alexametrics
32.8 C
Pontianak
Monday, May 23, 2022

Potensi dan Realita Zakat Infaq dan Sedekah serta Dana Sosial Keagamaan

Oleh: Dr. H. Hamzah Tawil,M.Si

KEMISKINAN adalah keadaan saat ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pekerjaan dan pendidikan.

Kemiskinan juga merupakan masalah global. Tentunya sebagai warga kita turut prihatin dengan kondisi kemiskinan yang ada di sekeliling kita. Lalu apa korelasinya makna puasa yang sedang kita jalani saat ini dengan kondisi kemiskinan yang ada di sekitar kita?

Puasa merupakan salah satu pilar fundamental tegaknya bangunan Islam. Di antara motivasi dan cita-cita besar Allah mewajibkan umat Islam berpuasa adalah agar menjadi manusia yang bertaqwa kepadaNya.

Kelebihan puasa dari ritual upacara ibadah lainnya dalam Islam adalah karena sifatnya yang pribadi dan tersembunyi alias tidak terlihat oleh pandangan kasat manusia. Berangkat dari sinilah, Allah dalam sebuah hadis qudsi di kitab Bukhori dan Muslim berfirman dengan tegas bahwa puasa adalah milikNya yang pribadi dan Ia pun akan memberikan pahala secara spesial dan pribadi kepada hamba-hambanya yang diterima amal ibadah puasanya. (M. Afifuddin Muchit)

Kentalnya nuansa individual seorang hamba dengan Tuhannya dalam dimensi ibadah puasa ini karena pesan tafsir yang banyak diadopsi kaum muslimin dari makna taqwa yang mengarah kepada makna kedekatan personal seorang hamba kepada Penciptanya. Ini merupakan sebuah makna konvensional taqwa yang banyak dipahami oleh umat Islam selama ini.

Namun kalau kita mau membaca ulang makna taqwa yang terdapat pada surat al-Baqarah 183 maka ia punya makna yang lebih holistik dan komprehensif yang tidak hanya mengarah kepada dimensi vertikal hamba dan Tuhannya saja, akan tetapi punya dimensi garis horisontal yang kental dengan nuansa kehidupan sosial seperti berderma, membebaskan budak (menyantuni orang dhuafa), sabar dalam menerima cobaan. Karena barometer kebajikan bagi Allah bukan diukur dari banyaknya interaksi pribadi hamba kepadaNya akan tetapi kebajikan yang bersifat holistik, yang dapat menjiwainya dalam kehidupan sosial.

Baca Juga :  Kolaborasi Pendidik dan Orang Tua

Bulan Ramadhan ini sebenarnya punya maksud dan nilai yang sangat mulia yang tidak hanya terbatas pada pembentukan pribadi-pribadi yang shaleh tapi juga membentuk karakter building sebuah masyarakat yang shaleh dan kokoh. Karena puasa ini sebenarnya sarat dengan pesan etika kesalehan sosial yang sangat tinggi, seperti pengendalian diri, disiplin, kejujuran, kesabaran, solidaritas dan saling tolong-menolong. Ini merupakan sebuah potret yang mengarah kepada eratnya keshalihan pribadi dengan keshalihan sosial.

Menahan makan dan minum selama hampir 13 Jam lebih (Waktu Indonesia Barat) walau kita mampu tentunya menjadikan kita layaknya orang ‘miskin’ yang kelaparan. Rasa lapar, haus dan dahaga selama sebulan penuh mengajarkan kepada kita sakitnya penderitaan saudara-saudara kita yang miskin dan tidak mampu. Bermula dari rasa lapar dan haus inilah seharusnya menjadikan kita lebih peka terhadap kondisi sosial masyarakat yang ada disekitar kita. Memberi tanpa mengharap imbalan (ihklas), menolong tanpa melihat suku dan agama tertentu (SARA) adalah keshalihan sosial yang menjadi bagian dari makna la’allakum tattaquun (agar kita menjadi orang yang bertaqwa) itu sendiri.

Ibadah lain yang tak kalah pentingnya adalah shalat. Khusus di bulan Ramadhan, terdapat satu shalat yang tidak terdapat di bulan lain, yaitu shalat tarawih. Shalat tarawih dilaksanakan secara berjamaah di masjid, dan dilakukan setiap malam di bulan Ramadhan. Ibadah ini pun tak lepas dari dimensi sosialnya.

Baca Juga :  Link and Match Kampus Vokasi dan DUDI

Pada shalat tarawih, seluruh jamaah berkumpul menjadi satu, setara di hadapan Allah, SWT. Tak ada lagi pangkat, jabatan, atau strata sosial. Semua menjadi satu. Bergerak bersama, berbaris sejajar, duduk sama rendah, dan berdiri sama tinggi. Tak ada lagi batas antara si kaya dan si miskin, pejabat atau pesuruh, atasan maupun bawahan, apalagi hanya sekat-sekat kesukuan atau kedaerahan. Semua lebur menjadi satu.

Mengapa puasa ramadhan ditutup dengan membayar zakat fithrah? Ini merupakan bukti alangkah besarnya kepedulian Allah terhadap problematika sosial terutama kemiskinan. Ia tidak hanya peduli terhadap kesalihan pribadi tapi juga kepada kesalihan sosial sehingga Ia pun menggantungkan keabsahan kesalihan pribadi kepada kesalihan sosial. Karena Ia tidak akan ragu-ragu dan segan menolak puasanya pribadi-pribadi muslim manakala mereka belum menunaikan ibadah sosial berupa zakat fitrah.

Namun patut disayangkan, cita-cita puasa yang punya nilai kemanusian yang tinggi masih belum banyak disadari oleh insan yang berpuasa itu sendiri. Kita masih saja terjebak dengan ritual upacara tahunan tersebut tanpa ada perubahan-perubahan yang mendasar pada perilaku kehidupan keseharian. Kita hanya mengejar kesalihan pribadi tanpa ada ketersambungan sekali dengan kesalihan sosial.

Fenomena ini memang bisa dipahami, karena masih jarang para da’i atau muballigh yang membedah puasa dalam perspektif ibadah sosial. Mereka lebih suka mengurai puasa dari sudut pendekatan garis vertikal (hablun minallah) tanpa memberikan relevansinya dengan garis horisontal (hablun minannaas) sehingga membuat puasa tereduksi dalam media privat dan kehilangan daya kontrolnya dalam perilaku kehidupan muslim di tengah kehidupan bermasyarakat sosial. Allahu A’lam. (*)

*) Penulis adalah Wakil Ketua 2 Baznas Kalbar & Dosen UNU Kalbar

Oleh: Dr. H. Hamzah Tawil,M.Si

KEMISKINAN adalah keadaan saat ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pekerjaan dan pendidikan.

Kemiskinan juga merupakan masalah global. Tentunya sebagai warga kita turut prihatin dengan kondisi kemiskinan yang ada di sekeliling kita. Lalu apa korelasinya makna puasa yang sedang kita jalani saat ini dengan kondisi kemiskinan yang ada di sekitar kita?

Puasa merupakan salah satu pilar fundamental tegaknya bangunan Islam. Di antara motivasi dan cita-cita besar Allah mewajibkan umat Islam berpuasa adalah agar menjadi manusia yang bertaqwa kepadaNya.

Kelebihan puasa dari ritual upacara ibadah lainnya dalam Islam adalah karena sifatnya yang pribadi dan tersembunyi alias tidak terlihat oleh pandangan kasat manusia. Berangkat dari sinilah, Allah dalam sebuah hadis qudsi di kitab Bukhori dan Muslim berfirman dengan tegas bahwa puasa adalah milikNya yang pribadi dan Ia pun akan memberikan pahala secara spesial dan pribadi kepada hamba-hambanya yang diterima amal ibadah puasanya. (M. Afifuddin Muchit)

Kentalnya nuansa individual seorang hamba dengan Tuhannya dalam dimensi ibadah puasa ini karena pesan tafsir yang banyak diadopsi kaum muslimin dari makna taqwa yang mengarah kepada makna kedekatan personal seorang hamba kepada Penciptanya. Ini merupakan sebuah makna konvensional taqwa yang banyak dipahami oleh umat Islam selama ini.

Namun kalau kita mau membaca ulang makna taqwa yang terdapat pada surat al-Baqarah 183 maka ia punya makna yang lebih holistik dan komprehensif yang tidak hanya mengarah kepada dimensi vertikal hamba dan Tuhannya saja, akan tetapi punya dimensi garis horisontal yang kental dengan nuansa kehidupan sosial seperti berderma, membebaskan budak (menyantuni orang dhuafa), sabar dalam menerima cobaan. Karena barometer kebajikan bagi Allah bukan diukur dari banyaknya interaksi pribadi hamba kepadaNya akan tetapi kebajikan yang bersifat holistik, yang dapat menjiwainya dalam kehidupan sosial.

Baca Juga :  Zakat Goes To Campus: Peran Milenial Sebagai Penggerak Zakat

Bulan Ramadhan ini sebenarnya punya maksud dan nilai yang sangat mulia yang tidak hanya terbatas pada pembentukan pribadi-pribadi yang shaleh tapi juga membentuk karakter building sebuah masyarakat yang shaleh dan kokoh. Karena puasa ini sebenarnya sarat dengan pesan etika kesalehan sosial yang sangat tinggi, seperti pengendalian diri, disiplin, kejujuran, kesabaran, solidaritas dan saling tolong-menolong. Ini merupakan sebuah potret yang mengarah kepada eratnya keshalihan pribadi dengan keshalihan sosial.

Menahan makan dan minum selama hampir 13 Jam lebih (Waktu Indonesia Barat) walau kita mampu tentunya menjadikan kita layaknya orang ‘miskin’ yang kelaparan. Rasa lapar, haus dan dahaga selama sebulan penuh mengajarkan kepada kita sakitnya penderitaan saudara-saudara kita yang miskin dan tidak mampu. Bermula dari rasa lapar dan haus inilah seharusnya menjadikan kita lebih peka terhadap kondisi sosial masyarakat yang ada disekitar kita. Memberi tanpa mengharap imbalan (ihklas), menolong tanpa melihat suku dan agama tertentu (SARA) adalah keshalihan sosial yang menjadi bagian dari makna la’allakum tattaquun (agar kita menjadi orang yang bertaqwa) itu sendiri.

Ibadah lain yang tak kalah pentingnya adalah shalat. Khusus di bulan Ramadhan, terdapat satu shalat yang tidak terdapat di bulan lain, yaitu shalat tarawih. Shalat tarawih dilaksanakan secara berjamaah di masjid, dan dilakukan setiap malam di bulan Ramadhan. Ibadah ini pun tak lepas dari dimensi sosialnya.

Baca Juga :  Penghitungan Zakat Emas, Perak, Uang

Pada shalat tarawih, seluruh jamaah berkumpul menjadi satu, setara di hadapan Allah, SWT. Tak ada lagi pangkat, jabatan, atau strata sosial. Semua menjadi satu. Bergerak bersama, berbaris sejajar, duduk sama rendah, dan berdiri sama tinggi. Tak ada lagi batas antara si kaya dan si miskin, pejabat atau pesuruh, atasan maupun bawahan, apalagi hanya sekat-sekat kesukuan atau kedaerahan. Semua lebur menjadi satu.

Mengapa puasa ramadhan ditutup dengan membayar zakat fithrah? Ini merupakan bukti alangkah besarnya kepedulian Allah terhadap problematika sosial terutama kemiskinan. Ia tidak hanya peduli terhadap kesalihan pribadi tapi juga kepada kesalihan sosial sehingga Ia pun menggantungkan keabsahan kesalihan pribadi kepada kesalihan sosial. Karena Ia tidak akan ragu-ragu dan segan menolak puasanya pribadi-pribadi muslim manakala mereka belum menunaikan ibadah sosial berupa zakat fitrah.

Namun patut disayangkan, cita-cita puasa yang punya nilai kemanusian yang tinggi masih belum banyak disadari oleh insan yang berpuasa itu sendiri. Kita masih saja terjebak dengan ritual upacara tahunan tersebut tanpa ada perubahan-perubahan yang mendasar pada perilaku kehidupan keseharian. Kita hanya mengejar kesalihan pribadi tanpa ada ketersambungan sekali dengan kesalihan sosial.

Fenomena ini memang bisa dipahami, karena masih jarang para da’i atau muballigh yang membedah puasa dalam perspektif ibadah sosial. Mereka lebih suka mengurai puasa dari sudut pendekatan garis vertikal (hablun minallah) tanpa memberikan relevansinya dengan garis horisontal (hablun minannaas) sehingga membuat puasa tereduksi dalam media privat dan kehilangan daya kontrolnya dalam perilaku kehidupan muslim di tengah kehidupan bermasyarakat sosial. Allahu A’lam. (*)

*) Penulis adalah Wakil Ketua 2 Baznas Kalbar & Dosen UNU Kalbar

Most Read

Artikel Terbaru

/