alexametrics
22.8 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Lupa Diri

Oleh: Hermansyah

DALAM kamus, ‘lupa diri’ diartikan sebagai tidak sadar akan dirinya. Banyak penyebab orang lupa. Karena penyakit, cedera kepala, mabuk, atau gangguan mental seperti: gila dan depresi. Ada juga pura-pura lupa.

Sering kita mendengar ungkapan “lupa diri” yang ditujukan manusia yang perilakunya melampau. Ungkapan ini tentu bermakna konotatif, tidak berhubungan dengan sebab-sebab lupa di atas. Ini bukan penyakit alzheimer atau amnesia yang menyebabkan  seseorang lupa terhadap sesuatu. Manusia yang lupa akan dirinya sendiri, berarti seseorang yang tidak lagi mengingat dan mempertimbangkan ‘diri’ manusia.

Pertanyaannya apa ‘diri’ manusia itu? Tentu bukan merujuk kepada yang fisik dari manusia. Sebab kalau merujuk pada fisik manusia, tentu tidak ada bedanya dengan hewan. Diri manusia sejati itu yang ada di dalam yakni yang berasal dari Tuhan. Tubuh kasarnya hanya wadah. Diri yang sejati adalah yang membawa amanah dari Tuhan. Amanah itu ada sejak ‘diri’ belum disebut manusia karena masih di alam ruh: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” [QS. Al-A’raf: 172].

Amanah yang dititipkan pada ruh itu, sebelumnya ditolak oleh langit, bumi, dan gunung-gunung. FirmanNya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikul lah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” [Al-Ahzab: 72].

Amanah yang dibawa oleh diri menyebabkan manusia dibebani tanggung jawab. Tanggung jawab itu ditagih setelah manusia kembali kepada Tuhannya. Itulah antara lain makna “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”; “Kami milik Allah dan kami kembali kepadaNya”.  Diri itulah yang membawa suara kebenaran, voice of heart, dalam dada setiap manusia. Sesuai dengan makna kata amanat yang bermakna ‘sesuatu yang dipercayakan atau titipan’ dan seakar kata dengan ‘iman’. Titipan itu nyaring suaranya. Fatwanya harus didengarkan sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa[HR. Ahmad].

Baca Juga :  Waspada Arisan (Investasi) Bodong

Dengan demikian manusia yang lupa diri adalah setiap individu yang melupakan asal usul dan titipan yang membawa suara kebenaran dalam diri. Watak orang lupa diri antara lain digambarkan: “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”  [QS. Yasin: 77].

Manusia menyangka dirinya kuat dan hebat. Padahal fisik tempat bersemayam ‘diri’ sangat lemah. Ia diciptakan dari air yang hina yang dalam waktu yang sangat singkat akan binasa. Mereka menyangka fisik itulah diri yang sejati. Sehingga apapun dilakukan untuk menyenangkannya. Mereka menjadi penantang yang nyata. Siapa yang ditantangnya? Yang paling dulu ditantangnya adalah titipan Tuhan dalam diri berupa sinyal-sinyal atau ayat-ayat yang mengingatkan tentang baik-buruk, benar-salah. Itulah tanda manusia lupa diri. Kalau berjamaah lupa diri bisa dalam bentuk membenarkan apapun yang dilakukan kelompoknya, lebih-lebih jika berkuasa. Mereka mudah sekali menemukan kesalahan pihak lain, tetapi kesalahan kelompok sendiri selalu dilindungi atau bahkan dicari pembenarannya.

Bentuk lain dari lupa diri adalah ketika manusia berada pada titik nadir dalam kehidupannya, mereka khusyu’ dan bersungguh-sungguh  memohon pertolongan kepada Tuhan dan kepada sesama. Namun ketika masalah telah berlalu, seolah-olah ia tidak pernah berada dalam kondisi yang memilukan: “Dan apabila kesusahan menimpa manusia dia berdoa kepada Kami di waktu berbaring atau di waktu duduk atau di waktu berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan kesusahan itu daripadanya, dia berlalu seolah-olah tidak pernah berdoa kepada Kami mengenai kesusahan yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang mereka kerjakan” [QS. Yunus: 12].

Pada saat semacam ini tidak jarang muncul tindakan sewenang-wenang: ’Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.’’(QS al-`alaq : 6-7)/ Lagaknya seperti orang suci, mengajak dan menganjurkan orang berbuat baik, dia sendiri ‘lupa diri’: “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS. Al-Baqarah: 44). Jika al-Kitab ini dapat dimaknai dengan kitab diri sebagaimana firmanNya: “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu” [QS.al-Isra’:14], maka ayat 44 surah al-Baqarah itu bermakna bahwa ada manusia yang suka menyeru orang untuk berbuat baik tetapi dia lupa dengan sendiri padahal ia tahu betul bahwa ia melakukan yang sebaliknya. Tindakan itu disadarinya  karena  ia tahu isi kitab diri. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segala ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? [Fushshilat: 53].

Baca Juga :  Problematika Literasi Menulis

Sampai pada titik tertentu, karena melupakan peringatan dalam diri maupun yang di luar diri, mereka akan merasa senang dengan yang dicapainya meskipun itu hasil dari kejahatan: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. [QS. al-An’am: 44]. Dalam pandangan kasat mata boleh jadi hidupnya senang, sejatinya hidupnya sempit. Batinnya diteror oleh kejahatan yang dilakukannya, perasaannya tidak pernah puas. Selalu merasa kurang. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” [QS. Thaha: 124]. Karenanya kalau berkuasa, bukan melayani tetapi ingin memperoleh sebanyak mungkin dan  berusaha mempertahankan kekuasaan selama mungkin bahkan dengan segala cara.

Itu agaknya sebab satu-satunya perintah yang disuruh untuk diperbanyak dalam dalam al-Quran adalah ingat Allah. Hanya dengan ingat Allah manusia akan menyadari harga diri karena ia terbebas dari kegelapan (zalim): “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya”  Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan (zhulumat) kepada nur cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” [QS. Al-Ahzab: 41-43].  Atau setidak-tidaknya mengingat ayat-ayatnya (termasuk yang di dalam diri): “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan” [Thaha: 126].**

*Penulis, Dosen IAIN Pontianak.

Oleh: Hermansyah

DALAM kamus, ‘lupa diri’ diartikan sebagai tidak sadar akan dirinya. Banyak penyebab orang lupa. Karena penyakit, cedera kepala, mabuk, atau gangguan mental seperti: gila dan depresi. Ada juga pura-pura lupa.

Sering kita mendengar ungkapan “lupa diri” yang ditujukan manusia yang perilakunya melampau. Ungkapan ini tentu bermakna konotatif, tidak berhubungan dengan sebab-sebab lupa di atas. Ini bukan penyakit alzheimer atau amnesia yang menyebabkan  seseorang lupa terhadap sesuatu. Manusia yang lupa akan dirinya sendiri, berarti seseorang yang tidak lagi mengingat dan mempertimbangkan ‘diri’ manusia.

Pertanyaannya apa ‘diri’ manusia itu? Tentu bukan merujuk kepada yang fisik dari manusia. Sebab kalau merujuk pada fisik manusia, tentu tidak ada bedanya dengan hewan. Diri manusia sejati itu yang ada di dalam yakni yang berasal dari Tuhan. Tubuh kasarnya hanya wadah. Diri yang sejati adalah yang membawa amanah dari Tuhan. Amanah itu ada sejak ‘diri’ belum disebut manusia karena masih di alam ruh: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” [QS. Al-A’raf: 172].

Amanah yang dititipkan pada ruh itu, sebelumnya ditolak oleh langit, bumi, dan gunung-gunung. FirmanNya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikul lah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” [Al-Ahzab: 72].

Amanah yang dibawa oleh diri menyebabkan manusia dibebani tanggung jawab. Tanggung jawab itu ditagih setelah manusia kembali kepada Tuhannya. Itulah antara lain makna “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”; “Kami milik Allah dan kami kembali kepadaNya”.  Diri itulah yang membawa suara kebenaran, voice of heart, dalam dada setiap manusia. Sesuai dengan makna kata amanat yang bermakna ‘sesuatu yang dipercayakan atau titipan’ dan seakar kata dengan ‘iman’. Titipan itu nyaring suaranya. Fatwanya harus didengarkan sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa[HR. Ahmad].

Baca Juga :  Ikhlaskanlah Ibadahmu

Dengan demikian manusia yang lupa diri adalah setiap individu yang melupakan asal usul dan titipan yang membawa suara kebenaran dalam diri. Watak orang lupa diri antara lain digambarkan: “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”  [QS. Yasin: 77].

Manusia menyangka dirinya kuat dan hebat. Padahal fisik tempat bersemayam ‘diri’ sangat lemah. Ia diciptakan dari air yang hina yang dalam waktu yang sangat singkat akan binasa. Mereka menyangka fisik itulah diri yang sejati. Sehingga apapun dilakukan untuk menyenangkannya. Mereka menjadi penantang yang nyata. Siapa yang ditantangnya? Yang paling dulu ditantangnya adalah titipan Tuhan dalam diri berupa sinyal-sinyal atau ayat-ayat yang mengingatkan tentang baik-buruk, benar-salah. Itulah tanda manusia lupa diri. Kalau berjamaah lupa diri bisa dalam bentuk membenarkan apapun yang dilakukan kelompoknya, lebih-lebih jika berkuasa. Mereka mudah sekali menemukan kesalahan pihak lain, tetapi kesalahan kelompok sendiri selalu dilindungi atau bahkan dicari pembenarannya.

Bentuk lain dari lupa diri adalah ketika manusia berada pada titik nadir dalam kehidupannya, mereka khusyu’ dan bersungguh-sungguh  memohon pertolongan kepada Tuhan dan kepada sesama. Namun ketika masalah telah berlalu, seolah-olah ia tidak pernah berada dalam kondisi yang memilukan: “Dan apabila kesusahan menimpa manusia dia berdoa kepada Kami di waktu berbaring atau di waktu duduk atau di waktu berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan kesusahan itu daripadanya, dia berlalu seolah-olah tidak pernah berdoa kepada Kami mengenai kesusahan yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang mereka kerjakan” [QS. Yunus: 12].

Pada saat semacam ini tidak jarang muncul tindakan sewenang-wenang: ’Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.’’(QS al-`alaq : 6-7)/ Lagaknya seperti orang suci, mengajak dan menganjurkan orang berbuat baik, dia sendiri ‘lupa diri’: “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS. Al-Baqarah: 44). Jika al-Kitab ini dapat dimaknai dengan kitab diri sebagaimana firmanNya: “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu” [QS.al-Isra’:14], maka ayat 44 surah al-Baqarah itu bermakna bahwa ada manusia yang suka menyeru orang untuk berbuat baik tetapi dia lupa dengan sendiri padahal ia tahu betul bahwa ia melakukan yang sebaliknya. Tindakan itu disadarinya  karena  ia tahu isi kitab diri. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segala ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? [Fushshilat: 53].

Baca Juga :  Kunci Utama Efektivitas dan Efisiensi Pemerintah

Sampai pada titik tertentu, karena melupakan peringatan dalam diri maupun yang di luar diri, mereka akan merasa senang dengan yang dicapainya meskipun itu hasil dari kejahatan: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. [QS. al-An’am: 44]. Dalam pandangan kasat mata boleh jadi hidupnya senang, sejatinya hidupnya sempit. Batinnya diteror oleh kejahatan yang dilakukannya, perasaannya tidak pernah puas. Selalu merasa kurang. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” [QS. Thaha: 124]. Karenanya kalau berkuasa, bukan melayani tetapi ingin memperoleh sebanyak mungkin dan  berusaha mempertahankan kekuasaan selama mungkin bahkan dengan segala cara.

Itu agaknya sebab satu-satunya perintah yang disuruh untuk diperbanyak dalam dalam al-Quran adalah ingat Allah. Hanya dengan ingat Allah manusia akan menyadari harga diri karena ia terbebas dari kegelapan (zalim): “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya”  Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan (zhulumat) kepada nur cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” [QS. Al-Ahzab: 41-43].  Atau setidak-tidaknya mengingat ayat-ayatnya (termasuk yang di dalam diri): “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan” [Thaha: 126].**

*Penulis, Dosen IAIN Pontianak.

Most Read

Artikel Terbaru

/