alexametrics
27 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Ikhlaskanlah Ibadahmu

Oleh: Heriansyah

Jika dalam kehidupan ini baik itu pekerjaan, rumah tangga, keilmuan maupun amalan kita, ada keberkahannya, maka kita harus mencari keberkahan itu. Karena, keberkahan akan menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Diantara Nasihat ulama kita, bahwa poros dari keberkahan hidup ini terletak dari bagaimana pandainya kita mensyukuri segala kenikmatan yang Allah berikan.

Pada sebuah ceramah TGB. Dr. H. Muhammad Zainul Majdi, MA, beliau menyampaikan, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengikhtisarkan dari berbagai macam perintah atau rangkaian ibadah kita kepada Allah, baik itu salat, puasa, zakat dan lain sebagainya, didalam satu ayat yang sangat pendek sekali di dalam Alquran. Yakni pada surah al-Bayyinah ayat ke 5 yang artinya, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”

Sangat sederhana dan singkat sekali, tetapi memilik makna yang dalam. Betapa Allah ingin hambanya ikhlas dalam beribadah. Oleh karena itu, ulama kita meletakkkan bahwa salah satu tanda diterimanya amal seorang hamba adalah menghadirkan keikhlasan dalam melaksanakannya.

Bagaimana kenyataannya? Memang ikhlas mudah diucapkan, tetapi sulit untuk diamalkan. Misalnya, saat beramal, terkadang kita sudah ikhlas. Namun, ada saja bisikan untuk kita riya’ atau minta pujian sama manusia. Saat salat sunnah misalnya, biasanya cukup 5 menit karena dilihat orang menjadi 15 menit.

Lantas, bagaimana menyikapinya? Ulama, secara sederhana memberikan cara ketika ada keinginan riya’ dalam melakukan sesuatu, maka jangan mengiyakan bisikan itu, tetap fokus pada ibadah kita karena Allah. Karena ikhlas ini biasanya didekati dengan riya’.

Namun demikian kata ulama, jangan takut melakukan sesuatu karena dianggap riya’, boleh jadi itulah riya sesungguhnya. Tetapi takutlah, jika amalan kita tidak diterima. Oleh karena itu, setiap mengakhiri aktivitas kebaikan, tutup ia dengan doa, “..amalan makbulan, amalan yang diterima” seperti doa-doa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga :   Melawan Lupa

Para ulama memberikan definisi ikhlas berbeda-beda. Misalnya, pertama, ikhlas itu baginya sama saja ketika menjalankan sesuatu, dia tidak lagi heran mau dipuji atau dicaci, mau disanjung atau dihina, Ia hanya fokus mengharapkan ridho Allah subhanahu wa ta’ala. Kedua, ikhlas itu ketika beramal dia tidak lagi mengharapkan balasan dunia dan akhirat, yang diharapkan adalah ridho Allah subhanahu wa ta’ala.Ketiga Ikhlas itu bukan berarti tidak berharap apa-apa, tetapi berharapnya ke Allah Swt.

Sebenarnya masih banyak definisi ikhlas, tetapi pada tulisan ini hanya tiga yang penulis masukkan. Dari ketiga definisi ikhlas ini, penulis ingin mengajak, sudah dimanakah kita meletakkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah? Sudahkah pada Doing Good, for God? Atau kita hanya mengharapkan dan puas dengan pujian manusia saja?

Para ulama kata TGB memberikan kaidah, “Sesuatu ibadah yang dilakukan karena Allah, ia akan tersambung, ajeg, kontinyu atau tidak terputus, sedangkan sesuatu yang dilakukan bukan karena Allah ia akan terputus atau sementara dan tidak berlanjut.”

Nah, boleh jadi amal-amal kebaikan yang kadang tidak bisa istiqomah kita lakukan, pertanda amal itu bukan karena Allah melainkan karena manusia. Sehingga jika manusia tidak lagi memberikan apresiasi, kita pun tidak akan melakukannya lagi.

Sebagai penutup, saya ingin sampaikan kisah inspiratif. Suatu hari seorang murid bertamu ke rumah guru dengan membawa seikat ubi yang baru ia panen dengan sang Ayah. Begitu tiba di rumah guru, sang guru pun mengucapkan terima kasih, sembari meminta istri untuk memberikan seekor kambing kepada muridnya ini, untuk dibawa pulang. Si murid pun pulang.

Baca Juga :  Pengembangan Diri untuk Mengawal Bonus Demografi

Saat perjalanan pulang, si murid bertemu dengan temannya, dan si teman menanyakan dari mana kamu bawa kambing. Tadi saya dari rumah guru, ayah menitipkan ubi untuk guru, alhamdulillah saat pulang guru memberi saya kambing. Mendengar cerita itu, si teman ini pun pulang dan menceritakan hal ini ke ayahnya. Si ayah pun merespon, jika temamu memberi seikat ubi dikasi kambing, bagaimana jika kita memberi kambing, pasti dikasi sapi.

Singkat cerita, pergilah si teman ini membawa kambing ke rumah guru. Guru pun bahagia, saat hendak pulang sang guru menanyakan ke istri, kita punya apa bu? Kata istri, kita ada seikat ubi. Ya sudah, berikan saja separuh ubi itu kepada muridku ini. Dengan hati yang tidak ridho si murid dan ayah harus menerima seikat ubi, bukan seekor sapi yang ia rencanakan.

Mungkin ini gambaran, orang yang melakukan sesuatu karena tidak ikhlas. Dalam sebuah ceramah KH. Zainuddin, MZ, pernah mengatakan sembari mengutip perkataan imam al-Ghazali. “Pada dasarnya manusia itu mati, kecuali mereka yang berilmu. Mereka yang berilmu pu tidur kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya. Mereka yang mengamalkan ilmunya pun tertipu kecuali mereka yang Ikhlas.”

Semoga kita bisa menghadirkan keikhlasan dalam beribadah agar mendapat ridho Allah swt. Karena perkara ikhlas nyaris tidak bisa dinilai sesama manusia, kecuali Allah Swt. Oleh karena itu, jika beramal dengan ikhlas tidak akan lagi menyakiti yang menerima, kita pun akan menikmati dan rindu pada ibadah itu. Karena sesungguhnya jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Maka, Ikhlaskanlah Ibadahmu.  Wallahu ‘alambisshsawab.**

*Penulis adalah Tenaga Kontrak IAIN Pontianak.

 

Oleh: Heriansyah

Jika dalam kehidupan ini baik itu pekerjaan, rumah tangga, keilmuan maupun amalan kita, ada keberkahannya, maka kita harus mencari keberkahan itu. Karena, keberkahan akan menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Diantara Nasihat ulama kita, bahwa poros dari keberkahan hidup ini terletak dari bagaimana pandainya kita mensyukuri segala kenikmatan yang Allah berikan.

Pada sebuah ceramah TGB. Dr. H. Muhammad Zainul Majdi, MA, beliau menyampaikan, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengikhtisarkan dari berbagai macam perintah atau rangkaian ibadah kita kepada Allah, baik itu salat, puasa, zakat dan lain sebagainya, didalam satu ayat yang sangat pendek sekali di dalam Alquran. Yakni pada surah al-Bayyinah ayat ke 5 yang artinya, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”

Sangat sederhana dan singkat sekali, tetapi memilik makna yang dalam. Betapa Allah ingin hambanya ikhlas dalam beribadah. Oleh karena itu, ulama kita meletakkkan bahwa salah satu tanda diterimanya amal seorang hamba adalah menghadirkan keikhlasan dalam melaksanakannya.

Bagaimana kenyataannya? Memang ikhlas mudah diucapkan, tetapi sulit untuk diamalkan. Misalnya, saat beramal, terkadang kita sudah ikhlas. Namun, ada saja bisikan untuk kita riya’ atau minta pujian sama manusia. Saat salat sunnah misalnya, biasanya cukup 5 menit karena dilihat orang menjadi 15 menit.

Lantas, bagaimana menyikapinya? Ulama, secara sederhana memberikan cara ketika ada keinginan riya’ dalam melakukan sesuatu, maka jangan mengiyakan bisikan itu, tetap fokus pada ibadah kita karena Allah. Karena ikhlas ini biasanya didekati dengan riya’.

Namun demikian kata ulama, jangan takut melakukan sesuatu karena dianggap riya’, boleh jadi itulah riya sesungguhnya. Tetapi takutlah, jika amalan kita tidak diterima. Oleh karena itu, setiap mengakhiri aktivitas kebaikan, tutup ia dengan doa, “..amalan makbulan, amalan yang diterima” seperti doa-doa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga :  Meraih Rahasia Malam Lailatul Qadar

Para ulama memberikan definisi ikhlas berbeda-beda. Misalnya, pertama, ikhlas itu baginya sama saja ketika menjalankan sesuatu, dia tidak lagi heran mau dipuji atau dicaci, mau disanjung atau dihina, Ia hanya fokus mengharapkan ridho Allah subhanahu wa ta’ala. Kedua, ikhlas itu ketika beramal dia tidak lagi mengharapkan balasan dunia dan akhirat, yang diharapkan adalah ridho Allah subhanahu wa ta’ala.Ketiga Ikhlas itu bukan berarti tidak berharap apa-apa, tetapi berharapnya ke Allah Swt.

Sebenarnya masih banyak definisi ikhlas, tetapi pada tulisan ini hanya tiga yang penulis masukkan. Dari ketiga definisi ikhlas ini, penulis ingin mengajak, sudah dimanakah kita meletakkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah? Sudahkah pada Doing Good, for God? Atau kita hanya mengharapkan dan puas dengan pujian manusia saja?

Para ulama kata TGB memberikan kaidah, “Sesuatu ibadah yang dilakukan karena Allah, ia akan tersambung, ajeg, kontinyu atau tidak terputus, sedangkan sesuatu yang dilakukan bukan karena Allah ia akan terputus atau sementara dan tidak berlanjut.”

Nah, boleh jadi amal-amal kebaikan yang kadang tidak bisa istiqomah kita lakukan, pertanda amal itu bukan karena Allah melainkan karena manusia. Sehingga jika manusia tidak lagi memberikan apresiasi, kita pun tidak akan melakukannya lagi.

Sebagai penutup, saya ingin sampaikan kisah inspiratif. Suatu hari seorang murid bertamu ke rumah guru dengan membawa seikat ubi yang baru ia panen dengan sang Ayah. Begitu tiba di rumah guru, sang guru pun mengucapkan terima kasih, sembari meminta istri untuk memberikan seekor kambing kepada muridnya ini, untuk dibawa pulang. Si murid pun pulang.

Baca Juga :  Gara-gara TWK, KPK Tinggal Cerita?

Saat perjalanan pulang, si murid bertemu dengan temannya, dan si teman menanyakan dari mana kamu bawa kambing. Tadi saya dari rumah guru, ayah menitipkan ubi untuk guru, alhamdulillah saat pulang guru memberi saya kambing. Mendengar cerita itu, si teman ini pun pulang dan menceritakan hal ini ke ayahnya. Si ayah pun merespon, jika temamu memberi seikat ubi dikasi kambing, bagaimana jika kita memberi kambing, pasti dikasi sapi.

Singkat cerita, pergilah si teman ini membawa kambing ke rumah guru. Guru pun bahagia, saat hendak pulang sang guru menanyakan ke istri, kita punya apa bu? Kata istri, kita ada seikat ubi. Ya sudah, berikan saja separuh ubi itu kepada muridku ini. Dengan hati yang tidak ridho si murid dan ayah harus menerima seikat ubi, bukan seekor sapi yang ia rencanakan.

Mungkin ini gambaran, orang yang melakukan sesuatu karena tidak ikhlas. Dalam sebuah ceramah KH. Zainuddin, MZ, pernah mengatakan sembari mengutip perkataan imam al-Ghazali. “Pada dasarnya manusia itu mati, kecuali mereka yang berilmu. Mereka yang berilmu pu tidur kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya. Mereka yang mengamalkan ilmunya pun tertipu kecuali mereka yang Ikhlas.”

Semoga kita bisa menghadirkan keikhlasan dalam beribadah agar mendapat ridho Allah swt. Karena perkara ikhlas nyaris tidak bisa dinilai sesama manusia, kecuali Allah Swt. Oleh karena itu, jika beramal dengan ikhlas tidak akan lagi menyakiti yang menerima, kita pun akan menikmati dan rindu pada ibadah itu. Karena sesungguhnya jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Maka, Ikhlaskanlah Ibadahmu.  Wallahu ‘alambisshsawab.**

*Penulis adalah Tenaga Kontrak IAIN Pontianak.

 

Most Read

Syamsul Rizal Serahkan Bantuan Zakat

Cerlang Hadirkan Sekolah Ramah Anak

Tepis Isu Negatif Industri Kelapa Sawit

Artikel Terbaru

/