknya.

Subuh keesokan harinya, Kolonel Scott dikejutkan bunyi ketukan di pintunya. Ia membuka pintu dan melihat presiden Abraham Lincoln berada di depan pintunya. Ia menjabat tangan Scott, memegang dan memeluknya, dan berkata; ”Kolonel, saya berlaku kejam kepada anda kemarin malam. Saya tidak punya alasan untuk saya tawarkan. Saya sangat lelah, tetapi saya tidak berhak memperlakukan seseorang pria dengan kasar, pada hal ia telah mempertaruhkan jiwa raga untuk negara, lebih-lebih seorang suami dan ayah dalam kesedihan. Saya mengalami malam yang penuh penyesalan dan sekarang yang tepat bagi saya untuk memberi dan meminta maaf  kepadamu”.

Lincoln menyerah dan sadar bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang salah, ia mengambil penuh tanggung jawab atas tindakannya dan dengan tulus memberi maaf, ia tidak mengirim pesan kepada Scott, ia datangi tempat tinggalnya dan mengatakan cara saya selaku presiden memperlakukan anda kemarin malam adalah salah besar, saya bersedih jika teringat peristiwa itu, lelaki yang anda temui kemarin malam bukanlah saya, melainkan seorang presiden yang congkak dan sombong.

Baca Juga :  Afirmasi Guru P3K untuk Pendidikan Bermutu

Ditemukan dalam studi kepemimpinan dewasa ini bahwa memberi maaf adalah sebuah variabel anteseden dari kepercayaan seorang pemimpin sejati. Kesadaran memberi maaf menjadi bagian tersulit bagi seorang, terutama bagi seorang pemimpin, namun sangat bermanfaat, tidak hanya berpotensi memperbaiki kesalahan, tetapi juga mengembalikan kepercayaan orang lain terhadapnya. Kegagalan banyak pemimpin dimulai saat mereka tidak mau mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan yang mesti menjadi tanggung jawabnya. Orang bijak berkata; “Semakin lama anda memberi maaf, semakin cepat kelemahan anda dikatakan sebagai kejahatan”.

Ketahuilah bahwa, memaafkan adalah pintu terbesar menuju terciptanya rasa saling mencintai diantara sesama manusia, dan Allah SWT selalu memberi pertolongan kepada umatya selama mereka memiliki sifat pemaaf.

Secara lahir, kasat mata kita saksikan dan kita dengar banyak orang, termasuk para pemimpin mengobral kata “maaf”. Namun secara bathin, memaafkan adalah sulit. Coba amati dengan cermat, mulutnya berucap dan jarinya menulis kata maaf, namun hatinya tetap menaruh rasa dendam.

Jika mereka mampu balas dendam, pujian bagi mereka jika mampu memaafkan. “… Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun”, QS An-Nisa : 99.

Gemar balas dendam adalah racun yang mematikan jiwa manusia. Dan kerugian yang ditimbulkan balas dendam sangat besar karena orang yang gemar balas dendam akan kehilangan kesenangan, ketenangan dan ketentraman.

Penguasa Abbasiah yang tidak sempat membunuh musuh-musuhnya dari bani Umayah karena meninggal sebelum ia berkuasa. Untuk memuaskan nafsu dendamnya, ia bongkar mayat-mayat mereka dari kubur. Sebahagian mayat bahkan telah menjadi tulang belulang. Ia memukul dan mencambuk tulang belulang tersebut kemudian membakarnya.

Dendam kusumat sebagaimana dilakukan penguasa Abbasiah terhadap bani Umayah di atas sulit ditemukan pada saat ini, namun dalam modus yang sedikit berbeda masih kita temukan sekarang ini, dendam kusumat seseorang diwariskan kepada anak, cucu, saudara dan keturunannya.

Jika kita temukan ada pemimpin yang sulit memaafkan karena sifat dendam yang masih melekat di dalam dirinya, maka sehebat apapun “Open House” yang diselenggarakannya tidak berarti apa-apa, ia tetap berkelimang dosa dan tidak mendapatkan nikmat kesucian dari puasanya. (*)

Penulis adalah Dosen FKIP Untan

Most Read

Artikel Terbaru

/