alexametrics
25.6 C
Pontianak
Monday, May 23, 2022

Puasa yang Sia-Sia

DI dalam Hadits Rasulullah SAW di antaranya ada yang diriwayatkan Imam Ahmad “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apapun dari puasanya selain rasa lapar saja“. Secara kewajiban, Syariat Puasa telah gugur tetapi secara pahala puasa menguap begitu saja. Ini mirip dengan Salat Jumat. Ada pahala Jumat, ada pahala Salat Jumat. Orang yang berbicara ketika khatib sedang berkhutbah maka secara syariat Salat Jumatnya telah gugur kewajiban tetapi pahala Jumatnya menjadi tidak ada.

Kembali lagi ke persoalan puasa yang sia-sia, puasa adalah amalan wajib yang dilakukan Umat Islam selama Ramadhan. Tetapi sangat mungkin setiap orang berpuasanya hanya menjadi sia-sia atau tidak mendapatkan apapun kecuali hanya lapar dan dahaga. Apa yang harus dilakukan setiap orang agar puasa Ramadhannya tidak sia-sia?

  1. Tidak meninggalkan salat tetapi justru meningkatkan amalan salat

Ada yang berpuasa tetapi tidak salat. Selain berdosa karena tidak salat justru berdampak pada ibadah puasanya yang sia-sia. Seharusnya dengan datangnya Ramadhan, ibadah salat meningkat dari biasanya. Jika sebelumnya masih salat sendirian, dengan Ramadhan mulai latihan untuk lima waktu berjamaah di masjid dan musala terdekat. Biasanya hanya salat lima waktu yang wajib, mulai ditambah 12 rakaat salat sunnah rawatib, Salat Tarawih sebagai pengganti salat tahajud delapan rakaat, salat syukrul wudhu, salat istikharah, Dhuha, dan lainnya.

Terkait salat rawatib misalnya, Rasulullah SAW Bersabda, “Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan salat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zuhur, dua rakaat setelah zuhur, dua rakaat setelah magrib, dua rakaat setelah isya dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. Tirmidzi).

  1. Banyak membaca dan memahami makna Al-Qur’an
Baca Juga :  Dominasi Pertanian di Bumi Lawang Kuari

Selain memperbaiki salat, memperbanyak salat dan menjaga salat lima waktu dan rawatibnya, agar Puasa Ramadhan tidak sia-sia, seorang muslim harus banyak membaca dan memahami makna Al-Qur’an. Selain membaca yang biasa kita sebut tadarrusan, juga mulai mengkaji tafsir Qur’an, memperbaiki bacaan dengan belajar tahsin serta menghafalkannya. Dibuat jadwal dalam sehari kapan sekadar membaca (tadarussan), kapan memahami makna dengan tafsirnya, serta kapan waktu berlatih tahsin serta menghafalkannya.

Misalnya membuat target dalam sebulan: selesai dua kali khatam Qur’an, selesai membaca dua jilid Tafsir Ibnu Katsir, dan hafal 1 juz Al-Qur’an. Jadi, seharian betul-betul banyak ibadah dalam bentuk dan cara-cara yang berbeda, karena setiap aktivitas tersebut adalah Ibadah. Insyaa Allah puasa Ramadhannya tidak akan sia-sia.

  1. Perbanyak Infak Sedekah

Orang tua kita dulu mengajarkan cara sederhana dalam berinfak sedekah. Penulis sendiri mengalami masa-masa itu. Kalau saat ini di perkotaan sudah jarang ditemui tetapi di desa masih mungkin ada menjadi tradisi yaitu bertukar Ta’jil Puasa. Ketika kita sekeluarga membuat kolak pisang, maka beberapa tetangga kita datangi untuk kita bagikan kolak pisang tersebut. Tak berapa lama, tetangga kita datang ke rumah berbagi atau bersedekah pisang goreng misalnya. Jadi karena banyaknya tetangga yang datang berbagi dan bersedekah ta’jil, di rumah-rumah kita banyak sekali jenis makanan untuk berbuka puasa. Itu infaq dan sedekah yang sangat sederhana dan mudah dilakukan.

Baca Juga :  Bayar Zakat Sebaiknya Saat Awal Ramadhan

Cara lainnya adalah dengan membuat anggaran Sedekah Ta’jil selama Ramadhan. Misalnya kita sudah menyiapkan anggaran sedekah Rp3 juta selama Ramadhan. Artinya setiap hari dengan Rp100 ribu, kita membuat ta’jil untuk dibagikan ke siapapun yang membutuhkannya.

Dalam sebuah hadist dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadlan untuk mudarosah (mempelajari) Al Qur’an” (HR Al Bukhari).

Untuk menjaga puasa agar tidak sia-saia dan diterima ibadah puasanya sebagai ibadah yang utuh bukan sekadar lepasnya kewajiban adalah dengan cara meningkatkan kedermawanan kita, untuk berbagi pada siapapun, dengan cara apapun yang diperkenankan dalam Islam.

Setidaknya dengan tiga cara ini, Puasa Ramadhan kita tidak lagi sia-sia. Tentunya seluruh ibadah di atas harus didasari pada “Imanan Wahtisaban “ atau atas dasar keimanan dan hanya mengharap ridha Allah SWT. Insyaa Allah akan terhapuslah dosa-dosa kita yang telah lalu, dan itu bermakna ibadah puasa kita dan ibadah-ibadah lainnya diterima Allah SWT.

Penulis adalah Akademisi Ekonomi Syariah, Kelahiran Ketapang Kalbar.

DI dalam Hadits Rasulullah SAW di antaranya ada yang diriwayatkan Imam Ahmad “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apapun dari puasanya selain rasa lapar saja“. Secara kewajiban, Syariat Puasa telah gugur tetapi secara pahala puasa menguap begitu saja. Ini mirip dengan Salat Jumat. Ada pahala Jumat, ada pahala Salat Jumat. Orang yang berbicara ketika khatib sedang berkhutbah maka secara syariat Salat Jumatnya telah gugur kewajiban tetapi pahala Jumatnya menjadi tidak ada.

Kembali lagi ke persoalan puasa yang sia-sia, puasa adalah amalan wajib yang dilakukan Umat Islam selama Ramadhan. Tetapi sangat mungkin setiap orang berpuasanya hanya menjadi sia-sia atau tidak mendapatkan apapun kecuali hanya lapar dan dahaga. Apa yang harus dilakukan setiap orang agar puasa Ramadhannya tidak sia-sia?

  1. Tidak meninggalkan salat tetapi justru meningkatkan amalan salat

Ada yang berpuasa tetapi tidak salat. Selain berdosa karena tidak salat justru berdampak pada ibadah puasanya yang sia-sia. Seharusnya dengan datangnya Ramadhan, ibadah salat meningkat dari biasanya. Jika sebelumnya masih salat sendirian, dengan Ramadhan mulai latihan untuk lima waktu berjamaah di masjid dan musala terdekat. Biasanya hanya salat lima waktu yang wajib, mulai ditambah 12 rakaat salat sunnah rawatib, Salat Tarawih sebagai pengganti salat tahajud delapan rakaat, salat syukrul wudhu, salat istikharah, Dhuha, dan lainnya.

Terkait salat rawatib misalnya, Rasulullah SAW Bersabda, “Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan salat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zuhur, dua rakaat setelah zuhur, dua rakaat setelah magrib, dua rakaat setelah isya dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. Tirmidzi).

  1. Banyak membaca dan memahami makna Al-Qur’an
Baca Juga :  anak-anak muda membangunkan sahur dengan alat sederhana berkeliling komplek

Selain memperbaiki salat, memperbanyak salat dan menjaga salat lima waktu dan rawatibnya, agar Puasa Ramadhan tidak sia-sia, seorang muslim harus banyak membaca dan memahami makna Al-Qur’an. Selain membaca yang biasa kita sebut tadarrusan, juga mulai mengkaji tafsir Qur’an, memperbaiki bacaan dengan belajar tahsin serta menghafalkannya. Dibuat jadwal dalam sehari kapan sekadar membaca (tadarussan), kapan memahami makna dengan tafsirnya, serta kapan waktu berlatih tahsin serta menghafalkannya.

Misalnya membuat target dalam sebulan: selesai dua kali khatam Qur’an, selesai membaca dua jilid Tafsir Ibnu Katsir, dan hafal 1 juz Al-Qur’an. Jadi, seharian betul-betul banyak ibadah dalam bentuk dan cara-cara yang berbeda, karena setiap aktivitas tersebut adalah Ibadah. Insyaa Allah puasa Ramadhannya tidak akan sia-sia.

  1. Perbanyak Infak Sedekah

Orang tua kita dulu mengajarkan cara sederhana dalam berinfak sedekah. Penulis sendiri mengalami masa-masa itu. Kalau saat ini di perkotaan sudah jarang ditemui tetapi di desa masih mungkin ada menjadi tradisi yaitu bertukar Ta’jil Puasa. Ketika kita sekeluarga membuat kolak pisang, maka beberapa tetangga kita datangi untuk kita bagikan kolak pisang tersebut. Tak berapa lama, tetangga kita datang ke rumah berbagi atau bersedekah pisang goreng misalnya. Jadi karena banyaknya tetangga yang datang berbagi dan bersedekah ta’jil, di rumah-rumah kita banyak sekali jenis makanan untuk berbuka puasa. Itu infaq dan sedekah yang sangat sederhana dan mudah dilakukan.

Baca Juga :  Trotoar dan Hak Pejalan Kaki

Cara lainnya adalah dengan membuat anggaran Sedekah Ta’jil selama Ramadhan. Misalnya kita sudah menyiapkan anggaran sedekah Rp3 juta selama Ramadhan. Artinya setiap hari dengan Rp100 ribu, kita membuat ta’jil untuk dibagikan ke siapapun yang membutuhkannya.

Dalam sebuah hadist dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadlan untuk mudarosah (mempelajari) Al Qur’an” (HR Al Bukhari).

Untuk menjaga puasa agar tidak sia-saia dan diterima ibadah puasanya sebagai ibadah yang utuh bukan sekadar lepasnya kewajiban adalah dengan cara meningkatkan kedermawanan kita, untuk berbagi pada siapapun, dengan cara apapun yang diperkenankan dalam Islam.

Setidaknya dengan tiga cara ini, Puasa Ramadhan kita tidak lagi sia-sia. Tentunya seluruh ibadah di atas harus didasari pada “Imanan Wahtisaban “ atau atas dasar keimanan dan hanya mengharap ridha Allah SWT. Insyaa Allah akan terhapuslah dosa-dosa kita yang telah lalu, dan itu bermakna ibadah puasa kita dan ibadah-ibadah lainnya diterima Allah SWT.

Penulis adalah Akademisi Ekonomi Syariah, Kelahiran Ketapang Kalbar.

Most Read

Artikel Terbaru

/