alexametrics
24 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Diskusi Kelompok Solusi Menyusun Perangkat Pembelajaran

Oleh: Sofia, S.Pd.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selanjutnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut disusun standar pendidikan nasional, terdiri atas: standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar sarana prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses disebutkan bahwa setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun perangkat pembelajaran secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Untuk menyiapkan kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran dan menggunakan silabus sebagai acuan, perlu penjabaran operasional antara lain dalam mengembangkan materi pembelajaran, mengembangkan langkah pembelajaran serta merancang dan melaksanakan penilaian autentik. Oleh karena itu, diperlukan rambu-rambu yang bisa memfasilitasi guru secara individual dan kelompok dalam menyusun perangkat pembelajaran untuk menunjang proses pembelajaran di kelas yang diampunya.

Focus Group Discussion (FGD) merupakan satu di antara solusi yang ditawarkan. Focus Group Discussion atau dalam bahasa Indonesia diatikan sebagai diskusi kelompok terarah saat ini sedang populer dan sering digunakan sebagai metode pengumpulan data dalam penelitian sosial. Secara singkat FGD diartikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan secara sistematis serta terarah mengenai suatu isu atau masalah tertentu. Diskusi kelompok terarah atau FGD memiliki tujuan yakni untuk memeproleh masukan atau informasi mengenai permasalahan yang sifatnya lokal dan spesifik. Namun, penyelesaian tentang masalahnya ditentukan pihak lain setelah masukan diterima dan dianalisis.

Baca Juga :  Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi dalam Amanat UUD 1945

Pelaksanaan FGD dapat dilakukan sebagai berikut. Hal pertama yang dilakukan adalah pembentukan panitia. Kemudian, seluruh guru dikumpulkan dalam satu ruangan yang telah disediakan oleh panitia. Kemudian peneliti melakukan pembinaan dengan metode FGD yang didampingi oleh panitia. Pembinaan ditekankan pada peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam menyusun perangkat pembelajaran. Topik utama FGD adalah upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam menyusun perangkat pembelajaran. Kegiatan FGD yang dilakukan dalam tiga tahapan yaitu pembukaan, kegiatan inti, dan penutup.

Pada kegiatan pembukaan berlangsung selama 20 menit. Setelah menyampaikan kata sambutan, moderator memberi penjelasan tentang tujuan pelaksanaan FGD. Kemudian, menekankan bahwa FGD tidak bertujuan untuk memberikan ceramah, tetapi untuk mengumpulkan pendapat dari peserta terkait topik yang telah ditentukan. Selanjutnya, moderator mengajukan pertanyaan yang sifatnya umum, yaitu terkait tujuan pendidikan nasional, yang tidak berkaitan dengan topik diskusi, sebagai apersepsi dan mendorong terjadinya diskusi. Peserta diberi kesempatan menjawab pertanyaan tersebut secara bergiliran. Pendapat dari semua peserta sangat penting sehingga semua peserta bebas mengeluarkan pendapat.

Kegiatan inti berlangsung selama 140 menit. Fasilitator melibatkan seluruh peserta untuk berperan aktif selama FGD. Untuk menciptakan suasana yang kondusif, para guru dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 orang guru. Pembagian kelompok dilakukan untuk mempermudah koordinasi agar setiap peserta mampu menyusun perangkat pembelajaran sesuai target yang telah ditetapkan.

Pada kegiatan klarifikasi, moderator bertanya terkait kendala yang dihadapi oleh peserta dalam menyusun perangkat pembelajaran. Seorang peserta bertanya tentang komponen silabus yang bisa dijadikan acuan pada penyusunan perangkat pembelajaran. Moderator memberi kesempatan kepada peserta lain untuk menjawab pertanyaan tersebut. Peserta lain mengarahkan kepada peserta yang bertanya agar merujuk pada Permendikbud dan peraturan pemerintah yang berlaku. Kepala sekolah turut menegaskan bahwa perangkat pembelajaran yang disusun oleh guru mestinya mengacu pada aturan-aturan yang berlaku dengan penyesuaian seperlunya mengingat kondisi sekolah masing-masing.

Baca Juga :  Guru sebagai Aktivator: “Mastery Learning”

Pada tahap reorientasi, moderator menciptakan diskusi yang hidup dan menarik, serta teknik yang efektif. Peneliti kembali mengingatkan peserta bahwa terdapat sedikitnya 6 jenis perangkat pembelajaran yang wajib disusun/dimiliki oleh setiap guru. Kelengkapan setiap komponen pada perangkat pembelajaran berpengaruh terhadap penilaian kinerja guru. Moderator memberi kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi terkait 6 jenis perangkat pembelajaran tersebut dengan pendampingan oleh peneliti sehingga setiap peserta mengetahui komponen pada perangkat pembelajaran yang disusunnya.

Selanjutnya, perwakilan peserta diberi kesempatan untuk mempresentasikan perangkat pembelajaran yang telah disusun (micro teaching) yang berlangsung sekitar 20 menit. Setelah presentasi peserta, moderator memberikan kesempatan kepada kepala sekolah untuk menyampaikan secara santun tentang kelebihan/kekuatan peserta pada saat presentasi serta perangkat pembelajaran yang dipresentasikan dan menyampaikan kekurangan/kelemahannya satu per satu. Peserta tersebut menyampaikan argumentasi terkait hasil evaluasi dari peneliti. Kepala sekolah memberikan masukan untuk tindakan berikutnya dan membantu menentukan solusi atas masalah-masalah yang terjadi dalam menyusun perangkat pembelajaran. Peserta lain juga ikut serta dalam memberikan saran dan saling bertukar pikiran terhadap masalah dan kesulitan yang dihadapi. Pada akhir kegiatan inti, kepala sekolah melaksanakan pembinaan kembali secara umum sebagai tindak lanjut.

Tahapan berikutnya yaitu penutup selama 20 menit. Dalam kegiatan penutup, moderator menyampaikan kesimpulan dari keseluruhan hasil diskusi kepada peserta FGD. Setelah itu, seorang anggota panitia membagikan kuesioner untuk diisi oleh peserta. Lembar kuesioner dan format penilaian supervisi yang telah diisi tersebut, kemudian dianalisis oleh kepala sekolah.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk membantu rekan-rekan guru menyusun perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang kreatif dan inovatif dengan mengedepankan kolaboratif. Komunitas praktisi di sekolah bisa dimanfaatkan untuk menerima masukan dan merevisi perangkat pembelajaran yang menoton. Sebagai guru kita harus terus berinovasi untuk menciptakan pembelajaran menyenangkan dan berkualitas. Pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik.**

Penulis adalah Kepala SD Negeri 12 Pontianak Timur.

Oleh: Sofia, S.Pd.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selanjutnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut disusun standar pendidikan nasional, terdiri atas: standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar sarana prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses disebutkan bahwa setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun perangkat pembelajaran secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Untuk menyiapkan kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran dan menggunakan silabus sebagai acuan, perlu penjabaran operasional antara lain dalam mengembangkan materi pembelajaran, mengembangkan langkah pembelajaran serta merancang dan melaksanakan penilaian autentik. Oleh karena itu, diperlukan rambu-rambu yang bisa memfasilitasi guru secara individual dan kelompok dalam menyusun perangkat pembelajaran untuk menunjang proses pembelajaran di kelas yang diampunya.

Focus Group Discussion (FGD) merupakan satu di antara solusi yang ditawarkan. Focus Group Discussion atau dalam bahasa Indonesia diatikan sebagai diskusi kelompok terarah saat ini sedang populer dan sering digunakan sebagai metode pengumpulan data dalam penelitian sosial. Secara singkat FGD diartikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan secara sistematis serta terarah mengenai suatu isu atau masalah tertentu. Diskusi kelompok terarah atau FGD memiliki tujuan yakni untuk memeproleh masukan atau informasi mengenai permasalahan yang sifatnya lokal dan spesifik. Namun, penyelesaian tentang masalahnya ditentukan pihak lain setelah masukan diterima dan dianalisis.

Baca Juga :  Dengan Advanced Biodiesel, Klaim Dunia Terhadap Sawit Indonesia Selesai ?

Pelaksanaan FGD dapat dilakukan sebagai berikut. Hal pertama yang dilakukan adalah pembentukan panitia. Kemudian, seluruh guru dikumpulkan dalam satu ruangan yang telah disediakan oleh panitia. Kemudian peneliti melakukan pembinaan dengan metode FGD yang didampingi oleh panitia. Pembinaan ditekankan pada peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam menyusun perangkat pembelajaran. Topik utama FGD adalah upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam menyusun perangkat pembelajaran. Kegiatan FGD yang dilakukan dalam tiga tahapan yaitu pembukaan, kegiatan inti, dan penutup.

Pada kegiatan pembukaan berlangsung selama 20 menit. Setelah menyampaikan kata sambutan, moderator memberi penjelasan tentang tujuan pelaksanaan FGD. Kemudian, menekankan bahwa FGD tidak bertujuan untuk memberikan ceramah, tetapi untuk mengumpulkan pendapat dari peserta terkait topik yang telah ditentukan. Selanjutnya, moderator mengajukan pertanyaan yang sifatnya umum, yaitu terkait tujuan pendidikan nasional, yang tidak berkaitan dengan topik diskusi, sebagai apersepsi dan mendorong terjadinya diskusi. Peserta diberi kesempatan menjawab pertanyaan tersebut secara bergiliran. Pendapat dari semua peserta sangat penting sehingga semua peserta bebas mengeluarkan pendapat.

Kegiatan inti berlangsung selama 140 menit. Fasilitator melibatkan seluruh peserta untuk berperan aktif selama FGD. Untuk menciptakan suasana yang kondusif, para guru dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 orang guru. Pembagian kelompok dilakukan untuk mempermudah koordinasi agar setiap peserta mampu menyusun perangkat pembelajaran sesuai target yang telah ditetapkan.

Pada kegiatan klarifikasi, moderator bertanya terkait kendala yang dihadapi oleh peserta dalam menyusun perangkat pembelajaran. Seorang peserta bertanya tentang komponen silabus yang bisa dijadikan acuan pada penyusunan perangkat pembelajaran. Moderator memberi kesempatan kepada peserta lain untuk menjawab pertanyaan tersebut. Peserta lain mengarahkan kepada peserta yang bertanya agar merujuk pada Permendikbud dan peraturan pemerintah yang berlaku. Kepala sekolah turut menegaskan bahwa perangkat pembelajaran yang disusun oleh guru mestinya mengacu pada aturan-aturan yang berlaku dengan penyesuaian seperlunya mengingat kondisi sekolah masing-masing.

Baca Juga :  Puasa Membentuk Karakter Sosial

Pada tahap reorientasi, moderator menciptakan diskusi yang hidup dan menarik, serta teknik yang efektif. Peneliti kembali mengingatkan peserta bahwa terdapat sedikitnya 6 jenis perangkat pembelajaran yang wajib disusun/dimiliki oleh setiap guru. Kelengkapan setiap komponen pada perangkat pembelajaran berpengaruh terhadap penilaian kinerja guru. Moderator memberi kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi terkait 6 jenis perangkat pembelajaran tersebut dengan pendampingan oleh peneliti sehingga setiap peserta mengetahui komponen pada perangkat pembelajaran yang disusunnya.

Selanjutnya, perwakilan peserta diberi kesempatan untuk mempresentasikan perangkat pembelajaran yang telah disusun (micro teaching) yang berlangsung sekitar 20 menit. Setelah presentasi peserta, moderator memberikan kesempatan kepada kepala sekolah untuk menyampaikan secara santun tentang kelebihan/kekuatan peserta pada saat presentasi serta perangkat pembelajaran yang dipresentasikan dan menyampaikan kekurangan/kelemahannya satu per satu. Peserta tersebut menyampaikan argumentasi terkait hasil evaluasi dari peneliti. Kepala sekolah memberikan masukan untuk tindakan berikutnya dan membantu menentukan solusi atas masalah-masalah yang terjadi dalam menyusun perangkat pembelajaran. Peserta lain juga ikut serta dalam memberikan saran dan saling bertukar pikiran terhadap masalah dan kesulitan yang dihadapi. Pada akhir kegiatan inti, kepala sekolah melaksanakan pembinaan kembali secara umum sebagai tindak lanjut.

Tahapan berikutnya yaitu penutup selama 20 menit. Dalam kegiatan penutup, moderator menyampaikan kesimpulan dari keseluruhan hasil diskusi kepada peserta FGD. Setelah itu, seorang anggota panitia membagikan kuesioner untuk diisi oleh peserta. Lembar kuesioner dan format penilaian supervisi yang telah diisi tersebut, kemudian dianalisis oleh kepala sekolah.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk membantu rekan-rekan guru menyusun perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang kreatif dan inovatif dengan mengedepankan kolaboratif. Komunitas praktisi di sekolah bisa dimanfaatkan untuk menerima masukan dan merevisi perangkat pembelajaran yang menoton. Sebagai guru kita harus terus berinovasi untuk menciptakan pembelajaran menyenangkan dan berkualitas. Pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik.**

Penulis adalah Kepala SD Negeri 12 Pontianak Timur.

Most Read

Artikel Terbaru

/